Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 36



Happy reading!😊😘


.


*****


"Aku pikir kau berotot baja, Silvester."


"Ck, aku manusia bukan robot, botak."


"Yah, ku pikir demikian. Selepas bertanding kau selalu menembak di malam hari, juga banyak berolahraga malam. Aku curiga ototmu terbuat dari baja."


Barbara terkekeh lucu melihat ekspresi menyebalkan Silver.


"Olahraga malam?" Silver memicingkan matanya. "Apa maksudmu?"


"Kau mengerti maksudku, Silver."


"Ck, dasar botak." Ia melempar bantal yang dipakainya ke arah Barbara yang langsung ditangkap oleh gadis botak itu. "Pantas saja tidak ada pria yang mau denganmu, kau terlalu mesum."


"Apa?! Mesum? Wah, kata itu pantas untukmu, Silver. Kau memiliki wanita dimana-mana."


"Wanitaku hanya satu, Brieele."


"Benarkah? Bagaimana dengan gadis blonde itu? Kau menidurinya, sialan."


"Dia pelayanku."


"Ck, dasar pedofil. Kau mencari keuntungan dari tubuh mereka."


"Hei, aku tidak setua itu, botak. Aku masih muda dan sangat kuat."


"Ya, sangat kuat dalam urusan ranjang, tapi tidak menghadapi Colt 1911 yang tidak bernyawa itu."


"Berhenti mengejekku, Brieele. Mark sialan itu menembakku saat aku membelakanginya."


"Ck, kau pandai merekayasa keadaan. Mana aku tahu kau membelakangi atau sedang mengintip dan ketahuan melakukannya."


"Aku tidak melakukan itu. Mengintip? Yang benar saja, Bunglon Hijau tidak akan pernah melakukannya."


Brieele Barbara, mengangkat bahunya. Senyuman mengejek terukir di bibirnya.


"Kau selalu berbohong, aku tidak mempercayaimu!"


"Lupakan! Kau memang tidak pernah mempercayaiku. Bagaimana dengan sesuatu yang kau cari? Sudah ditemukan?"


Barbara mengambil buah apel yang dibawanya tadi dan memakannya.


"Itu milikku, botak. Jangan memakannya!"


Si botak acuh, ia terus memakannya sampai tersedak oleh cairan apel yang manis itu. Ia terbatuk-batuk.


"Aku sudah melarangmu! Berhenti memakannya dan jangan mengalihkan perhatianku dengan menontonmu tersedak apel sialan itu."


"Hm."


"Katakan apa yang kau dapatkan!"


Barbara menghabiskan apelnya dan menyeka mulutnya dengan lengan baju membuat Silver kembali mengekspresikan wajah menjijikkan.


"Kau yakin?"


"Tentu saja, biar aku punya alasan untuk membunuh ular licik itu."


Barbara menghembuskan napasnya pelan. "Tapi sayangnya, keamanan di sana sangat ketat, Sil. Mungkin butuh waktu yang sedikit lebih lama."


"Kau tidak bisa mempercepatnya?"


"Ck, kau tidak sabaran. Tidak mudah menerobos masuk keamanan milik negara, Sil."


"Dia menyimpannya di sana?"


"Tentu saja. Itu sesuatu yang berharga, Sil. Tidak sembarangan orang memilikinya, dan aku tidak menduga kau akan kecolongan dan tidak memerhatikan sekelilingmu sampai si bodoh itu mendapatkannya."


"Ya, aku juga tidak menduga kau kehilangan kemampuanmu seiring bertambahnya usiamu menjadi lebih tua, aku tidak tahu akan secepat itu kau menua, Brieele."


"Sialan, kau juga sudah tua. Ingat umurmu sudah hampir berkepala empat."


"Kita sama, tapi aku khawatir padamu, Brieele. Kau tidak memiliki pria idaman dalam hidupmu yang malang."


Barbara memukul kepala Silver kuat, lalu meringis karena tangannya yang sakit bukan kepala berambut silver itu.


