Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 19



Happy reading!


.


***


Pagi menyapa hari yang cerah, Silver terbangun oleh racauan bayi mungil yang bergerak dan berusaha tidur miring di box. Tahu istrinya masih pulas, dia tak mengganggu dan mengangkat Alita keluar.


"Morning, Little bunny," ucapnya serak dan mengecupi pipi lembut milik sang buah hati.


Alita yang sangat aktif pada pagi hari meraih pipi Silver. Bibirnya tersenyum merekah.


"Ayo kita berjemur, Sayang. Mom masih istirahat."


Tak ingin menggganggu istrinya, ia membawa Alita keluar dan berjemur.


Sementara itu, Sue yang sudah terbangun hanya tersenyum. Selain penyayang ternyata Silver juga perhatian, di balik semua sikap kejam dan dinginnya.


Wanita itu bangkit dan mulai melaksanakan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Meski ada yang bertugas sebagai juru masak, tapi Sue ingin dirinya yang menyiapkan sarapan untuk suaminya. Karena itu, para maid yang bertugas di dapur segera keluar dan membiarkan Sue sendirian dengan segala urusannya.


Tak selang beberapa lama, semua yang dipersiapkan akhirnya tersaji. José yang melihat itu hanya tersenyum. Dia bahagia karena Tuannya memiliki keluarga yang menyayanginya terlepas dari kekejamannya di masa lalu.


"Kau sangat berusaha keras, Sue. Aku bisa melakukan itu, kau harus banyak beristirahat untuk memulihkan tenagamu. Aku tahu kau sering bergadang."


Sue tersenyum menanggapi. "Tidak apa-apa, ini membuatku bahagia, José. Sejak hari di mana aku terpisah dari keluargaku saat kecil, sekarang aku baru merasakan ada kehangatan yang seperti itu lagi. Aku tidak ingin melewatkan apapun yang membuatku bahagia."


Membantu Sue meletakkan piring di atas meja, José mengeluarkan selembar kertas kusut dari balik sakunya.


"Aku menemukan ini di kamar Carissa. Apa kau tidak curiga, Sue?"


Sue membaca deretan kata di sana, dia menarik sudut bibirnya ke atas. "Aku tidak selemah yang dulu lagi, José. Aku sudah memiliki segalanya sekarang, tidak ada yang perlu ditakutkan. Suami dan anakku merupakan kekuatanku, dan mereka bersamaku sekarang."


"Tapi kau tidak boleh lengah, dia bisa menjadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak," jelas José menasehati.


"Percayalah pada kekuatan Tuhan, siapapun yang membahayakan nyawa sesama tentu memiliki karmanya masing-masing."


"Dan suamimu juga demikian."


Sue mengerucut, dia mengakui itu. "Oh José, apa kau tahu sesuatu yang disimpan Silver di kamar lama yang dipakai Nona Paula? Ada sesuatu yang mencurigakan menurutku."


José berdehem. "Aku tidak tahu. Kau bisa menanyakannya langsung."


Pikiran Sue kembali terbayang pada beberapa bungkus pengaman yang terlihat di tempat itu. Membuat pipinya merona dan ia segera mengusir José dari sana.


Merasa penasaran dengan apa yang dipikirkannya, Sue kembali menyelidik ke dalam kamar itu. Namun, dia mengalami kesulitan saat ingin membuka lantai itu.


"Aku pikir aku harus memakai kartu as," gumamnya.


Memastikan beberapa sudut yang menurutnya mencurigakan, Sue memutuskan keluar.


***


"My Lady Elle, I'm coming!"


Teriakan dari pintu depan membuat Silver merenggut kesal. Siapa lagi yang pandai menerobos pintu seenaknya kalau bukan anak kecil yang cukup membuatnya kesal itu.


Tanpa berbalik, Silver berteriak juga. "Jangan mendekat! Pasti ada virus dan bakteri di bajumu, aku tidak mau anakku tertular."


Tak mau menghiraukan, Diego tetap mendekat. Ikut berjemur di samping Silver dan sesekali mengelus pipi Alita.


"Aku melarangmu menyentuhnya!"


"Dan aku ingin sekali menciumnya, Uncle!"


