Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 25



Happy reading!


.


***


"Apa saja yang kau lakukan sekarang?"


"Berkencan," jawab wanita berkepala plontos itu membuat Silver tersedak minuman dingin di depannya.


"Kau bilang apa? Hahaha, aku tidak berpikir kau yang seperti ini bisa berkencan juga. Orang-orang pasti mengira pria itu seorang gay."


Barbara tersenyum kecut, bagaimanapun Silver selalu mengejek bahwa dirinya tidak seperti wanita pada umumnya. Tomboy dan juga kepalanya botak.


"Aku tetap berkelamin perempuan, Silver. Kau sialan."


Silver tertawa, dia memberikan selembar kertas kecil kepada Barbara. "Aku punya tugas penting untukmu, yang lebih mencerminkan dirimu yang seperti ini."


Silver kembali menilik penampilan Barbara, bar-bar seperti namanya. Gaya casual yang terbuka, jeans panjang dengan sobekan di mana-mana. Dan juga topi yang terbalik. Benar-benar tipe seorang perempuan bar-bar.


"Kau sangat meremehkanku, sialan! Semoga kau punya anak yang seperti ini."


"Hei, jaga bicaramu, Brielle. Tidak akan ku biarkan anakku seperti itu."


Barbara mendelik sebal. "Ini style dan fashion, Sil. Kau tidak mengerti karena kau hidup di bawah kegelapan."


"Ck, aku bingung kenapa pria itu menyukaimu."


"Sialan!"


Barbara melihat catatan kecil itu. "Siapa dia?"


"Kau akan mengetahuinya. Hanya seorang anak kecil yang salah arah."


"Jangan berurusan dengan anak kecil, Sil."


"Dia berbahaya."


"Kau yakin? Aku pikir anak kecil yang selalu menempel padamu itu yang lebih berbahaya."


"Diego?" Silver terkekeh. "Dia belum masuk ke dalam daftar. Istriku menyukainya."


Barbara menyeringai. "Kau bisa diasingkan, Sil. Rasakan itu!"


***


"Uncle, apa kau mencurigai Carissa? Aku pikir dia seseorang yang harus diwaspadai."


Silver mengapit Diego di lengannya, mengangkat tinggi anak kecil itu layaknya sebuah barbel ringan di tangannya kemudian menurunkannya dengan cepat.


"Uncle!" teriak Diego.


"Kau harus waspada meski dia suruhan Max. Aku tidak tahu trik apa yang akan dia lakukan."


"Jadi kau sudah tahu, Uncle?"


Silver mengangguk. "Kau sedikit lambat."


"Tapi aku bisa menebaknya 'kan?"


"Ya, kau pandai. Kapan kau pergi dari rumahku?"


Diego melirik Silver sinis. "Kau mengusirku, Uncle? Aku akan mengadu pada Aunty."


"Ck, dasar ******** kecil. Aku hanya bertanya."


"Kau akan mengetahuinya nanti, Uncle. Banyak bertanya akan memperpendek umurmu."


"Sialan, kau benar-benar ******** kecil."


"Aku menantumu, Uncle."


Silver terkekeh. Dia membawa Diego ke sebuah ruangan yang gelap.


"Uncle, ini gelap. Apa kau akan memutilasiku di sini?"


"Kau takut mati?"


"Aku tidak mau mati sebelum Mona Elle besar."


"Maka ikuti saja."


Silver kembali menuntun Diego, membiarkan anak kecil itu menyentuh sesuatu.


"Apa ini, Uncle?"


"Coba tebak."


Diego kembali menyusuri benda yang besar dalam kegelapan itu, dan menekan salah satu yang bisa menimbulkan bunyi.


"Piano?" gumamnya. "Apa maksudnya, Uncle?"


Silver menyalakan lampu ruangan itu sehingga Diego bisa melihat dengan jelas benda-benda yang ada di sana.


"Wow, semua alat musik lengkap di sini," ucap Diego takjub.


"Kau bisa mempelajari salah satu dari mereka. Aku tidak ingin anakku melihat sisi kelam dirimu. Dia seorang gadis."


Diego menatap Silver intens. "Uncle? Kau tidak sedang mengigau 'kan? Kenapa kau mengatakan itu?"


"Sialan, aku tidak tidur."


"Jadi?" beo Diego tidak percaya. "Kau mengizinkan aku menjadi menantumu?"


Silver memalingkan mukanya dari anak kecil yang terlihat bingung bercampur bahagia itu.


"Berhenti mengatakan itu. Kau harus bisa mempelajari salah satu alat musik itu."


