Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 20



Happy reading!


.


***


Saat semuanya histeris menyaksikan Alita yang baru berhasil tengkurap, seseorang masuk.


"Jadi ini yang kau bilang penjagaanmu ketat, Dario!"


Seseorang yang sudah tidak asing lagi, menerobos seenaknya ke dalam mansion. Entah apa yang dilakukannya sehingga berhasil melewati penjagaan ketat di luar.


Silver menatapnya tajam yang dibalas seringai oleh pria itu.


"Maxwell Del Montaña? Apa yang membawamu kemari?"


Tanpa dipersilahkan, Max langsung duduk bersila di sofa tunggal dan memerhatikan Alita yang dikerumuni orang. "Aku tidak datang untukmu. Hanya memastikan keamanan keponakanku dan ternyata seperti yang ku duga. Black Angel, apa saja yang kau lakukan di sini?"


Wanita berambut pendek itu menunduk, tidak berani menatap mata biru tajam milik Max. "Maaf, Señor."


"Kau datang bukan untuk bermain! Perhatikan waktu yang kau pakai, tidak boleh mengendorkan kesiagaanmu!"


Sue yang belum mengerti, menatap satu persatu mereka yang duduk di sana (kecuali Diego yang berpura-pura fokus pada Alita) dengan pandangan bertanya-tanya.


"Kak Max, kenapa kau memarahi Carissa? Dan apa tadi? Black Angel? Apa itu? Bisa kau menjelaskannya padaku?"


Wajah tegang dan tidak bersahabat tadi langsung luluh mendengar pertanyaan Sue. Dia tersenyum. Sementara Silver menahan diri di tempatnya.


"Bisakah kau tidak bertanya dulu, Sue? Dan bawa juga pria kecil itu menjauh bersamamu. Ada hal penting yang harus ku bicarakan dengan dua manusia ini."


Mengerucut sebal, mau tidak mau Sue membawa Alita kembali ke kamar. Diikuti Diego yang harus disingkirkan dari sana.


"Dia mafia Spanyol itu ya, Aunty? Memang menyeramkan," tanya Diego bergidik membayangkan betapa kejamnya Max terhadap musuhnya.


"Kau mengetahuinya, Diego. Kau tidak boleh seperti itu saat sudah besar nanti, berbuat jahat itu dilarang Tuhan. Ok?"


Tersenyum tipis, Diego mengangguk. "Bagaimana kalau orang menjahati kita, Aunty? Apa aku harus membalasnya?"


"Tidak," refleks Sue menjawab. "Air susu dibalas air tuba, itu perbuatan jahat. Begitu juga sebaliknya, jangan membalas air tuba dengan air tuba. Hanya Tuhan yang punya hak membalas perbuatan orang jahat, kita sebagai manusia hanya perlu memaafkan kesalahan mereka."


Memandang wajah Sue yang seperti malaikat baginya, Diego terkekeh.


"Kau sangat baik, Aunty. Aku khawatir tidak bisa membedakanmu dengan malaikat, Uncle sungguh beruntung. Semoga Mona Elle seperti ini nanti."


Sue tersenyum, dia menggapai Diego dan mengelus kepalanya. "Kau juga anakku, harus seperti itu nanti. Ajari Alita agar tidak keluar dari jalur yang ditetapkan."


"Aku akan menghajar pria lain yang mendekatinya nanti, Aunty. Aku janji!"


Wanita itu terkejut. "Hei, aku baru saja menasehatimu, kenapa langsung keluar wajah galak itu? Aku sudah bilang 'kan, tidak boleh berbuat jahat."


Oke, berbuat jahat seperti memukul saja 'kan, Aunty? Otakku masih berjalan!


Diego meringis, tatapan Sue tajam. "Oke, oke, aku tahu, Aunty. Kenapa kau juga tampak seram? Sedikit menakutkan kalau kau marah."


"Itu wajah asliku. Kau pasti tahu kan, harimau yang baru melahirkan akan seperti apa ekspresinya."


Diego bergumam, "Benar-benar menakutkan kalau ibu-ibu sudah marah, sama seperti Mommyku."


"Kau bilang apa?"


"Oh, I love you."


***


"Jadi?"


"Kau hanya perlu berjalan ke mana air mengalirkanmu, Black Angel. Tetap pada rencana awal."


Wanita itu mengangguk paham. "Sí, Señor."


"Pergilah."


Carissa pergi dari sana.


"Kau punya simpanan di ruangan ini?"


"Aku tidak berani menyimpannya di sembarangan tempat, Max. Istriku mengawasi."


Max berdecak. "Ternyata kau sudah jadi budak cinta. Aku tidak menyangka itu, Silver."


Silver terkekeh, dia menatap pigura besar yang terpajang di ruang tamu itu. Sebuah foto kebersamaan dengan istrinya.


