Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 25



Happy reading!😊😘


.


*****


"Suelita! Suelita!"


Rodrigo menggoyang-goyangkan tubuh perempuan yang sedang tidur itu, tetapi ia seakan nyaman memeluk Rodrigo. Semakin Rodrigo berusaha untuk melepaskan kaitan tangan mungil itu, semakin erat pula Sue memeluk lehernya.


"Oh Yesus, aku bisa kehabisan napas," sungutnya karena Sue tidak kunjung melepaskannya. "Mimpi apa dia?" gumamnya saat menyadari wajah Sue tersenyum dalam tidurnya dan menggumamkan sesuatu yang hanya diketahuinya.


"Hei... bangunlah! Suelita!" Ia kembali menggoyangkan tubuh kurus itu tetapi tidak berhasil. "Astaga, dia tidur seperti singa."


"Suelita!"


Rodrigo memerhatikan wajah itu, senyumnya tidak luntur. Sepertinya mimpi itu membuatnya bahagia. Rasa bahagia melihat perempuan itu tersenyum menggelitiknya, membiarkan lehernya dipeluk erat oleh Sue. Ia ikut menjatuhkan dirinya di ranjang, berbaring menyamping memerhatikan wajah cantik yang seringkali mendapatkan luka oleh temannya yang berkelakuan iblis itu.


"Tidurlah, Sleeping beauty! Bermimpilah dengan manis karena kenyataan saat kau bangun penuh kepahitan dan penderitaan."


Rodrigo ikut memejamkan matanya. Tanpa sadar, ia ikut terlelap.


*****


Tangannya yang memeluk erat tubuh atletis idolanya dipaksa agar menyingkir, tetapi ia tidak melepaskan pelukan itu.


Sue semakin mempererat pelukan itu seakan tubuh itu tempat ternyaman untuknya bersandar.


"Suelita!"


Samar-samar pendengarannya menangkap suara itu, tetapi ia semakin memeluk erat tubuh pria yang diyakininya Silvester, orang yang baru saja dipanggilnya. Entah siapa pria itu, ia tidak tahu. Ia hanya nyaman berada di pelukannya.


Teriknya mentari di tepi pantai tidak merenggangkan pelukan Sue di pinggang pria itu, ditambah hembusan angin darat yang seakan membiarkannya berlama-lama di sana.


Tidak ada pergerakan lagi dari pria itu saat Sue mengeratkan pelukannya.


Saat kedaraannya kembali, ia mendongak menatap manik yang terpejam di sampingnya. Bukan pria seperti yang dipeluknya tadi, tetapi seorang pria bertato di lengan sampai telapak tangan kirinya.


"Akkhhh.... Kau?!!"


"Ka-kau?! Bagaimana kau bisa tidur di sampingku?"


"Kau yang menarikku ke sini. Kau lupa?"


"Tidak mungkin. Aku tidak melakukannya!"


Rodrigo bangkit, merapikan penampilannya yang acak-acakan, lalu turun ke kamar mandi. Meninggalkan Sue dengan berlaksa-laksa pertanyaan.


'Apa tadi hanya mimpi? Pria itu? Silvester? Siapa dia? Wajahnya seakan tidak asing di mimpi itu, apa aku mengenalnya?'


"Akh.... Aku pasti sudah gila. Bagaimana aku bermimpi memeluk seorang pria asing seperti itu meskipun di dalam mimpi."


Ingatannya kembali pada mimpi yang baru saja dialaminya, ia memeluk seorang pria dan juga memanggil nama pria itu 'Silvester'. Alih-alih seorang yang bernama Silvester itu, ia memeluk Rodrigo.


"Kenapa kau melamun? Ayo, turun makan!"


"Ya," jawabnya malas, turun dari ranjangnya dan menghampiri Rodrigo.


"Cuci mukamu, kau bau!"


"Tidak, aku masih wangi," elak Sue sambil mencium aroma tubuhnya yang katanya masih wangi.


