
Happy reading!😊😘
.
***
Perjuangan antara hidup dan mati dilalui untuk sesosok mungil yang kini tertidur pulas di dalam box. Silver memandangi itu dengan haru. Air matanya menitik tanpa disadarinya dan bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman bahagia. Ia sangat bahagia. Buah cintanya kini hadir di tengah-tengah keluarga kecilnya.
Mata hijaunya kini beralih pada sosok wanita mungil yang masih tertidur di bangkar. Seakan dirinya bahagia berada dalam dunia mimpinya dan tak ingin terbangun lagi. Silver mendekatinya dan memberikan sebuah kecupan di keningnya.
"Hei, wake up, Sleeping beauty. Sorry, I'm late."
Rasa bahagia membuncah di dadanya. Ia tidak menyangka akan diberi kebahagiaan yang lengkap seperti ini bersama seorang wanita yang pernah disiksanya.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu."
Bersamaan dengan itu, jemari Sue bergerak dengan bulu mata lentiknya bergerak perlahan. Ia seakan merasakan kehadiran cintanya.
"Good girl," bisik Silver dan mengecup kelopak mata kuning itu. "Her name's Alita. Marseille Alita Dario. She will be a wonderful girl like you."
Ya, Sue melahirkan seorang bayi perempuan yang manis. Wajahnya mungil dengan hidung yang pas dengan ukuran wajahnya. Karena gemas, Silver menyentuh wajah bayinya.
"Astaga, aku tidak tahan." Ia gemas seakan ingin memakan anaknya sendiri.
Saat tangannya menyentuh kulit yang lembut dan tipis itu, manik hijau itu perlahan terbuka. Netra hijaunya menatap tanpa kedip pada ayahnya. Silver menyeringai ketika wajah Alita tidak memberikan reaksi apapun seolah bayi kecil itu marah padanya. Mata hijau keduanya saling beradu seakan menyiratkan dendam.
"Oh, kau membenciku? Astaga, jangan melakukannya."
Tangan kecil dan mungil itu bergerak menggapai wajah Silver tanpa berkedip. Mata hijaunya tetap terbuka hingga Silver gemas dan mencubit hidung mancungnya yang mungil. Bukannya menangis, Alita malah tertawa yang membuat Silver menelan ludah kasar.
"Astaga, kau benar-benar menggemaskan. Aku tidak tahan."
Pada saat yang bersamaan, pintu ruang rawat Sue terbuka dan muncullah sosok Gregoria dengan tatapan tajamnya.
"Mommy!"
"Jangan menyentuh cucuku dengan tangan jelekmu itu, Anak nakal!"
"Ayolah, Mommy, aku tidak tahan. Dia sungguh menggemaskan."
Gregoria memukul tangannya yang hendak menyentuh Alita lagi. "Aku akan memotong tanganmu."
Silver berdecak dan duduk di sisi ranjang Sue. "Kapan dia akan bangun? Aku merindukannya, Mommy," ujarnya lirih seraya menatap wajah yang masih pucat itu.
"Jangan mengganggunya!"
***
Mata kuning itu terbuka. Yang pertama dilihatnya adalah wajah penuh senyuman sang suami yang duduk menyandarkan kepala di kursi.
"Selamat pagi," sapa Silver dengan suara serak. Ia menegakkan tubuhnya dan mendekat ke wajah Sue dan mengecup pelan bibir istrinya. "Aku merindukanmu," bisiknya.
Sue tersenyum tipis. Rasa remuk seluruh tubuhnya belum sepenuhnya hilang. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat sebuah box bayi di samping Silver.
"Kapan kau datang? Maaf, kemar--"
"Tidak perlu mengatakannya, aku tahu. Terima kasih."
Sue tersenyum dan menggenggam tangan Silver yang terasa hangat baginya. "Kau sudah menamainya?"
Silver mengangguk. "Marseille Alita Dario."
Perempuan itu mengernyitkan keningnya meminta alasan.
"Kau tahu alasannya, Sayang. Kau mempunyai satu wanita hebat dalam hidupmu dan aku memiliki dua wanita hebat dalam hidupku."
"Dua?" Sue bertanya dengan kernyitan di dahinya.
"Kau dan Mamaku."
Sue tersipu namun sejurus kemudian ia tertawa dan melepaskan tangannya yang kembali digenggam Silver. "Kenapa harus Alita?"
Silver mengedikkan bahunya. "Aku hanya ingin," balasnya. "Suatu saat dia akan menjadi seperti Daddy-nya dan memiliki sisi lembut seperti Mommy-nya.
Sue mencebik tapi dalam hati ia mengamini perkataan suaminya. Ketika dirinya berusaha untuk bangun, Silver menahan.
"Luka di perutmu belum sembuh, Lita. Kau harus banyak beristirahat."
"Aku ingin melihat anakku," mintanya memelas. Dengan rayuan mautnya, ia berhasil meluluhkan Silver dan membantunya duduk bersandar.
"Kau keras kepala."
"Kau harus terbiasa."
Setelah itu, Silver mengangkat Alita dari dalam box dan menaruhnya di pangkuan ibunya. Ia menatap bayi kecil itu tanpa berkedip.
