Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 28



Happy reading!😊😘


.


*****


"Kapan kau akan menuntaskan semuanya?"


"Sabarlah sebentar lagi, Paman. Aku masih ingin bermain sedikit lebih lama dengannya."


"Sampai kapan? Jangan menunda sesuatu yang bisa kau lakukan sekarang."


"Tidak baik melakukannya saat dia tidak mengingat apapun."


"Dia sudah mengetahuinya."


"Itu berdasarkan apa yang kita beritahukan, bukan atas dasar memori yang pernah dimilikinya."


Nyatanya, bukan itu alasan yang membuat Silver menunda rencananya. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, ia akan mencari tahu sebelum bertindak. Kecerobohan sekali pada waktu itu membuatnya sadar.


"Tetap saja sama, Sil. Ingatlah penderitaan yang dialami Alianna saat dia kehilangan suaminya."


Rahang Silver mengeras, ini yang tidak bisa dikendalikannya. Saat seseorang menyinggung soal kehidupan orang tuanya yang kelam, Silver tidak akan tinggal diam.


"Belum saatnya, Paman."


"Ya, pastikan semuanya berjalan sesuai rencana."


"Akan aku lakukan."


"Apa kau mengenal mafia Spanyol itu? Sepertinya dia sedikit mengganggu operasi kita."


"Del Montaña?"


"Ya, siapa lagi. Hanya dia satu-satunya yang dekat dengan pembunuh itu."


"Apa maksudmu, Paman?"


Merasa bahwa Alfonso telah kelepasan bicara, ia segera mengalihkannya. "Kau mengenalnya?"


"Dia pandai bersembunyi."


"Ya, memang begitu seharusnya. Oh ya, aku dengar kau mulai menguasai pasar gelap Eropa. Benarkah?"


Alfonso meminum teh yang disuguhkan, menunggu jawaban Silver.


Silver terkekeh pelan, Alfonso sudah mengetahui hal itu tanpa ia beritahu. Entah siapa yang memberitahunya. Padahal, ia berniat menyembunyikan hal itu dari siapapun.


"Aku menghentikannya," ujarnya sedikit berbohong, memancing bagaimana reaksi pamannya.


"Huh?! Kenapa? Bukankah itu tujuan hidupmu dulu?"


"Menguasai Brazil itu sudah cukup. Aku berniat menyerahkan Dario Company pada Gregor kalau dia memiliki penerus."


Tanpa diduga, Alfonso menarik garis bibirnya ke atas. Silver menyeringai. Ia tahu sesuatu, hanya saja ia pandai berpura-pura tidak tahu. Dan, pura-pura bukan berarti bodoh.


"Bagaimana kau memutuskan hal sebesar itu sendirian? Gregor bahkan belum memiliki wanita."


"Aku mendorongnya dengan ini, dia telah lama sendirian."


"Tidak seharusnya Gregor yang memiliki perusahaan itu. Keturunanmu yang akan meneruskannya."


"Wanitaku telah tiada."


Matanya kembali menerawang pada kejadian silam, Paula telah meninggalkan dirinya.


*****


"Aku belum memaafkanmu, Delore."


"Aku tahu, aku tidak memintanya."


"Kau menyembunyikan wanita murahan itu."


"Dia menjadi wanita karenamu, Dom."


"Siapa?!"


Peyton masuk ke ruang ganti pria tanpa mengetuk.


Silver dan Rodrigo menghela napas jengah. Ke manapun mereka pergi, perempuan keriting itu selalu menempel.


"Siapa yang menjadi wanita karena kekasihku?"


"Kekasih? Ya, dia kekasihmu sekarang, bukan dulu."


"Dulu dan sekarang tidak ada bedanya, sialan!"


"Wanita iblis," gumam Rodrigo menggeram. "Dulu dia bukan kekasihmu!"


"Hei! Sil, kau mau ke mana? Hei! Tunggu!"


Peyton berlari mengejar Silver yang pergi setelah mengganti pakaiannya, ia berbalik dan mengacungkan jari tengahnya ke arah Rodrigo. "Dia milikku!"


"Dasar iblis!"


"Hei! Sil! Tunggu aku!"


Silver terus melangkah lebar ke arah lapangan tanpa menghiraukan Peyton yang kelelahan mengejarnya. Gadis itu terjatuh karena terantuk tumitnya sendiri. Lututnya terluka, tetapi ia masih berusaha berdiri dan menenangkan dirinya.


"Kau baik-baik saja, P. Tidak apa-apa, dia hanya sibuk dan berusaha profesional. Dia milikmu!"


Ia meniup lututnya yang berdarah dan mengusap air matanya.


Silver pergi bergabung dengan rekannya, kembali pada aktifitas sehari-hari sebelum bertanding nanti malam.


"Kau menghilang beberapa hari ini, Sil."


Ia tersenyum menanggapi. "Aku memiliki pekerjaan darurat."


"Si Tua Luke itu terus saja marah tanpa alasan. Untung saja Arthur sabar menghadapinya. Jika managermu yang lain pasti akan segera mengundurkan diri."


"Itu alasan aku mempertahankannya."


