Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 24



Happy reading!


.


***


"Lepaskan tanganmu, aku tidak ingin dipeluk."


"Hei, ayolah, aku tidak tahu kalau dia membenci calon istri William."


"Kau bisa membaca raut wajahnya, Sil."


"Aku tidak bisa melakukan itu."


Sue menahan kesal. "Apa kau punya hubungan baik dengan William?"


"Hanya beberapa kali bertemu," ucap Silver. Dia memeluk pinggang istrinya yang langsung ditepis. "Sayang ...."


"Aku ingin bermimpi tentang pria tampan dalam tidurku. Jangan menggangguku lagi."


Sue membalikkan badannya memunggungi Silver. Dia memeluk Alita yang dibiarkannya tidur di ranjang bersama mereka.


"Sayang, jangan coba-coba! Bahkan dalam mimpi aku akan membunuh pria itu."


"Kau tidak boleh membunuh, Sil. Tanam kebaikan dalam dirimu dan ajari anakmu nanti. Berhenti melakukan hal kotor."


Silver terdiam. Benar yang dikatakan istrinya, selama ini dia sudah berkubang dalam gelapnya malam dan tak bisa melihat matahari. Sampai senyuman sang istri mengantarkannya kembali ke arah terbitnya mentari.


Namun, sekarang Silver tidak berjanji. Kesalahan masa lalu masih menghantui kehidupannya sekarang. Dan dia tidak tenang sebelum menyelesaikannya.


"Apapun untuk kalian, Sayang. Aku akan berusaha," ucapnya. "Tapi untuk pria yang kau mimpikan, aku tidak janji."


Sue mengerucut sebal, dia mencubit perut Silver yang liat. "Bahkan dengan musuh, kau harus berdamai."


"Auw, sakit. Jangan menggodaku dengan cubitan itu, Lita," desah Silver di telinga Sue, membuat wanita itu bergidik.


"Hentikan, tanganmu sungguh nakal."


Sue berusaha melepaskan tangan Silver yang memeluknya erat, yang sesekali mencubit dan menggelitik pinggangnya.


"Biarkan seperti ini, aku tidak rela kau bermimpi tentang pria lain."


Sue menghela napas, tangan Silver memeluknya sangat erat sampai dia tak bisa bergerak. "Tapi kau membuat aku tidak bisa bernapas."


"Hahaha, maaf, Sayang." Silver mengendurkan pelukannya. Menyembunyikan wajah di ceruk leher sang istri, Silver mulai mengendus leher Sue dan membuat istrinya tidak tenang.


"Sil, aku tidak ingin bercinta sekarang."


Lelaki itu tertawa, dia menyangga kepalanya dengan tangan untuk melihat wajah Sue.


"Kau berpikir sangat jauh, Lita sayang. Aku hanya menciummu dan kau ingin bercinta?"


Sue menutup wajah dengan telapak tangan, menolak bertatapan dengan Silver yang sudah pasti akan menjahilinya.


"Kau brengsekk, Silver!"


"Yes, I am. Tapi kau mencintai pria brengsekk ini."


Silver menahan tawa dan sesekali tangannya menggelitik sang istri.


"Silver!"


"Je t'aime, Mon femme!" (Aku mencintaimu, Istriku!)


***


Setiap hari adalah hari yang berharga bagi para atlet. Kehidupan mereka tidak terlepas dari bola dan lapangan.


Silver dan rekannya kembali bergelut dalam indahnya menggiring bola dan teriknya mentari.


Luke, sang pelatih yang telah kembali memimpin awalnya pertandingan antara dua belah pihak.


Tidak ada raut lelah, hanya senyuman yang tercetak di bibir mereka dengan bola yang menempel di telapak kaki.


Semuanya tampak puas. Dengan keringat yang membanjiri sekujur tubuh, mereka mengatakan bahwa itu adalah suatu kebanggaan.


Memainkan peran penting demi perjalanan karir dan membela sebuah negara persepakbolaan terkenal di dunia, adalah suatu kehormatan bagi para atlet.


Tentu saja mereka bersaing secara sehat untuk merebut tiket ke final, yang akan memilih mereka sebagai starter atau sekadar substitues.


"Dario, Ketua Federasi ingin bertemu denganmu." Luke, sang head coach memberitahukan Silver pesan yang disampaikan Laurent padanya.


"Apa yang dia inginkan?"


"Ayolah, Silver, dia menyukaimu. Sepertinya dia akan memberimu banyak waktu terbang."


Silver merasa jengah. "Aku tidak menginginkan itu. Dan Luke, aku pikir aku perlu liburan sedikit. Gantung sepatu adalah pilihan terakhir."


Lelaki tua itu terkekeh hambar, dia mengerti dengan ancaman Silver.


"Kau tahu tim ini membutuhkanmu, Dario."


"Dia bisa menaturalisasi lagi pemain luar untuk tim ini."


"Aku tidak bertanya mengenai itu, kau bisa memberikan penjelasanmu pada pemain tengah yang kau berikan harapan palsu itu. Bagaimana mungkin CBF membawa pemain luar untuk sebuah tim nasional yang terkenal sukses dengan dunia sepak bola?"


