
Happy reading!😊😘
.
*****
Perjalanan itu terasa panjang bagi Sue. Matanya tak henti mengeluarkan kristal bening dan segera dihapusnya kasar. Rasanya sesak mengingat semua kebersamaannya dengan Silver. Bagaimana pria menyakiti, meniduri bahkan hampir membunuhnya hingga akhirnya dia mengandung anak pria itu.
Tak terasa mobilpun berhenti tepat di depan bangunan kecil itu. Sue dikejutkan oleh suara sopir yang mengantarnya.
"Kita sudah sampai, Nona."
"Oh? Terima kasih, Kris. Kau bisa pergi sekarang."
"Biarkan saya membantu anda, Nona," ujar Kris saat Sue kesusahan mengeluarkan tasnya dari mobil.
"Aku bisa melakukannya, Kris. Pergilah."
Kris mengalah. Dia kembali masuk ke mobil dan membiarkan Sue masuk ke sana. "Tuan pasti akan melakukan yang terbaik untukmu, Nona. Dia bukan iblis," gumam Kris.
Lama Sue menatap toko itu. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun dia tidak menginjakkan kaki di tempat itu. Dia rindu rumahnya, tempatnya berteduh di saat hujan dan panas.
"Aku kembali lagi, Rumahku!"
Sue tersenyum dan membuka perlahan pintu yang bertuliskan 'CLOSE' itu.
"Aku pikir tempat ini tidak terawat," gumam Sue perlahan saat melihat tempat itu rapi dan banyak bunga berjejeran.
Dia mendekat ke tempatnya biasa menerima pesanan. Telinganya menangkap suara aneh di sana. Langkahnya memelan saat melihat rambut berwarna merah di balik meja.
"Siapa itu?"
Dengan sangat ketakutan, Sue mengambil salah satu tangkai bunga guna menutup matanya dan mengintip apa yang terjadi di sana.
"Awwww.... Kau?!"
"Wtf, kau di sini, Sue?"
"A-apa yang kau lakukan bersamanya?"
Sue menunjuk seseorang yang tampak acak-acakan di belakang Rodrigo.
"Dia kekasihku, Sue. Namanya Lidya."
"Aku tidak menanyakan namanya. Kenapa kalian di sini?"
"Dia menjaga toko ini, Sue."
Mata Sue terbelalak. Dia tidak menyangka perempuan itu yang menjaga tokonya.
"Sejak kapan?"
Lidya menyebutkan waktu pertama kali dia datang ke sana dan tepat di hari Sue masuk ke mansion Silver.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Seorang pria bermata abu, tubuhnya tinggi dan berjambang. Aku tidak tahu namanya."
"Astaga, aku tidak percaya ini. Apa kau mendapatkan upah?"
Lidya tersenyum. "Tentu saja. Cukup untuk kebutuhanku beberapa tahun kemudian."
"Semoga kau mendapat kebahagiaan."
Kening Lidya berkerut tidak mengerti ucapan Sue.
"Rod, kenapa kau masih berdiri di sana? Apa kau ingin mempertontonkan dadamu pada semua orang?"
Yang ditegur hanya menyeringai. "Kau mengganggu kegiatanku, Sue."
Lydia yang mengerti itu tersenyum malu-malu, wajahnya bahkan merona.
"Ini siang hari, Rod. Apa kau tidak takut ketahuan?"
"Seperti sekarang?" Ia mendaratkan ciuman di bibir Lydia yang sukses membuat perempuan itu merona.
"Kau mesum."
"Seperti kekasihmu, Sue."
Sue terdiam dengan tatapan sendu. Yang dimaksud Rodrigo adalah Silver. Pria dengan segala pesona yang membuat siapapun takluk.
"Aku tidak memiliki kekasih!" ketus Sue seraya pergi dari sana dengan air mata yang sudah mengalir. Dia menaiki tangga ke lantai atas meninggalkan Rodrigo yang menyugar rambutnya frustasi.
"Tidak apa-apa, Rod. Dia kekasih Silver yang sering kau ceritakan?"
"Ya, namanya Suelita. Umurnya masih di bawahmu, Lydia."
"Yeah, I see. Dia masih sangat muda untuk hamil. Mengerti perasaannya, Rod."
"Mungkin sebaiknya kita pergi ke hotel, Sayang," ujar Rodrigo menyeringai.
"A-apa?"
Tanpa aba-aba, Rodrigo kembali melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda tadi setelah memesan taksi.
"Rod?! Rod?! Jangan berbuat mesum di tempatku! Keluar sekarang atau aku akan memotong barangmu!"
Lydia melotot saat Rodrigo kembali menciumnya tanpa menghiraukan teriakan Sue.
"Rod! Hentikan!"
"Taksi kita belum datang, sayang."
Bersamaaan dengan itu, bunyi klakson dari depan toko itu terdengar.
"Sial," umpatnya yang membuat Lydia terkekeh.
*****
"Astaga, pria sialan itu! Aku tidak menyangka akan melihatnya seperti itu. Sial, dia sangat seksi," gerutu Sue sembari merapikan kamarnya.
Kamar itu masih sama seperti saat dia meninggalkannya. Mungkin Lydia tidak menguasai seluruh tempat ini, pikirnya.
"Oh? Apa ini?" pekiknya lantang mendapati sesuatu yang aneh.
"Astaga, bau amis!"
Sue segera melemparkan benda itu dengan wajah jijik. "Apa itu barang milik Rod?"
Sue ingin sekali menangis ketika membayangkan apa yang terjadi di kamarnya saat dirinya tidak ada.
"Apa saja yang dilakukan pria sialan itu di kamarku? Yang benar saja dia menjadikan kamarku tempat bercinta."
