
Happy reading!😊😘
.
*****
"Aku tidak akan meminta maaf, anak nakal."
"Dan aku juga tidak bisa memaafkanmu, paman."
Alfonso menjauh setelah mengucapkan kalimat itu. Keuntungan bagi dirinya karena Silver tidak sampai membunuhnya.
"Kau akan merindukannya, Dom," ujar Gregor yang berdiri di sampingnya, melihat ayahnya pergi menjauh dengan tongkat yang digunakan untuk menyangga kakinya.
Silver tersenyum membentuk seringai tipis. "Benarkah? Aku merasakan bahwa dialah yang akan menyesal telah menyakiti adiknya sendiri, Greg."
Alfonso memintanya bertemu di sebuah tempat yang sepi tempat dimana ayahnya dikuburkan. Bukan tempat pemakaman umum, tapi tempat khusus untuk keluarga Dario.
"Dia punya alasan melakukan itu, Dom."
"Aku tidak menerima alasan itu. Karena dialah ayahku meninggal dan ibuku terus sakit-sakitan. Bahkan aku membunuh orang yang tidak bersalah yang telah berusaha menyelamatkan ayahku, Greg. Dia pamanku tapi hatinya bukan milik paman."
"Terserahlah, aku akan berkencan."
"Sial, dimana perempuan pengkhianat itu?"
"Berhenti menjuluki kekasihku seperti itu, Dom. Kau yang memaksanya melakukan itu."
"Well, tidak seharusnya dia menerima uluran tanganku. Wanitamu lumayan bodoh."
"Jaga ucapanmu, Dom," geram Gregor marah.
"Hei, hei... calm down, brother. Aku mengatakan kebenaran." Silver terkekeh pelan dan mengambil ancang-ancang untuk berlari.
"Kau mau lari?"
Oh, Gregor sudah tahu taktiknya. Silver tersenyum bodoh.
"Aku ingin menemui kekasihku, Greg."
"Buncit atau flat?"
"Ck, kau seperti detektif saja. Keduanya," jawab Silver kesal.
"Wow, bagaimana kau membelah dirimu? Kau juga amoeba? Menemui keduanya dalam waktu bersamaan?"
"Pergilah, sepertinya wanitamu sudah menunggu."
Silver melirik dengan ekor matanya, Zamora nampak berdiri tenang di pinggir jalan. Sesekali melirik ke arah mereka.
"Jalan dalam damai, semoga kau sampai dengan selamat di tempat wanitamu, Dom."
"Kalimatmu seperti ingin memgantarku ke alam kubur."
"Kau paham," kekeh Gregor seraya berlari menjauh menghampiri kekasihnya.
"Sialannnn."
Silver tersenyum melihat Gregor memiliki wanita yang dicintainya. Selama mereka hidup bersama, tidak pernah sekalipun dia mendapati kakak sepupunya berkencan. Perempuan Amerika itu mengubah Gregor.
Kakinya melangkah menyusuri pinggir jalan itu. Mobilnya ia parkir di tempat yang sedikit jauh. Sesekali melihat awan yang beterbangan, mata hijaunya meredup.
"Adakah setitik kebahagiaan untukku?"
*****
Melewati tempat yang sama seperti dulu, Silver mengurangi laju kendaraannya. Mata hijaunya menjelajahi tempat itu. Ada lahan yang baru dibangun di belakang toko itu.
Mata Silver tidak sengaja menangkap bayangan seseorang yang dikenalnya bersama seorang wanita.
"Apa itu Rodrigo?" gumamnya. "Tapi, rambutnya seperti bekas makanan tikus. Astaga, apa dia baru saja memotong rambutnya sendiri?"
Silver membunyikan klakson mobilnya membuat kedua orang itu mendekat.
"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Silver ingjn tahu.
Rodrigo memicingkan matanya curiga. "Lalu apa yang membawamu sampai ke sini, Sil?"
"Jangan menanyakan keberadaanku, sialan. Siapa wanita itu?"
"Dia wanitaku."
"Oh, pengganti Johanna?"
"Sial, dia mendengarkanmu!"