"Rasakan itu!" Tawa Silver pecah seraya memukul kening Barbara dengan keras pula. "A sweet revenge, Brieele."


Barbara memutar bola mata malas dan mengelus keningnya.


"Kau harus memperlakukan wanita ular itu dengan baik sebelum aku mendapatkannya."


"Aku tahu."


"Aku memberitahumu karena kau sering lupa dan tidak bisa menguasai emosimu."


"Aku Bunglon Hijau, Botak. Jangan meragukanku, kekhawatiranmu tidak akan terjadi."


"Ya, kau bunglon hijau yang lemah. Pandai tersenyum di depan kamera dan bersikap semaunya di dalam kehidupan privatmu. Aku ragu kau tidak bisa menguasai diri dan menerkam ular licik itu di atas ranjangmu. Dia lumayan cantik."


"Aku tidak akan melakukannya, tenanglah. Hanya satu yang aku inginkan."


"Satu?" Barbara menaikkan alisnya menggoda Silver seraya tersenyum miris. "Wanita blonde itu?"


"Sudah ku katakan, dia pelayanku."


"Tapi kau menidurinya, bodoh."


"Karena aku tidak akan menyia-nyiakan barang yang sudah menguras puing kertas milikku."


"Aku ragu untuk mempercayainya."


"Terserah, kau selalu tidak percaya."


*****


Dua hari Silver berada di rumah sakit. Itupun dengan adanya toleransi dari managernya, Arthur. Silver terus merengek bahwa lukanya masih sering berdarah, juga dengan alasan kakinya sering keram dan masih banyak alasan lainnya. Tetapi, hari ini Arthur mendapatinya sedang bermain golf di belakang rumah sakit dan memaksanya agar pulang.


"Kau sangat tidak pengertian, Arthur. Aku masih sakit. Ayolah, beri aku waktu lebih lama."


"Kau cerewet seperti ibu hamil, Dominique. Apa salah satu dari wanitamu sedang hamil?"


"Aku tidak memiliki---" Silver membelakkan matanya tidak percaya dengan dugaan Arthur. "Apa kau bilang? Hamil?"


"Ya, bisa saja wanitamu sedang hamil dan kau juga merasakan ngidam yang mereka rasakan."


Ia mengait-ngaitkan berbagai macam peristiwa yang dialaminya.


"Apanya yang tidak mungkin? Aku juga pernah mengalaminya, Dom."


"Benarkah? Bagaimana rasanya?"


"Ck, dasar bodoh." Arthur merampas tongkat golf dari tangan Silver dan memukulnya di tulang kering Silver."Tentu saja sepertimu. Cerewet dan tidak suka pada aroma sesuatu yang baru dan itu akan membuatmu muntah."


"Sialan, aku akan memecatmu!"


"Aku akan dengan senang hati mengumbar kehidupan pribadimu!"


"Dan kau beserta orang yang kau kasihi akan menemui ajalmu dengan cepat."


"Sial." Arthur tertawa tidak percaya dengan ancaman mematikan Silver. Bisa saja ia melakukannya jika ia lupa dengan siapa pria yang sedang marah di hadapannya itu. "Siapa wanitamu yang sedang hamil itu?"


Silver terdiam, pikirannya mengatakan bahwa itu tidak mungkin terjadi mengingat ia pernah mengatakan pada Rodrigo akan--"Sial, aku melupakannya! Brengsekk kau, Rodrigo!"


"Hei, kau mau ke mana, sialan?"


"Pulang!"


Arthur segera menyusul Silver yang pergi dengan kecepatan tinggi melebihi kecepatan pesawat tempur luar angkasa.


"Alasannya terlalu banyak untuk tinggal di rumah sakit, tetapi lihatlah, dia bahkan bisa berlari secepat kilat."


"Tunggu aku, sialan!"


Sementara itu, Silver dengan kecepatan berjalannya menyusuri koridor rumah sakit terbesar di kota itu, mengabaikan panggilan histeris para wanita penggemarnya yang tanpa sengaja berpapasan dengannya.


Wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi apapun membuat para pengawal yang mengikutinya tidak berani bersuara.