Sue terus menggerutu tetapi tangannya tak henti membereskan benda yang menurutnya berantakan.
"Oh sial, apa lagi ini?! Rodrigo gila!! Dia benar-benar tidak waras. Apa semua laki-laki seperti ini pada perempuan yang ditemuinya? Astaga, dunia ini akan segera kiamat."
Wajahnya memerah karena amarah. Dia bersumpah di dalam hatinya akan mengutuk dan melampiaskan kekesalannya pada pria itu jika dia kembali lagi.
"Rodrigo sialan!!"
Merasakan tubuhnya lelah, Sue membaringkan diri di ranjangnya.
Sue terjatuh karena ranjangnya goyah. Bukan hanya goyah, tetapi kayu penyangga kasur itu patah.
"Apa yang dilakukannya pada rumahku?! Rodrigo sialan! Pria bodoh! Aku akan membunuhmu, sialan! Kau maniak sialan!"
Sungguh sebuah kejutan yang luar biasa baginya. Bekas pengaman ada dimana-mana bahkan ranjangnya ikut ambruk.
"Kejutan apa lagi yang akan menungguku nanti?" gumamnya seraya menuruni tangga.
Meski tidak ada yang menurutnya aneh, Sue tetap bergidik ngeri mengingat benda-benda yang ditemukannya tadi di kamar.
"Kau benar-benar merusak rumahku, Rod."
Sue memeriksa seluruh penjuru toko itu. Dapurnya sedikit berantakan meski tidak ada benda aneh seperti tadi.
Namun, satu hal yang membuatnya terkejut. Di langit-langit dapur itu ada lagi benda menyeramkan itu.
"Rodrigo!!!!"
Napas Sue terputus-putus. Dadanya terasa sesak menahan amarah yang teramat dalam. Bagiamana mungkin benda itu melengket di plafond. "Apa Rodrigo memakai lem?"
Sue menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sejorok itukah Rodrigo atau kekasihnya yang jorok, begitu pikirannya berkelana.
"Tidak, tidak mungkin Lydia. Pasti pria sialan itu yang melakukannya, ini bekas dirinya."
Saking marahnya, Sue bahkan lupa tentang kesedihannya karena diusir dari mansion Silver. Yang dipimirkannya sekarang hanyalah cara bagaimana dia membalas perbuatan Rodrigo dengan cara paling kejam.
*****
"Aku ingin semuanya selesai sebelum tahun baru tiba."
"Hei, apa kau bercanda, Tuan Tampan? Bagaimana mungkin semuanya selesai dalam waktu sesingkat itu?"
"Aku tidak peduli, tambahkan pekerjanya dan lipatgandakan upah bagi mereka."
"Astaga, kami bukan robot, Tuan."
"Aku memberimu uang dan aku hanya memintamu melakukan itu sampai batas waktu yang panjang, Mon."
"Astaga, waktu yang panjang bagaimana? Ini pertengahan musim dingin dan kau menyuruhku menyelesaikannya segera. Aku bisa gila, Tuan."
"Aku tidak peduli. Selesaikan segera!"
Silver mengakhiri panggilan teleponnya dan mendesah kesal.
"Aku rajanya, Mon."
Dia berbalik dan mendapati Peyton dengan menyilangkan tangan di depan dada sambil tersenyum manis. Jangan lupakan dengan bibir merahnya yang mengkilap dan pakaiannya yang sangat minim bahan dan seksi.
"Hola, mon amor," sapa Peyton seraya mengedipkan matanya menggoda.
"Sejak kapan kau di sana?"
"Baru saja, sejak kalimat 'Aku rajanya, Mon'. Siapa Mon? Apa dia selingkuhanmu? Jangan berani bermain-main di belakangku, Sil. Kau tahu aku bisa melakukan apapun padamu."
Silver memutar bola matanya malas. Namun, ttak urung dia juga lega karena Peyton tidak mendengarkan keseluruhan percakapannya.
"Dia memang kekasihku. Tapi, lupakan dia. Kau yang terutama di hatiku, Phyton."
Seringai iblis di bibirnya semakin melebar saat Peyton dengan senang hati menunjukkan seluruh bagian tubuhnya.
"Kau ingin bermain sebentar?"
"Kau tahu luka di dadaku belum sembuh, Phyton."
"Oh? Harusnya aku mengganti perbannya hari ini."
"Aku sudah menggantinya sendiri."
"Dengan bantuan siapa?"
"Tidak ada."
Peyton mengangguk dan menarik Silver masuk ke dalam kamar yang dikhususkan untuknya.
"Jangan berpikir kau bisa lari dari genggamanku, Sil. Kau hanya milikku selamanya," ujar Peyton seraya membuka kancing kemeja yang dikenakan Silver dan menyentuh otot yang liat di sana.
"Berhenti, Phyton."
"Tidak sebelum kau mengatakan aku adalah napasmu."
Silver diam tak menyahut.
"Katakan, Sil!"
"Tidak!"
"Katakan sebelum aku memberitahu dunia tentang dirimu!"
Dengan menghirup udara dalam-dalam, Silver mengatakannya.
"Kau adalah napasku, Phyton."
.
.
.
.
.
.
iklan**
.
Netizen : thor, gimana bang Rodnya? gue penasaran sm kelanjutannya😆
Author : kelanjutan apaan😒 orang gue penasaran sama apa yang silver bilang selesaiin dlm waktu singkat
Netizen : gue penasaran apa nanti dia dikebiri wanita hamil😆
Author : yaelah, pikiran lu jauh amat marimar😑
Netizen : bodo amat😆
.
Pasangan yg kasih big surprise
*****
Love,
Xie Lu♡