
Happy reading!😊😘
.
***
"Kau bisa melakukannya, Sil. Kami bersamamu."
Silver tersenyum dan mengecup bibir istrinya dengan lembut. "Akan kucoba, Sayang."
Sembari mengeringkan rambut suaminya menggunakan handuk, Sue berbisik pelan. "Kau harus yakin untuk hari itu, Sil. Aku bangga memilikimu."
"Ya, bisakah kau berjanji padaku?"
"Aku sudah berjanji di hadapan Tuhan untuk selalu berada di sampingmu dalam keadaan suka maupun duka."
Dengan kekehan pelan, Silver menarik Sue ke dalam dekapannya dan mengecup puncak kepalanya.
"Berjanjilah bahwa apapun yang terjadi, kau tetap ada di sampingku dan menemaniku terlepas bagaimana perbuatanku di masa depan," pinta Silver sungguh-sungguh dan menyorot dalam mata kuning itu.
"Aku sudah berjanji untuk itu, Sil. Kau surgaku dan aku tidak mungkin meninggalkanmu."
Sekali lagi, Silver merasakan jantungnya diremas benda tak kasat mata. Wanita itu tidak pernah memendam rasa dendam ataupun amarah. Ketulusannya murni dari hati, karena itulah ia merasa ragu untuk meninggalkannya demi sebuah karir yang diduganya adalah sebuah jebakan Batman.
"Dan kau malaikatku."
Sue terkekeh geli saat Silver menggigit hidungnya dan meninggalkan bekas kemerahan di sana.
Sebuah hobi baru suaminya adalah menggigit hidungnya sampai memerah karena lelaki itu sudah jera untuk menggigit hidung anaknya.
"Hidungku akan bertambah panjang, Sil."
"Aku menyukainya agar kita tidak perlu berdekatan untuk mencium hidungmu."
Sue memutar bola matanya, "akan terlihat seperti hidung pinokio."
Setelah yakin rambut suaminya benar-benar kering, Sue bangkit dan mengambil sebuah kemeja dari lemari.
"Aku ingin kaos biasa, Sayang. Akan terlihat sangat formal kalau memakai kemeja."
Ia mengembalikan kemeja itu dan mengambil sebuah kaos seperti yang diinginkan Silver.
"Apa ini cocok?"
"Tentu saja cocok, istriku yang memilihnya."
Perempuan itu mengerucutkan bibirnya, semua perkataan manis sang suami selalu bisa membuatnya memerah malu.
Ia menaruh kaos itu di atas ranjang dan berlari ke kamar Alita saat mendengar bayi kecilnya menangis.
Silver tersenyum melihatnya. "Istriku sangat sibuk."
Sue selalu menempatkan diri sebagai yang utama bagi keduanya. Ketika Alita membutuhkannya, perempuan itu selalu sigap, begitu juga bagi Silver karena tak jarang ia sangat manja dan ingin memiliki waktu berduaan dengan istrinya.
Ia berpikir ulang bahwa wanita yang dinikahinya bukanlah manusia biasa tetapi titisan bidadari Surga yang tersesat di bumi.
"Dia istimewa dan istri terbaik."
Memakaikan kaos berwarna hijau tosca pilihan istrinya, Silver memasuki kamar Alita yang terhubung langsung dengan kamarnya.
Binar bahagia di wajah istrinya menerbitkan senyuman juga di wajahnya. Ia mendekat dan mengecup kedua malaikat miliknya.
"Daddy berangkat dulu, Sayang," pamitnya pada malaikat mungilnya.
"Kau berjanji akan mengajakku kencan, Sil. Pulanglah lebih awal," pinta Sue terkekeh.
"Aku akan berusaha."
Ia kembali mengecup kening istrinya dan pamit.
Akhir pekan ini merupakan hari yang sibuk baginya. Karena ingin menyelesaikan beberapa hal yang berkaitan dengan perusahaan dan untuk memfokuskan diri untuk training center beberapa pekan ke depan, ia menyita waktu liburnya.
"Pulanglah dengan selamat."
Silver terkekeh. "Aku hanya ke perusahaan, Sayang."
***
"Aku menyerahkannya padamu, Nick. Arthur akan menemaniku untuk beberapa waktu ke depan," ucap Silver memberikan beberapa berkas perusahaan pada Nickolaus, saudara sepupu Gregor.
"Kenapa Anda memberikannya padaku, Monsieur?" tanya Nick.
"Tidak ada yang pantas untuk kuberi kepercayaan, lagipula kau yang memiliki jabatan lebih tinggi dari siapapun di sini."
Tampak pria itu berpikir untuk sesaat sebelum mengangguk. "Saya pikir itu tidak masalah, saya berjanji akan menjalankan semuanya sesuai rencana. Anda tidak akan lama, bukan?"
"Tergantung bagaimana nanti dengan keadaan yang sekarang. Penghujung musim hujan bukanlah waktu yang tepat untuk berlatih kurasa. Arthur, kau bisa memberi jawaban pada mereka!"
"Kau serius? Aku tidak perlu di perusahaan lagi? Wah, aku pikir ini hanya mimpi bisa kembali ke lapangan," sahut Arthur berapi-api.
"Hanya mimpi jika kau tidak melakukan apapun sekarang!"
