Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 7



Happy reading!😊😘


*****


Kalimat terakhir Carissa membayangi Sue selama beberapa hari ini. Carissa menyuruhnya pergi menjauh, tetapi ia tidak mengerti maksud perkataan itu. Selama ini tidak ada yang mencurigakan dari kalimat itu. Tidak ada bunglon hijau yang ia temukan juga di mansion besar itu.


Meskipun tatapan tidak ramah sering ia dapatkan dari para maid lainnya, tetapi ia menguatkan hatinya, sesuatu yang besar berawal dari langkah kecil dan penuh rintangan. Ia yakin pasti bisa membayar lunas hutangnya.


Ia juga sudah melupakan perbuatan Silver yang mencekik lehernya waktu itu. Tidak ada rasa benci atau apapun itu, ia berpikir bahwa perbuatannya waktu itu memang membuat Silver marah karena yang mengalami luka itu adalah wanita milik tuannya, Paula Salmonetta.


Langkah-langkah kakinya ia percepat agar cepat sampai ke mansion. Hari sudah mulai siang akibat ia terlalu lama mencari daging segar di pasar.


Sesampainya di daerah yang sepi, bulu kuduknya merinding. Ia merasa seperti ada sesuatu yang mengikutinya. Belum sempat ia menoleh, suara tembakan memekakkan telinganya.


"Aaawww ...."


Sue menjerit tapi secepat mungkin menutup mulutnya, berlari jauh agar tidak mengganggu.


"Hei .... Tunggu!"


Sebuah suara memanggil, ia semakin ketakutan. Ia mengambil langkah seribu, menjauh dan tidak menghiraukan suara itu. Namun, satu anak panah menancap di batang pohon di depannya berhasil menghentikan langkahnya. Ketakutannya semakin menjadi-jadi, kakinya lemas seolah tak bertenaga.


Sue tidak berani menolehkan kepalanya, syok melihat pohon yang ditembus anak panah di depannya membuat sekujur tubuhnya membeku.


Suara derap langkah orang yang memanggilnya itu mendekat. Ia mengeratkan cengkramannya pada kantong daging yang dibelinya itu.


"Hei, cantik. Kenapa kau terlihat ketakutan?"


Sue mendongak, menengadah pada pria tinggi di hadapannya itu. Seorang pria bertopeng hitam mirip kepala iguana atau lebih tepatnya kepala seekor bunglon dengan busur di tangan kirinya dan kantongan panah di punggungnya. Ketika tangan pria itu terulur kepadanya, ia mundur.


"A ... anda ... siapa?"


Pria itu terkekeh, kemudian melepaskan topengnya dan betapa terkejutnya Sue mendapati seseorang yang tidak kalah terkenalnya dibandingkan Silver.


"Tuan Rodrigo ...? "


"Ya, kau benar. Kau mengenalku ya?" Cengiran di bibir pria itu membuat Sue tersipu, apalagi ditambah lesung di pipinya.


"Tentu saja, Tuan." Ia menunduk agar tatapan matanya tidak beradu dengan milik Rodrigo.


"Maaf mengejutkanmu, aku sedang berburu rusa di sekitar hutan ini. Aku melihatmu dan menghampirimu, sepertinya wajahmu familiar."


"Tidak apa-apa, Tuan. Maafkan saya, saya harus bergegas pulang. Saya sudah terlambat."


Rodrigo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dimana tempat tinggalmu?"


"Maaf, Tuan. Saya harus segera pergi." Ia menghindar dari pertanyaan Rodrigo dan melangkah pergi.


"Tunggu dulu, siapa namamu?" Rodrigo mencekal tangannya dan ia membalikkan badannya.


*****


"Jadi, kau bekerja di rumah sialan Silver itu?" Tanya Rodrigo tidak percaya ketika keduanya sampai di depan gerbang raksasa yang dikawal banyak pengawal. Sue mengangguk.


"Baru beberapa minggu ini, Tuan."


