Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 38



Happy reading!


.


***


"Aku .... Aku bisa melihat lagi .... Terima kasih, Tuhan!"


Sue tersenyum lebar, menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya. "Terima kasih untuk doa kalian."


"Kami turut senang untukmu, Nyonya." Martha mengucapkan isi hatinya. Juga José yang ikut tersenyum.


Dia mengambil alih Alita dari gendongan Silver dan mencium bayi kecil itu. Menimangnya dengan rasa rindu seperti tidak pernah melihat Alita selama setahun.


"Moon takut tidak bisa melihatmu lagi, Sayang."


Silver juga ikut tersenyum, dia duduk di bangkar dan memeluk istrinya.


"Aku ikut senang untukmu, Istriku."


Kebahagiaan mereka terhenti saat Sue tiba-tiba terdiam. Dia melupakan sesuatu.


"Tunggu, ada satu orang yang hilang," ucapnya tiba-tiba yang membuat semua orang terdiam.


Silver tersenyum kecut. Ingatan Sue tidak pernah rapuh, hal itu tentu saja disadarinya.


"Di mana Diego? Anak nakal itu pergi ke mana? Tadi pagi masih di sini 'kan?"


Pemilik manik hijau itu terkekeh. "Kau tidak merindukanku? Ini penglihatan pertamamu setelah aku kembali, Sayang."


Sue mendengus kesal. "Apa kau bercanda? Kau tiba beberapa menit setelah mendapat kabar, apa kau benar-benar ada di Valencia? Jangan membohongiku."


Menelan ludahnya kasar, Silver kembali menyadari. Dia tidak memberitahu keberadaannya selama ini pada sang istri. Dam tentu saja Sue akan memarahinya.


"Sayang, jangan marah dulu. Aku punya alasan."


"Membuatku tinggal sendirian?"


"No, that's not what I mean, Baby." Silver mengisyaratkan José dan Martha keluar. "Aku mencari titik kelemahan mereka yang mengganggu kita. Itu hanya pengalihan, aku pikir dengan begitu mereka akan datang dan masuk dalam permainanku. Tapi, aku membuat kesalahan. Kau terluka karena aku, maaf, Sayang."


Sue tidak menjawab. Dalam hati dia membenarkan tapi mulutnya berkata lain. Dia memalingkan mukanya tatkala Silver menatapnya.


"Kau tidak bisa membiarkan anakmu terluka, Sil."


"I know, Baby."


"Kalau begitu, katakan di mana Diego. Dia belum muncul sejak tadi."


Silver mendesah pasrah. Kepergian anak nakal itu membuatnya sedikit merasa sepi. Tidak ada pertner berantam dan suasana agak sepi tanpa celoteh dan sikap jahilnya.


"Dia pergi ke Italia. Mark Anthony mengancam Bertha dan mengirim Diego ke sana."


Sue melotot dengan mulut terbuka. "Siapa Mark Anthony? Dan kenapa Bertha begitu taat padanya?"


"Ayah mertua Bertha, juga penguasa Sisilia. Kau pernah dengan Cosa Nostra? Dialah pemimpinnya, dan aku pikir alasan itu yang membuat Diego tidak bisa lari."


"Apa maksudmu? Diego cucu dari mafia Sisilia yang terkenal kejam itu? Yang benar saja!"


Sue tidak bisa mengungkapkan isi hatinya lagi. Mulutnya seakan terkatup rapat, bagaimana mungkin, begitu pikirnya.


"Aku pikir mantan suaminya Bertha hanya orang biasa." Sue mengungkapkan isi pikirannya, karena selama ini dia tidak menyangka. Pantas saja Diego seperti iblis kecil berdarah dingin selama berhadapan dengan lawan, semua berkat ajaran sang kakek.


"Laurent D'antonio hanya orang biasa, tidak mau mengikuti jejak ayahnya. Karena itu, Diego sebagai cucu pertama Mark Anthony dianugerahi tahta yang sama dengan kakeknya. Tentu saja tidak ada yang berani membantah."


Mata Sue meredup. Dia menatap Alita yang sedang menyedot nutrisinya dengan rakus. Dia khawatir, masa depan putrinya terancam.


"Kau tidak akan menempatkan anak kita dalam bahaya 'kan?"


Silver terkekeh pelan kemudian memeluk istrinya dan menaruh kepalanya di pundak wanita itu.