Wajah Silver berubah datar. "Terserah."


"Yes! Kau benar-benar kalah, Uncle!"


Silver menatap Diego tajam, dia mengingat taruhan yang diucapkan Diego. "Anakku bukan taruhan, D'antonio!"


"Come on, Dad, aku hanya bercanda. Aku tidak akan melakukan apapun yang akan menyakitinya."


"Kenapa kau memilih 'Dad' sebagai panggilan untukku?"


Diego menggeleng. "Tidak ada alasan, aku hanya ingin. Dan, aku akan mempelajari piano ini dan gitar itu." Diego menunjuk dua benda itu.


***


"Aku melihatmu terus cemberut, Sil. Ada apa?"


"Tidak ada, Sayang. Aku hanya kesal pada ******** kecil itu."


Sue tergelak, dia tahu Silver tidak pernah akur dengan Diego.


"Kau harus menyayanginya seperti anak kita, Sil. Dia sangat manis dan imut."


"Ck, dia berjanji seperti orang dewasa. Aku tidak menyukainya."


"Itu bagus. Anak yang punya pendirian sejak dini bisa dipercaya dan memiliki tanggung jawab untuk bertindak."


"Dia memanggilku 'Dad', aku pikir dia menggantikan sosok Laurent dengan diriku."


Sue tertegun. "Kau bisa menjadi ayah untuk dua anak kita."


"Dua anak? Tidak, dia ********."


"Ayolah, kau sudah berjanji padaku. Ingat?"


Silver memutar bola mata jengah, Sue sudah menduplikati dirinya dalam hal ancam-mengancam.


"Aku tidak mau tidur di luar, Sayang. Aku akan menurutimu."


"Tapi ini berlaku untuk selamanya."


"Baiklah, kau menang aku takluk."


"Di mana Diego?"


"Aku memberinya tugas penting."


"Apa itu?" Sue terlihat khawatir, dia berpikir Silver memberi tugas yang berbahaya pada Diego. "Kau menyuruhnya berburu lagi?"


"Astaga, kau selalu berburuk sangka padaku, Sayang. Tenanglah, aku tidak melakukan itu lagi. Aku tidak mau dimarahi."


"Lalu tugas macam apa itu?"


"Hanya bermain."


"Bermain?"


"Bermain yang berfaedah. Kau yang bilang menyukainya 'kan? Dia harus jadi seseorang yang pantas untuk disukai istriku."


Sue mengerucutkan bibirnya, dia bermain-main dengan hidung Silver. "Kau masih sangat jahat, dia anak kecil, Sil."


"Pembentukan karakter harus dimulai dari sekarang, Sayang. Jangan salahkan aku."


"Permainan apa yang kau berikan?"


"Bermain musik."


"Musik?" tanya Sue, dia menatap suaminya meminta penjelasan. "Kau biarkan dia bermain sendiri?"


"Laurent punya bakat musik, mungkin ada sedikit yang menurun padanya."


Sue mengangguk paham, dia memang tidak pernah tahu siapa Laurent D'antonio itu. Dan tentang bakat bermusik yang dikatakan Silver, Sue meragukan kemampuan Diego.


Anak kecil yang dikenalnya itu hanya pandai bermain pistol dan melakukan hal-hal lain. Sue tidak pernah melihat Diego memegang alat musik atau bernyanyi.


"Apa Diego bisa melakukannya?"


"Bakat tersembunyi pasti akan keluar dengan sendirinya jika berhadapan langsung dengan hal yang berhubungan, Sayang."


Silver menyeringai, dia mengecup bibir istrinya. "Seperti kau yang langsung jatuh cinta padaku saat pertama kali bertemu."


"Dasar cabul," ucap Sue memalingkan muka. "Aku tidak begitu," sangkalnya.


"Atau kau jatuh cinta saat aku tanpa pakaian?"


"Silver! Kau benar-benar mesum!"


"Ayolah, tidak perlu malu lagi, Sayang. Kita sudah punya hasil dari itu."


Pipi Sue memerah, dia menutupinya dengan menempel di dada Silver. "Kau cabul, berhenti mengatakan itu!"


"Sayang, kau masih malu? Astaga, kau benar-benar masih di bawah umur."


"Dan kau pedofil," ucap Sue membuat Silver terkekeh.


"Kau mencintainya."


"Aku tidak menyangkal itu."


"Ayo kita buat anak lagi."


"Ahhh, Silver! Lepaskan aku! Alita masih kecil!"


.


***