Rodrigo memaksa Sue agar ia bisa mengantar Sue yang nampak ketakutan di hadapannya tadi saat ia menanyakan tempatnya bekerja. Melalui berbagai perdebatan, akhirnya Sue mengalah oleh kekeraskepalaan Rodrigo.


"Apa saja yang dilakukannya padamu?"


Pertanyaan Rodrigo mengandung arti yang tak dipahami oleh Sue. Pria berambut pirang itu tahu apa saja yang dilakukan Silver pada maid di mansion besar itu jika di antara mereka menyulut kemarahan Silver.


"Saya tidak mengerti maksud anda, Tuan."


Sue meremas jarinya saat manik cokelat muda itu menatapnya tajam. Pria di hadapannya ini terlihat sangat tampan dalam keadaan apapun, berbanding terbalik dengan Silver saat ia sedang marah. Ah, tidak boleh membandingkan idolamu dengan orang lain, Suelita. Ia mencubit lengannya ketika sadar bahwa pikirannya melantur.


"Kau mengerti maksudku, Suelita. Jangan berlagak tidak tahu apa-apa."


Tangan Rodrigo mengelus surai panjang miliknya, membuatnya merasa nyaman dan merindukan belaian ayahnya. Sudah beberapa minggu ia tidak bertemu ayahnya, ia jadi rindu.


"Jangan sungkan padaku kalau Silver menyakitimu. Dia iblis berdarah dingin."


Sue bergidik mendengar gertakan gigi milik Rodrigo. Ia masih bingung kenapa sahabat idolanya mengatakan hal buruk tentangnya. Yang ia pahami tentang persahabatan -antara dirinya dan Zamora- ialah saling menutupi keburukan sahabat dengan kelebihan yang dimiliki, tanpa mengumbar keburukannya pada orang lain.


Namun, tanpa disangka olehnya Rodrigo yang terkenal sangat dekat dengan Silver malah mengumbar keburukan Silver. Apakah itu pantas disebut persahabatan?


"Iblis berdarah dingin? Siapa yang kau maksud, Rod?"


Suara seseorang membuat keduanya menoleh ke arah asal suara. Dan, tepat di belakang mereka, Silver berdiri menyilangkan tangan di dada dan menatap tajam keduanya.


"Siapa yang kau maksud, Rod?"


Sue tidak merasa nyaman berada di antara dua pria itu, akhirnya ia pergi tanpa berpamitan. Berjalan cepat memasuki gerbang itu.


Manik hijau itu memindai seluruh penampilan Rodrigo, pakaiannya penuh sobekan.


"Apa kegiatanmu hari ini?" tanya Silver.


"Seperti yang kau lihat." Ia menunjukkan busur dan panahnya. "Aku tidak sengaja melihat gadis kecil itu saat sedang menyantap hasil buruanku." Rodrigo terkekeh kemudian melanjutkan, "Siapa dia?"


Mata Silver berbinar kemudian terkekeh pelan. "Itu hasil buruanku beberapa minggu yang lalu sepulang dari Spanyol."


Rodrigo terbelalak, mengerti dengan pernyataan Silver. "Jadi ...?" Ia sengaja menggantungkan kalimatnya berharap Silver mengerti.


"Kau pandai, Saudaraku." Ia menepuk pundak Rodrigo dan merangkulnya. "Seekor lalat busuk yang masuk dalam perangkapku." Tatapannya seketika berubah kelam, penuh amarah dan dendam, namun senyum sinis tak pudar dari bibirnya.


"Apakah kau tidak ingin mencari kebenarannya, Sil? Mungkin saja berita yang kau miliki itu adalah hoax."


"Pamanku tidak pernah berbohong padaku. Kau tahu itu."


"Kita tidak tahu isi hati seseorang, Sil. Lidah bergerak kemana saja sesuka kita, tetapi hati tidak seperti itu. Aku menyebutnya pengecut, karena yang diucapkan oleh lidah tidak sesuai dengan apa yang ada di hati. Bisa saja fakta yang kau percayai itu adalah kebohongan."