Silver terkekeh karena kepanikan Rodrigo. "Apa dia istimewa bagimu?"
Lydia yang terdiam di belakang Rodrigo berusaha menutup telinganya rapat-rapat, takut mendengarkan kalimat yang menyakiti hatinya.
"Tidak sepertimu yang menelantarkan wanita yang kau hamili."
Seringai di bibirnya terlihat jelas, kemudian tertawa terbahak-bahak melihat rambut Rodrigo yang sangat buruk itu.
"Apa rambutmu dimakan tikus, Rod?"
"Astaga, kau menyebalkan! Wanitamu yang melakukannya."
"Apa kau melakukan kesalahan?"
Rodrigo terdiam sebagai jawaban.
"Membuat kamarnya berantakan?"
Pria bertato itu terdiam lagi, tetapi wajahnya menahan kekesalan. Apalagi saat Silver tertawa sampai air matanya keluar.
"Aku sudah menduga kau melakukan itu. Apa saja yang kalian perbuat?"
"Ranjangnya patah."
Sontak saja Silver tertawa lagi sambil memukul Rodrigo tetapi pria itu menghindar.
"Kau melakukannya lagi, Rod! Hahaha... dia membalasmu?"
"Menggunting rambutku seperti ini."
Silver terus mengulum senyumnya melihat Rodrigo terus menatapnya kesal.
"Kau tidak ingin melihatnya, Sil?"
Silver menggeleng. "Bukan waktu yang tepat."
*****
Sue yang melihat ada seseorang yang ditakutinya di jalanan depan segera menutup tirainya. Sesaat tatapan mereka beradu. Hanya tatapan datar yang diberikan pria itu membuat jantung Sue terus berdebar.
"Tuhan, dia seperti hantu yang mengejutkan sekaligus menyeramkan."
Jantungnya hampir melompat ketika seseorang menepuk pundaknya.
"Mora?!"
"Apa yang kau lihat?"
"Bukan siapa-siapa."
"Wow, pasti seseorang, Sue."
Zamora mendekat ke arah tirai itu dan berusaha membukanya tetapi tangan Sue menahan.
"Kau menyembunyikan sesuatu?"
"T-tidak."
"Tidak. Lupakanlah."
Sue berbalik, berharap dalam hatinya semoga Silver segera enyah dari sana. Dan benar saja, Zamora segera melongok dari sana.
"Sue?!"
"Astaga, kau selalu mengejutkanku, Mora. Apa?!"
"Kenapa tidak bilang kalau kau mengintip pria tampan?"
Jantung Sue seakan berhenti. Dia sudah berjanji pada Zamora untuk melupakan Silver dan tidak tersakiti oleh setiap tindakan pria itu. Tetapi, sekarang Zamora mendapati dirinya memerhatikan diam-diam pria itu.
"Sue? Kenapa kau melamun? Ada pria tampan di sana."
"Hah?! Kau melihatnya?"
"Dia tampan bak Dewa Yunani. Astaga, dia sangaaaatttt tampan."
Sue memukul lengan Zamora kesal. "Ingat kekasihmu, Mora, dan jaga mata biru itu agar tidak ternodai oleh pria semacam itu."
"Aku tahu-aku tahu, ayo lihat, dia benar-benar tampan."
"Astaga, hentikan. Aku tidak ingin melihatnya lagi."
Kekhawatiran Sue berakhir saat melihat pria tampan yang berdiri tidak jauh dari sana. Dia lega karena mobil Silver sudah tidak ada di sana.
"Dia sangat tampan, bukan?"
Sue mengangguk lemah. "Tidak setampan idolaku."
Zamora mendelik kesal. "Aku sudah mengingatkanmu, Sue. Berhenti mengingatnya."
"Dia ayah dari anakku, Mora."
"Tapi jangan membandingkannya dengan pria tampan itu. Oh?! Ada kekasihnya, Sue!"
Zamora heboh sendiri sementara Sue kembali melayani pembeli bunga.
"Tolong berikan aku beberapa bunga Saffron, Nona."
"Ada yang sakit, Nyonya?" tanya Sue seraya beralih mengambil bunga yang dimaksud pembeli itu.
