
Happy reading!😊😘
.
*****
"Cepat bawa dia ke sini. Aku tidak ingin ada pengganggu!"
"Baik, Tuan."
Sue digiring ke puncak gunung. Dinginnya hawa gunung itu membuatnya menggigil. Ditambah pakaian yang dikenakannya terkoyak.
Tidak ada harapan lagi pada manusia, hanya hatinya yang terus berucap, berharap ada keajaiban Tuhan agar ia bisa melewati cobaan ini. Berharap malaikat kecilnya tetap kuat di dalam sana.
"Apa kakimu digigit kucing, bodoh? Jalan cepat!"
"Ba-baik."
Hugo mendorongnya agar cepat, membuat ia kembali terjatuh. Kakinya terluka. Darah keluar lagi dari luka lama. Ingin sekali Sue berhenti dan mati di sana tetapi ancaman Alfonso kembali diingatnya.
"Bayi dan pria yang kau cintai akan mati sebelum kau mati, j*l*ng!"
Karena tidak ingin malaikatnya tersakiti, Sue bangkit lagi, berjalan dengan kaki terkilir dan tubuh yang tercabik-cabik. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengira bahwa dia seekor binatang dan bukan lagi seorang manusia.
Tapi begitulah faktanya, ia kuat menghadapi apapun asal bukan anaknya yang mereka sakiti. Menghapus air matanya kasar, Sue berjalan dengan segenap kekuatannya, mendaki puncak yang masih tinggi itu.
*****
"Bawa kawanan kita ke gunung dekat mansion Di Vaio!"
"Ada sesuatu terjadi?"
"Jangan banyak bertanya. Ini darurat!"
"Seberapa banyak?"
"Semuanya!"
Silver mematikan sambungan telepon itu membuat seseorang di seberang sana mendesah pasrah. "Sesuatu yang besar sedang terjadi. Tapi, malam ini aku punya jadwal terbang. What should I do?"
Silver kembali menimang ponselnya, ragu untuk menelpon seseorang yang selama ini tidak pernah muncul lagi. "Ah sial."
Dia menyetir mobilnya dengan sangat cepat, berharap waktu tidak cepat berlalu dan ia memiliki kesempatan.
Matahari hampir menyongsong malam, keramaian di jalan membuatnya harus terjebak di antara ribuan kendaraan lain.
"Don't worry, kid. I am coming for you," gumamnya dalam hati.
Jantungnya berdebar kencang di setiap detik. Silver meremas kuat kemudi untuk menetralkan debaran menakutkan itu. Menguatkan hatinya sendiri bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk bertemu calon anaknya. Penyesalan akibat keguguran Paula yang disebabkan olehnya menjadikan ketakutannya bertambah.
"Astaga, ini gila."
Kecepatan mobilnya tidak bisa dikendalikan lagi, kakinya seolah gemas menginjak pedal gas dan menambah kecepatan. Tidak ada ketakutan bahwa ia akan berakhir buruk di jalanan.
Sampai di mansion milik keluarga Di Vaio, yang ada hanya keheningan. Mengingat bahwa ia tumbuh dan besar di tempat itu, Silver mengepalkan tangannya kuat.
"Dia menumbuhkan kebencian di dalam dirimu, Silver. Kau tidak mengenal pamanmu!"
"Dia pembunuh sebenarnya! Dan kau dijadikan tumbal keserakahannya!"
"Ayahmu dibunuh oleh pamanmu yang kau percayai itu, dan dia menuduh pamanku Jerome yang melakukannya!"
"Kau membunuh orang yang tidak bersalah! Adik dan pamanku tidak pernah melakukan hal itu!"
"Kau tidak akan percaya karena Alfonso membunuh ayahmu menggunakan panah pamanku! Itu fakta yang kau miliki, bukan?"
