
Happy reading!
.
***
Kesibukan di dapur membuat Sue lupa segalanya. Dia akan melupakan apapun ketika tangannya memegang pisau dapur dan berbagai bumbu masakan.
Tapi bukan berarti dia akan melupakan buah hatinya dengan begitu saja. Terlihat tidak menghiraukan, tapi sebenarnya dia memantau apa yang dilakukan dan dibicarakan mereka.
Alita sedang tengkurap di atas karpet berbulu, sementara Diego duduk sambil memainkan rambut Alita yang mirip warna rambut ibunya.
Terkadang Diego berbisik kecil pada Alita, seolah bayi perempuan itu mengerti dan bisa menjawabnya. Hal itu membuat Sue terkekeh pelan.
Kedua anak kecil itu terlihat sangat akrab, orang yang tidak mengetahui kebenaran akan mengira kalau mereka adalah saudara kandung.
Wajah Alita yang bulat dengan mata yang juga bulat, dipadu dengan hidung mungil dan pipi yang menggemaskan, begitu mirip dengan wajah imut Diego. Warna mata saja yang membedakannya.
Sesekali Diego mencium dan mencubit pipi yang terlihat sangat menggemaskan itu, dan bayi kecil itu hanya berceloteh ria sambil menggapai tangan Diego. Carissa yang memerhatikan itu tidak memberi reaksi apapun.
"No, Princess tidak boleh memegang ini," ucap Diego sambil mengibaskan tangannya di udara.
Larangan itu tidak diindahkan bayi perempuan berambut blonde yang mirip ibunya. Dia terus menggapai tangan Diego, dan saat hendak memasukkannya ke dalam mulut, sekali lagi Diego berteriak sambil tertawa.
"Itu geli, Princess! No!"
Alita menatap dalam diam, wajah menggemaskannya sudah memerah, tapi tawa Diego membuatnya ikut tertawa juga.
"Good girl!" ucap Diego sambil mencium lagi pipi Alita yang sudah memerah karena ulahnya itu. "Kau tidak boleh menangis, Moon bisa membakar habis rambutku oleh amarahnya nanti."
Dan deheman dari arah dapur berhasil mengatupkan mulut Diego. "Astaga, itu telinga atau alat penyadap suara?" gumamnya meringis.
Penjahat bersenjata bisa dikalahkan oleh Diego, dan amarah wanitalah yang berhasil mengalahkannya. Dia menggeleng kepalanya heran.
"Dia berubah jadi galak. Tidak seperti Moon yang aku kenal," gumamnya lagi.
Sekali lagi, dentingan sendok yang sedikit dibanting mengejutkan Diego. "Itu benar-benar membuatku takut, Princess," ringisnya ikut berbaring sambil memeluk erat Alita.
"Carissa, apa kau tidak mau membantu Moon? Sepertinya dia sedang marah."
"Memakan orang akan membuat amarahnya berhenti."
"Astaga! Apa dia benar-benar berubah jadi monster?"
"Kau yang mengatakannya," ucap Carissa menyeringai. Dan itu membuat Diego mengernyit heran.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa kau juga sudah berubah jadi monster seperti Moon?"
"MONSTER?!!"
"Aaaaawwwwww!!!!! Moon, sakit!"
Sue tiba-tiba datang dan menarik telinga Diego sehingga anak laki-laki itu meringis sakit sekaligus ketakutan.
"Maaf, Moon, Carissa yang mengatakannya ...," lirihnya berdalih.
"Apa benar kau yang mengatakannya, Carissa?"
Diego mengedipkan satu matanya, memberi tanda pada Carissa untuk membantunya melepaskan tarikan Sue di telinganya.
Tapi perempuan berambut pendek itu tidak memberi jawaban memuaskan. Dia menyeringai lebar.
"Dia mengatakan kau monster, Nyonya."
"Apa?! Kau pengkhianat, Cari--- aww, Moon!"
"Kau mengatakannya, bukan? Diego sayang ...."
Senyuman manis yang mengandung maut itu membuat Diego menelan ludah kasar. Dan kalimat 'Diego sayang' itu sangat horor di telinga Diego. Dia meringis.
"Moon, maafkan aku. Aku janji, tidak akan ulangi lagi."
"Kau mengatakannya, bukan?"
Daripada cubitan di telinganya semakin lama semakin kuat, Diego mengangguk. Dan setelah dilepaskan, Diego memegang telinganya yang mati rasa itu.