Dulu, dia sengaja mengembangbiakkan beberapa bunga yang berkhasiat bagi kesehatan dan juga sebagai rempah-rempah. Seperti bunga Saffron, pohon Lawang yang diimpor langsung dari Asia dan berbagai macam tanaman obat lainnya.
"Ya, anakku memiliki masalah dengan sistem pernapasannya."
"Oh? Semoga cepat sembuh, Nyonya."
Sue memberikan bunga Saffron kepada wanita tua itu.
"Astaga, ini terlalu banyak, Nona."
"Tidak, ambillah. Sembuhkan anakmu dengan itu."
"Berapa harganya, Nona?"
Sue menggeleng.
"Kau baik sekali, Nona. Semoga Yesus selalu memberkatimu."
"Amin. Terima kasih, Nyonya."
Wanita tua itu pergi. Belum sampai ke pintu, Sue melihat wanita tua itu menghapus air matanya.
"Sue, aku mendapatkan tiket gratis nonton bioskop. Kau mau?"
"Kau tahu aku tidak punya banyak waktu untuk melakukannya, Mora. Pergilah dengan kekasihmu."
Zamora mengerucutkan bibirnya. "Aku pergi."
"Ke mana?"
"Kencan."
Sue menghela napas.
*****
Dua pekan telah berlalu bersamaan dengan luka di dada Silver berangsur membaik. Tidak ada lagi darah yang keluar dan kesakitannya tidak lagi terasa. Sekarang waktunya kembali ke dunianya yakni lapangan berumput yang dipotong rapi dengan tidak menghilangkan keasrian tempat itu.
Laga penyisihan dan seperempat final telah usai. Kini tinggal beberapa langkah lagi Brazillía akan menduduki puncak klasemen di akhir musim. Mungkin, jika keberuntungan berpihak pada mereka..
Silver kembali pada posisinya. Winger hebat yang tidak terkalahkan, begitulah julukan yang pantas untuknya jika berada di padang rumput itu.
Berbagai latihan kembali ditekuni. Lawan yang akan dihadapi bukan sembarangan lawan. Tentu saja mereka semua terlatih dan memilik stamina yang kuat. Untuk itulah latihan berat dilakukan agar tim mereka memiliki simpanan tenaga melawan rasa lelah yang sering menghampiri.
"Silvester, kau akan kembali menjadi starter," jelas Luke, sang Head Coach.
"Aku mengerti."
"Rodrigo, tetap pada posisimu dan kau juga akan menjadi starter mendampingi Silvester."
Rodrigo tersenyum. "Bagaimana dengan Richard?"
"Kau akan menduduki kursi cadangan, Richard. Maaf!"
"Aku mengerti, Sir," jawab Richard.
"Oke, kalian sudah paham akan posisi masing-masing. Silvster akan berduet dengan Lucas di lini kiri pertahanan kita dan Romelu serta David di sebelah kanan. Tetaplah ingat nasihat yang sudah ku ajarkan pada kalian. Kerjasama tim yang terutama, jangan terburu-buru serta mengabaikan posisi kalian."
Semuanya menjawab serentak. Luke tersenyum seraya mengangkat tangan kanannya yang terkepal.
"Brazillía!"
"Tak terkalahkan! Vamos!" teriak semuanya menyambut teriakan Luke.
Papan skor masih berisi angka yang sama dengan bola sudah di titik pusat lapangan bersiap dilayangkan ke arah manapun oleh kesebelasan pemain.
Peluit wasit telah ditiup dan bola diluncurkan.
.
.
.
.
.
iklan**
.
Netizen : untung ya thor, bang rod gak dikebiri😆
Author : gue masih baik hati😁 gaada yang jadi penerima tantangan di lini depan kalo bang rod kenape-nape
Netizen : bilang aja lu ga tega, bang rod kan ganteng😆
Author : gue ga nyangkal deh😑 iya iya bang rod ganteng. tetep dukung yaa biar imajinasi gue lancar😊. kasih poinnya yaaa😁
.
*****
Love,
Xie Lu♡