Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 27



Happy reading!


.


***


Pagi itu Silver langsung berangkat. Di depan pintu, dia mencium kening istrinya.


"Jaga dirimu dan anak kita baik-baik, aku punya firasat buruk."


Sue tersenyum, dia memeluk Silver dengan erat. "Jangan khawatir, aku juga pernah diam-diam belajar cara menembak tanpa sepengetahuanmu."


Lelaki itu tentu saja sedikit kaget. Dia menarik Sue agar dapat melihat wajah wanita itu.


"Kau melakukannya? Dari mana kau mendapatkan benda tajam itu?" Silver bertanya khawatir. Dia tidak ingin istrinya melakukan perbuatan yang membahayakan.


Sue terkekeh mendengar suara Silver yang ketakutan. Dia mengecup bibir Silver untuk menenangkan suaminya.


"Kau menyimpannya di tempat yang bisa ku temukan. Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan."


Mengingat di mana saja dia pernah menyimpan pistol, Silver tidak bisa melakukannya dengan baik. Setahunya, dia menyimpan benda-benda itu jauh dari jangkauan sang istri.


"Kau menyimpan beberapa di mobilmu. Aku menemukannya karena melihat mobil yang sering kau pakai itu sedikit bersinar dari biasanya. Dan ternyata, kau telah mempertaruhkan hidupmu untuk itu."


Silver terdiam tidak percaya. Kenyataan yang berusaha disembunyikannya ternyata diketahui sang istri. Dia merasa istrinya menjadi sangat berbahaya.


Tidak hanya pandai membuat orang lain merasa damai, ternyata juga bisa membuatnya jantungan seketika. Bagaikan bom waktu yang meledak disaat yang tidak diprediksi.


"Kau tidak mengatakannya padaku, Sayang."


Sue terkekeh pelan. "Aku tahu kau melarangku. Aku hanya berusaha menjaga diri sendiri agar tidak terlalu membebanimu."


Perempuan itu melepaskan tangannya. Dia mendorong Silver agar melepaskan tangan yang masih memeluk pinggangnya.


"Pergilah, mereka sudah menunggumu." Sue menunjuk pada beberapa pramugari yang menunggu Silver.


"Mereka digaji untuk itu, Sayang," ucap Silver kembali menarik istrinya dalam pelukan. "Jangan lakukan apapun yang akan membahayakan dirimu sendiri, Sayang. Jangan membuatku takut, ok!"


"Aku janji. Lepaskan tanganmu, kau harus berangkat sekarang."


Silver tersenyum ketika istrinya berdecak sebal karena pelukannya yang sangat erat.


"Baiklah, jaga dirimu dan anak kita. Aku akan segera kembali."


"Apapun yang terjadi, jangan lupa untuk bersyukur, Sil." Lelaki itu tersenyum, dia melambaikan tangannya.


Sue membalas lambai tangan itu sambil tersenyum. Dia terkejut saat Diego muncul dan menarik tangannya.


"Moon, kau benar-benar pernah melakukan itu?"


"Melakukan apa?" Sue bertanya bingung.


"Cara menembak."


Sue tertawa, dia menggeleng. "Aku hanya memancingnya agar mengatakan sesuatu, tapi sepertinya dugaanku memang benar. Dia telah kembali lagi."


Diego menatapnya tanpa kedip. "Apa kau tidak marah, Moon?"


"Untuk apa? Aku tahu dia sekarang berbeda, tidak melakukan apapun yang merugikan orang lain seperti dulu. Kau akan menyerang balik kalau ada yang menginjak kakimu, bukan?"


Diego meringis. "Kau benar-benar memiliki dua sisi yang berbeda, Moon. Darkside and Lightside," gumam Diego yang masih didengar Sue.


"Apa?" Sue tertawa tidak percaya. "Aku tidak sebaik yang kau bayangkan, Diego. Aku bisa lebih berbahaya kalau ada yang berani menyentuh keluargaku."


"Yes, I see. Aku akan ke sekolah, Moon. Selamat pagi."


Sue membungkuk agar Diego bisa menggapai wajahnya. Dan anak kecil yang berseragam lengkap itu mencium pipinya bersalaman.


"Aku pergi, Moon." Diego pergi disusul oleh sang sopir yang akan mengantarnya.


"Jaga anakku dengan baik, Kris."


"Baik, Nyonya."


Sue kembali dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Dia masuk ke kamar Alita yang sedang bermain dengan Carissa.


"Kau bisa pergi melakukan pekerjaan yang lain, Carissa. Aku akan di sini bersama Alita."


"Baik, Nyonya."


Carissa meninggalkan ruangan itu. Tepat keluar dari pintu, dia mendapat sebuah pesan yang berisi ancaman yang sama persis dengan beberapa waktu lalu.


Bibir itu menyeringai. Dia membalasnya dengan penuh emosi, tangannya mencengkram erat ponsel itu seakan ingin meremas habis alat komunikasi itu.


