Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 27



Happy reading!😊😘


.


*****


"Kau merasa familiar dengan tempat ini?"


Sue terdiam tanpa berniat menjawab. Ia duduk bersila di atas kasur kecil itu sambil menautkan jemarinya, sesekali memainkan kancing piyama tidur kebesaran yang dikenakannya.


"Ini adalah tempat yang cocok ditinggali wanita rendahan sepertimu."


Gadis berambut keriting yang terus bergelayut di lengan Silver itu terus tersenyum, bahagia karena ia berhasil menggapai mimpinya menjadi kekasih Silver, sang atlet yang selalu didambanya. Dan sekarang ia berhasil memegang otot yang selalu dibayanginya dalam khayalan.


"Siapa dia, sayang?" Peyton mendongak, memerhatikan ekspresi datar milik Silver. "Apa dia pengganggu?"


"Sejenis itu," sahut Silver malas merasa risih karena sedari tadi Peyton terus melekat padanya ke manapun ia pergi.


"Oh." Peyton manggut-manggut, sehingga sebuah ide jahil muncul di kepalanya.


"Bagaimana kalau kita bermain dengannya sebentar?"


Silver mengangkat alis. "Maksudmu?"


Peyton melepaskan rangkulannya dari lengan kekar itu, lalu ia mendekat dan berjongkok di depan Sue.


"Siapa namanya, sayang?"


"Aku tidak tahu," balasnya acuh karena merasa pertanyaan itu tidak penting.


"Oh, siapa namamu?" Peyton mencolek dagu Sue, lalu mengangkat dagu persegi itu agar tatapan mereka bertemu di satu garis lurus.


Sue hanya diam menatap manik hitam di depannya itu, ia tidak ingin berbicara sekarang.


Perutnya masih terasa mual sejak turun dari pesawat, dan sekarang rasa lapar menyerangnya. Tidak ada makanan yang berhasil masuk ke saluran pencernaannya setelah dikeluarkan tadi.


"Siapa namamu?" tanya Peyton lagi. Tapi, Sue enggan menjawab.


"Apa kau tidak bisa berbicara?"


Peyton menjambak rambut Sue, menekan kepala perempuan itu ke bawah sampai lehernya berbunyi.


Sue menahan sakit yang kembali menyerangnya, ia merasa tidak asing dengan perlakuan seperti ini. Juga ruangan sempit ini, sama sekali tidak asing. Ia merasa sangat mengenal ranjang kecil ini, tembok pembatas yang sangat tinggi dan memiliki secelah ventilasi kecil.


"Apa kau terlahir bisu? Kau sangat menyebalkan meskipun kau cantik."


Ia mengibaskan tangannya yang menjamah rambut Sue seakan banyak kuman yang memenuhi kepala perempuan itu. "Menjijikkan."


Peyton berdiri, kembali mengalungkan lengannya di lengan Silver yang terus menatap datar sejak tadi.


"Apa kau ingin berbicara dengannya, Sil? Kau terus menatapnya seperti itu."


"Seperti apa?"


"Tidak ada."


Peyton tidak ingin berspekulasi terlalu jauh, melihat Silver membiarkan perempuan itu dikurung di tempat seperti ini membuatnya yakin bahwa ia masih memiliki kesempatan. Merebut hati pria yang selalu diinginkannya, bagaimanapun caranya.


Ia seorang gadis yang periang, selalu berambisi untuk mendapatkan apapun yang diinginkannya sekalipun melakukan cara yang salah.


"Apa kau berniat bermain dengannya?"


"Tidak."


"Oh, baiklah. Biarkan aku yang melakukannya untukmu."


Ia menarik Silver agar lebih dekat dengan keberadaan Sue.


"Hei.... Kau, aku adalah Nyonya masa depan di rumah ini. Camkan itu baik-baik di dalam otakmu ini, dan kau harus tunduk di bawah kakiku."


Peyton berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Sue. "Jangan pernah berpikir bahwa kau bisa memiliki pria tampan di depanmu ini, karena dia milikku."


Ia menepuk pelan pipi Sue, lalu mengelusnya selembut mungkin sampai Sue merinding.


"Aku tahu kau memiliki perasaan dengan priaku. Matamu menyimpan banyak harapan padanya."


"Jangan fitnah, Nona," sanggah Sue.


"Oh, akhirnya kau membuka mulutmu." Peyton tertawa. Jenis tawa itu membuat Sue kembali merinding, ada sekelabat kemarahan di mata gadis berambut keriting itu.


"Pancinganku membuahkan hasil, sayang. Dia berbicara padaku," lapornya pada Silver yang hanya ditanggapi kedikan bahu oleh pria itu.


"Aku lebih suka mengatakan kejujuran daripada fitnah, j*l*ng. Aku punya kekuatan magic, bisa membaca pikiran orang lain lewat tatapan mata."


"A-apa?"


"Kau takut?"


Peyton kembali tertawa, ia sengaja mendekatkan diri agar bisa menginjak tangan Sue yang berada di lantai.


"Kau takut rahasiamu terbongkar di hadapan pria yang kau cintai? Hahaha.... Jangan khawatir j*l*ng kecil, aku tidak sejahat yang kau pikirkan. Mungkin rambutku yang terlihat keriting, tapi hatiku selurus rambutmu. Oh astaga, harusnya kita bertukar rambut. Kau memiliki rambut seperti punyaku dan aku memiliki rambut seperti punyamu."