"Kau akan tahu saat sudah menikah nanti. Itu seperti Surga yang kau rindukan, Max."


"Jangan lupa, kau juga penjahat. Kenapa kau terdampar di sini?"


Pria bermanik biru itu menyeringai. "Menghabiskan gudang anggurmu. Kau bersedia?"


"Tidak, aku harus siaga untuk anak dan istriku. Kau pergilah, tidak ada tempat untuk bersenang-senang di rumahku."


"Sialan, kau sangat pelit, Silver. Ayolah!"


"Hanya satu botol!"


"Ok," jawab Max sigap dengan membulatkan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf O. "Alex, kemarilah!"


Pria gagah yang sedari tadi hanya diam menunggu di belakang, mendatangi mereka berdua. "Sí, Señor?"


"Temani Silver ke gudang anggurnya."


"Kau?!" Silver menunjuk geram. "Ke sana!"


"Kakiku lelah, sangat sakit kalau berjalan." Max memberi alasan dirinya tidak ikut, membuat Silver menatapnya tajam.


"Semoga alasanmu bukan suatu kebetulan."


Setelah keduanya pergi dari sana, Max memijit-mijit kakinya yang terkadang nyeri setelah 'berolahraga' sedikit. Terkadang dirinya tidak ikut mengeluarkan kemampuan bela dirinya jika berhadapan dengan lawan yang banyak dan lebih sering memakai senjata.


Dan entah kenapa tadi, dia menghabisi penjaga yang menurutnya mencurigakan dengan tangan kosong. Membuat kakinya kembali nyeri, dan dia sadari seseorang mengintip dari belakang.


"Kemarilah bocah nakal, tidak baik terus bersembunyi di sana."


Diego yang tampak linglung di sana terkejut. "Sangat menyeramkan, lebih menyeramkan dari Laurent gila itu," gumamnya membandingkan Max dengan sang ayah, Laurent D'antonio. Diego mengusap dadanya yang berdetak kencang karena kaget.


"Siapa yang kau bilang menyeramkan?"


"Oh Tuhan!" pekik Diego, Max sudah berada di depannya. "Bagaimana kau bisa berada di sini dalam satu detik?"


"Teleportasi mungkin," ucap Max mengedikkan bahunya. "Apa yang kau lakukan di sini? Aku menyuruhmu pergi bersama Sue tadi."


"Aku melihatmu memijit kaki dan sepertinya itu sakit. Kau butuh bantuan, Uncle?"


Diego menarik tangan Max yang masih bengong mendengar kata 'uncle', mendudukkannya di sofa dan mulai memijit perlahan pergelangan kaki Max yang nyeri.


"Kenapa kau tidak berbicara Uncle? Apa pijitanku terlalu lemah?" Diego menekan lebih kuat membuat Max berteriak.


"Kau ingin membunuhku, bocah?"


"Kau yang tidak menjawab pertanyaanku, Uncle. Kenapa kau diam?"


Max menggeleng. "Siapa nama ayahmu?"


"Untuk apa?"


"Huh?"


"Untuk apa menanyakan namanya?"


"Aku melihatmu seperti memiliki kemampuan khusus, dan itu jarang dimiliki anak orang biasa."


Diego menghentikan pijatan di kaki Max lalu duduk manis di sofa. "Aku mirip siapa? Kalau kau berhasil menebak, berarti kau mengenal orang yang kau tanya itu, Uncle."


Beberapa detik Max terpaku pada wajah Diego yang sekilas mirip seorang kenalannya. "D'antonio? Ibumu Bertha?"


"Ternyata kau berhasil dalam sekali ujian," tukas Diego menghembuskan napasnya. "Jangan bertanya banyak, Uncle. Karena biasanya yang paling banyak mencari tahu itu hidupnya singkat."


Max skakmat, bocah kecil di sampingnya itu benar-benar mirip psikopat. Tidak heran, semua perawakan dan sikap bossy-nya mirip sekali dengan kakeknya, pemimpin mafia terkenal di Italia.


"Kenapa kau berada di sini bukan di rumahmu?"


"Ini rumah pacarku, juga rumahku."


"Pacar?" beo Max tidak percaya. "Ma ... maksudmu?"


"Kau pintar, Uncle. Dia calon pengantinku."


"Sialan!" Max susah payah menelan air liurnya. Bahkan dirinya sampai sekarang belum pernah mengekspos hubungannya dengan Alana di depan publik. Dan anak kecil bermarga D'antonio itu berhasil mengalahkannya.


"Silver tidak mungkin dikalahkan."


"Papa mertua sudah merestui," ucap Diego berbunga-bunga, dia tersenyum mengejek Max. "Kau tidak percaya, Uncle? Itu mujizat bagi orang baik sepertiku."


.


***