Berlalu dari sana, dia menemui seseorang yang menjadi sekutunya.


"Jangan sampai lengah dengan keadaan di sini! Sepertinya target kita akan beraksi."


"Baik, Señorita."


"Beritahu yang lain, kau harus tetap seperti yang sudah direncanakan. Bila terjadi sesuatu, utamakan keselamatan Nyonya."


***


Pemilik manik kuning itu tersenyum ketika bayi kecil di atas karpet itu mengayun tangannya dan ingin meraih benda yang ada di tangannya.


"Ini benda tajam, Sayang. Kau akan melakukannya kalau sudah besar," ucap Sue lembut sambil mengembalikan tangan Alita yang masih berayun-ayun itu.


Sue kembali merajut sebuah syal dengan motif yang diinginkannya. Tangan Alita terus menyentuh kakinya. Sue terkekeh ketika melihat dagu Alita penuh dengan ludah karena terlalu lama membuka mulut.


Bayi kecil menggemaskan itu belum pandai beradaptasi. Dia sering menangis jika dadanya sakit karena kelamaan dalam keadaan tengkurap.


Dengan telaten, Sue menghapus ludah itu. "Tutup mulutmu, Sayang. Daddy akan memarahimu kalau melihat liurmu keluar."


Wajah bulat yang sangat mirip dirinya itu tersenyum. Dengan tangan yang terus berusaha menggapai benda di tangannya, Alita mulai meringis.


Dan Sue tahu, posisi seperti itu mulai tidak nyaman. Karena itu, dia menghentikan aktifitasnya dan menidurkan Alita dalam posisi telentang. Tapi bayi itu tidak menurut.


Dia kembali beraktifitas semaunya. Dengan sabar dan penuh wibawa keibuan, Sue tidak menyerah. Dia menidurkan Alita dan memberikan boneka kecil agar bayinya diam.


Hanya suka dalam beberapa saat dengan boneka itu, Alita kembali ke posisinya semula. Hingga kedatangan Diego membuat bayi kecil itu menghentikan gerakannya.


Dia menyambut Diego dengan senyum.


"Aku datang, Mona Elle," ucap Diego tersenyum sambil mencubit pipi Alita.


"Apa saja yang yang kau lakukan, Mona? Apa merepotkan Moon kita, hmm?"


Diego mencium pipi yang menggemaskan itu. Alita meraih tangan Diego yang memegang pipinya itu dan membawanya ke dalam mulut. Dan itu membuat Diego histeris.


"Ini kotor, Princess. Jangan masukkan ke dalam mulut!"


Sontak Alita menghentikan gerakannya dan menatap Diego tanpa kedip. Merasa bahwa suaranya memang keras, Diego menyengir. Dia menatap Sue dengan tatapan bersalah.


"Sorry, Princess, aku tidak sengaja. Moon, apa dia akan menangis?" tanya Diego ketika Alita tidak bergeming.


Sue menatap Alita dengan tatapan yang sama. Dia tidak memberikan ruang bagi anaknya untuk bermanja-manja meski masih bayi.


"Tidak, biarkan saja. Jangan membujuknya, dia akan selesai dengan urusannya sendiri."


Diego melongo kaget. "Moon, kau berubah galak."


"Dan bisa memakan manusia kalau tidak mendengarkanku."


"Ayolah, Moon, princess masih kecil. Jangan terlalu keras padanya, ok? Dia masih belum mengerti. Dia mungkin mengira jariku ini camilan."


Sue menggeleng pelan. Dia masih melihat Alita yang tidak bergerak dari posisi tengkurapnya.


"Memanjakannya dari kecil akan terbawa saat dia sudah besar nanti, itu tidak bagus. Dan kau, jangan coba-coba membelanya kalau dia berbuat salah."


Diego menelan ludah kasar. Tatapan tajam orang yang disayangi memang sangat berbahaya, bagai bara api yang membakar hangus seluruh kota.


Dia menyengir agar Sue tidak memarahi Alita lagi. "Aku mengerti, Moon."


Beberapa saat, Alita mulai bergerak gelisah. Posisi tengkurap membuatnya tidak nyaman. Sue yang menyadari itu membawa Alita ke pangkuannya dan menimangnya dengan kasih sayang.


Dia melihat mata hijau yang bulat itu kembali ceria seperti semula. Dan itu membuat Sue tersenyum.


"Kau harus belajar mandiri kalau bersamaku, Sayang. Daddy terlalu memanjakanmu hingga kau mudah tersinggung."


Diego yang melihat itu terkekeh pelan. Dia ikut memeluk Alita di lehernya.


"Kau membuatku takut, Moon. Aku pikir, kau akan memarahi princess-ku."


"Tentu saja aku akan memarahinya kalau dia melakukan kesalahan lagi."


Diego tidak bisa berkata-kata. Dia memeluk Sue dalam diam.


Moon benar-benar berbahaya.


.


***