
Happy reading!😊😘
.
***
Lelaki bermanik hijau itu mengangkat kacamata yang bertengger di hidungnya saat seseorang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
Tanpa melihatpun, ia sudah tahu siapa orang yang seenaknya keluar masuk ruangannya itu. Siapa lagi kalau bukan pria bertato yang menyebalkan itu.
"Kau sangat suka memasuki ruanganku tanpa izin. Ada masalah apa?" tanya Silver tanpa melihat.
"Kau sangat serius. Ayo keluar. Cuacanya sedang bagus."
"Pasti cuacanya membuatmu gila."
"Ayolah, Sil. Lidya tidak mengizinkanku mendekatinya."
Silver mengangkat wajahnya dan terkejut melihat Rodrigo datang membawa seorang gadis kecil. Kalau diperhatikan dengan teliti, wajah anak kecil itu mirip ....
"Kau terkejut, bukan? Dia bisa menjadi teman Alita."
"Siapa dia?"
"Come on, Man. Aku tahu matamu tidak rabun."
"Wtf, dia janda?"
"Bukan masalah selama dia tidak mengkhianatiku. Kami saling mencintai."
Silver menyeringai. Ia melihat keseriusan Rodrigo dan binar bahagia di matanya.
"Kau benar-benar telah melupakan Johanna?"
"Tidak ada alasan bagiku mengingat j*l*ng yang tidak tahu diri. Kenapa kau terus membahasnya?"
Yang ditanya hanya menyengir dan mengangkat bahunya.
"Aku benci wajahmu yang datar saat menjadi pria milik wanita itu."
Rodrigo mengerang di tempatnya. Ia tidak tahan lagi jika membahas tentang mantan wanitanya yang telah mengkhianatinya. Lidya sangat membencinya jika mendapati dirinya sedang menatap foto Johanna.
"Dominique, aku juga membencimu waktu itu. Kau menjadi iblis buat wanita yang kau cintai."
"Well, kau yang tidak pernah memberitahuku tentang apa yang sudah kau ketahui."
"Tetap saja kau iblis berwajah malaikat."
Silver terkekeh menutupi perasaannya, dia merasa jantungnya diremas tangan tak kasat mata jika mengingat hari kelam dalam hidupnya.
"Bagaimana dengan wanitamu?"
"Aku tidak tahan menghadapinya. Dia sangat aneh. Berbeda dengan kehamilan istrimu."
Membayangkan Rodrigo kelimpungan dalam memenuhi keinginan wanita hamil menjadi hiburan tersendiri bagi Silver.
"Itu hukuman karena kau telah menyembunyikan wanitaku dulu."
"Itu tidak akan terjadi tanpa campur tangan saudaranya."
Silver terkejut, dia belum mengetahui apapun tentang kepergian Sue dan Rodrigo ke Hawaii waktu itu. Tiba-tiba menghilang dan sangat sulit dilacak.
"Del Montaña?"
"Kau mengenal siapa lagi?"
"Pantas saja kalian sulit dilacak. Mafia sialan itu dalangnya."
"Kau pantas mendapatkannya. Juga, anakmu bisa selamat karena kejadian itu. Apa kau tidak berpikir bahwa bisa saja terjadi sesuatu pada anakmu karena kau terus menyiksa ibunya?"
Terdiam sejenak seraya memikirkan perkataan Rodrigo, Silver menarik napas dalam. Ia seharusnya tidak membenci dan memukul Rodrigo yang telah menyelamatkan wanitanya.
"Itu tidak akan terjadi jika kau memberitahuku sejak awal."
"Kau yang menolak percaya, Dom."
"Kau bisa memaksaku untuk percaya entah bagaimanapun caranya."
"Membunuhmu misalnya?"
"Sialan. Kau memang musuhku." Silver bangkit dari kursinya setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya. "Quel est votre nom, Fillette?" (Siapa namamu, Gadis kecil?).
"Byla."
Silver mengangkat alisnya. "Nama belakangmu?"
"Labyla Andrea Ruiz," ucap Byla yang tidak hanya menyebutkan nama belakangnya.
Silver terkejut.
***
"Aku tidak menyangka kau akan kembali ke sini lagi, Carissa."
Perempuan berambut pendek itu tersenyum. "Ini sebuah keajaiban, menemukanmu sebagai Nyonya Dario setelah penderitaan yang kau alami."
"Ya, Tuhan sangat baik padaku. Mengizinkanku menjadi istri dan ibu dari anak pria tampan."
"Astaga, aku tersentuh. Kau sangat mencintai Tuan Silver?" bisik Carissa pelan.
Sue menanggapinya dengan kekehan.
"Kau mengetahuinya, Carissa. Kau menyelamatkanku untuk itu."
"Aku tidak berpikir kau akan menjadi istrinya setelah kejadian itu. Kau benar-benar pemaaf, Nyonya."
Sue mengangkat Alita yang terbangun dari boxnya. Lalu memberinya makanan agar bayi kecil itu terdiam.
"Tidak ada alasan untuk membencinya. Hatiku kalah oleh kata cinta," ucap Sue tersenyum. "Dan, jangan memanggilku seperti itu."
Carissa tidak peduli. Ia mendekat dan menyentuh pipi mulus milik Alita yang sedang asyik menyedot nutrisinya.
"Aku pasti akan dikirim ke sarang serigala jika melakukannya, Nyonya."
"Serigala?" gumam Sue.
Ia teringat akan kejadian yang hampir merenggut nyawanya malam itu. Seekor serigala menolongnya dari kejaran orang suruhan Alfonso.