"Kau tidak mau ke pantai?"


"Pantai?" ulangnya memastikan.


"Ya!"


"Horee!!"


Ia segera berbalik, membersihkan dirinya. Rodrigo hanya tersenyum seraya menggeleng-geleng kepala. Sesederhana itu membuat perempuan itu bahagia. Kata pantai sudah membuatnya cukup gila.


"Childish."


"Kau lama sekali," gerutunya saat Sue menghampiri.


"Ck, jangan perlihatkan ekspresimu itu pada ibu hamil!"


Rodrigo mendengus kesal, memerhatikan penampilan Sue dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Apa-apaan ini?"


"Ini musim panas, Rod. Pantai identik dengan pakaian terbuka seperti ini. Kau seperti baru pertama kali melihat perempuan memakai bikini."


"Ya, aku mengerti. Tapi, rambutmu jangan diikat seperti ini." Ia menarik ikat rambut Sue dan membiarkan rambut panjangnya menjuntai.


"Hei.... Biarkan seperti itu! Aku akan gerah, Rod!"


"Tidak, aku tidak menyukainya!"


"Aku melakukannya untuk diriku sendiri!"


"Aku yang sakit mata melihatnya!"


"Tutup saja mata bulatmu itu!" Ia berusaha merebut ikat rambut yang diangkat tinggi oleh Rodrigo.


"Aku bisa jatuh kalau melakukannya."


"Biarkan saja!"


"Dan kau akan kehilangan sosok pria yang baik sepertiku!" Ia mengedipkan matanya, menggoda Sue.


"Tidak mungkin, aku cantik!"


"Mungkin saja, kau sedang mengandung anak orang lain."


"Aku akan mencari pria yang menerimaku apa adanya!"


"Belum tentu dia sebaik aku!" Ia menggendong Sue ala bridal style, membuat perempuan itu menjerit keras.


"Aww.... Lepaskan aku!"


"Jangan bergerak, kau akan membangunkan macan tidur."


"Turunkan aku!!" Ia memukul punggung Rodrigo, tetapi pria itu tidak segera menurunkannya.


"Makanlah, kalau tidak aku akan menciummu!" Ia menurunkan Sue di kursi, menyiapkan piring dan sendok seperti yang dilakukan sepasang kekasih.


Sue memutar bola matanya, selalu itu ancaman Rodrigo yang membuatnya menurut. "Baiklah, tuan mesum."


"Ya, karena itu menurutlah. Atau aku akan menerkammu."


"Jangan mengancamku, Rod."


"Aku tidak mengancammu, tapi aku akan benar-benar melakukannya kalau kau keras kepala."


"Talks only," gumamnya yang didengar Rodrigo seraya memasukkan beberapa potong roti ke dalam mulutnya.


"Apa?"


Rodrigo membungkam mulutnya, menciumnya dengan lembut sehingga membuatnya hampir terbuai.


Tak selang beberap lama, bayangan tentang sebuah gigitan di bibir bawahnya kembali memenuhi pikirannya, ia memukul kepala Rodrigo dengan keras menggunakan garpu. "Aww.... Kenapa kau memukulku?"


"Apa?" Ia khawatir melihat wajah kesakitan Sue.


"Kepalaku...."


Roti yang hendak ditelannya kembali dikeluarkan, seakan ada bau amis darah di hidungnya. Untungnya, ia tidak sempat muntah karena Rodrigo dengan sigap memijat punggungnya.


"Maafkan aku, kejadian tadi pasti mengorek sedikit ingatanmu."


Ia menggeleng, membiarkan pria bertato itu memijat punggungnya.


"Sudah baikan?"


"Hm."


"Sekarang makanlah. Aku tidak akan melakukannya lagi."


"Kepalaku masih sakit," cicitnya pelan.


"Kau harus makan agar cepat sembuh." Rodrigo menyuapinya, memaksanya agar menelan makanan itu. "Anak baik."