Setiap kalimat yang diucapkan Maxwell kembali memenuhi kepalanya. Dan bukti yang berada di dalam chip itu menguatkan semuanya. Pamannya, Alfonso Di Vaio menyuap polisi yang bertugas dan bahkan membunuh mereka yang hendak membuka mulut. Menjadikan semua kesalahan bertumpu pada Jerome, seorang pemburu di hutan Amazon, pemilik panah yang membunuh Alfredo Domingo Dario.
"Itu kegelapan, Nak. Aku tidak membunuh saudaraku!"
Kalimat putus asa Jerome saat ia menyiksa pria paruh baya itu terlintas lagi di benaknya. Menumbuhkan kobaran api di dadanya dan ingin membunuh siapa saja.
"Maafkan aku, papa. Aku telah melakukan kesalahan."
Saat hendak melangkah pergi, ia dikejutkan oleh bunyi nyaring ponselnya.
"Hm?"
"Mereka sudah tiba di kaki gunung itu."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku punya jadwal malam ini, terbang ke Meksiko jam tujuh nanti."
"Datanglah ke sini sebelum itu, atau aku pastikan kau akan menemui kuburanku setelah kepulanganmu!"
"Tap---"
"Batalkan! Aku tidak menerima penolakan!"
"Sil---"
Silver langsung mematikan sambungan itu. "Rodrigo sialan! Pergi kau ke neraka!"
Tanpa temannya, ia tidak bisa menyelesaikan misinya dengan mulus. Berbeda malam ini, ia pastikan semuanya berjalan lancar tanpa kehadiran Rodrigo. Menghukum semua pengkhianat dan membunuh siapa saja yang pantas dibunuh.
Mata tajamnya menyusuri setiap inci mansion itu, pikiran iblisnya menyuruhnya untuk segera merubuhkan dan menghancurkan bangunan itu tanpa sisa. Tangannya mengambil sebuah torpedo dari bagasi mobil, berniat melemparkannya ke bangunan itu.
"Sial, ini terlalu mudah baginya! Aku ingin menghancurkanmu perlahan Di Vaio!"
Tanpa menunggu lebih lama, ia segera berlari sekuat tenaga menuju gunung yang disebutkan Maxwell. Meski napasnya pendek-pendek, tetapi keinginannya lebih besar. Harapan dalam hatinya tidak pernah patah.
"Selamatkan dia, Tuhan!"
*****
Setiap pukulan, tamparan dan penyiksaan yang diberikan Alfonso tidak menyurutkan kepercayaan Sue pada Maha Pendengar. Ia tahu, Tuhannya melihat dari sana, mendengar setiap kata hati orang yang percaya padaNya.
Setiap jeritan terpendam di dalam dadanya, air mata tak lagi menetes, dan tubuhnya menerima semua penyiksaan itu. Tangan dan kakinya diborgol, dan mulutnya ditutup. Hanya matanya yang dibiarkan terbuka sehingga ia masih bisa melihat Alfonso berdiri di sisi kegelapan.
Ampuni mereka, Tuhan.
"Kau tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini, j*l*ng. Tempat yang seharusnya kau tempati sekarang adalah neraka, bersama pembunuh itu."
Alfonso memutari tempatnya bersimpuh, menarik kuat rambutnya sehingga ia menengadah.
"Menyerah dan matilah, j*l*ng. Hidupmu tidak akan berharga di sini. Dan... anak di perutmu itu tidak akan terluka menemukan fakta bahwa kau menjual dirimu dengan pria hebat seperti anakku."
Sue menggeleng dengan tatapan sayu menahan kesakitan. Sungguh, ditampar memang menyakitkan tetapi dijambak seperti ini lebih sakit daripada seribu tikaman belati yang menembus jantung.
"Tuhan berpihak padaku hari ini, j*l*ng. Dia memberiku hujan supaya jejakmu segera menghilang ditelan air bening itu."
"Hugo!"
"Ya, Tuan." Ia mendekat.
"Berikan padaku pisau kecil itu!"
Hugo memberikannya yang disambut gembira oleh Alfonso. Baru saja Alfonso hendak meraih pisau itu, tangan Hugo tertembak.
