Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 1



Haiii.... Xie coming back! Membawa lagi kelanjutan cerita tentang Silver dan Sue.


Apa kabar semuanya? Semoga semuanya dalam naungan Tuhan.


Xie harap kalian rindu dengan cerita ini.


.


***


Begitu mata hijau itu terbuka, pemandangan pertama yang didapatkannya adalah wajah cantik sang istri. Wajahnya manis, apalagi saat tersenyum. Tangannya menyentuh pipi milik istrinya. Pipi yang sering ia tampar. Mengingat itu, hatinya mencelos. Betapa bejat dirinya menyiksa dan memukul wanita lemah seperti perempuan ini. Wanita yang sekarang mengandung anaknya.


"Sil? Kau sudah bangun?"


Silver tersenyum. Bahkan dalam senyuman itupun masih terukir betapa menyesalnya ia telah menyiksa Sue.


"Ya, aku merindukanmu."


Sue terkekeh. Ia mendekat ke arah Silver dan memeluk suaminya.


"Aku selalu di sini."


Silver membalas pelukan itu dan mencium puncak kepalanya.


"Apa dia membangunkanmu?"


"Kau mengetahuinya, Sil. Dia selalu berulah."


"Haha, dia nakal seperti daddy-nya."


Sue mendongak dan mengerucutkan bibirnya. Melihat itu, Silver gemas dan memberikan ciuman di bibir seksi milik sang istri.


"Selamat pagi, sayang!"


Sue merona dengan senyuman tipis di bibirnya. "Selamat pagi juga."


Silver berdecak. Ia berpura-pura kesal. "Apa panggilan manis untukku?"


"Seperti apa?"


"Sayang, suami, atau apapun yang romatis."


Sue terkikik. Silver bisa juga bersikap layaknya anak kecil.


"Kau ingin dipanggil sayang? Sayang...."


"Astaga, jangan dengan nada seperti itu, itu membuatku merinding."


Sue mengulangi lagi. "Sayang...."


"Oh, itu menyeramkan, sayang." Silver gemas dengan istrinya dan memberikannya ciuman bertubi-tubi.


"Hentikan, Sil. Napasku sesak."


"Apa?! Maafkan aku, Sayang. Aku tidak sengaja."


Silver cemas, dia bangun terduduk dan menggoyang-goyangkan badan Sue.


"Maaf, sayang."


Sementara Sue menahan senyumannya melihat kecemasan suaminya. Karena tidak bisa menahan kegelian, akhirnya tawanya lepas.


"Hei, kau membohongiku yaaa? Huh?! Jawab!"


"Astaga, hentikan, Sil. Geliii...."


Keduanya saling menggelitik di atas ranjang dan tertawa bahagia.


"Bagaimana kalau kita liburan? Hitung-hitung sebagai liburan pernikahan kita."


"Aku mengalami jetlag saat naik pesawat, Sil."


"Kapal pesiar?"


"Aku belum mencobanya."


Sue menggerakkan jarinya menggambar pola abstrak di dada Silver.


"Kita liburan di tempat yang dekat saja. Kau menyukai pantai?"


"Sangat. Kita ke pantai?" tanya Sue antusias. Ia langsung memegang dagu suaminya.


Silver terkekeh. "Aku tahu karena dulu aku sering menguntitmu. Setiap malam ke pantai Sete Fontes. Sendirian."


Mengingat kejadian itu, Silver tersenyum pedih. Bagaimana saksi bisu seorang gadis belia jatuh dalam pesona iblisnya.


"Sil? Apa yang kau lamunkan?"


"Ah, tidak, Sayang. Aku hanya mengingat pertemuan pertama kita yang sangat buruk."


Sue tersenyum mengingat malam itu. Pertama kalinya ia melihat langsung wajah sang idola di bawah sinar rembulan malam.


"Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya di bawah sinar bulan purnama," ucap Sue bercerita.


Mata kuningnya memancarkan kebahagiaan. Rona wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan adanya kesedihan. Saat itulah Silver menyadari betapa baiknya Tuhan padanya mengirimkan seorang malaikat di hidupnya yang kelam.


"K-kau jatuh cinta? Padaku?"


"Tidak!" ketus Sue sambil mencubit perut suaminya. "Memangnya siapa lagi yang ada di sana malam itu? Tidak mungkin aku jatuh cinta pada pohon kelapa atau batu di pesisir pantai."


Silver terkekeh dan menarik Sue dalam pelukan.


"Aku tahu kau mencintaiku lebih dari apapun. So, don't leave me, Baby."


Sue membalas pelukan itu. Dalam kehangatan selimut tebal yang membungkus, keduanya saling menyampaikan perasaan yang tulus lewat tindakan.


***


Sue sering menghabiskan waktunya di taman yang sengaja dibuat oleh Silver untuk istrinya. Berbagai jenis bunga terdapat di sana. Karena gemas, Sue memetik beberapa tangkai.


"Julie, tolong taruh bunga ini di dalam pot. Letakkan di meja kamarku."


Julie, salah satu pelayan di rumah itu mengangguk kemudian meninggalkan Sue.


Tak lama kemudian, tangan kekar melingkar di perutnya diikuti dagu sang kekasih yang menekan pundaknya.


"Sil, apa dagumu runcing?"


Silver terkekeh. "Sakit?"


"Seperti tertusuk jarum."


Ia membalikkan badan Sue, karena itu, perut buncit Sue beradu dengan perutnya yang liat. Keduanya terkekeh.


