Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 26



Happy reading!


.


***


Kaki jenjang yang memiliki banyak bekas luka itu menyusuri koridor ke arah timur. Ruangan yang tidak pernah dikunjunginya selama dia ada di mansion, menjadi tujuan utamanya.


Sue tidak memercayai Silver begitu saja. Keteramlilan Diego memang sangat banyak, tapi Sue belum yakin dengan bermain musik. Selama dia memerhatikan Diego, anak kecil itu tidak pernah menunjukkan ketertarikannya dengan musik.


Itu membuat Sue kurang yakin. Dia juga penasaran apa yang membuat Diego betah di ruangan itu. Entah karena memang bisa memainkan alat musik itu atau sedang kebingungan mencari cara untuk memainkannyam


Sudah beberapa jam anak kecil itu tidak keluar. Dan rasa penasaran juga ketikapercayaannya terbayar ketika dia mendengar suara petikan gitar saat membuka ruangan.


Di dalam ruangan yang kedap suara itu, Diego sedang duduk dan memetik gitarnya dengan melodi yang membuat pendengarnya ikut merasakan apa yang dirasakannya.


Sue terdiam. Mungkin terdengar sangat pilu, tapi Diego memainkannya dengan baik. Jemari kecil itu menari dengan indahnya di atas senar dengan gumaman kecil dari bibir mungilnya.


"Oh Tuhan, aku tidak percaya ini," gumam Sue takjub.


Diego masih belum menyadari keberadaannya. Karena itu, Sue menutup pelan pintu itu agar fokus Diego tidak teralihkan.


Berjalan perlahan ke arah Diego, Sue menutup mulutnya ketika melihat air mata anak itu menetes. Sue tidak percaya, di balik keceriaan dan ketengilan anak kecil itu tersimpan kesedihan yang tidak pernah diceritakannya pada orang lain.


Sue mengetahui segalanya tentang itu, tapi dia tidak pernah memaksa Diego untuk bercerita padanya.


Dengan lembut, Sue mengusap kepala Diego yang mana membuat anak kecil itu buru-buru menghapus air matanya.


"Apa kau sangat terharu karena Silver memberimu semua ini?"


"Aunty?" Diego mengerjap gugup, namun tak urung dia tersenyum yang kembali membuat Sue merasa simpati. "Kapan kau datang?"


"Apa aku tidak diizinkan ke sini?"


Diego tertawa, dia meletakkan gitar akustik itu di tempatnya. "Aku hanya terkejut karena tidak mengetahui kedatangan Aunty."


Sue ikut duduk di sebuah kursi kayu yang tinggi. Dia melipat tangannya dan menatap Diego dengan kening berkerut. "Kau masih memanggilku Aunty sementara Silver dengan sebutan Dad? Apa itu karena Silver memberimu ini?"


Sekali lagi anak kecil itu tergelak. Wajah manisnya membuat Sue ingin sekali mencubitnya.


"Aku harus memanggil apa?" tanya Diego sedikit memikirkan itu. "Bagaimana kalau Moon? Kau bulan di kegelapan malam, Aunty."


"Nama yang bagus," puji Sue. "Jadi kau harus mengganti dengan panggilan itu."


"Oke, Moon."


Sue mengusap kepala Diego lagi. "Bagaimana kalau kau menyanyikan satu lagu untukku? Kau memainkan gitar itu dengan baik. Aku ingin jadi orang pertama yang mendengarmu menyanyi daripada Silver."


"Astaga, Moon. Apa kau cemburu?"


"Aku tidak sebodoh itu dalam hal cemburu," jelas Sue menyipitkan matanya.


"Baiklah, tapi jangan mengejekku kalau lirik atau nada gitarnya salah, Moon. Aku masih dalam tahap belajar," ucap Diego sambil terkekeh.


"Aku janji."


Diego kembali memetik senar gitar itu. Alunan nada yang sama dengan yang tadi dimainkan membuat Sue menggigit bibir dalam.


Dan bibir merah muda itu mengawali sebuah lagu.


