Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 47



Happy Reading!๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜


.


*****


"Kenapa mata aunty merah? Aunty menangis?"


"Tidak, debu masuk ke mata aunty."


"Cih, dimana ada debu di rumah ini? Mansion ini disterilkan, Aunty!"


"Berasal dari jendela bagian sana!"


"Astaga, jangan menipuku, Aunty! Di luar sana halaman luas berumput dan sekarang musim hujan."


Sue menelan ludah kasar, mengelak dari anak kecil itu sangat sulit. "Debunya sudah mengering dan diterbangkan angin, sayang."


Diego mencebikkan bibirnya, dia tahu Sue berbohong padanya.


"Apa uncle Sil memukul aunty?"


Sue terbelalak. "Ti-tidak...."


"Ayolah, aunty. Aku tahu kalau wanita menangis pasti adalah alasan di balik itu."


Diego menggoyang-goyangkan tangannya meminta jawaban. Dia menengadahkan kepalanya menatap dalam manik kuning itu.


"Apa uncle Sil melakukannya? Aku tahu dia pernah memukulmu, aunty."


Kali ini, Sue terdiam menatap tidak percaya. "Siapa yang memberitahumu?"


Bukannya menjawab, Diego malah menarik-narik lengan gaun yang dikenakan Sue. "Beritahu aku, aunty. Dia pasti melakukannya, bukan?"


"Tidak...."


"Aku bisa melihat ada air mata di sana, aunty."


Tangan kecilnya menunjuk ke sudut mata Sue. "Ini kelilipan namanya, sayang. Percaya pada aunty, ok?"


"Aku tidak percaya, aunty. Kau pasti sedang membela uncle."


"Aku tidak melakukannya, sayang. Mata aunty kelilipan."


"Aku tidak percaya! Aku akan menyuruh uncle Rod membawamu lagi dari sini! Uncle Rod! Uncle!"


"Kau mau ke mana, Igo? Ayo ke sini, kau bilang merindukan aunty, bukan? Diego!"


Tetapi anak kecil itu sudah berlari menaiki tangga. Sue menghela napas, kebohongan tidak bisa ditutupi di depan anak kecil itu. Dia berpikir apa mungkin semua anak kecil memang sepeka itu.


"Bahkan dia mengerti arti setitik air mata," gumam Sue sambil menyeka air mata yang sempat ditunjuk Diego tadi.


Perlahan, kaki Sue melangkah keluar dari ruangan itu. Semenjak Gregoria dan anaknya pergi tadi, Sue sendirian di sana dan memiliki lawan bicara saat Diego datang.


Halaman belakang mansion dengan kolam yang luas menjadi tempat idamannya. Angin berhembus pelan dengan matahari yang sedang merangkak naik menjadikan suasana di kolam itu sedikit nyaman.


Air di kolam itu hangat meskipun udara dingin. Dengan senyuman yang terulas di bibirnya, Sue duduk di pinggir kolam dan memasukkan kakinya ke dalam air.


"Ini lebih baik," gumamnya.


Seraya memainkan air kolam dengan kakinya, tangan lembutnya mengusap perutnya yang sedikit membuncit.


"Jangan dengarkan apa yang dikatakan daddy ya, sayang. Daddy-mu suka bercanda, dia sayang padamu."


Kenyamanan itu berlangsung sesaat sebelum sebuah suara mengagetkannya.


"Kau masih di sini, j*l*ng!"


Senyuman sinis tercetak jelas di bibir berwarna merah menyala itu. Tangannya tak segan-segan menyentuh pundak Sue dan meremasnya.


"Kenapa kau tidak membuang saja anak haram yang kau kandung itu? Silver bahkan tidak mengakuinya sebagai anaknya."


Dengan wajah datar, Sue mendongak. Menatap langsung tepat di mata perempuan berambut keriting itu.


"Meskipun dia terlahir tanpa seorang ayah, aku bukan ibu yang berhati iblis," ketus Sue.


"Astaga, kau wanita bodoh. Bukankah menjalani hidup menjadi seorang janda itu sangat berat? Kau bisa kehilangan semua kemewahan yang kau inginkan."


"Bersama anak yang ku lahirkan itu juga sebuah kemewahan yang tidak dapat dinilai dengan harga seberapapun, Nona."


