
Happy reading!😊😘
.
*****
Silver terbangun karena tangan mungil memeluk lehernya erat. Juga tangannya terasa keram karena tubuh perempuan itu menindihnya.
Ia menariknya perlahan agar tidak membangunkan perempuan itu dan mengecek ponselnya.
"Astaga, aku terlambat," gumamnya.
Hampir tengah malam, ia baru mengingat bahwa ia ada sesuatu yang harus diselesaikan.
Silver kembali memerhatikan wajah mungil milik Sue, bagaimana damainya dalam lelap.
Wajahnya datar, ia mengusap bibir yang tadi digigitnya. Bekas darah itu mengering.
Sue menggeliat. Silver sontak menarik tangannya dan pergi meninggalkan kamar itu.
"Dasar J*l*ng!"
Silver menaiki lift agar cepat sampai ke kamarnya. Saat sampai di depan kamarnya, ia terkejut mendapati Peyton berdiri di sana.
"Kau baru datang, sayang."
Silver tidak menghiraukannya, ia menempelkan ibu jarinya di pintu dan membuka pintu itu.
"Kau mengunci pintunya, Sil."
"Ini rumahku."
Saat Peyton hendak masuk, ia menahan kepala Peyton dengan jari telunjuknya.
"Jangan pernah memasuki kamarku tanpa izin!"
"Aku bersamamu, Sil."
"Kau tidak diizinkan."
"Aku kekasihmu."
"Dalam otak dangkalmu itu."
"Ck, ingat yang bisa aku lakukan padamu, Sil. Jangan meremehkan otakku."
Silver menggeram, ia mengepalkan tangannya. Tatapannya tajam, menusuk ke tulang-tulang.
"Kau tidak akan melakukannya, Peyton. Kau mencintaiku."
"Ya, aku mencintaimu. Bahkan aku tidak ingin berbagi bibir ini pada siapapun termasuk j*l*ng rendahan itu."
Peyton menyentuh bibir merah muda itu yang langsung ditepis olehnya.
"Jaga tanganmu kalau kau masih ingin memiliki anggota tubuh yang lengkap."
"Aku menyentuh milikku."
"Jangan bermimpi!"
"Apa kau sudah menyukai perempuan murahan itu?"
"Kau juga murahan."
"Tidak, aku hanya milikmu."
Seketika amarah Silver memuncak, ia mendorong Peyton agar keluar.
"Pergi selagi aku masih baik padamu."
"Kau tidak bisa melukaiku, Sil."
"Hanya manusia yang tidak bisa berpikir yang tidak melakukannya."
Ia langsung mencekik leher jenjang milik Peyton sampai gadis itu sesak. Peyton meronta-ronta dalam genggamannya, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan milik gadis itu.
"Aku bisa membunuhmu dengan satu tanganku, j*l*ng!" bisiknya penuh amarah tepat di telinga Peyton.
Peyton bergidik, membayangkan hal itu terjadi membuatnya perlahan mundur tetapi tangan Silver tetap mencekik lehernya.
"Ini balasan karena kau melempariku tadi."
Cekikan itu semakin erat sebelum Silver melepaskannya. Peyton terbatuk-batuk, kakinya lemas. Ia berpegangan pada pilar pintu untuk menyangga tubuhnya.
"A-aku... tidak... sengaja, Sil."
Peyton memegang lehernya yang sakit. Rasanya bola matanya juga hendak keluar. Dengan mata yang berkabut, ia berjalan gontai menjauhi kamar Silver.
"Aku mencintaimu, Silvester. Kau milikku!"
"Pergilah ke neraka, j*l*ng!"
Silver menutup pintu itu keras sehingga menimbulkan bunyi yang sangat keras di dalam mansion itu.
"Wanita murahan yang tidak tahu malu," umpatnya sambil menghempaskan dirinya di kasur.
*****
Lamborghini Aventador berwarna silver itu melaju dengan kecepatan tinggi di antara jutaan bintang kerlap-kerlip di pusat kota. Silver fokus mengemudi dengan sebatang rokok terjepit di sela jarinya.
Perjalanannya terasa sangat panjang tanpa Rodrigo yang menemani. Mengingat pria bertato itu sedang berkencan dengan seorang gadis membuat Silver mengumpat.
"Siapa gadis yang mau dengan pria sialan sepertinya?"
Ia terus mengumpat dan mengutuk Rodrigo hingga tanpa sadar ia telah sampai di tengah hutan.
Ia melihat ada serombongan orang sedang melakukan sesuatu yang menghalangi jalannya. Ia turun dan mengintip siapa mereka.
"Dragon Fire." Ia menyeringai kemudian berjalan mendekati mereka.
"Wow, perjalanan tengah malam yang menguntungkan."
Ia menembak salah satu anggota Dragon Fire dan menjadikan ia pusat perhatian. Semuanya langsung menodongkan senjata ke arahnya tanpa mengetahui siapa di balik masker hitam yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
"Caméléon," ujarnya memperkenalkan diri yang membuat mereka menurunkan senjata.
