Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 35



Happy reading!


.


***


Tengah malam, manik kuning itu bergerak, berusaha untuk membuka kelopak. Sue merasakan sakit yang luar biasa saat itu, dan karena tidak tahan dia tetap menutupnya. Sakit, sepertinya bola mata kuning itu hendak melompat keluar.


Sue merasakannnya, matanya ditutup dengan kain. Dan kembali berdenyut sakit ketika dia menyentuhnya.


Tak tahan dengan suasana yang sunyi, dia menggunakan indera perabanya, meraba-raba bagian ranjang di samping, dia merasa berbeda. Bukan ranjang di kamarnya.


"Di mana aku?" gumamnya pelan, tapi bisa didengar oleh seseorang.


Seseorang yang siaga itu mendekati, menyentuh tangan yang ditusuk jarum infus. "Anda di rumah sakit, Nyonya."


Sue kaget. Saat hendak membuka matanya, dia kembali teringat akan rasa sakit. "Martha?"


"Ini saya, Nyonya. Nona Alita sedang tidur di ranjang sebelah sana."


Wanita paruh baya itu mengangkat tangan Sue dan menunjuk ke arah ranjang Alita meski Sue tidak melihat.


"Ini sudah jam berapa Martha? Aku belum menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak," ucapnya cemas.


Membuat Martha menggeleng khawatir dan simpati. "Sudah tengah malam, Nyonya. Anda tidak sadarkan diri setelah terkena efek racun dalam debu yang ada di kotak itu. Tuan membawa Nona Alita ke sini, khawatir Anda belum bisa bangun sampai besok."


Bibir mungilnya bergumam. "Tengah malam? Dan kau bilang Silver? Apa dia sudah pulang?"


"Tuan langsung datang mendengar kabar Anda kecelakaan, Nyonya."


"Di mana dia sekarang?"


Wanita itu kembali menggeleng meski Sue tidak dapat melihatnya. "Mengurus sesuatu yang mendesak, Nyonya."


Sue menghela napas dalam, dia tahu apa yang akan dilakukan Silver. "Dengan siapa dia ke sana?"


"Maaf, saya tidak tahu, Nyonya."


Sue terdiam. Dia bangun dengan masih menutup matanya. "Apa yang akan terjadi dengan mataku, Martha? Sangat sakit kalau aku ingin membuka mataku. Apa yang terjadi? Tolong katakan padaku kalau debu itu tidak akan membuat mataku buta."


Dia meraba sekitarnya. Kosong. "Martha?" Sue mengangkat tangannya, menggapai depan dan mencari keberadaan Martha. "Katakan, Martha! Aku tidak buta 'kan?" cicitnya pelan. Dia masih belum bisa menggapai Martha yang jauh di samping ranjang.


Hanya kesunyian yang menjawab. "Katakanlah, sesuatu, Martha. Berbohong juga tidak apa-apa, tolong katakan sesuatu ...." Suaranya terdengar hampir menangis, lirih dan memilukan.


Helaan napas terdengar. "Tuan akan melakukan yang terbaik, Nyonya, saya juga akan menjaga Nona Alita dengan baik. Fokus saja untuk kesembuhanmu," ucap Martha rada khawatir.


"Apa aku benar-benar akan menjadi orang buta? Mataku sakit sekali, apa ini akhir dari masa indahku melihat dunia? Melihat anak dan suamiku? Apa aku tidak akan bisa melihat senyuman Silver lagi dan tidak menyaksikan anakku tumbuh dewasa?"


Sue memeluk tubuhnya, memerangkap seluruh kulitnya dalam balutan selimut.


"Katakan sesuatu yang lebih bagus, Martha! Jangan jawab 'iya', tapi kau juga dilarang berbohong ...."


Takut. Itu yang dirasakan Sue saat ini. Dia tidak ingin menjadi wanita yang rapuh, wanita yang menerima rasa kasihan dari orang lain.


Dia takut anaknya nanti dicela karena memiliki seorang ibu yang buta. Dunia sekejam itu, dan Sue seorang ibu yang menyayangi anaknya. Dia sudah mengalami kehidupan yang berat di masanya, anaknya tidak boleh mengalami itu.


Ada rasa takut yang lebih lagi. Sue juga tidak ingin Alita dibawa wanita lain, yang kemudian mengaku sebagai ibu Alita dan pada akhir akan melupakannya. Pikirannya menerawang jauh, takut terhadap kenyataan yang harus dia hadapi.


Tanpa dia sadari sepasang mata hijau menatapnya sendu dari ambang pintu. Kesakitan dan penyesalan tampak jelas di sana, dia gagal menjaga berliannya, jantung hatinya yang sangat berharga itu.


Kesedihan istrinya akan dia balas lebih kejam lagi. Mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa. Dia memegang prinsip itu.


***


"Sil ...."