"Baik, akan kulakukan."
Arthur bergegas menelpon dan memberi jawaban untuk para direksi sepakbola. Bintang mereka kembali hadir.
"Semoga ini keputusan terbaik, Silvester," gumamnya khawatir.
"Ya?"
"Ayo bergegas. Apapun yang terjadi kau harus di belakangku."
"Apa ini tawaran?"
"Ini perintah! Dan kau tidak diperbolehkan membantah ucapanku!"
Lelaki itu bergidik, mata hijau itu kembali seperti semula saat ia pertama kali bekerja sebagai manager untuk Silver.
"Aku dengar kau bisa memegang senjata. Benarkah itu?"
Menjawab ya, pasti akan mendapat masalah, apalagi menjawab tidak, Silver pasti mengetahui segala sesuatu tentangnya.
"Hanya untuk membunuh kuda yang datang di sekitar rumahku. Anakku suka padanya dan dia berniat menjadi kuda."
"Apa?!" Silver tertawa. "Semoga anakku tidak seperti itu," doanya.
"Karena itulah aku membunuh hewan tersebut."
"Sekali tarikan pelatuk?" tanya Silver penasaran. Keduanya turun ke lobi menggunakan lift eksekutif petinggi perusahaan.
"Lima kali."
"Kau payah."
"Hei, aku melakukannya dengan baik. Tidak sepertimu yang lincah menggunakan benda semacam itu."
Lelaki berambut silver itu mengangguk mengiyakan. "Aku akan mengajarimu dasar-dasarnya. Dan setelah itu, kau bisa membunuh kuda lain dengan sekali tembakan."
"Bagaimana dengan menembak kepalamu?"
"Kepalamu yang pertama kutembaki agar kau tidak bisa melihat di mana keberadaanku nanti."
"Kau benar. Kemana lagi setelah ini?"
"Ke mansion."
Kris membawa mereka ke mansion utama Silver. Tidak banyak yang berubah dari bangunan itu, hanya kesepian karena tidak banyak penghuni yang membuatnya sedikit berubah.
"Dimana Kontantio?" tanya Silver pada seorang pelayan yang sedang menyiram tanaman.
"Tuan Kontantio sedang mengawasi orang yang merenovasi lantai atas, Monsieur," jawab pelayan itu menunduk takut pada tatapan Silver.
Kaki panjangnya menaiki tangga, menikmati keheningan yang tercipta di setiap ia melangkahkan kakinya.
Bayang-bayang Suelita yang menderita di tempat itu memenuhi pikirannya. Bagaimana perempuan itu bertahan melawan sisi iblisnya. Dalam kondisi mengandungpun, ia masih bisa tersenyum meski kaki dan seluruh tubuhnya dipenuhi oleh darah.
Kematian Jerome yang disebabkan olehnya ditonton langsung oleh Sue, dengan darah yang membanjiri kamar itu.
Tidak sedikitpun terbayangkan olehnya bahwa ia akan memiliki hidup yang bahagia oleh kedatangan Sue. Pernah terpikir untuk menikahi Paula, tapi pengkhianatan karena kondisi wanita itu mengurungkan niatnya.
"Anda datang, Monsieur!" sapa seseorang yang mengembalikan kesadarannya.
"Bagaimana dengan hasilnya?"
"Seperti yang Anda inginkan, Monsieur."
Silver tersenyum tipis dan menepuk pundak lelaki yang bertugas menjaga mansion. Ia menjelajahi ruangan yang direnovasi itu.
Kamar Alita berada di sebelah kamarnya dihubungkan oleh pintu agar memudahkan keduanya masuk ke sana untuk menengok bayi mungil itu.
Kamar luas yang diperuntukkan bagi Alita didekorasi oleh segala hal yang berbau feminim. Banyak gambar-gambar lucu di dindingnya, juga dengan mainan anak perempuan untuk segala musim.
"Kapan ini akan selesai?"
"Sesuai perjanjian. Mungkin sudah bisa ditempati dalam sepekan ke depan, Monsieur."
"Aku tidak sabar membawanya kembali ke sini, tempat yang memberi kenangan pahit baginya. Tenanglah, Sayang, aku akan mengubah semuanya menjadi kenangan manis untuk menutupi hari-hari buruk di masa silam," gumamnya.
Ia memeriksa setiap detail kamar itu, mengecek tempat rahasia miliknya dan mengambil beberapa pistol dari sana. Menyelipkannya di dalam kaos yang dibalut jaket cokelat, berjaga-jaga jika saja ada keadaan darurat di tengah jalan nanti.
***
"Señor, kirimkan lebih banyak orang. Aku rasa kami akan mengepung mereka."
"Apa kau tidak bisa melakukannya sendiri?"
"Dia tidak memercayaiku, Señor. Kurasa aku akan bertindak sendirian."
"Bagaimana dengan pria brengsekk itu?"
"Jangan khawatirkan tentangnya. Aku bisa mengurus hewan liar sepertinya."
"Aku serahkan padamu. Jangan menyakiti siapapun, bawa orang yang kumaksudkan kemari!"
Carissa mengangguk seolah orang yang berbicara padanya berada di sana.
.
***
Love,
Xie Lu♡