Te perdiste mi amor y yo


(Kau kehilangan cintaku dan aku)


Y yo te estaba amando


(Dan aku mencintaimu)


Te perdiste mi amor and you don't now


(Kau kehilangan cintaku dan kau tidak tahu)


Dejaste mi cama llorando


(Kau meninggalkan tempat tidur dan aku menangis)


Cada uno perdió lo que muchos no han logrado


(Masing-masing kehilangan apa yang belum dicapai banyak orang)


Ni soñando


(Tidak ada yang bermimpi)


Saliste a buscar


(Kau keluar untuk mencari)


Y no sabían igual


(Dan mereka tidak tahu hal yang sama)


Ésos besos que yo te entregaba


(Ciuman yang ku berikan padamu)


No pudiste hallar la felicidad


(Kau tidak dapat menemukan kebahagiaan)


Ésa que tanto deseabas


I wanna know


(Aku ingin tahu)


Just let me know


(Biarkan aku tahu)


How could you let me walk away


(Bagaimana kau membiarkanku pergi)


I wanna know


(Aku ingin tahu)


I gotta know


(Aku harus tahu)


(Te Perdiste Mi Amor, Thalí ft Prince Royce)


Sue terdiam menatap manik cokelat yang tidak menampilkan ekspresi itu. Ternyata, Diego bersikap kuat di hadapan orang lain.


Setelah menyelesaikan lirik terakhir, Sue menarik Diego dalam pelukannya. "Kau bisa bercerita padaku tentang apa yang terjadi. Jangan menanggungnya sendirian."


Diego menengadah kemudian tersenyum manis. "Tidak ada yang terjadi, Moon. Aku baik-baik saja."


"Kalau kau tidak mau bercerita padaku, curhat pada Tuhan. Dia Maha mendengar dan akan meringankan bebanmu."


"Kau benar-benar bulan di malam hari, Moon."


***


Silver terlihat kacau setelah mendapat telepon dari Gregor tentang pembangunan di Valencia mendapat masalah.


Mengetahui istrinya masuk ke kamar, Silver memasang wajah terbaiknya. Dia tidak ingin sang istri ikut khawatir.


"Sayang, aku harus pergi mengecek proyek di Valencia. Aku sudah lama tidak melakukannya, seharusnya bangunan itu sudah hampir selesai."


Sue duduk di pangkuan sang suami sambil memakan camilan yang dibawanya dari dapur. "Kau memang terlihat kacau. Jangan khawatir, aku tidak akan membuat masalah untukmu. Makan camilan ini," ucap Sue menyodorkan wadah camilan.


"Apa aku terlihat kacau?" tanya Silver sambil mengambil beberapa potong makanan ringan yang diberikan sang istri.


"Kau memang pandai berpura-pura di hadapan orang lain, tapi kau juga harus tahu, aku tidak akan tertipu oleh tipuan kecilmu yang memaksakan senyum itu."


Silver terkekeh hambar. Selain pandai bermulut manis, istrinya memang handal dalam hal menilai dirinya.


"Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu."


"Maka jangan berpikir untuk merahasiakan apapun dariku."


"Aku tidak akan melakukannya."


Sue menyipitkan matanya dan menatap tajam Silver. Kemudian dia menengadahkan telapak tangannya meminta.


"Apa?"


"Kau menyembunyikan sesuatu di lantai kamar itu."


"Astaga, ternyata kau benar-benar peka. Apa yang kau inginkan?"


"Sidik jarimu."


Silver menelan ludah kasar. Dia tidak menyangka Sue akan menagih janjinya.


"Apa aku harus memotong jariku?"


"Kau bisa melakukannya jika ingin anakmu memanggilmu dengan sebutan 'Sembilan Jari'."


"Sayang, kau sangat berbahaya," ucap Silver menahan geram.


"Maka jangan buat masalah. Berikan aku sidik jarimu, aku akan memeriksanya sendiri."


Sue bangun dari pangkuannya dan berlalu ke walk in closet. Dia mengambil sesuatu dari sana.


"Ini tisu magic pengambil sidik jari," ucap Sue serius yang dibalas tawa oleh Silver.


"Kau belajar cara mencuri ini dari mana?"


"Kau orang berbahaya, tentu saja aku harus waspada dengan segala hal, termasuk mendeteksi sidik jari."


"Kau bukan ahli forensik. Berikan padaku benda itu."


Sue memberikannya. Kemudian Silver menempelkan jarinya di tisu itu yang membuat Sue tersenyum lebar.


"Ini baru benar. Aku bisa memakainya jika keadaan terdesak."


Silver kaget. Dia tidak memperkirakan hal ini akan terjadi. Istrinya tidak bisa diganggu. Dan apa yang ada dalam pikiran Silver mungkin akan terjadi.


"Kau tahu apa yang ada di sana?"


"Pistol, bukan? Aku sudah menduganya sejak awal."


.


***