"Siapa yang akan melakukan itu?" tanyanya sedikit menyelidik.
Menutupi kegugupannya, Carissa menyengir.
"Bukan siapa-siapa, Nyonya. Aku hanya asal bicara. Aku berpikir mungkin saja Tuan Silver akan melakukannya mengingat dia sangat kejam."
Pasrah, Sue mengangguk. Ia sepertinya mulai curiga akan sesuatu. Namun, untuk mendapatkan buktinya ia harus lebih teliti lagi.
"Aku pikir Silver memiliki peliharaan semacam itu."
"Dia Bunglon Hijau, Nyonya."
"Itulah yang membuatku bertanya. Ah sudahlah, apa kau sudah makan?"
Carissa mengangguk.
"Kau serius ingin membantuku di sini? Tapi, aku tidak sedang membutuhkan seorang pengasuh. Mengingat kau pernah menolongku, aku berpikir bahwa kau juga bisa menjaga Alita."
"Ya."
Binar bahagia di mata Carissa seketika meredup mengingat ada hal yang harus diselesaikannya di sini. Dalam hati ia meminta dimaafkan oleh wanita pemaaf di hadapannya itu. Berharap juga Tuhan mengampuni dosa yang akan dilakukannya.
"Keluargamu baik-baik saja?"
"Tuhan selalu menyertai mereka, Nyonya."
***
Silver mengerutkan keningnya membaca beberapa baris kalimat pesan di ponselnya. Keberadaan Rodrigo dan Byla jauh dari pandangannya sehingga ia leluasa menunjukkan aura gelapnya.
Sendirian di sofa ruangan khusus restoran itu sedikit menyeramkan baginya. Meski banyak pesan mengancam yang pernah datang di ponsel, baru kali ini ia merasa terintimidasi.
Dipikir-pikir, ia tak pernah lagi memiliki musuh yang mengincarnya. Ia tidak pernah lagi terlibat langsung dalam dunia gelap meski ia telah menguasai keseluruhan pasar gelap Eropa.
"Dominique!"
Silver mengangkat pandangannya dari ponsel. Wajah Rodrigo terlihat datar, seperti aura yang sering nampak saat mereka menggelungi bisnis malam hari.
"Quoi de neuf?"
"Ada yang mengirimkan ini padaku."
Rahang Silver mengeras, dia mengepalkan tangannya. Ternyata bukan orang iseng yang mengirimkannya pesan ancaman itu.
"Kau juga mendapatkannya, Rod."
"Juga?"
Ia menunjukkan isi pesan dalam ponselnya dan keduanya saling bertatapan dalam diam untuk sesaat.
"Kau punya feeling yang bagus?" tanya Silver.
Dibalas gelengan oleh Rodrigo, lelaki berambut silver itu menghubungi sang manager yang merangkap jadi asistennya.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu belakangan ini?"
"...."
"Seperti pesan suara ataupun gambar yang menurutmu aneh?"
"...."
"Aku ingin kau mengirim detektif untuk melakukan sesuatu yang akan kukirimkan padamu."
Memutus sambungan pada Arthur, Silver kembali menghubugi perempuan berambut plontos yang menjadi sandarannya dalam melacak keberadaan seseorang.
"Aku punya tugas penting untukmu, Barbara."
"Jangan sesuatu yang aneh. Aku akan menikah sebentar lagi, Silver."
"Aku tidak peduli. Kau harus menyelesaikan ini secepatnya."
"Ck, kau tidak berubah. Menjadi seorang ayah tidak membuat sisi iblismu menghilang. Katakan, apa itu?"
"Kau memang paling bisa diandalkan, Botak."
"Sialan! Bayarannya harus setimpal."
***
Silver memasuki pelataran rumahnya dengan tergesa-gesa. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan pesan yang masuk tadi. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa wanita kesayangannya.
Masuk ke kamarnya, ia mendapati istrinya sedang merajut di atas ranjang.
"Sayang."
Sue menoleh dan tersenyum menyapa suaminya.
"Kau pulang lebih awal."
"Aku merindukanmu, Sayang."
Wanita bermanik kuning itu terkekeh dan membalas pelukan suaminya yang tiba-tiba memeluknya erat.
"Sesuatu terjadi? Sepertinya kau memiliki beban pikiran."
Menolak untuk memberitahu, Silver membenamkan kepalanya di wajah sang istri. Menghirup aroma menenangkan dari tubuh Sue yang bisa menghilangkan bebannya.
"Aku hanya merindukanmu, Sayang. Rindu pergulatan kita di sini," bisiknya menggoda.
"Sil! Jangan macam-macam!"
"Hm."
"Ada apa?"
"Aku mencintaimu."
"Sudah seharusnya."
Silver mendekapnya makin erat. "Jangan tinggalkan aku, Lita!"
Mencoba menjauhkan tubuh Silver yang memerangkapnya, Sue berkata, "Kau berbicara seolah aku akan meninggalkanmu. Itu tidak akan terjadi, Sayang. Aku memiliki janji yang tidak bisa kuingkari."
"Yah, seharusnya begitu sampai selamanya."
Sue terkikik saat jambang Silver menggelitik lehernya.
"Sayang, lepaskan aku! Astaga, Dominique!"
"Dimana Alita?"
"Di kamarnya."
"Meninggalkannya sendirian?"
"Bersama pengasuhnya."
"Huh?!"
"Carissa kembali."
Silver menegang.
.
❤♡❤
♡❤♡
.
***
Love,
Xie Lu♡