Melihat Peyton dan Rodrigo sedang berdebat di pinggir lapangan, rekan-rekannya berbisik pada Silver.


"Gadis keriting itu terus menempel padamu. Dia sekarang tinggal bersamamu?"


"Tidak. Dia datang tanpa permisi."


"Wah.... Kau hebat, Sil. Ketua Federasi pasti sangat bangga memiliki calon menantu sepertimu."


"Calon menantu?" beonya. Seakan mengerti dengan itu, Silver langsung menendang temannya itu. "Sialan kau, Richard. Dia bukan wanitaku."


"Kau sendiri yang mengatakannya."


"Dia hanya...." Perkataannya menggantung saat melihat Rodrigo memojokkan Peyton ke tiang gawang. "Oh, sial."


Silver berlari ke sana dan berusaha menghentikan aksi gila Rodrigo.


"Dia iblis, Sil."


"Sil...."


"Berhenti menangis! Lepaskan, Rod."


"Tidak, aku lapar sekarang. Aku akan memakannya."


"Aku bukan makanan!"


"Lepaskan! Sial."


Silver langsung menarik kostum tipis Rodrigo dan memberikan sebuah pukulan di wajahnya. Rodrigo tersenyum sinis, cengkramannya terlepas dari kerah gaun Peyton.


"Kau membela seekor binatang, Sil. Dia iblis!" Ia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Ya, sama sepertimu."


Silver langsung menarik tangan Peyton yang masih syok di tempatnya.


"Jangan bersikap semaumu di sini. Ini rumah para atlet bukan tempat gadis manja sepertimu."


Peyton mengerucutkan bibirnya, ia mengikuti ke manapun Silver membawanya.


"Aku ingin selalu di dekatmu."


"Tapi tidak di lapangan."


"Aku tahu, aku menunggumu."


"Diamlah di sana. Jangan pergi ke manapun, nanti aku repot mencarimu."


"Baiklah, sayang. Aku mengerti bahwa kau mengkhawatirkanku."


Mode pabriknya kembali on, gadis super menyebalkan versi Silver.


"Berhenti mengatakannya atau aku membuangmu di sini."


Peyton memutar bola matanya, kemudian tanpa suara ia mencium bibir Silver.


"Apa yang kau lakukan?!"


"Menciummu. Berhenti menggerutu, aku tahu kau tampan."


Ia mendudukkan Peyton di sebuah bangku kayu di pinggir lapangan itu, lalu menunduk tepat di wajah gadis keriting itu.


"A-apa sayang?"


"Mengulangi yang tadi."


Bukan kecupan, tapi gigitan keras sehingga Peyton berteriak dan memukulnya.


"Kau gila, Sil. Aku kekasihmu."


"Well, aku boleh melakukan apapun."


"Tapi bukan menggigit."


"Agar kau pandai berciuman."


"Huh?!"


"Ya, seperti ini."


Ia mendekatkan wajahnya tetapi langsung ditepis oleh Peyton.


"Apa?"


"Itu.... Luke datang."


"Sial."


Silver berlari ke tengah lapangan tempatnya kembali pada rutinitas.


"Kau akan mendapatkannya, Sayang!"


Silver menoleh, mendapati Peyton sedang tertawa sendiri sambil memegang bibirnya yang memerah karena gigitannya.


"Gadis gila."


*****


Sampai tengah hari, Sue masih merasakan mual yang teramat besar. Bubur gandum yang diberikan Carissa tidak menetap di perutnya.


"Bertahanlah, Sayang. Mom kuat," lirihnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Bau muntahannya sedikit mengganggu indra penciumannya sehingga rasa mual itu kembali menyerang.


"Rodrigo.... Dimana kau?"


Ya, ia masih memercayai fakta bahwa Rodrigo adalah ayah biologis calon anaknya.


"Aku percaya padamu, jangan tinggalkan aku."


Ia mengingat bagaimana Rodrigo mengelus dan memijat punggungnya saat ia mual dan muntah.


"Aku masih mual, bawa aku pergi bersamamu. Aku takut di sini. Pria silver itu seperti penjahat meski wajahnya tampan."


Ia berbicara sendiri seakan di sana ada Rodrigo bersamanya sehingga rasa mual itu sedikit reda.


"Aku dan anak kita merindukanmu. Kau tidak datang menemui kami sejak aku tiba di sini."


Suara orang yang ribut-ribut di luar membuat Sue penasaran. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan mengintip lewat celah pintu kayu itu.


Betapa terkejutnya ia saat pintu tersebut dibuka paksa oleh pria tua yang mendatanginya kemarin.


"D-dia.... Akh... kepalaku... sakit... akhh...."


Ia terjatuh sebelum pintu tersebut berhasil dibuka.


"Oh, makanan lezat. Kau akhirnya menyerahkan dirimu."


Seringai iblis di wajah pria tua bermanik abu itu tampak jelas. Ia menarik sebuah pistol kecil yang mirip punya Silver, tapi sedikit lebih besar.


"Inilah akhir hidupmu, j*l*ng. Temuilah pengkhianat itu di neraka."


Ia menarik pelatuknya dan timah panas itu langsung bersarang di dada.


.


*****


Love,


Xie Lu♡