"Kenapa tatapanmu seperti itu, Sil?"
Silver menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menyengir aneh.
Sue terkekeh seraya mengeluarkan nutrisi untuk Alita yang menggerak-gerakkan kepalanya mencari makanannya.
"Dia anakmu, Sil, jangan memakannya."
"Astaga," dengusnya tidak tahan melihat Alita yang dengan rakus meminum cairan putih itu.
Melihat itu, Sue hanya tertawa kecil seraya mengelus pipi mungil Alita. Kemudian beralih ke hidung dan matanya.
"Dia memiliki mata hijau sepertiku, Sayang, tapi wajahnya cantik sepertimu."
Silver ikut duduk di bangkar itu dan melingkarkan tangannya di pinggang Sue dan menaruh dagunya di pundak istrinya. Matanya terus melihat bayi mungil yang belum berhenti melakukan aktifitasnya.
"Berhenti, kau sangat rakus." Ia menariknya dari mulut Alita sehingga bayi kecil itu menangis karena belum puas. Sue memukul tangan Silver karena telah mengganggu kenyamanannya. Ia kembali memberikan nutrisi untuk Alita.
"Lihatlah, dia tidak ingin berhenti, padahal mulutnya sudah penuh," omel Silver tidak terima.
"Dia lapar, Sil. Iya 'kan, Sayang?"
Seakan mengerti apa yang dikatakan ibunya, tangan Alita bergerak-gerak ke atas untuk menggapai wajahnya tapi berakhir di kancing kemeja.
"Aku juga lapar, Sayang. Biasanya setiap pagi kita sarapan istimewa," bisik Silver di telinga istrinya dan mendapat sikutan di perutnya.
"Kau belum sarapan?" Silver mengangguk.
"Pergilah sarapan. Aku baik-baik saja. Mungkin José sudah menyiapkan sarapan untkmu."
Silver menggeleng. Ia mengecupi leher jenjang istrinya dengan bibirnya yang basah membuat perempuan itu merasakan gelayar aneh di tubuhnya.
"Hentikan, Sil," geramnya. "Astaga, Sil. Kau keterlaluan."
Silver terkekeh ketika melihat hasil karyanya di leher istrinya lalu mengusapnya pelan dengan gerakan menggoda.
Sue merinding dan kembali menyikut perut suaminya. Ketika Silver akan mencium istrinya, tiba-tiba Alita menangis.
Sue berusaha menenangkannya tapi bayi mungil itu terus menangis. Kini Silver yang mengambil alih. Ia menimang Alita dan menenangkannya hingga bayi itu terlelap.
Keduanya yang masih amatiran tentang bayi dan kini diperhadapkan langsung dengan keadaan nyata, dimana seorang bayi kecil kini hadir melengkapi kebahagiaan mereka. Bersama-sama belajar menyikapi kelakuan bayi yang tidak bisa diprediksi maunya. Apapun yang akan terjadi kemudian hari, keduanya berjanji akan menghadapinya bersama.
"Sepertinya dia mengantuk," bisik Silver pada istrinya.
***
Sudah seminggu sejak peristiwa itu, Sue diizinkan pulang oleh dokter. Mengatakan bahwa luka bekas jahitannya kini berangsur sembuh.
Silver terus merangkul istrinya yang sedang memberikan nutrisi untuk Alita. Sesekali tangan nakalnya mengganggu bayi mungil itu sehingga Alita menjerit.
"Astaga, dia benar-benar menggemaskan."
"Jangan mengganggunya, Sil. Aku kelelahan," keluh Sue saat Silver hendak mengganggu Alita.
"Biarkan aku yang menimangnya."
"Nanti saja. Kau harus membereskan pakaian kita yang akan dibawa pulang."
"José sudah melakukannya, Sayang."
Mata Silver tidak lepas sedikitpun dari mulut Alita yang mengemut makanannya. Sesekali ia meneguk ludah kasar menginginkan hal yang sama. Namun, mengingat istrinya belum bisa disentuh membuatnya menahan diri.
Tangannya kini melingkar indah di perut Sue. Dengan nakalnya, ia mencubit pelan perut yang rata itu dan membuat Sue mendelik.
"Hentikan, Sil."
"Hm."
"Astaga, Silver."
"Hm." Masih menjawab acuh dan tetap melakukan aktifitasnya. Hingga kegiatannya diinterupsi oleh suara pintu yang dibuka kasar.
Tanpa menoleh, ia memutar bola matanya karena mengira bahwa Gregoria yang datang. Namun, suara itu cukup membuatnya terkejut.
"Uncle, I'm coming!" teriak anak kecil itu dengan wajah tengil di depan pintu.
Merasa bahwa Silver tidak menjawabnya, Diego kembali berteriak.
"Uncle, ayo kita taruhan!"
Silver melotot horor padanya dengan tangan yang bergerak seolah sedang memotong leher. Anak kecil itu masih mengingat apapun yang pernah dikatakannya. Dan kini, Silver diperhadapkan lagi dengan ketengilan Diego.
"Baby girl akan menjadi milikku!"
***
Love,
Xie Lu♡