"Kau?!" erang Peyton frustasi. "Tidakkah kau tahu betapa cocoknya aku dan Silver? Berhenti berharap di dalam pikiran bodohmu itu, j*l*ng!"


Sue tersenyum sinis, tidak ada rasa takut dalam dirinya ketika melihat kobaran amarah di mata Peyton.


"Aku tidak buta, Nona. Dan semuanya sangat jelas terlihat oleh mataku, bahkan pakaian dalammu yang berwarna merah itu," tunjuk Sue pada pakaian dalam Peyton yang benar-benar berwarna merah. Gaun yang dikenakan perempuan itu sangat pendek sehingga pangkal pahanya terekspos.


"Jaga matamu, j*l*ng!" teriak Peyton.


Sue mengangkat bahunya dan terus memainkan air dengan kakinya. "Kau menjulukiku dengan nama laknat itu? Kau harus paham, Nona, seorang wanita dengan julukan seperti itu memang tidak bisa menjaga matanya."


"Wanita gila! Pergi dari rumah kekasihku!"


"Kau tidak berhak mengusirku, Nona."


"Silver kekasihku dan rumah ini akan menjadi milikku!"


"Masih menjadi kekasih, bukan? Berarti masih ada kemungkinan dia bisa membunuhmu," balas Sue dengan tatapan tak lepas dari wajah Peyton.


"Dia akan membunuhmu untukku, j*l*ng! Silver tidak akan melakukan itu padaku!"


"Benarkah? Tapi sayang, aku tidak bisa mempercayainya."


Karena tidak bisa menahan kemarahannya, Peyton dengan seluruh tenaganya mendorong Sue ke dalam kolam itu. "Matilah kau dan anakmu, j*l*ng!"


Sue terkejut dengan tindakan Peyton. Air kolam itu langsung masuk ke dalam hidungnya saat dia tercebur di sana.


Sue terus meronta di dalam air itu, sesekali kepalanya muncul di permukaan. Tangannya menggapai udara, berusaha mengeluarkan suara tetapi mulutnya dipenuhi air.


Melihat itu, Peyton tertawa terbahak-bahak dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Cinta Silver akan bertambah untukku!"


Hingga paru-parunya hampir kehabisan udara, tidak ada seorangpun yang lewat di sana.


*****


"Apa yang kau lakukan di sini, D'antonio?"


"Memukulmu!"


Silver tertawa tidak percaya. Namun, matanya terbelalak saat Diego mengambil sebuah barbel bermassa 5 kg dan dilempar ke arahnya.


"Anak nakal! Kau ingin memukulku dengan benda berat itu?"


"Tentu saja, kau membuat aunty Sue menangis. Bukankah itu perbuatan jahat, uncle? Kau yang melarangku membunuh orang tetapi kau sendiri membunuh."


"Aku tidak membunuhnya, D'antonio." Mata hijaunya kembali menatap datar. "Dan kau bilang apa? Menangis? Aku tidak melakukan apapun padanya. Aku hanya menyuruhnya pergi dari rumahku."


"Benarkah? Kau membunuh perasaanya," tanya Diego sinis. "Tapi uncle Rod bilang kau mengambil rumahnya. Itu perbuatan jahat, uncle!"


Tangan kecil Diego memukul lengan liat milik Silver dan membuat anak kecil itu kewalahan.


"Kau lelah?"


Diego mengangguk. "Tangan uncle terlalu keras. Seperti batu."


Silver terkekeh. "Begitulah yang ku rasakan sekarang, D'antonio. Kau lelah memukul lenganku dan aku tahu pasti akan menyerah dan tidak mengulanginya, bukan?"


Dengan polos, Diego kembali mengangguk. "Tentu saja, aku tidak ingin tanganku patah karena memukul batu," dengusnya tidak suka.


Silver menarik tangan Diego agar mendekat ke arahnya dan mendudukkan anak kecil itu di atas hit power squad miliknya.


"Tidak mau," tolak Diego ketus. "Tanganku masih sakit."


"Itu yang uncle rasakan sekarang. Kau mengerti, bukan?"


Diego menatap tidak percaya pada Silver. Tatapannya seakan ingin memenggal kepala pria bersurai silver itu.


