
Happy reading!
.
***
Gesekan lekukan banyak wanita membekap tubuh, tidak banyak ruang untuk bergerak bebas. Mata hijaunya menjelajahi, menentukan titik bidik yang tepat untuk membunuh target dengan sekali tatapan.
Tangan yang ditutupi jaket kulit berwarna hitam itu menggoyang martini di gelas berleher panjang, memastikan minuman itu bercampur rata sebelum dilahapnya dengan sekali tegukan.
Pandangannya terus menari, memastikan target telah terkunci di titik yang ditentukan. Dengan tangan yang terus bergoyang, bibir tipisnya menyeringai.
Dentuman nada-nada dengan irama yang membuat tubuh terpikat untuk bergerak, memenuhi telinganya. Silver bersandar di kursi kayu berukiran jepara yang menurutnya unik dan cantik, membiarkan hembusan musik itu keluar begitu saja lewat telinganya.
"Kris, aku tidak melihat anak adopsi Laurent dan Luis di sana. Apa kau tidak mengundangnya?"
Lelaki yang sedari tadi berdiri di sampingnya mendekat, membungkuk agar Silver bisa mendengar. "Aku sudah memberi undangan berpita emas untuknya, Tuan. Aku pikir sebentar lagi dia akan datang."
Silver meneguk lagi minuman alkohol di tangannya, menyeringai dengan bibir tipisnya. "Atau dia ketakutan hingga berpikir untuk melarikan diri?" Silver terkekeh.
Kris tidak menyahut, kejadian ini berulang kali terjadi jika Silver mengundang khusus para tamu penting. Dan Brodie yang dimaksudnya ialah seorang informan, tentu saja sudah mengetahui sebanyak mungkin hal yang berhubungan dengan Silver.
"Kau bisa mengantar mereka ke tempat yang sudah disiapkan, Kris. Mereka akan terlihat memalukan jika dilihat masyarakat di dekapan wanita bar."
"Baik, Monsieur." Kris pergi, meninggalkan lelaki bermanik emerald itu dengan kilatan iblis di matanya.
"Laurent Mapelli, Presiden Luis, kalian memang sangat mudah dirayu." Dia melihat kedua lelaki paruh baya itu dengan mudahnya jatuh ke dalam perangkap wanita, menempel dan bahkan menunjukkan ketertarikan dengan wanita di kelab malam itu. "Sampah masyarakat yang memang harus dibasmi," ucapnya sinis.
Fokusnya teralihkan saat seorang wanita muda mendekatinya, menyentuh pahanya dengan sensual. Silver terkejut, dia melirik wanita itu dengan tajam.
Penasaran dengan apa yang dilakukan wanita itu selanjutnya. "Monsieur, kau sendirian. Biar aku menemanimu minum."
Gesekan-gesekan gundukan dada wanita itu di lengannya membuat Silver jijik. Dia mengibaskan tangannya, menyuruh wanita itu menjauh. Tapi wanita itu bersikeras.
"Ayolah, Monsieur, kau terlihat membutuhkan hiburan. Aku bisa membuatmu melupakan segala kesedihanmu, menyenangkanmu dengan sekali main."
"Jalaang," desisnya marah. "Apa aku terlihat lapar dengan hal itu? Enyah kau dari sini! Aku tidak butuh wanita penggoda menjijikkan, pergi kau!"
Silver mendorongnya hingga wanita itu tersungkur di bawah kakinya. "Enyah kau, jalaang!"
Wanita itu kembali bangkit, Silver melihat tangannya mengepal dan itu membuat dia menipiskan bibir mengejek. "Itu melukai harga dirimu? Ya, sayang sekali, wanita yang berharga rela kehilangan harga diri demi uang, itu memang tidak masuk akal. Kau harus mengasihani dirimu."
Tanpa diduga, wanita itu berlutut di hadapannya, meneteskan air mata dan terlihat menyedihkan. Berbanding terbalik dengan penampilannya yang terbilang sangat menawan.
"Aku tidak punya pilihan lagi, Monsieur, hanya ini pekerjaan yang bisa aku lakukan sekarang. Terima kasih telah mengatakan aku berharga, tapi ...."
Ucapannya terhenti karena isakan, membuat Silver menghembuskan napas pelan. "Bangunlah! Aku mengerti tentang itu, tapi aku tidak sedang mencari hiburan di sini. Aku bisa membantumu dengan keuangan."
Matanya berbinar, menatap Silver dengan cerah. "Apa kau serius, Monsieur?"
"Tapi kau harus melakukan sesuatu untukku."
Silver bisa melihat binar bahagia itu terganti dengan tatapan sendu. Bibirnya terkekeh miris. "Semua orang selalu membantu hanya untuk sebuah imbalan, itu yang selalu terjadi dalam hidupku. Tuhan memang tidak adil, mempertemukan aku dengan manusia seperti ini," ucapnya kemudian bangkit dari sana dan menghapus air matanya.
"Kau tidak menginginkan uang?"
Wanita itu berbalik. "Aku tidak akan menerima bayaran yang lebih banyak dari apa yang bisa aku lakukan, Monsieur, maaf telah mengecewakanmu."
Silver melihat punggung itu, berjalan gontai dan menundukkan kepala. "Seseorang menekanmu?"
"Bukan orang yang gampang dihadapi, Monsieur."