Karena ada beberapa pemain yang lengserkan posisinya dan digantikan oleh Brodie. Hal seperti itu tentu saja tidak diterima oleh para pemain lain.


"Dario ...."


Silver mengangkat tangannya. "Aku tidak ingin mendengar penjelasan tidak masuk akal itu. Kau harus bisa mengendalikan apapun yang akan terjadi nanti di lapangan."


"Apa maksudmu?"


"Aku hanya asal bicara. Tapi, kau juga perlu berhati-hati, Luke. Dunia sepak bola tidak seperti yang kau lihat."


Lelaki tua itu terkekeh. "Apa yang kau pikirkan? Sepak bola tentu saja hanya ada bola, teknik dan tujuan untuk menang. Aku lebih berpengalaman darimu."


Silver menyeringai. "Aku harap kau juga berpengalaman dalam hal itu."


"Hal itu? Kau terlalu basa-basi, Dario. Pergilah, Tuan Mapelli sudah menunggumu."


"Kau harus menepati janjimu."


"Hei, kau tidak boleh libur."


"Maka aku akan gantung sepatu."


"Sialan, dia pandai mengancam," gumam Luke. "Baiklah, seperti yang kau inginkan!"


***


"Lama tidak berjumpa. Kau berhasil menjebakku masuk ke hutan, Ketua Federasi."


Lelaki paruh baya itu menatap Silver dari balik kacamata bacanya.


"Oh, kau telat lima menit, Caméléon."


"Kau mengenalku. Waktu tidak penting karena aku tidak pernah hidup untuk mengukur waktu."


"Waktu pula yang membunuh putriku, dan itu juga akan terjadi dalam waktu dekat padamu."


Lelaki bermata emerald itu terkekeh miris, dia memandang rendah pada Laurent.


"Kau bisa mencobanya, Ketua Federasi. Aku pernah dengar istilah 'seekor itik akan mati karena penjaganya mencuri emas milik orang lain'. Bukankah itu hal bagus karena Presiden kita melakukan hal baik itu?"


Laurent tampak menegang di tempatnya. Dia mengepalkan tangannya di bawah meja. Di pikirannya, Silver tidak akan mengetahui konspirasinya dengan Presiden. Mengingat bahwa mereka menutupi keterkaitan itu dengan dirinya.


"Apa maksudmu, Dario?"


"Kau tahu jelas apa yang aku katakan, Ketua Federasi. Dan aku harap kau mencerna baik-baik kalimat itu."


Lelaki itu menggertakkan giginya, menahan kesal dengan wajah datar. Berharap Silver tidak bisa membaca ekspresinya. Tapi, bukan Silver namanya jika tidak bisa memahami situasi.


"Jangan khawatir, Tuan Mapelli, aku tidak akan membocorkan rahasia kita jika kau bekerja sama. Aku pikir kau bisa melakukan ini untukku."


Laurent terdiam, dia tidak bisa membaca arti kalimat Silver. Lelaki itu tampak tangguh di lapangan, tapi sangat licik dan cerdik jika mengenai ancaman.


Dia terjebak di dalam permainannya sendiri. "Apa yang bisa ku lakukan untukmu?"


"Brodie. Aku ingin dia dikembalikan ke kandangnya. Di sini bukan tempatnya."


Laurent terkejut, tidak menyangka akan mendengar permintaan itu.


"CBF menghabiskan banyak uang untuk menariknya ke sini, Dario. Tidak bisa dikembalikan semudah itu."


"Dan aku akan mempublikasikan rahasiamu ke publik. Kita lihat siapa yang akan dirugikan dari ini."


"Kau mengancamku?"


"Ya, untuk apa aku berbicara banyak jika bukan itu? Aku bisa menghabisimu kapanpun aku mau tanpa harus berbicara banyak."


Laurent menahan kesal, dia bangkit dari kursi kebesarannya.


"Kau bisa melakukannya sekarang. Apa peduliku dengan rahasia itu? Si tua Luis itu akan diturunkan dari kursi Presidennya dan aku istirahat dengan tenang dan menemui putriku di Surga."


Silver menyeringai. "Aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu, Laurent. Aku membutuhkan tanda tanganmu untuk mengembalikan Brodie."


Laurent tertawa keras seperti orang gila. "Kau tidak akan mendapatkannya."


"Kau menghabiskan uang rakyat untuk membeli pemain luar dan membuang pemain dalam negeri menganggur. Kau pantas merasakan penderitaan. Berapa banyak informasi yang kau dapatkan dari lelaki Inggris itu?"


Tidak ada jawaban membuat Silver terkekeh. "Kini aku tahu alasanmu ingin mempertahankannya. Aku akan menunggu hasil memuaskan dari permainan kalian. Dan semoga kau mendapatkan informasi darinya."


.


.


*note : CBF adalah badan pengendali sepak bola Brasil, yang berasal dari bahasa Portugis, Confederação Brasileira de Futebol (Konfederasi Sepak Bola Brasil).


.


***