Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 33



Happy reading!


.


Kau tidak bisa menghancurkan batu dengan tangan kosong, tapi bisa mengubah aliran air yang mengalir. Lantas, bisakah kau menghentikan gulungan ombak di pantai? Atau menghentikan kuncup bunga yang akan mekar?


***


Tidak bisa melawan denyut di kepalanya, Silver menyerah dan diobati. Kekhawatirannya terus menjadi setelah mengetahui kabar Alita tidak dibawa serta ke rumah sakit.


Dia tahu, target Luarent adalah anaknya. Membalaskan dendam Peyton yang dulu dibunuhnya.


Setelah kepalanya diperban, dia memanggil seseorang. "Bagaiaman anakku?"


"Kami sedang bermain, Dad."


Suara cekikikan Diego membuatnya menghela napas lega. "Ada sesuatu yang terjadi?"


"Jangan khawatir, Dad. Profesor tua itu mengerjakan tugasnya dengan baik. Serangga yang hinggap di kelambu beracun itu sudah pingsan dan beberapa bergelantungan dan menjadi hiasan di pagar."


Mendengar kabar itu, sedikit kekhawatirannya reda. Hanya sedikit. Diego tetaplah anak kecil, jika ada lagi yang hendak mengambil anaknya, belum tentu Diego bisa mengalahkan mereka.


Penjaga di sana bisa diandalkan, tapi tetap saja hatinya tidak tenang. "Teman-temannya yang lain?"


"Mereka tidak bergerak, mungkin Carissa bergerak sendiri tanpa persetujuan. Ohya Dad, sudah dulu ya, aku mau tidur lagi. Aku libur hari ini. Tidur-tiduran sangat nyaman disaat seperti ini."


Silver berdecak, dia menatap layar ponselnya yang sudah kembali ke ikon utama. "Anak kecil sialan," umpatnya.


"Libur apa hari ini? Ck, apa libur jadi-jadian?"


Faktanya, Diego menginginkan liburan yang panjang. Tidur-tiduran dan makan makanan enak sepanjang hari tanpa ada pelajaran sekolah yang mengganggu. Itu keinginannya.


Mumpung Sue ada di rumah sakit, dia berpikir untuk meliburkan diri di rumah dengan alasan menjaga Alita. Otaknya cerdik, tapi kadang bermasalah.


Silver membayangkan apa yang akan terjadi dengan kamarnya jika membiarkan Diego lebih lama di sana. Segalanya berantakan, dan tentu saja dia tidak menginginkan itu.


Dia menemui dokter yang menangani Sue. "Bagaimana keadaan istriku, Dokter?"


Dokter wanita yang sebaya dengan Gregoria itu tersenyum, dan sesaat pudar saat dia memperlihatkan gambar hasil tes MRI.


"Ada serbuk berbahaya yang masuk ke mata, Tuan. Dalam beberapa waktu saat Nyonya sadar, dia akan merasakan sakit yang luar biasa. Jika tidak ditangani dengan baik, akan mengakibatkan kebutaan."


Silver terdiam tidak percaya. Setiap kalimat yang keluar dari mulut dokter itu hanya berdengung tidak jelas, kepalanya sakit.


Dia tidak membayangkan ini, penderitaan yang dialami istrinya harus dia balaskan. Ya, Silver pandai balas dendam dan dendam ini akan tuntas.


Penjelasan dokter terhenti kala ponsel Silver berdering. "Maaf, aku harus mengangkat telepon ini, Dokter," ucapnya setelah mengetahui siapa yang mengganggu. Dia keluar dari ruangan.


"Katakan!"


"Kami sudah menghabisi mereka, Tuan."


Silver menyeringai. "Persiapkan diri kalian lagi. Istirahat yang cukup, kita akan bertemu di kelab malam nanti. Jam sepuluh."


"Baik, Tuan."


Silver kembali ke ruangan dokter dan berucap, "Lakukan yang terbaik untuk istriku, tidak, sembuhkan dia, jangan biarkan dia tidak bisa melihat anak gadis kami tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik."


Dokter itu menghela napas sebentar lalu tersenyum. "Itu semua tergantung dari perkembangannya selama menjalani proses pemulihan, Tuan."


Silver menatap tajam pada dokter itu, mengisyaratkan agar tidak berbicara lebih banyak lagi. "Lakukan saja sesuai perintahku!"


Dia pergi dengan perasaan campur aduk, menuju ruangan yang ditempati seorang wanita yang masih memejamkan mata di bangkar. Kulitnya mulai memucat, dan kerutan di kening membuat Silver menyentuh dan mengecupnya lembut.


