
Happy reading!
.
***
Keberadaan Max di mansion itu membuat Silver sakit kepala. Pria yang berstatus sebagai iparnya itu terus meminta anggur padahal bibirnya sudah meracau tak jelas.
Perkataan omong kosong terus terucap dari bibirnya, tentang pekerjaan juga tentang wanita.
"Kapan kau akan menikah?" tanya Silver untuk kesekian kali tentang hal-hal pribadi Max. "Kau membawa wanita saat pesta pernikahanku. Kau berniat menikahinya bukan?"
Satu tegukan kembali dicecap Max. Matanya memerah, keeadarannya di ambang batas. Kemampuan minumnya hanya sebatas dua gelas wine dan tidak lebih.
Sekarang dia bahkan telah menghabiskan tiga botol. Dan anggur-anggur itu memiliki kandungan alkohol yang tinggi.
"Alana maksudmu?"
Max memainkan botol yang ada di tangannya, bibirnya terkekeh mengejek. "Dia kabur, mungkin sekarang dia sudah menikah."
Silver terkejut, entah percaya atau tidak, otaknya malas berpikir. Keberadaan Max saja sudah membuatnya seperti orang gila, dan untuk memikirkan ucapan itu benar atau tidak, selebihnya dia memilih percaya.
Bagaimanapun, perkataan orang yang di ambang kewarasan karena alkohol kebanyakan fakta. Silver menarik botol yang ada di tangan Max, takut pria itu memukul botol itu di kepalanya atau pria itu berniat bunuh diri, siapa yang tahu, begitu pikir Silver.
"Kau sudah mencarinya? Atau kau dalam perjalanan untuk itu?"
Max tertawa keras. "Kau cukup pintar untuk jadi saudara iparku, Dominique. Seratus persen untukmu."
Menarik kembali botol yang sempat dirampas Silver tadi, Max langsung meminum anggur itu tanpa menuangkannya di gelas terlebih dahulu.
"Aku kemari untuk itu. Bukan, itu bukan poin pertama. Aku mengecek keamananmu. Jangan sampai si brengsekk Laurent itu mendobrak pintu rumahmu dan mencelakai keponakanku. Kalau itu terjadi, aku pasti membunuhmu."
Silver tertegun, dia menjaga kesadarannya jangan sampai dikuasai oleh alkohol. "Kau tidak berniat mencari kekasihmu di sini?"
Lagi-lagi Max meminum anggur itu sebelum menjawab. "Dia akan kembali kalau dia mau. Kalau tidak, dia memang bukan jodohku. Dan minggu depan aku juga akan menikah."
"Apa?" Silver terbelalak. "Kau akan menyerah begitu saja?"
Dengan mata tertutup menahan perasaannya, Max berucap, "Tidak ada yang bisa ku lakukan, dia menghilang tanpa jejak. Sepertinya ada orang kuat di belakangnya."
Silver berpikir sejenak, memang siapa yang lebih kuat kekuasaannya dibandingkan Max di daerah Spanyol, yang berhasil menghilangkan orang tanpa jejak.
"Kekuasaanmu menjangkau seluruh daerah Spayol. Bagaimana mungkin wanitamu tidak bisa ditemukan?"
Max terjatuh di sofa itu. Dengan mata tertutup dan bibir yang masih berkomat-kamit, dia memeluk kuat bantal sofa dan berkata, "Alana, aku mencintaimu melebihi apapun. Aku mencintaimu, ku mohon jangan tinggalkan aku. Ku mohon."
Melihat itu tentu saja Silver tertawa lepas. Bagaimana mungkin seorang pria kejam itu terjatuh begitu saja oleh alkohol. Dan yang lebih menggelikan lagi, Max dalam ketidaksadarannya memeluk dan mencium bantal itu.
"Alex, saudaramu sudah gila." Silver tertawa lagi. "Benar-benar gila. Hahahaha ...."
Pria yang sedari tadi yang berlakon sebagai penonton itu menggeleng tidak percaya. Tentu saja dia tahu itu akan terjadi setiap kali Max minum alkohol. Dan yang membuatnya kesal, Max tidak berhenti meskipun dilarang dan akan kecanduan jika sudah meminum dua gelas.
Silver memegangi perutnya yang keram saat Max kembali berulah dalam tidurnya. Kali ini bukan bantal yang menjadi sasaran, tapi paha Alex yang mendekat untuk memapahnya ke kamar tamu.
"Astaga, aku sekarang tahu kelemahanmu, Pria serigala. Sungguh gila," tawanya menggelegar.
***
"Tubuhmu bau alkohol, Sil."
"Aku minum sedikit."
Sue mendorong pelan kepala Max yang hendak bersandar di bahunya. "Alita akan menghirup bau itu, Sil. Tolong menjauh."
