
Happy reading!😊😘
.
*****
"Are you ok?"
"Y-ya." Sue menjawab dengan sedikit takut. "Dimana Diego?"
"Pulang."
"Hah?! Dengan siapa?"
"Rodrigo."
"Kenapa tidak ke sini?"
"Aku melarangnya."
Sue memutar bola matanya malas. Dia tahu alasan Silver tidak mengizinkan Rodrigo mampir.
"Kau masih marah padanya?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau tidak mengizinkan Rodrigo mampir ke sini?"
"Aku tidak melarangnya, Lita. Dia memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan."
Sue mendengus. "Bilang saja kau masih marah."
Silver terkekeh lalu mendekat tetapi Sue berteriak.
"Jangan!"
"Astaga, kau mengagetkanku. Aku hendak mengambil ponselku."
"O-oh ya."
Sue menutup hidungnya dengan telapak tangan saat Silver mendekat.
"Apa masih mual?"
"Y-ya...."
"Kenapa kau masih gugup berbicara denganku?"
"Aku belum terbiasa."
"Bahkan kita sudah sangat dekat, Lita."
"Itu... itu... berbeda...."
Silver mengetik sesuatu di ponselnya membuat Sue merasa diabaikan. Karena kesal, dia mendekat dan menarik tangan Silver lalu menaruhnya di perutnya. Silver menegang.
"Dia merindukan usapan daddy nya."
Silver menyeringai. "Kau tidak mual?"
Sue menggeleng.
"Berarti aku bisa memelukmu malam ini."
"T-tidak bisa...."
"Kau harus membayar dosamu."
"Dosa?"
"Kau menipuku padahal kau tidak mual lagi saat di dekatku."
Sadar akan apa yang dilakukannya, Sue menarik diri hendak menjauh tetapi tubuhnya langsung dipeluk Silver.
"Aku merindukannya, Lita."
Napas Sue tercekat. Tangan Silver yang mengelus perutnya menggelitik jiwanya.
"Kenapa kau menyembunyikannya dariku waktu itu, Lita?"
"Kau tahu alasannya."
"Tapi kau tidak bisa menyimpulkan sesuatu tanpa berpikir resikonya. Bagaimana kalau dia terluka?"
"Aku menjaganya dengan nyawaku, Tuan."
Silver menyeringai, bibirnya menyusuri leher jenjang milik Sue.
"Tuan...."
"Hm."
"Hentikan...."
"Hm."
Bukannya berhenti, Silver malah membalikkan badan Sue sehingga berhadapan dengannya. Silver menyentuh bibirnya dan kembali mengecupnya.
"Tu-tuan...."
"Hm."
Sue terdiam membuat Silver menunduk dan menarik dagunya agar mendongak. "Ada apa?"
"Bagaimana dengan hutangku waktu itu?"
Silver terkekeh. Ternyata Sue masih mengingat perihal hutang yang membawanya ke dalam pelukan Silver.
"Belum lunas sampai kau melahirkan anakku!"
"A-apa?"
"Kau mendengarku, Lita!"
Lama Sue terdiam sebelum bertanya, "Apakah setelah hari itu aku akan bebas?"
Silver menyeringai. "Kau menginginkannya?"
"Jika kau mengizinkannya."
Silver melepaskan pelukannya dan berbalik hendak pergi. Tatapan Silver menjelaskan semuanya dan Sue menyesal karena pertanyaan bodoh itu keluar dari bibirnya.
"Tuan, apa kau akan membebaskanku setelah hari itu?"
Dengan wajah datar, Silver berbalik lagi. "Ya, tapi tidak dengan anakku!"
Moodnya yang baik mendadak hancur setelah mendengar pertanyaan penuh arti itu. "Kau tidak akan memilikinya, Suelita. Dia milikku!"
Silver mendekat ke pinggir ranjang dan memagut bibir Sue lebih lama. Kemarahannya tiba-tiba saja muncul di permukaan.
"Kau tidak akan mendapatkan apapun setelah kau bebas termasuk anakku!"
*****
Silver memasuki area mansion itu dengan tatapan khasnya. Datar tapi penuh dengan kharisma. José dengan sigap menyambutnya.
"Apa dia memakan makanannya?"
Silver menyeringai. Dengan diikuti José dari belakang, dia menuju ruangan tempatnya mengubur semua penjahat.
"Apa Gregor ke sini?"
"Dia belum pernah muncul, Tuan."
"Sesuatu pasti akan terjadi padaku, José. Jika itu terjadi, lindungi anakku dan perempuan itu."
"Apa maksudmu, Tuan?"
"Gregor tidak akan tinggal diam, José. Kakakku itu pasti akan membalas penderitaan ayahnya."
Keheningan melanda sampai Silver berbelok dan masuk ke kamarnya. Banyak yang harus dia lakukan termasuk bernegosiasi dengan Arthur. Meminta lebih bayak waktu di luar meski sangat sulit mengingat beberapa pekan lagi laga final akan segera tiba.