Karena badan Sue yang pendek, Silver harus menunduk untuk melihat wajah cantik istrinya.


"Kau tampak berisi, Sayang."


Wajah Sue memerah, setiap kali Silver mengatakan itu selalu pikirannya menuju hal-hal yang membuatnya mati kutu.


"Sil!"


"Hahaha, aku membicarakan perutmu, Sayang. Apa kau memikirkan hal lain?"


Sue memalingkan wajahnya yang sudah merah padam. Ia menyesal telah berpikiran mesum. Ternyata Silver mempermainkannya.


"Tentu saja perutku semakin membesar. Anakmu tumbuh, Silver," sentaknya kesal.


Ia membalikkan badannya hendak melangkah pergi setelah memberi pukulan di dada suaminya. Tapi, rambutnya ditarik oleh Silver sehingga ia berhenti dan berbalik lagi.


"Kau ingin membunuhku ya?"


"Ya, membuatmu lelah di atas rajang."


Sue bergidik melihat seringai iblis itu. Bulunya merinding.


"Sil, ingat anakmu!" ancamnya memperingatkan.


"Dokter mengizinkannya, Sayang."


"Astaga, Sil-- hei, turunkan aku! Sil!" Tangannya terus memukul dada Silver yang menggendongnya.


"Berhenti memukul, Sayang. Kau bisa jatuh."


Sue menurutinya. Wajahnya kembali memerah merasakan banyak pasang mata yang melihatnya digendong.


"Sil, aku malu. Mereka memerhatikan kita."


"Biarkan saja! Aku suka pamer."


"Astaga," desah Sue pasrah. Ia menaruh kepalanya di ceruk leher sang suami dan memeluk leher itu erat-erat.


Keduanya menjadi tontonan menarik bagi para pelayan di rumah itu. Silver sengaja pulang ke rumah untuk makan siang dengan istrinya. Kini ia fokus pada perusahaannya dan menjalani kehidupan sebagai orang biasa tanpa dunia malam.


Ia menghentikan aksinya di sana mengingat usia kandungan istrinya yang semakin bertambah. Dokter mengatakan bahwa waktunya tinggal beberapa bulan lagi. Ia tidak ingin waktu bersama istri dan anaknya tersita karena pekerjaan yang remeh itu.


"Kau harus makan siang," tutur Silver seraya menurunkannya di ruang makan.


"Aku tidak memiliki nafsu makan."


"Kau harus sehat dan kuat, Sayang. Makanlah, aku akan menyuapimu."


Mengingat semua perhatian yang selalu Silver berikan padanya, Sue mengangguk dan menerima suapan dari suaminya.


"Kau juga harus makan, Sil."


"Habiskan ini terlebih dahulu."


"Tidak, kita makan bersama."


Menghela napas pasrah, Silver menyuapi istrinya kemudian menyuapi dirinya sendiri. Begitu seterusnya sampai makanan di piring itu tandas.


"Aku sudah kenyang," tolak Sue saat Silver hendak menyuapkan bagian terakhir padanya.


"Ayolah, buka mulutmu, Sayang."


"Jangan memaksaku, Sil."


***


Tiga bulan kemudian....


"Kata dokter, dua minggu lagi waktunya dia keluar, Sil. Kau bisa berangkat sekarang."


Silver merasa ragu meninggalkan istrinya seorang diri di Brazil. Apalagi kondisinya sekarang hampir mencapai hari dimana anaknya akan terlahir ke dunia. Namun, pekerjaan pembangunan di Spanyol membutuhkan dirinya sebagai pemilik bangunan itu.


"Apa kau tidak apa-apa? Aku khawatir, Lita. Apa aku menyuruh Natalie tinggal di sini saja?"


Sue tersenyum. Ia membawa tangan Silver untuk menyentuh perut buncitnya.


"Aku tidak apa-apa, Sil. Dia juga akan mengerti. Iya 'kan, Baby?" tanya Sue pada bayinya seraya mengusap perut buncit itu. "Pergi dan cepatlah pulang. Ingat kau memiliki istri dan anak yang menanti kepulanganmu."


Silver tersenyum dan mencium kening istrinya lama. Satu jam tanpa melihat senyuman istrinya saja terasa sudah seabad baginya. Bagaimana jika satu minggu? Akhh... aku bisa gila, Lita.


"Telepon aku jika terjadi sesuatu padamu."


Sue mengangguk.


"Daddy pergi, Sayang," ucapnya seraya mencium perut Sue.


Ucapan perpisahan itu membuat air mata Sue mengalir. Kehamilan ini membuatnya menjadi wanita yang manja dan cengeng. Ia tidak bisa berjauhan dengan Silver, tetapi sekarang dirinya diuji. Pekerjaan suaminya menjadi alasan utama.


"Aku mencintaimu, Lita," tutur Silver dan menghapus air mata istrinya.


"Sudah seharusnya."


"Aku akan menelponmu."


Bersamaan dengan berangkatnya pesawat pribadi yang bertuliskan Dario King, Sue merasakan perutnya meradang.


"Jangan nakal, Sayang. Daddy pergi bekerja."


Ia mengusap-usap perutnya. Namun, bukannya berhenti, rasa sakit itu makin bertambah disertai cairan bening keluar dari pusat tubuhnya.


"José! Julie! Tolong aku!"


.


.




***


Love,


Xie Lu♡