"Apa yang kalian lakukan? Tetap pada posisi!" perintah seseorang yang menjadi pemimpin Dragon Fire.
"Oh Tuan Mark. Kau di sini rupanya."
Seringai Silver semakin lebar karena pemimpin itu tampak menahan amarahnya.
"Jangan menggangguku, Caméléon. Atau aku akan mengirimkan kepalamu ke dalam mulut naga."
"Kau yang menghalangi jalanku, Mark." Silver terkekeh, lalu menodongkan senjatanya ke kepala seorang anggota Dragon Fire. "Kau bisa mengirimkan kepalaku jika kau yakin napas anak buah kepercayaanmu masih ada sampai besok pagi."
Silver menarik pelatuk SIG Sauer M17 miliknya dan kaliber berukuran 9mm itu tertanam di kepala pria itu.
Silver meniup senjata itu dan tersenyum puas.
"Kau melihat wajahku, Mark," kemudian ia menutup wajahnya yang sempat dibuka.
"Aku tidak sia-sia menguasai perdagangan gelap Amerika dan Eropa, senjata kecil seperti ini bisa menembus kepala manusia."
Ia mendekat ke arah Mark, lalu melakukan hal yang sama membuat pria itu menegang.
"Berikan aku apapun yang kau miliki di container itu atau aku yang akan memberikan kepalamu kepada naga peliharaanmu."
Mark menggeleng, membuat Silver menempelkan ujung pistol itu di dahinya.
"Jangan biarkan Bunglon Hijau ini lolos!" titah Mark pada anak buahnya yang sudah melingkari tempat keduanya berdiri.
"Kau tidak akan lolos, Caméléon. Terima kematianmu di tangan Dragon Fire, dan kami akan menduduki puncak rantai makanan."
Tangan Mark terangkat ke atas dengan senyuman puas di bibirnya ketika seluruh anggota Dragon Fire bersiap menembak Silver.
Satu tangan Silver terangkat dan ia menjentikkan jarinya. Seorang anggota itu langsung terjatuh.
"Dari mana asal tembakan itu?" teriak salah satu.
Mark yang terkejut karena anggotanya yang tertembak bukan Silver, mengambil pistolnya yang tersembunyi di balik jaket hitamnya dan balik menodongkannya di kepala Silver.
"Kau membawa kawanan?"
Silver terkekeh lucu dari balik maskernya. "Kau merasa ketakutan?"
"Drogon Fire tidak akan pernah mundur!"
"Kau pria sejati!"
Silver menarik lagi pelatuknya membuat Mark kembali menegang.
"Kau takut, Mark."
Seorang anggota kembali lagi terjatuh di belakang Mark.
"Kau akan bertanggung jawab pada keluarga mereka, McShane!"
Sekali tarikan memutar yang sangat lincah dan cepat membuat semua rombongan yang melingkar tadi terjatuh. Namun, satu peluru juga berhasil menembus punggung Silver oleh Mark saat ia memunggungi.
"Kau berhasil, McShane. Tapi, semuanya akan berakhir malam ini juga." Silver menyeringai dan membuka maskernya, berinisiatif menunjukkan identitasnya pada Mark.
"Kau mengenalku, Mark McShane. Ini wajahku, namun sayangnya kau mengingatku hanya sampai di sini." Ia kembali menarik pelatuknya.
Belum sempat menembak tepat di kepala Mark, Silver terhuyung dengan darah segar yang keluar dari perut bagian bawahnya. Seorang anggota Dragon Fire yang masih sadar menembaknya.
Silver memegang perutnya dengan satu tangan dan menembak berkali-kali tepat di kepala Mark dan semua anggotanya.
"Pergilah ke sarang nagamu, sialan. Hiduplah dalam neraka selamanya!"
Rasa perih di perut dan punggungnya membuat Silver kedinginan. Ia menyumpal darah yang terus keluar itu dengan kemeja milik seseorang yang terkapar di tanah.
Sebelum ia terjatuh dalam keheningan dan kedinginan di gelapnya malam, suara ponsel menyadarkannya.
"Hm?"
"Kau dimana? Aku menunggumu sejak tadi. Aku kedinginan di tepi pantai ini, sialan."
Silver menghela napas, kemudian menyahut.
"Aku di tengah hutan menuju ke sana. Jangan menungguku karena sepertinya aku tidak akan datang, aku sedang membereskan sesuatu."
"Kau membuat masalah lagi?"
"Hm."
"Jangan mati di sana! Pulanglah dengan nyawa!"
Silver tidak mendengar ocehan orang itu karena ia sudah tak sadarkan diri.
Di tingkat kesadarannya yang masih ada, ia masih sempat membuka mulutnya dengan mengucapkan kalimat, "J*l*ng kecilku!"
.
*****
Love,
Xie Lu♡