"Kemana saja kau, sialan? Aku tidak bisa menghubungimu selama ini."
"Aku sibuk, Arthur. Berikan aku sedikit waktu lagi."
"Tid----"
Silver memutuskannya secara sepihak.
"Aku harus menyelesaikan masalah ini sebelum hari itu tiba."
Mengambil sebuah Glock 17 gen3 dan mengisinya penuh dengan peluru, Silver turun ke bawah dengan amarahnya.
"Tuan...."
"Katakan!"
"Tuan Gregor baru saja melumpuhkan pengawal di gerbang utama."
Rahang Silver mengetat. Secepat itu Gregor bergerak. Belum sempat dia menuju ke ruang bawah tanah, pria bermanik abu itu menghentikannya dengan sebuah peluru yang ditembakkan di lantai tempatnya berpijak.
"Berhenti kau, sialan!"
Silver berhenti dengan membelakangi Gregor dan dia berbalik saat pria bermanik abu itu menarik tubuhnya dan memukulnya bertubi-tubi.
"Kau apakan papaku? Kau tidak tahu diuntung, brengsekk! Papaku yang merawatmu sejak kecil dan ini balasanmu?"
"Ka---"
"Jangan berbicara! Aku tidak mempercayai apapun yang keluar dari mulut berbisamu!"
Silver menyeringai, pukulan Gregor di wajahnya lumayan juga. Ia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya dan terkekeh.
"Gadis Amerika-mu datang juga?"
Seketika Gregor menoleh. Kesempatan itu digunakan oleh Silver untuk memukul kepala Gregor dan membuatnya pingsan.
"Silver! Jangan membunuhnya!"
"Apa urusanmu, gembul! Pergilah, priamu tidak akan mati!"
Saat Zamora hendak mendekat, Silver mengarahkan pistolnya ke arah perempuan itu.
"Jangan mengancamku, Silver! Kau bisa bertemu Sue karena bantuanku."
"Benarkah? Aku rasa kau mengkhianati temanmu sendiri, wanita rendahan!"
"Sial--- awww, kau brengseekk!"
Zamora terjatuh dengan kaki yang penuh darah. Silver tidak bermain dengan ucapannya jika dirinya sudah dikuasai oleh amarah.
"Kau mengetahui diriku yang sesungguhnya. Jika kau bermain api dengan wanitaku lagi, bukan hanya kakimu tetapi seluruh hidupmu akan hancur!"
Silver menyeringai ketika Zamora berusaha bangkit dan mendekat ke arahnya.
"Kau tidak akan membunuh kekasihku, Silver. Kau berhutang budi padanya. Ingat dirimu yang sekarang. Gregor yang membantumu, bukan?"
"Dia menceritakan semuanya padamu, j*l*ng! Aku tidak menyangkal kebenaran itu dan aku tidak akan membiarkan informasi itu keluar masuk lagi dari mulutmu!"
Ketika Silver hendak menembak Zamora lagi, disaat itulah Gregor terbangun dari tidur singkatnya dan merebut pistol itu.
Pukulan bertubi-tubi diberikan Gregor di wajah Silver. Tubuhnya yang lebih tinggi daripada Silver membuatnya leluasa menyalurkan amarahnya.
"Aku harus membunuhmu, sialan!"
Ketika Silver hendak menyerang balik, disaat itulah Gregor menembaknya tepat di jantungnya.
*****
Sue sesekali memandang jam dinding di kamar apartemen itu. Pikirannya kalut. Silver pergi dengan kemarahannya dan sekarang bahkan belum pulang.
Keberadaan pria itu bersamanya membuat warna hidupnya yang semula penuh penderitaan kini sedikit berubah, meski kadang mulut Silver tidak semanis wajahnya.
"Apa dia membenciku karena itu? Astaga, aku tidak tahu dia akan semarah ini."
Dia menatap ponselnya yang sejak tadi di sampingnya, berharap pria itu memberinya kabar atau apapun.
"Inipun percuma. Mungkin inilah maksud perkataan Peyton padaku agar tidak banyak berharap."
Sue mendesah sambil mengusap perutnya. "Maafkan mommy, sayang."
Pikiran Sue menerawang seraya menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong.
"Kau bilang akan memelukku malam ini, Tuan. Kenapa kau masih marah padaku? Aku tidak akan mencoba kabur lagi darimu. Aku tahu kau bisa melakukan apapun."
Tanpa sadar, air matanya menetes. Sue merasakan detak jantungnya menggila di dalam sana.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
.
.
.
.
iklan**
.
Netizen : kok iklan sih😒
Author : biar lu pada penasaran😏
Netizen : paansih, gue kan mau tau apa si silver akan mati atau ga karena tembakan itu. lu bilang kan kena jantungny🙄
Author : kencengin poinnya biar gue bikin dia hidup😄
Netizen : yaiya kan lu Tuhannya di sini🙄
Author : emang iya😆
.
*****
Love,
Xie Lu