"Aku tahu kau wanita yang kuat, Sayang. Bertahanlah, kau akan melihat rembulan yang indah nanti. Anak kita juga akan memanggilmu 'Moon', bulan yang cantik, penuh pesona dan menerangi kegelapan malam. Kau seperti itu di hatiku," ucapnya dan menggenggam tangan Sue dengan erat, menyalurkan perasaanya yang hancur.


***


Di sinilah dia sekarang, duduk di karpet bulu dengan Alita yang bersandar di dadanya. Bayi kecil itu tidak rewel, karena memang Silver selalu memenuhi semua keinginannya.


Alita sibuk mengemut mainan di tangannya, sementara Silver memeriksa beberapa berkas di laptop. Saling sibuk dengan aktifitas masing-masing.


"Dad, apa aku bisa ikut sebentar malam? Aku dengar kau akan berburu lagi."


Diego ikut bergabung dan tidur telentang di depannya, membuat konsentrasinya terganggu.


Tanpa menoleh, Silver menjawab, "Tidak, kau harus belajar untuk ujian bulan depan."


Anak kecil itu mengerucut, dia menatap Silver dengan tatapan memohon. "Ayolah, Dad, aku tidak akan merusak rencanamu."


"Kau harus menjaga anak dan istriku di rumah sakit."


Diego tidak bergeming. "Apa kau tidak percaya padaku, Dad?"


Silver menghembuskan napas pelan, menatap Diego yang masih setia memohon dengan mata kucingnya. Dia menghentikan tangannya yang sedang mengetik dan membuka kacamata baca yang bertengger di hidungnya.


"Kau tidak boleh membahayakan dirimu, Bocah. Aku takut tidak bisa melindungimu di sana."


"Aku bisa melindungi diriku sendiri, Dad."


"Itu yang aku khawatirkan. Banyak hal yang tidak bisa diprediksi, dan aku tidak ingin mengecewakan istriku yang menyayangimu."


Meski terlihat tidak senang, tapi mata bulat yang menatapnya itu tiba-tiba berubah jenaka.


"Aku tahu kau mengkhawatirkan calon menantumu, Dad. Tenang saja, tidak ada yang bisa menghentikan gulungan ombak di pantai. Aku mencintaimu," ucap Diego dan bersiap-siap kabur dari tidurnya, tapi tangan Silver langsung menangkap.


"Dad!"


"Tetaplah di sini sebentar!" Tatapan Silver menajam, dan itu membuat Diego waspada.


"Apa yang kau lakukan dengan istriku kemarin? Tangan mana yang menyentuhnya? Yang ini? Atau yang ini?"


Silver melihat bergantian kedua tangan Diego seolah hendak memotongnya sampai habis tak tersisa. Diego terkekeh hambar, membuat Alita mendongak, menatap penasaran dengan apa yang diributkan keduanya.


"Aku tahu kau mencintaiku, Dad, kau tidak boleh mematahkan tanganku," ucap Diego bersandiwara dengan mimik seolah sangat takut.


"Maka kau harus mendengarkanku, tidak boleh ikut atau aku akan mengirimmu ke Italia secepatnya."


Diego menelan ludah kasar. Secepatnya? Apa Uncle mengetahui sesuatu?


"Aku tidak ingin ke sana, Dad, aku akan mendengarkanmu." Diego mengalah, tidak ingin terlibat pembicaraan tentang asal usulnya yang akan mengukir kembali luka.


Pemilik manik hijau itu tersadar, dia melepaskan cekalan tangannya dan membiarkan Diego pergi ke luar.


"Suruh José siapkan bajumu! Kita akan ke rumah sakit sekarang."


Diego berbalik dengan gigi yang hampir keluar, kembali dengan cepat dan mencubit pipi Alita lalu menghadiahkan kecupan singkat di dahi.


"Kau tahu apa yang kau lakukan, D'antonio?"


"Aku mendengarkanmu demi Mona Elle, Dad. Aku tidak akan kalah jika ingin berdebat denganmu."


Silver menatap punggung anak kecil yang meninggalkan kamar itu. Meski terbilang jenius dengan keahlian bersenjata, Silver merasa sangat khawatir terhadap masa depan putrinya.


Masih di perut tapi sudah ditandai sebagai milik seseorang, dan sekarang bahkan tidak bisa menghentikan anak kecil yang tengil dan berbahaya. "Aku harap Mark Anthony benar-benar bisa membuatmu mengerti, Shaun. Shaun Anthony," gumam Silver.


.


---


Ig @Xie_Lu13