"Dia sudah menemukan pelindungnya, apa yang harus ditakutkan, Sayang?"


Mata Sue melotot sempurna. Dia takut, tentu saja. Siapa yang tidak kenal dengan dunia hitam yang kejam itu, membayangkan anaknya dalam bahaya dengan pistol dan pisau setiap hari membuatnya merasa mual. Tentu saja di sana ada darah yang menemani.


"Tidak, aku harus memikirkannya lagi. Aku terburu-buru saat itu."


Tawa Silver membuatnya menoleh dengan tajam. "Kau sudah menyetujuinya, Sayang. Tidak boleh mengingkar janji, Diego mengatakan itu."


"Anak nakal itu berjanji pada Bertha kalau dia bersedia pergi ke Sisilia asalkan diizinkan untuk menginap di rumah kita selama sebulan. Itu hal besar yang bisa dilakukan bocah nakal itu sebelum dia meninggalkan pesan ini."


Tangannya mengambil secarik kertas putih dengan corak bunga dandelion, unik dan cantik. Memberikannya pada sang istri dan Sue membacanya.


"Lima tahun sekali?! Apa kau bercanda, Sil?! Ini tidak lucu, baru saja aku merindukannya. Bagaimana kalau setiap tahun aku merindukannya?"


Mata hijau itu menatap tajam, dan menggigit kecil telinga Sue. "Kau berani merindukan pria lain di hadapanku, huh?"


Sue merasa ngeri sendiri melihat tatapan tajam dan serius itu, tapi masih terkesan menggemaskan di matanya. "Alita melihatmu, Sil."


"Dia pasti akan menjadi gadis yang tangguh dan pemberani sepertiku nanti."


"Kau tidak akan menjerumuskannya ke lumpur kotor sepertimu 'kan?"


Silver menyeringai membuat Sue waspada. "Kita lihat saja nanti."


***


"Aku berangkat dulu, Sayang. Mungkin hanya sekadar melihatnya saja dari jauh. Jangan berharap lebih."


Silver mengecup kening istrinya dengan lembut. Dia berpamitan untuk mengantar Diego pergi.


Anak kecil yang nakal itu tidak bisa berpamitan langsung dengan Sue dikarenakan utusan dari Italia mendesaknya.


"Sampaikan kata 'Cintaku' untuknya," ucap Sue jahil.


"Kau?!"


"Dia anak kita juga, Silver. Kau tidak lupa semua bantuan dia pada keluarga kita 'kan? Kau tidak boleh cemburu pada istrimu ini, hanya kau pria yang ada di hatiku."


Sue tidak punya bakat merayu, tapi bisa melelehkan hati Silver dengan senyumnya yang secerah mentari. Sekesal-kesalnya Silver dengan sikap keras kepala dan tidak patuh sang istri, tetap saja dia jatuh-sejatuhnya pada pesona wanita yang sedang tersenyum itu.


Dia mendekat, memeluk Sue dengan erat seolah tak ingin berpisah dengan istrinya.


"Aku tahu kau mencintaiku, dan kau juga harus tahu, aku mencintaimu melebihi apapun. Kau nyawaku, Lita."


Ungkapan itu kembali terucap dari mulut Silver, membiarkan bunga-bunga musim dingin bermekaran di dada mereka. Satu kata yang menghangatkan dada, disaksikan oleh sinar mentari yang mengintip lewat jendela dan dibawa pergi oleh semilir angin yang berhembus.


"I love you, too, My Husband Devil."


Silver menggeleng. "No, that's not true. Your Devil Athlete."


Sue terkekeh. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Silver dan mendengarkan degupan jantung sang suami yang seirama dengan detak jantungnya.


"Yeah, My Devil Athlete, I love you to the moon and back."


.


THE END


.


.


---


Ini benar-benar tamat yaa gengs!!!😄


Terima kasih buat kalian yang mendukung novel ini dari awal, juga yang baru menemukannya beberapa hari yang lalu, terima kasih yang tak terhingga dari Author.


Tanpa kalian, tulisan ini tak berarti. Baik kritik dan saran kalian, Author jadikan semangat hingga penulisan novel itu sampai pada titik akhir.


Maaf mengecewakan karena kalian sering menunggu update.


Ini sesi terakhir dari kisah sang Atlet dan si penggemarnya yang cantik. Jumpa lagi dengan Author di sekuel Diego dan Alita!


.


.


---


Cinta,


Xie Lu