Oh tidak! Aku tuli!
Ringisan di bibirnya membuat Alita yang menonton dalam diam juga ikut meringis. Meski masih kecil, dia sudah bisa membedakan ekspresi orang lain. Dia tahu Sue marah, maka Alita akan diam.
Dan Diego yang mendapat cubitan itu meringis pelan dan menyengir tak berdosa ketika Sue menatapnya datar.
"Moon, kau ja-- baik sekali," ucap Diego sambil menyengir.
"Kenapa ke sini, Moon?"
"Bantu aku. Kau suka brownis, bukan?"
Diego mengangguk sebelum kebingungan tatkala Sue menyodorkan tepung dan beberapa bahan yang lain.
"Untuk apa ini?"
"Kita akan membuat brownis cokelat."
Diego melongo tidak percaya.
***
Alhasil, bukan Diego yang menaklukan tepung-tepung itu, tapi tepung itu yang berhasil membuat wajah dan pakaiannya berlepotan.
Tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini, Diego pernah melihat Bertha melakukannya dan dilihat memang sangat biasa, dia berpikir bisa melakukannya. Nyatanya, tidak seluar biasa pikirannya.
Perlu kesabaran dan ketelitian dalam hal itu. Bibirnya mengerucut saat selesai mencuci rambut.
"Kau sepertinya ingin menjadikanku adonan, Moon," ringisnya pelan.
Dia membayangkan setiap ekspresi Sue, yang kadang galak dan kadang penuh perhatian. Dan tentu saja menakutkan menurutnya.
Sedang sibuk mengeringkan rambut, sebuah email masuk dan menghentikan pergerakannya.
Bibir merah muda itu tersenyum melihat isinya. "Kau terbaik, Senior."
Setelah mengotak-atik layar ponsel itu, dia menyeringai puas.
"Sekarang saatnya aku beraksi. Sudah lama tidak pernah melakukan hal-hal di luar kendali," gumamnya.
Setelah berpakaian, Diego mengambil laptop sekolahnya dan mulai melakukan pencarian yang menurutnya bisa membantu menjalankan rencananya.
Di tengah pencarian, dia menemukan sebuah hot news yang berasal dari majalah di kota Madrid.
"Senior Max benar-benar menikah?" ucapnya tidak percaya. "Apa dia akan berhenti mabuk-mabukkan demi mencari kekasihnya yang hilang itu?"
Diego menggeleng heran, dunia orang dewasa selalu rumit menurutnya.
"Tunggu saja, aku akan balas dendam padamu karena cakaran serigala itu!"
Seringainya menakutkan, tapi masih terkesan imut. Diego tergelak membayangkan bagaimana repotnya Max jika suatu hari dia balas dendam.
"Astaga, aku tidak sabar menunggu hari itu."
Saat Diego hendak membuka laman web yang menyiarkan berita itu, tiba-tiba saja berita itu menghilang. Dia terkekeh.
"Pernikahan rahasia, huh? Aku pikir kau benar-benar mencintai istrimu, Senior."
Tidak ingin berlama-lama di sana, Diego keluar dan merencanakan sesuatu. Hingga dering ponsel mengejutkannya.
"Mommy, bagaimana kabarmu?" tanya Diego tatkala menerima panggilan yang ternyata dari Bertha.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
"Tidak ada yang akan terjadi padaku, Mom. Kenapa menelpon?"
Terdengar helaan napas Bertha yang menahan kesal. Diego tahu, tujuan ibunya menelpon pasti untuk menagih janji.
"Apa untuk janji yang ku buat itu?"
"Kau tidak boleh mengingkarinya. Janji tetap janji dan tidak boleh diingkari."
Diego tersenyum tipis, ada rasa tidak senang saat mengingat hal itu. "Kau bisa memegang janjiku mulai sekarang, Mom. Aku tidak akan ingkar janji lagi."
"Semoga itu benar-benar dari otakmu dan bukan bualan semata."
Terkekeh pelan, Diego menatap layar ponsel yang menuliskan nama ibunya. "Sudah dulu, Mom. Aku harus keluar, Aunty Sue membuat brownis tadi. Bye!"
"Tung---"
Diego langsung memutuskan panggilan itu dan mengelus dadanya yang terasa berdebar.
"Astaga, untung aku segera mematikan ponsel. Kalau tidak, pasti Mommy akan berbicara panjang lebar."
Segera bangkit dari kursinya, dia berlari keluar kamar.
.
***