*****


"Apa kau mengenal seseorang yang bernama Silvester, Rod?"


"Silvester?"


"Aku memimpikannya."


"Seperti apa ciri-cirinya?"


"Tinggi, kulit putih. Hanya itu yang bisa aku ingat."


"Wajahnya?"


"Tidak jelas."


Rodrigo menghembuskan napas pelan, mengeluarkan kegelisahannya.


"Bagaimana kau bisa tahu namanya?"


Sue menggeleng. "Hanya nama itu yang terlintas." Ia menarik tangan pria bertato itu ke tepi laut. "Hufftt.... Mungkin itu efek dari nama yang diberitahukan Zamora kem-- ehh... mana Zamora? Sejak tadi aku tidak melihatnya."


"Berkencan mungkin?" Rodrigo menarik tangan Sue, mengangkatnya masuk ke dalam air.


"Awww.... Rod! Ada ombak besar!! Ha ha ha...."


"Ayo berenang!"


Rodrigo langsung menenggelamkan kepala Sue ke dalam air laut, membuat perempuan yang belum siap itu menelan air laut.


"Huhh.... Kau jahat, Rod. A-aku hampir mati."


"Ha ha ha ha!"


Napasnya terengah-engah saat kepalanya terangkat dari dalam air. "Kau jahat!"


"Bagaimana kalau kita berlomba? Yang sampai terlebih dahulu ke sana dinyatakan menang dan harus memenuhi permintaan yang kalah. Bagaimana?" Tawa masih tersisa di bibirnya.


Sue nampak berpikir sejenak, memperkirakan jarak antara dirinya berdiri sampai tempat yang dimaksud Rodrigo.


"Deal!"


"Yes! Aku pasti menang!" teriak Rodrigo.


"Aku akan mengalahkanmu, tuan sombong!"


"Mulai.... Three... two... one...."


*****


"Kau harus memenuhi permintaanku, Rod!"


"Kalau permintaanmu yang seperti itu aku tidak mau!"


"Kau sudah janji 'kan? Ayolah, jangan ingkar janji."


"Tidak mau!"


"Ayolah, ya ya ya...."


Bugh.


"Aww.... Maaf, Tuan!"


Sue mendongak melihat pria yang ditabraknya. Saking antusiasnya ingin mendapatkan apa yang diminta, tanpa sadar ia menabrak dada seorang pria tampan nan datar di hadapannya.


"Maafkan saya, Tuan!"


Pria itu menatap keduanya datar, tanpa ekspresi yang jelas di wajahnya.


"Rod, siapa dia?" bisik Sue pada pria bertato itu. "Apa dia seorang penjahat? Mukanya datar tanpa ekspresi. Aku takut, dia pasti marah karena aku menabraknya!"


Rodrigo memegang tangannya, menyalurkan rasa aman lewat genggaman itu.


"Kau menemukanku, Dominique!"


'Dominique?'


Silvester Dominique Dario, tersenyum menyeringai, memerhatikan tangan kedua manusia berbeda jenis itu saling menggenggam. Lalu, ia menatap tajam manik cokelat yang penuh amarah itu.


"Aku mencari tikus peliharaanku di sini yang kabur bersama seorang pengkhianat!"


Rodrigo mengepalkan tangannya, menahan amarah yang tiba-tiba muncul. Namun, ia teringat akan sesuatu.


"Oh ya? Tikus jenis apa?"


Silver memicingkan matanya, melirik sinis pada Rodrigo. "Kau tidak perlu tahu. Oh, apa kau tidak akan memperkenalkan padaku siapa wanita di belakangmu itu?"


"Bukankah kau mengenalnya? Jangan berpura-pura, Dominique. Berhentilah bermain drama, kalau kau menginginkannya aku akan berikan padamu."


"Dengan senang hati, Rodrigo!" Ia menyeringai puas.


.


*****


Love,


Xie Lu♡