Geram dan kesal, Silver menjauhkan Alita dari Diego. Tapi itu tidak susah bagi Diego, ia berbalik dan mendekati Alita lagi.


"Antonio!"


"Come on, Uncle, aku cium kali ini saja, ok? Aku janji!"


Melihat wajah memelas dan manis itu, hati Silver tidak tega. "Jangan di pipi!"


"Lalu di mana? Bibir?"


"Wtf, dasar cabul!"


Diego tergelak, saat Silver lengah dia mencium pipi bayi kecil itu dan membuat Alita tertawa keras.


Rasa kesal di dada Silver segera sirna mendengar gelak tawa putri kecilnya.


"Kenapa kau di sini? Siapa yang mengantarmu?"


Diego sengaja berdiam diri, berpura-pura tidak dengar dengan memainkan tangan Alita.


"D'antonio?"


"Hm?"


"Jawab pertanyaanku!"


"Astaga, kau tuli?"


"Tidak."


"Kenapa tidak jawab?"


"Tidak ada jawaban."


Silver mendelik, "Kau pria menyebalkan, D'antonio!"


"Aku menggemaskan, Uncle. Lihatlah!"



"Sialan," umpat Silver.


Dia mengakui ketampanan anak kecil itu ditambah sisi menggemaskan yang disertai senyuman manis, membuat siapapun ikut terkesima.


Tapi, tetap saja rasa sayangnya terhadap Alita yang tidak menginginkan Diego mendekati putrinya.


"Benarkan, Uncle terpesona."


Diego tertawa melihat perubahan raut wajah Silver.


"Uncle, aku ingin tidur di kamar Princess nanti malam," ucap Diego tiba-tiba yang membuat Silver terbelalak.


"Apa?! Kau bilang apa?"


"Kau mendengarnya, Uncle. Dan kau tidak punya pilihan, harus jawab ya dan tidak boleh bilang tidak!"


"Tidak boleh!"


"Eh no, no, no!" Diego menggerakkan jari telunjuknya di wajah Silver. "Tidak boleh jawab tidak!"


"Kau tidak bisa memerintahku, Antonio!"


"Aku bisa, karena mulai hari ini sampai satu bulan ke depan ..., kau bisa menebaknya, Uncle!"


"Ini rumahku."


"Juga rumah pacarku dan akan menjadi rumahku untuk sebulan dan bisa jadi untuk selamanya."


"Bocah tengik!"


"Apa?!"


***


"Apa kau yakin?"


Diego mengangguk. Sue berulang kali menanyakan pertanyaan itu, meyakinkan dirinya apakah Diego bercanda dengan perkataannya.


"Untuk sebulan saja, Aunty. Papa mertua sudah setuju," ucap Diego melirik Silver.


"Ck, dasar berandal. Aku bukan papa mertuamu, sialan!"


"Silver!"


"Nothing, Aunty, papa mertua hanya belum terbiasa."


"Bagaimana dengan sekolahmu?"


Diego tampak berpikir sejenak. "Apa Uncle bisa mengantarku? Aku belum punya SIM."


"Kris bisa melakukannya."


"Ok, aku mengerti. Terima kasih papa mertua! I love you!"


Silver memyemburkan makanan yang hampir ditelannya. Dia menendang kaki Diego dari bawah meja. "Sungguh membuatku jijik!"


Sisa percakapan di meja makan pagi itu hanya sindiran dan pukulan-pukulan kalimat antara Diego dan Silver membuat Sue pusing dengan tingkah mereka.


Hingga perhatian mereka dialihkan oleh Carissa yang berteriak.


"Tuan, Nyonya, lihatlah!"


Ketiganya tergesa-gesa ke ruang tamu. Dan Silver yang sampai terlebih dulu saking khawatirnya. Dalam kepalanya terbesit banyak pikiran negatif tentang Carissa. Ketiganya menghela napas lega setelah melihat apa yang terjadi


"Kau mengejutkan Daddy, sayang," ucap Silver setelah melihat bayi kecilnya berhasil tengkurap. "Kerja bagus," bisiknya kemudian.


.


***


Bayangin gimana wajah Diego setelah dewasa😁