"Kau menyakitinya, uncle!"


"Kau tidak mengerti apapun, anak kecil." Silver mengacak gemas rambut Diego yang ditata rapi itu.


"Kau membuat rambutku jelek, uncle!"


"Astaga, kau masih saja marah padaku karena rambut jelekmu ini! Kenapa kau tidak pulang saja?"


"Kau mengusirku?"


"Ini rumahku!"


"Dasar pria tua tak punya hati," gumam Diego kesal.


"Apa?! Kau mengatakan aku tua? Ck, kau yang terlambat tumbuh. Lihat, tubuh jelekmu ini! Kau pantas disebut bayi!"


"Uncle!"


"Kau memang masih bayi, D'antonio."


"Balita, uncle!"


"Bayi!"


"Aku calon menantumu, uncle. Ingat itu!"


Silver terdiam dengan mulut menganga lebar. Hingga Diego memasukkan sebuah bola karet di dalamnya barulah Silver sadar.


"Sial---"


"Dilarang mengumpat, uncle."


"Kau memasukkan benda busuk itu di mulutku!"


Diego terkikik. "Itu milik uncle."


Silver memutar bola matanya malas. "Apa yang kau inginkan?"


"Menjadi menantu?"


"Ck, kau bukan menantuku, anak kecil."


"Ayolah, uncle. Dimana lagi kau mendapatkan menantu yang istimewa sepertiku? Ini paket komplit, uncle, tampan iya, tinggi oke, cerdas jangan ditanya. Memang menantu seperti apa yang kau inginkan?"


"Tidak ribut."


"Astaga, orang akan mengira kau memiliki menantu penjaga kuburan, uncle."


"Lebih baik daripada memilikimu, angin ribut!"


"Hah?! Angin ribut?"


"Ya, dan sedikit tengil."


"Apa?! Kau jahat, uncle!"


"Kenyataannya seperti itu, D'antonio. Pulanglah! Aku harus mengurus sesuatu."


"Tidak, aku ingin menemui aunty. Apa kau tidak ingin menemuinya?"


Air muka Silver langsung berubah, tatapannya kembali datar. "Tidak."


"Tidak ingin menyentuh perutnya?"


"Tidak."


"Tidak ingin melihatnya dari jauh?"


"Itu konyol."


Diego tertawa. "Kau menginginkannya, uncle."


"Tidak, pergilah!" Dia mengusir Diego dengan tangannya.


Hingga suara ribut-ribut dari luar mengalihkan perhatian keduanya. Diego yang sudah di ambang pintu menghentikan seorang maid yang berlari itu dan bertanya.


"Nona Peyton mendorong Nona Sue ke dalam kolam," jelasnya yang membuat Diego membelakkan matanya terkejut.


"Uncle!" teriak Diego histeris.


"Apa?! Kau menggangguku!"


"Aunty Sue!"


"Aku tidak ingin melihatnya lagi, Diego. Berhenti membahas wanita itu!"


"Dia tenggelam di kolam!"


Silver tersenyum miris. "Biarkan saja! Untuk apa kau mengkhawatirkannya? Banyak orang di rumah ini!"


"Dia.... Dia.... Uncle...."


"Astaga, jangan menangis, D'antonio!"


"Dia... tenggelam...."


.


.


.


.


iklan**


.


Netizen : kenapa gak dimatiin aja tuh si silver thor. kan kesel๐Ÿ˜’


Author : gue idupin salah, matiin apalagi. gue takut fans-nya bang Dybala ngroyok gue, ntar mereka lacak gue trus datangin rumah gue gimana๐Ÿ˜‘ ntar gue mati muda dengan status jones dong๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Netizen : matiin aja dia, gue kesel๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘ bodoamat sama lu yang jones


Author : gue gamau mati muda๐Ÿ™„ belum tau gimana rasanya kecap asin dicampur kecap manis


Netizen : halaah... lebay lu, rasanya pasti asin manis gitulah๐Ÿ˜†


Author : lu udah nyoba๐Ÿ˜ฎ


Netizen : belom๐Ÿ˜†


Author : ๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘


Jangan lupa bahagia meskipun belum bisa ketemu doi๐Ÿ˜.


.


*****


Love,


Xie Luโ™ก