"Maafkan saya, Tuan!"
Wajah tua Alfonso mengeras, ia membungkuk mengambil pisau kecil itu dari tanah. Tetapi, benda itu menjauh dan ia mengejarnya. Begitu seterusnya sampai ia sadar bahwa ada sesuatu yang salah.
Rupanya, peluru yang ditembakkan di tangan Hugo menggunakan senjata canggih yang bisa menarik benda yang terbuat dari besi.
"Sialan, kau menipuku!"
Ia menoleh, betapa terkejutnya ia mendapati semua penjaga di tempat itu telah tewas. Dan, perempuan yang disiksanya tidak berada di tempat. Borgolnya telah dibuka, dan lebih malangnya lagi benda itu telah hancur tak tersisa.
"Brengsekkk kau, Dominique!"
*****
"Bertahanlah, kau akan baik-baik saja!"
"Ke-kenapa... kau... menolongku, Tu-tuan?"
"Berhenti berbicara, hangatkan dirimu dengan ini!"
Silver membuka jaket anti air yang dipakainya dan menutup tubuh Sue yang terluka. Perempuan itu menggigil, bibirnya pucat dan tangannya berkeriput akibat hujan yang deras yang menghujani tempat itu.
"Kau harus baik-baik saja! Ingat bahwa kau berjanji akan menjaga anakku!"
"Ba-baik..., Tuan."
"Apa kau masih kuat berjalan?"
Sue mengangguk.
"Berlari?"
Sue terdiam sejenak, memikirkan apa kekuatannya sekarang masih sebesar itu.
"M-mungkin...."
"Bagus. Aku tidak yakin sebesar apa peluang kita bisa kabur dari tempat ini karena sebentar lagi pamanku akan mengepung tempat ini. Kau harus bertahan!"
Sue mengangguk. Ia mengeratkan genggamannya pada jaket yang membungkus tubuhnya. Tangan dan kakinya gemetar, dan giginya saling bertabrakan di dalam mulut.
"Kau yakin bisa berlari?"
"Y-ya...."
"Turunlah dari sini, pergi ke arah Timur. Ada jalan sempit di daerah sana, berjalanlah terus sampai kau mendapati sebuah danau. Di sekitar danau itu ada sebuah gua tersembunyi yang tidak diketahui siapapun. Semak menutupi mulut gua itu, masuklah ke dalam semak itu dan kau akan mendapati apa yang kau cari. Kau mendengarku?"
Sue mengangguk. Ia melafalkan doa di dalam hatinya, berharap dalam perjalanannya ia menemukan tempat yang disebutkan Silver.
"Pergilah! Larilah semampu kau melakukannya."
"Ba-bagaimana dengan Anda, Tuan?"
"Jangan mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja!"
"Tapi...."
"Dengarkan aku! Pergi atau kau akan berakhir di sini? Selamatkan bayi kita! Jangan pedulikan siapapun!"
Silver menggenggam tangan Sue yang gemetar, memberikan kekuatan lewat sentuhan itu.
"Selamatkan bayi kita, Lita!"
Ia mencium kening Sue lebih lama, memberikan kehangatan dalam kalbu Sue.
.
.
.
iklan**
.
Author : jan lupa napas😂😂
Netizen : idiih amit-amit. gue masih masih bisa napas kali🙄
Author : yakali aja lu mati karena nahan napas saking tegangnya singkong😂
Netizen : kingkong Juneni bukan singkong🙄
Author : bodoamat😂
Netizen : tunggu balasan lu, nanti gue santet onlen
Author : awas lu kepentok sama gue😂😂
Netizen : amit-amit🙁
Author : asal jan lupa like komen dan rate bintang lima😂. poinnya buat besok aja ya seyenggg
Netizen : jijik gue, ada maunya baru lu rayu-rayu bilang sayang😞
Author : epen😂
.
*****
.
Love,
Xie Lu♡