Ia memegang sehelai rambut milik Sue dan sengaja menariknya. "Oh, maafkan aku. Aku tidak sengaja."


Peyton terkekeh, mengabaikan Sue yang merigis kesakitan karena sakit di kulit kepala dan jarinya yang terjepit oleh lantai dan sepatu boot miliknya.


"P?"


Peyton pura-pura tidak mendengar, kembali menarik rambut Sue sementara kakinya tidak beranjak dari tempatnya menginjak jari Sue.


"P?"


"Peyton Mapelli?"


"Ya, sayang?"


"Ayo pergi."


"Aku masih ingin bermain dengannya, Sil."


"Dia milikku, P. Ayo pergi."


"Milik kita bersama."


"Tidak!"


"Ayolah, kau sudah janji akan memiliki apapun bersama."


"Sial. Pergi sebelum aku marah, P."


Sue hanya menatap sayu pada sepasang manusia yang berdebat di hadapannya. Rasa pusing dan mual membuatnya tak bisa berkata-kata. Ia ingin muntah sekarang.


*****


"Dasar binatang menjijikkan!"


Peyton menarik rambut Sue sehingga perempuan itu tersungkur. Rasa sakit kembali dirasakannya seiring dengan semakin kuat jambakan itu.


"Hentikan, Peyton!"


"Kau membentakku, Sil."


Air mata Peyton langsung mengalir, ia tidak suka dibentak oleh orang yang dicintainya.


"Kau keterlaluan!"


"Dia muntah di sepatuku, Sil. Ini sepatu termahalku, aku memakainya demi bersamamu."


Isakan kecil lolos dari bibir mungilnya, membuat Silver setengah frustasi. Jika bukan karena sesuatu yang menahannya, ia pastikan gadis itu sudah tak bernyawa. Tapi, sekarang bukan saatnya. Ia akan menunggu.


"Maafkan aku."


Setengah memaksa, akhirnya Silver menarik tangan gadis keriting itu ke pelukannya. Mengusap rambut keriting oranye miliknya. "Jangan menangis lagi, ok?"


Peyton tersenyum di pelukan lengan kekar itu, ia menempelkan wajahnya di dada bidang milik Silver. Melirik sinis ke arah Sue seakan memberi ultimatum, "Lihat, dia milikku. Jangan menaruh harapan apapun dalam hatimu!"


Meskipun rasanya sedikit menyebalkan melihat drama di hadapannya, Sue lega karena tidak ada lagi pukulan sampai keduanya benar-benar pergi.


Rasa kesepian di dalam ruangan itu membuat Sue kembali mual. Mungkin karena efek kehamilannya atau jetlag.


Seseorang membuka pintu ruangan itu dengan keras saat Sue kembali mengeluarkan isi perutnya.


"Kau baik-baik saja?" Carissa langsung memijit punggungnya.


Sue menggeleng. Ia menatap heran pada gadis di hadapannya. "Siapa kau?"


Carissa tersenyum, lalu memberikan segelas minuman panas kepadanya. "Namaku Carissa."


"Carissa?" gumamnya.


Carissa mengangguk.


"Apa kita pernah mengenal sebelumnya?"


"Minumlah dulu. Segarkan dulu perutmu sebelum berbicara."


Sue melirik curiga padanya, lalu kembali pada gelas minuman di tangannya. "Apa yang kau berikan padaku? Jangan memberikanku minuman aneh."


"Aku tahu. Aku tidak akan menyakitinya, Sue," ujarnya sambil melirik ke arah perut Sue. Perempuan itu sontak memundurkan dirinya, berjaga-jaga jangan sampai Carissa melukai benih berharganya.


Carissa terkekeh. "Itu minuman pereda mual. Aku tahu kau belum memakan apapun sejak tadi."


Sue tidak menanggapi ataupun meminum minuman itu. "Bagaimana kau tahu?" Ia mengusap perut datarnya.


"Hanya kita berdua yang tahu di rumah ini, Sue. Jangan khawatir. Aku selalu memegang janjiku."


'Aku selalu memegang janjiku.'


Kalimat itu terngiang di kepalanya, membuatnya tidak fokus pada apapun. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa yang terjadi, Suelita?"


"Apa aku memiliki masalah dengan Tuan di rumah ini? Aku belum mengingat apapun tentangnya selain dirinya adalah Tuanku, dan aku bekerja padanya. Dan aku belum tahu siapa dirimu."


Carissa termagu, ia sudah tahu hal ini dari sang Tuan. Tetapi, ia tidak akan merusak rencana yang sudah diatur sebelumnya.


"Kau anak pembunuh yang membunuh ayah Tuanmu, gadis kecil."


Sue dan Carissa menoleh ke arah suara. Carissa terkejut dengan kedatangan pria tua itu, tetapi Sue bingung tentang apa yang dikatakannya.


"Apa yang anda katakan, Tuan?" tanya Sue penasaran.


"Kau mendengarku, Suelita Abraham. Kau anak pembunuh yang membunuh istri adikku, ayah Tuanmu, Silver," jelas Alfonso.


.


*****


Love,


Xie Lu♡