Dan seseorang yang lewat di seberang sana membuat wanita itu mencengkram gaunnya dengan erat. Silver melihat itu, seorang pengawal yang bersama Laurent tadi.
"Laurent Mapelli?"
Dia bisa melihat tubuh wanita itu menegang, dengan gerakan kaku meski mulutnya menyangkal. "Ti-tidak ...."
"Aku bisa membantumu balas dendam, kebetulan aku juga sekutu yang bisa kau andalkan. Bagaimana? Ini bantuan yang aku mintai tolong padamu tadi."
Berbalik dengan wajah yang kurang yakin, wanita itu mengangguk. "Apa bisa?"
"Keyakinan bisa membuatmu merasa yang mustahil menjadi mugkin."
***
Silver menunggu sambil meminum kembali minuman yang di tangannya. Dia menyeringai.
Penjaga di luar, semua anggotanya. Mempersiapkan diri untuk segala kenyataan yang mungkin saja akan terjadi.
Tanpa harus mengingat sopan santun dalam bertamu, dia langsung membuka pintu dan sesuatu yang tidak diduga terjadi.
Banyak pistol yang ditodong ke arahnya, menghentikan langkahnya yang hendak memasuki ruangan. Silver menyeringai, dia mengangkat kedua tangannya ke udara.
Dan di luar, para anggota Cameleon juga bersiap membidik balik.
"Ini kejutanmu Ketua Federasi? Atau milikmu Presiden Luis?"
Tapi kedua lelaki itu tidak menyahut, seseorang yang menjawabnya. "Selamat datang, Caméléon, kau memberiku kesempatan untuk balas dendam."
Silver tidak terkejut, wanita itu memang terlihat tidak biasa. "Tidak heran banyak yang mengenaliku, Nona. Aku terlalu banyak membuat keajaiban di hari kemarin."
Wanita bergaun peach itu mendekat dengan pistol di tangannya, terangkat dan menyentuh kening Silver.
"Kau membunuh Teresa, dan aku akan membalaskan dendam wanita malang itu dengan tanganku sendiri. Kau harus mati di tanganku, Tuan Dario."
Silver menyeringai tipis, dia bergerak maju, membiarkan ujung pistol itu menekan keningnya. Membuat wanita itu refleks berteriak.
"Jangan bergerak, kalau tidak kau akan mati sebelum mengatakan kalimat terakhir."
"Kalimat terakhir? Aku pikir kau yang harus melakukannya."
Secepat mungkin, Silver menarik pergelangan tangan yang memegang pistol itu dan menghadang pada wanita itu sendiri. Dan saat itu pula, todongan pistol yang tadi diarahkan pada Silver berubah haluan. Bersiap meledakkan kepala wanita itu.
"Sialan! Kau tidak bisa membunuhku! Aku harus membunuhmu terlebih dulu!"
"Sayang sekali ...." Silver menyeringai.
"Ucapkan salam perpisahan pada kedua sekutumu. Bagaimana menurutmu Tuan Mapelli dan Tuan Alvaro?"
Kedua orang itu berdiri tanpa ikut menimbrung. "Oh sayang sekali, mereka bukan sekutu yang pantas mendengar perkataan terakhirmu."
"Lepaskan tanganku, sialan! Aku harus membalaskan dendam Teresa!"
Silver memegang pistol itu, dengan jari yang bersiap menarik pelatuk. "Selamat jalan, penghalang rencanaku."
Histeris si wanita dengan darah yang menetes di lantai menutup persitegangan. Silver tidak menerima ampun, dia masih bersikap kejam.
"Maaf, Tuan Mapelli, aku membunuh wanitamu."
Lelaki paruh baya itu menegang, mengepal tangannya kuat. Silver mendekat, mengambil selembar foto dari sakunya. Terlipat dan sedikit kusut. Memberikannya pada Laurent.
"Masih baru, tapi saku jaketku sempit."
Juga selembar kertas untuk Presiden Luis. "Kau mengetahui siapa diriku, Presiden, tapi tidak apa-apa. Kau beruntung, aku juga demikian. Semua akun rahasiamu aku juga mengetahuinya."
Kedua lelaki itu tampak terkejut. "B-bagaimana mungkin ...?"
"Ini bukan fotoku, Silvester!"
Silver terkekeh, dia mengambil gambar dari tangan Laurent. "Tahi lalat di kening ditutupi dengan plester luka, bekas luka di telinga terlihat persis denganmu, Ketua Federasi. Kau ingin lebih banyak lagi, Tuan Mapelli?"
"Keparatt!! Kau mempermainkanku, Silver!" teriak Laurent.
"Aku bisa melihat kau bermesraan sebelum wanita itu menjadi mayat."
"Aku tidak melakukannya!"
Manik emeraldnya memindai seluruh ruangan. "Tidak ada kamera di ruangan ini, tapi di sepatu dan kancing penjaga di sini banyak."
Menggertakkan gigi dan mengepal tangan, Laurent hendak memukul Silver tapi lelaki di sampingnya menahan.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya presiden.
"Ketua Federasi lebih mengetahuinya, Presiden. Hanya permintaan kecil, untuk mengembalikan katak kecil ke habitat sesungguhnya. Uang bukan masalah 'kan, Presiden?"
.
---
Ig @Xie_Lu13