
Happy reading!😊😘
*****
"Kris, kau dan Apolo dari atas. Aku dan Miguel bersembunyi di kaki gunung itu."
Hugo menunjuk pada gunung yang menjulang di depannya. Ia memerintahkan pengikutnya agar segera mengambil tempat masing-masing.
Pasukan yang dipimpin oleh Silver itu mendarat dengan helikopter di daerah yang sedikit jauh dari tempat yang ditetapkannya. Perjalanan menuju ke pantai itu sangat jauh dari mansionya.
Hugo dan yang lainnya telah bersiap di posisi masing-masing. Sedangkan Silver, Rodrigo dan Gregor bersembunyi di bawah pohon besar yang ada di hutan itu.
Tak lama kemudian, sebuah mobil container besar muncul diiringi beberapa mobil kecil di belakangnya. Silver yakin di dalam container itu adalah sesuatu yang diincarnya.
Sebuah letupan di belakang mobil yang berjejeran itu membuat Silver menipiskan bibirnya. Anak buahnya memang selalu bisa diandalkan. Container besar itu melaju dengan kecepatan tinggi, tanpa sadar bahwa bahaya lebih besar menunggunya dari depan.
Dalam gelapnya malam di hutan lebat itu, di lereng gunung dekat pantai itu menjadi saksi bisu keberhasilan Silver. Membantai lawannya dan merampas apa yang dimilikinya.
"Aku tahu ini akan sangat menyenangkan." Ia tertawa bahagia, mengambil sekeping emas yang berada di dalam container itu. Rodrigo dan Gregor ikut tertawa.
"Pasukan Bunglon Hijau tidak akan terkalahkan."
Mereka ber-high five dengan riang, tanpa mereka sadari bahwa ada seseorang di balik kegelapan yang menyaksikan itu.
"Sekarang saatnya, Dominique." Ia tersenyum miris.
*****
Jerome menatap nanar semua benda di sekitarnya. Beberapa minggu telah berganti, tetapi ia masih berada di tempat yang tak terurus ini. Gudang penyimpanan barang bekas yang memiliki ruangan kecil dan gelap di sayap kiri mansion milik Silver menjadi rumah baru bagi Jerome. Alfonso menahannya di sana seolah ia adalah orang yang paling menakutkan yang pernah ada.
Sesekali Silver datang, bahkan sampai sekarang Silver masih terus menyiksanya, memukul bahkan menyayat tangan dan kakinya. Namun, ia tidak menyerah untuk hidup, semakin ia disiksa semakin besar keinginannya untuk bertahan.
Suara pintu dibuka dengan kasar mengalihkan pandangannya. Nampaklah sosok Silver dengan pakaian serba hitam, pistol kecil menari-nari di tangannya. Seorang pria tua mengekorinya dari belakang.
"Kau harus mati, Jerome." Ia mendekat. Tatapan matanya tajam disertai kilatan amarah nampak jelas di sana. Bibirnya menyunggingkan senyum remeh, menghina ketidakberdayaan pria paruh baya itu.
"Tidak, kau tidak boleh mati semudah itu. Lalat kecil itu harus menjadi santapanku sebelum kau mati. Kau akan menyaksikan permata hatimu tanpa nyawa di hadapanmu." Ia meralat ucapannya sendiri.
Kemudian ia menendang Jerome tepat di perutnya sehingga membuat Jerome limbung seketika. Namun ia berusaha bangkit lagi. Demi Suelita, ia harus hidup dan menyaksikan anaknya tumbuh menjadi gadis dewasa. Biar ia saja yang mengalami siksaan ini, jangan anak gadisnya.
Luka lama yang masih belum sembuh itu mengeluarkan darah lagi.
"Tolong lepaskan dia, Tuan." Ia berusaha mengucapkan kalimat itu meski perih di sudut bibirnya tak dapat ditahan.
"Dalam mimpimu saja, Jerome. Asal kau tahu, ia sudah nyaman di dalam pelukanku."
"Tolong lepaskan putriku, Tuan. Dia tidak tahu apa-apa."
Silver tersenyum merendahkan. "Apakah kau berpikir seperti itu waktu kau membunuhnya? Apakah kau tidak berpikir bahwa aku dan ibuku yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban?"
Ia mengeluarkan sebilah pisau kecil lalu menyayat kedua lengan Jerome. Pria paruh baya itu hanya menutup matanya menahan sakit yang teramat dalam di kulitnya, perih ia rasakan ketika merasakan cairan asam tercampur dengan luka sayatan itu.
Ia tidak memberontak, hanya air mata yang menetes yang bisa menggambarkan bagaimana perihnya luka yang ia dapatkan. Dalam hati ia bergumul pada-Nya, semoga semua kesalahpahaman ini segera tuntas.
"Nikamatilah, karena aku tidak akan melepaskan hasil tangkapanku dengan mudah. Seperti aku dan ibuku yang terkena dampak dari perbuatanmu, maka malaikat kecilmu juga harus merasakan hal yang sama."
Lalu ia menarik pelatuknya dan menembak telapak kaki Jerome.