Tangannya menyentuh rambut yang lembut, aroma yang sangat membuat nyaman, membuat pemilik manik emerald itu menangkap tangannya.


Sisi iblisnya telah ditaklukan oleh wanita di sampingnya, dan kini telah bangkit satu sisi yang membuat orang baru yang melihatnya bertanya-tanya. "Di mana sikapnya yang dingin itu?"


Sue menahan sakit yang kembali menerpa bola matanya saat dia hendak membuka kelopak itu. "Apa urusanmu di Valencia sudah selesai? Kenapa kau pulang lebih cepat?"


Silver mengernyit kesal, pertanyaan pertama yang ditanya Sue setelah bertemu, terlebih wanita itu sedang sakit.


"Sudah selesai, mulai sekarang aku tidak akan meninggalkanmu untuk urusan seperti itu lagi. Kau terluka, aku tidak bisa mengabaikan keluargaku. Hanya kalian yang ku miliki," ucapnya mengecup tangan yang dipegangnya itu.


Dia melihat bibir mungil itu tersenyum tipis. Tidak ada rengekan seperti yang dilakukannya pada Martha semalam, Silver merasa marah pada dirinya sendiri. Sue tidak akan mengeluarkan kesedihan padanya, wanita itu selalu menunjukkan sisi kuatnya. Senyumnya yang seolah berkata, "Aku tidak apa-apa."


"Jangan khawatir, aku wanita yang kuat. Bisakah kau mengambilkan aku segelas air putih? Aku haus," pintanya setelah menyandarkan kepala di ranjang.


Kamar VVIP itu sudah seperti kamar sendiri. Sue merasakannya, tidak terasa seperti sedang berada di rumah sakit.


Silver bangun dan menuangkan air ke dalam gelas, memberi istrinya minum. "Apa Alita sudah bangun? Bagaimana dengan Diego?"


"Alita bersama Martha, dia yang menggantikan Carissa."


Sue kembali mengingat Carissa. "Oh, di mana Carissa? Aku tidak ingat dia ada di sini semalam."


"Aku membuangnya, dia hampir mencelakai anakku."


Sue kaget, suara geraman Silve membuatnya takut. Sudah lama dia tidak mendengar dan melihat ekspresi Silver saat marah. Ini pertama kali dan dia bersyukur tidak bisa melihat ekspresi pria itu.


Dengan sedikit gemetar, dia mencari tangan Silver dan menggenggamnya erat. Membuang jauh-jauh pikiran yang mengingatkannya akan masa lalu, menenangkan Silver lebih utama. Sisi iblisnya akan meremukkan tulang jika tidak ditangani. "Apa yang dilakukannya? Apa seperti yang ku bayangkan? Dia ingin mengambil Alita-ku?"


Menyadari sesuatu yang berubah dengan keadaan istrinya, Silver menurunkan nada bicaranya. Dia berdehem, tahu istrinya mengingat kejadian lama.


"Maaf, Sayang, aku membuatmu takut. Sudah tidak apa-apa, bocah nakal itu sudah menanganinya dengan baik. Dia memang menantu kita."


Dada yang berdebar kencang itu mulai normal, Sue menhembuskan napas pelan. "Jadi, di mana Diego?"


"Dia sedang meliburkan diri."


Dan suara pintu terbuka membuat Sue otomatis menengok, tapi dia tidak bisa melihat apa-apa. "Siapa?"


"Moon ...."


Bibirnya tersenyum, mengabaikan rasa sakit yang terus membayangi. Sue kuat, dia tidak ingin membuat orang yang disayanginya khawatir.


"Diego, apa kau mau berangkat ke sekolah?"


Kaki kecilnya berhenti di pinggir ranjang, menyentuh tangan Sue dan menatap wajah yang memancarkan senyuman itu. "Sekolah sedang libur, Moon, eh, tidak!" Diego secepatnya meralat ucapannya saat mata tajam Silver menatapnya. "Kepala Sekolah memberiku liburan karena berhasil melakukan penelitian kecil."


"Kau berbohong, katakan sesuatu dengan benar. Kau tidak bisa berbohong meski mataku tidak bisa melihatmu."


Bibirnya mengerucut dan mendelik ke arah Silver. "Ini kebenaran, Moon. Aku di sini sampai kau sembuh. Kau akan baik-baik saja, Moon."


Sue tersenyum, meski hatinya tersentuh tapi dia tidak bisa meneteskan air mata.


"Bisakah kau membawa 'Papa Mertua'mu keluar dan menyuruh Martha ke sini? Aku ingin menyusui Alita."


Tatapan kedua orang itu saling bertemu, menyiratkan kejahilan dan kemarahan.


"Oke, Moon. Apa akhirnya 'papa mertua' mengakuiku?" bisik Diego kemudian pada Silver.


"Bajiingannn!" geram Silver.


.


---


Ig @Xie_Lu13