Silver terdiam mendengarkan itu, namun ia kesal juga karena Ridrogo terus saja menceramahinya. "Kau tidak perlu mengajariku, Sialan." Ia mengacak rambut Rodrigo. "Sahabat terbaik yang kau miliki itu adalah keluargamu sendiri. Bagaimana aku tidak mempercayai pamanku? Dia yang telah membesarkanku setelah mamaku tiada. Paman Alfonso tidak mengajari anak-anaknya untuk berbohong."


Rodrigo mengedikkan bahunya. "Tetapi, pada kenyataannya kau yang akan tersakiti, Sil." Ia bergumam.


"Apa?"


"Tidak ada. Sudahlah, aku hanya bicara asal-asalan. Jangan dengarkan."


Ia melepaskan rangkulan Silver dari pundaknya kemudian menendang tulang keringnya.


"Apa kau tidak akan membiarkanku masuk? Aku penasaran dengan isi mansionmu setelah beberapa lama aku tidak ke sini."


Silver meringis kesakitan, tangannya terangkat hendak memukul kepala Rodrigo tetapi Rodrigo sudah berlari masuk.


"Dasar Bunglon." Silver mengumpat.


"Sadar diri, Dominique."


*****


Terang telah habis dimakan gelap, Silver dan Rodrigo masih asyik berbincang di bangku panjang di taman belakang mansion.


"L'homme caméléon (Pria Bunglon)." Sebuah suara menginterupsi percakapan antara Silver dan Rodrigo.


Keduanya sontak menoleh. "Ada apa?" tanya Silver.


"Ayo pergi!"


Silver dan Rodrigo mengerutkan kening, belum paham alasan di balik ajakan Gregor.


"Ck, dasar pelupa. Apa kalian sudah lupa?" Ia mendaratkan bokongnya di kursi panjang itu dan menghisap rokok yang sedari tadi terjepit di celah jarinya. "Ada yang bertransaksi di daerah kita."


"Di mana?" tanya Silver antusias.


"Di sekitar pantai Ubatuba. Itu barang milik pemerintah lagi, Dom."


"Aku tidak peduli. Kau menjulukiku Manusia Bunglon, bukan?"


Gregor mengangguk. "Tetapi itu sedikit berbahaya."


Ia bangun dari tempatnya. "Perintahkan Hugo dan yang lainnya untuk bersiap-siap. Kita harus berangkat sekarang sebelum mereka tiba. Halangi mereka di jalan dekat gunung itu agar tidak sampai di tempat."


Rodrigo juga beranjak mengikuti Silver sedangkan Gregor masih asyik merokok sampai batang yang penuh nikotin itu benar-benar habis.


Silver memasuki kamarnya, ia bergegas menuju walk in closet tempat dimana barang-barang ilegal miliknya disimpan. Ia berjongkok dan membuka lantai di bawah laci jam tangannya.


Matanya memindai dengan cermat berbagai macam senjata yang dimilikinya. Ada yang besar, sedang dan kecil dengan jarak tembak yang sesuai. Tangannya terulur, mengambil salah satu pistol berukuan kecil.


Benda itu dirancang khusus oleh pabrik senjata milik D'alejandra Group dengan kecepatan tembakan lebih cepat dibandingkan miliknya yang lain. Setelah mengisinya penuh dengan peluru, ia menutup kembali lantai rahasia itu.


Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam, tak lupa topi dan masker menutupi mulut dan hidungnya sehingga hanya mata hijau zamrudnya yang terlihat, pertanda bahwa dialah Bunglon Hijau yang sebenarnya. Manusia yang pandai mengubah ekspresi dan jati dirinya disaat-saat tertentu.


Setelahnya, ia keluar dan mendapati Rodrigo dan Gregor dengan pakaian yang sama, berdiri di depan kamarnya. Keduanya mengangguk pertanda mereka telah siap.


"Let's having fun!"


*****


Ig @xie_lu13