Bayi kecil yang sedang menyedot nutrisi di pangkuan ibunya itu menggapai wajah Silver. Tangan mungilnya melambai, entah apa yang dimaksudnya.
Silver yang melihat itu tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya, berharap mendapat elusan dari bayi kecilnya. Dan bukan seperti yang diharapkannya, tangan mungil itu memukul batang hidungnya.
"Astaga, kau memukulku, Little girl."
Sue tertawa, dia mengelus bagian wajah suaminya yang terkena pukulan itu. "Sakit?"
Silver tertawa kecil, dia memegang tangan Alita dengan gemas. "Sedikit. Kau cukup bertenaga, Bocah!"
"Aku menyuruhmu menjauh tadi. Itu akibat tidak mendengar Mom, Daddy," ucap Sue meniru suara anak kecil.
Silver mencium kepala istrinya dengan lembut, dan aroma alkohol menyengat di hidung Sue.
Sue kaget, dia menatap Silver tanpa kedip. "Bagaimana mungkin?"
"Hahaha .... Dia tidak punya kemampuan minum, Sayang. Dan sepertinya dia patah hati."
"Wow, anggur mana yang berhasil membuatnya jatuh itu?"
"Alana."
Sue mengatupkan bibirnya. Dia terdiam sejenak membuat Silver bertanya-tanya. "Kenapa, Sayang?"
"Tidak, aku hanya teringat sesuatu."
"Apa itu?"
"Aku pikir wanita itu bukan seseorang yang baik dijadikan wanita kak Max. Malam itu aku melihatnya bermesraan dengan seorang pria."
Silver menatap Sue dalam, mencari kebohongan di mata istrinya, namun mata kuning itu tidak menjawab kecurigaannya. "Kau mengenal pria itu?"
Sue menggeleng. "Mereka di tempat gelap. Dan aku tidak melihat pria itu di kursi undangan."
"Bagaimana postur tubuhnya?"
"Sedikit berisi darimu, mungkin. Dan lebih tinggi satu inci."
Silver mencebik kesal. "Satu inci kau perhitungkan, dasar perhitungan."
Sue terkejut saat bibir Silver mendarat di bibirnya. Saat keduanya terlarut dalam ciuman itu, tangan Alita menyentuh dagu Silver membuat yang empunya terkejut.
"Astaga, aku pikir kau sudah tidur, Anak nakal."
Sue tertawa, dia menepuk paha Alita dan menenangkan bayi itu.
"Mungkin aku harus mencari rekaman cctv malam itu untuk membuktikan lagi. Apa kau yakin, Sayang?" tanya Silver meyakinkan lagi.
"Aku tidak berbohong. Pasti orang itu menyamar."
"Sedikit kemungkinan, karena tamu malam itu diperiksa dengan ketat."
Lama keduanya berada dalam posisi mesra seperti itu. Silver memeluk pinggang Sue dengan Alita di pangkuan sang istri. Hingga suara dari Alita mengejutkan keduanya.
"Kau mengantuk, Sayang?" tanya Sue mengusap kepala Alita. Bayi itu terus menguap hingga tertidur. "Mom akan menidurkanmu bersama Aunty Carissa, ok?"
Mendengar itu, Silver menggeleng. Dia menahan lengan Sue yang hendak bangun. "Di sini saja, aku tidak ke mana-mana saat ini. Aku bisa menjaganya bersamamu."
"Kau lelah, Sil."
"Tidak ada yang lebih penting dari bayi kita, Lita."
Sue menurutinya. Dia menidurkan Alita di box samping ranjang mereka.
Dari ekspresi Silver, Sue mencurigai adanya sesuatu. "Tumben kau memaksa menidurkan Alita di sini. Sesuatu terjadi?"
Silver tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku tidak ingin Max menggangguku saat dia bangun nanti."
Lelaki itu belum menceritakan pada istrinya perihal Carissa yang menjadi penjaga Max di sana. Meski telah diceritakan Max bahwa Carissa bisa diandalkan, tapi kenyataan bahwa Carissa datang ke sana karena Laurent membuatnya kembali waspada.
"Tidak boleh menyembunyikan apapun dariku, Sil. Katakanlah!"
Silver mengerjap, dia terkejut saat wajah istrinya semakin dekat padanya.
"Baiklah, kau menjadi sangat pemaksa, tidak ada lagi sikap lemah lembut yang seperti dulu."
Sue mengerucut sebal, dia memukul pelan dada Silver. "Pria menyebalkan," sungutnya.
"Waspada terhadap Carissa, dia memang diutus Max ke sini. Tapi, dia juga mendapat tekanan dari seseorang. Berhati-hatilah ke depannya."
.
***
Untuk kisah Max yang kehilangan kekasihnya, bisa kalian temukan dengan kata kunci "Soledad" karya Xiie Lu.