"Antarkan aku pulang!"


"Baik, Tuan."


"Cepat! Bila perlu gunakan 'namaku' untuk membungkam mulut polisi yang sedang berpatroli!"


Sopir itu mengangguk. Tentu saja ia paham dengan kalimat penuh makna milik sang tuan.


Mercedes Benz itu keluar dari area rumah sakit dan berlarian dengan segenap kekuatannya membelah teriknya sang mentari di pusat kota São Paulo. Meninggalkan Arthur menatap tidak percaya pada kepergiannya.


"Astaga, aku tidak menyangka dia sebodoh itu," gumam Arthur.


*****


Sue terpejam dalam kegelisahannya. Kesakitan yang mendera seluruh tubuhnya membuatnya tidak bisa leluasa bergerak. Tetapi, keinginannya untuk menyelamatkan malaikat kecilnya lebih besar sehingga ia masih bisa menghembuskan napasnya.


Manik kuningnya sesaat terbuka, berharap siapapun masuk dan memberikannya asupan nutrisi. Kelaparan melandanya sejak pagi tadi. Carissa, dewi penolongnya disaat kesusahan tidak pernah lagi menjumpainya. Entah apa yang dilakukan orang di luar sana padanya.


Ia menghembuskan napas pelan, memegang perutnya yang berdemo meminta makanan.


Kain yang tercabik-cabik menempel di tubuh kurusnya. Banyak luka di sekujur tubuhnya sehingga saat ia bergerak darah keluar dari sana. Ia berusaha bangun saat seseorang mendobrak pintu itu.


Berkali-kali orang itu melakukannya, membuatnya memiliki harapan semoga orang tersebut mengantarkan makanan padanya.


"Terima kasih, Tuhan," gumamnya pelan.


Sesaat kemudian, harapannya langsung terkubur ketika tidak ada lagi suara dobrakan dari luar.


"Mungkin belum saatnya. Aku percaya waktuMu pasti yang terbaik, Tuhan."


Setelah menggumamkan doa itu, pintu ruangan itu terbuka. Menampakkan sosok yang paling ditakutinya.


"Tu-tuan...."


Ia berusaha sekuat tenaga untuk menghindar saat Silver mendekat. Susah payah ia menelan ludah, mata tajam milik Silver seakan membunuhnya.


"Tu-tuan...."


Silver menariknya agar bangun. Dengan kesakitan yang kembali menyerang, Sue berusaha mengikuti kemauan Silver.


"Ikuti aku!"


"Ta---"


"Diam!"


Karena langkahnya yang lambat, Silver berbalik dan menggendongnya.


"Tu--- akh...."


Silver memukul pantatnya sehingga ia terdiam. Banyak pertanyaan di dalam kepalanya, betapa anehnya sikap Silver padanya.


Beberapa hari ia terkurung di tempat yang tidak terurus itu dan sekarang ia dibawa paksa oleh pelakunya.


"Dominique!"


Suara itu membuat Sue menegang. Ia kembali mengingat semua hal yang dilakukan orang itu padanya.


Silver berbalik, dan benar saja, Alfonso berdiri di sana dengan sebilah pisau di tangannya.


"Kemana kau akan membawa tawananku?"


Tanpa menjawab, Silver memunggungi Alfonso dan berniat pergi.


"Kau sudah menyerahkannya padaku, Dominique. Ingat itu!"


Silver tersenyum samar, ia hendak melepaskan Sue tetapi perempuan itu memeluk lehernya erat, takut dijatuhkan dari gendongannya.


"Aku masih ingat, Paman. Aku belum bisa melupakannya."


"Bagus. Berikan dia padaku!"


"Aku ingin bermain sebentar dengannya."


"Tidak, dia sudah menjadi milikku!"


Sue memejamkan mata erat saat Silver menurunkannya. Ia semakin ketakutan ketika merasa Alfonso mendekat dan menuangkan cairan jeruk di lukanya.


"Kau tidak akan ke mana-mana, j*l*ng kecil."


.


*****


Love,


Xie Lu♡