"Aww ...." Ia meringis, menekan luka tembakan di telapak kakinya. "Ampuni saya, Tuan. Ini hanya kesalahpahaman."
"Tidak ada kesalahpahaman di sini, Pria tua. Kau pelaku dan aku korban."
Alfonso yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya angkat bicara.
"Jangan berlagak bodoh, Abraham. Kau yang membunuh saudara iparku. Kau tidak mungkin melupakannya 'kan?" Tatapan tajamnya mengisyaratkan sesuatu.
Jerome tertunduk, perih akibat sayatan dan sakit karena tembakan itu tidak sebanding dengan perih di dalam dadanya. Ia yakin, Tuhan tahu perjuangannya selama ini.
Ampuni dia.
*****
Manik hijau itu enggan terbuka tetapi dering ponsel di atas nakas samping ranjang mengganggu pendengarannya. Sudah berkali-kali benda pipih itu berbunyi membuatnya menutupi telinga menggunakan selimut tebal yang membungkus kulitnya.
Bunyi ketukan pintu mengganggu pendengarannya lagi. Ia mendesah pasrah.
"Sial, siapa yang berani mengganggu pagiku."
Dengan mata sayu dan rambut berantakan, ia bangun dan membuka pintu. Gadis belia yang berdiri di ambang pintu itu tersenyum, kemudian membungkukkan badannya.
"Maaf, Tuan, saya mengganggu tidur anda."
Silver menarik ujung bibir kanannya ke atas, lalu bersedekap, bersandar di pintu. "Ada apa?"
Suara seraknya itu mengalun indah di telinga Sue sehingga membuat gadis itu mengedipkan matanya berkali-kali, berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Ototnya yang atletis membuat Sue terpana, apalagi perut sixpacknya. Sue bersusah payah menelan ludahnya.
"Seseorang ingin bertemu dengan anda, Tuan."
"Hm."
Setelah mengatakan itu, Sue berbalik hendak melangkah, namun tangannya dicekal oleh Silver. Jantungnya mendadak berpacu dengan cepat dan kedua kakinya lemas. Rasa hangat menjalar di sekujur tubuhnya, darahnya berdesir.
Dengan takut-takut, ia bertanya, "Ada apa, Tuan?" Manik kuningnya menatap teduh, pancaran rasa ingin tahunya mencuat.
"Apakah kau mencuci pakaianmu?" Dagunya menunjuk pada mini flare skirt yang dipakai Sue.
Sontak saja Sue mengalihkan pandangnya ke arah yang ditunjuk, dan betapa terkejutnya ia mendapati noda merah di rok berwarna navy itu. Pipinya memerah karena malu, ia tak berani menatap manik hijau itu. Ia merutuki kebodohannya, tidak memperhatikan dengan baik pakaiannya karena tergesa-gesa untuk membangunkan sang tuan yang masih tidur.
Pikirannya yang berharap adanya adegan romantis di pagi hari langsung ambyar melihat senyuman tipis di bibir Silver.
Sial. Aku malu, sangat malu.
Silver menutup pintu kamarnya dan kembali bergumul di bawah selimut. Belum sempat menutup mata, bunyi ponsel mengganggunya lagi. Pasrah karena tidur paginya terganggu, ia meraih ponsel itu tanpa melihat penelponnya.
"Sialan, apa yang kau lakukan di ranjangmu? Aku datang pagi buta dan menunggumu, tapi kau masih saja bercinta dengan gulingmu. Kau pikir aku tidak punya pekerjaan lain?"
Suara teriakan dari seberang sana membuat Silver manjauhkan ponselnya.
"Ada apa?"
"Wah, kau hebat sekali. Sudah membuat keributan tetapi otakmu masih saja tertidur. Cepat kemari, atau aku akan memenggal kepala kotakmu itu."
Silver bergumam tidak suka. Arthur, managernya selalu membuatnya kesal. Hanya pria itu yang bertahan menghadapi sikapnya yang di luar nalar manusia biasa.
"Hm."
Ia memutuskan panggilan itu dan dengan langkah malas ia menuruni lift turun ke lantai bawah, tempatnya dan Arthur berbincang.
"Baca ini, gunakan otakmu kalau bekerja!"
Arthur melemparkan beberapa lembar koran di atas meja dengan keras. Matanya merah padam, pertanda marah memguasainya.
Silver mengambil kertas itu dan membacanya.
Dario Company milik Atlet Muda berbakat itu dikabarkan sebagai perusahaan hasil jarahan milik pemerintah.
Diduga, pasukan Bunglon Hijau dipimpin oleh Silvester Dario, pemilik Dario Company.
Lagi, barang milik pemerintah yang akan dipakai sebagai donatur kepada anak-anak terlantar dirampas.
Pelaku perampasan isi container yang akan dikirimkan ke Rio de Janeiro adalah Atlet Muda, Silvester Dominique Dario.
Silver meremas koran tersebut, dan melemparkannya. Ia marah.
"Cari tahu siapa pelakunya!"
"Apa kau pikir akan semudah itu?"
"Aku tidak peduli. Itu tugas seorang manager bukan? Lakukan dengan benar, aku tidak menerima kekalahan."
*****
Ig : @xie_lu13