Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 12



Happy reading!😊😘


*****


Silver membanting pintu Mercedes Benz miliknya saat sampai di mansion. Rodrigo yang memegang kemudi masih terdiam, pikirannya berkecamuk. Ia tahu bagaimana amarah Silver.


Semua yang di dekatnya pasti terkena imbasnya. Setelah memarkirkan mobil berwarna silver itu di garasi, ia masuk dan mencari Silver ke lapangan belakang mansion, tempat biasanya ia melampiaskan amarahnya dengan latihan menembak. Tetapi, ia tidak menemukan batang hidung temannya itu.


"Biarkan saja, mungkin dia sedang bermain dengan mainannya yang baru." Ia memasang pengedap suara di telinganya dan mengambil senapan berukuran sedang dari tempatnya. Ia akan membidik sendirian.


Sementara itu, Silver yang masih dikuasai amarah mencari keberadaan Suelita.


"Dimana pengerat itu?" tanyanya pada José yang kebetulan ada di dapur.


"Di belakang, Tuan. Sedang mem-"


Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Silver sudah menjauh membuat José menggeleng. "Mangsanya sekarang gadis itu."


Sue dan para maid sedang membersihkan kolam renang saat Silver datang ke sana dan menarik tangan Sue pergi. Ketakutan menyelimuti pemilik manik kuning itu.


Mereka yang melihat itu menatap kasihan padanya, terutama Carissa. Ia sudah tahu cerita yang sebenarnya. Sue menangis di hadapannya.


Namun, ada pula yang mengacuhkannya. Mereka sudah terbiasa melihat aura pembunuh yang keluar dari mata hijau Silver. Dan tentunya bukan hal baru bagi mereka yang pernah menjadi pelampiasan amarah tuannya.


Silver terus menarik Sue pergi ke ruang bawah tanah, ruang penjara bagi para musuh dan pengkhianat. Sue bergidik mengingat kejadian semalam. Bagaimana kejamnya Silver menganiaya seorang wanita tua.


Lorong itu gelap meski di luar sana masih terang. Semakin mereka melangkah, semakin besar ketakutan yang dimiliki Sue. Ia meringis saat cengkraman Silver bertambah kuat.


"Sa ... sakit ... Tuan!" cicitnya berhati-hati.


Silver menghentikan langkahnya dan membuat Sue menabrak punggungnya. "Ma ... maaf!"


"Di sini gelap, Pengerat. Apa kau ingin kejadian semalam terulang lagi di lorong gelap ini?"


Sue terbelalak. Bagaimana pria ini bersikap semaunya, mengancamnya dengan ancaman maut itu. Ia menggeleng. Namun, sejurus kemudian tangan Silver sudah mencekik lehernya. Ia meronta, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan pria itu. Semakin ia meronta, semakin kuat pula cekikan itu hingga akhirnya ia kelelahan.


"Kau pelayanku! Ingat itu sampai kau mati!"


Geraman Silver menyadarkannya akan kedudukannya di tempat itu. Hanya pelayan, dan dia tuannya.


Tiba-tiba, benda kenyal menyentuh bibirnya. Ia terkejut dan menahan napasnya. Bukan ciuman ataupun kecupan, tapi sebuah gigitan keras di bibir bawahnya. Sakit, itu yang dirasakannya. Tak lama kemudian, ia merasa ada cairan berbau amis menyengat hidungnya. Cairan kental yang berasal dari bibirnya bekas gigitan Silver.


"Kau berharap aku menciummu, bukan? J*l*ng tidak tahu diri. Aku hanya mencicipi tubuhmu, Pelayan rendahan. Kau hanya pemuas nafsuku, bukan sebagai wanitaku." Silver terkekeh.


Kenyataan menamparnya, hanya air mata yang meronta melawan sisi iblis sang tuan. Ia tidak bisa melawan, bahkan untuk membenci sekalipun. Hatinya selalu kalah oleh kata tidak tega. Ia tidak tega membenci idolanya. Bahkan sampai sekarang, rasa kagumnya pada Silver masih belum pudar. Semuanya masih sama seperti dulu.


Bau amis darah segar itu membuat kepalanya pusing. Namun, cengkraman di pergelangan tangannya semakin kuat. Ia meringis saat Silver menariknya lagi.


Benar saja, Silver membawanya ke tempat tersembunyi itu. Ia didorong paksa sehingga kakinya terantuk tumitnya sendiri. Ia terjatuh di lantai kasar penjara itu. Lututnya terluka, tapi ia tidak menangis.


"Ini tempat yang cocok untuk sampah sepertimu!" Silver memandang jijik pemandangan di hadapannya.


Menahan semua rasa pedih dan hancur, Sue berusaha tersenyum di balik bibirnya yang berdarah.


Silver berjongkok, menyamakan tingginya dengan perempuan di lantai. Ia menarik rambut panjang milik Sue membuat perempuan itu mendongak, merintih menahan sakit di kulit kepalanya.


"Ayahmu membunuh ayahku, dan sialnya ayahmu masih hidup. Aku akan membunuhnya perlahan demi membalaskan dendamku padanya. Dan kau sampah kecil, kau juga harus merasakan apa yang pernah aku dan ibuku rasakan karena perbuatan ayahmu."


"Tidak mungkin. Papaku orang baik."


"Ayahmu pembunuh, J*l*ng. Dia membunuh ayahku, panahnya yang runcing menembus jantung ayahku." Ia mencengkram dagu Sue dan menamparnya.


"Dia membunuh ayahku. Kalian akan mati di tanganku."


*****


Silver mencoba memejamkan matanya meski berulang kali gagal. Otaknya mereka ulang kejadian yang dialaminya. Sejak masih di dalam kandungan ditinggal mati oleh ayahnya, setelah beranjak balita ia ditinggal lagi oleh ibunya. Sungguh masa kecil yang suram.


Ibunya selalu menangis, mengatakan bahwa ia akan melihat putranya dewasa meski pada akhirnya ia meninggalkan Silver sendirian di dunia yang jahat ini.


Silver kecil akhirnya dirawat oleh pamannya, Alfonso kakak ipar ayahnya, Alfredo.


"Adik iparku yang malang, dia dibunuh oleh seorang pemburu di hutan Amazon saat kami bersembunyi dari kejaran singa hijau."


Saat itulah, rasa sakit hati bercampur amarah terpendam di dalam jiwanya yang masih kecil. Ia tumbuh dalam kebencian, menjalani harinya dengan misi untuk membunuh pembunuh ayahnya.


Silver kecil pandai bermain bola, dilatih oleh kakak sepupunya yang bernama Gregor.


Muncullah keinginan dalam dirinya untuk menjadi seorang yang terkenal, punya relasi yang banyak dan kekuasaan yang kuat untuk menarik minat khalayak. Dan, itu berhasil. Ia menjadi atlet sepakbola yang berbakat.


Tengah malampun, ia masih belum bisa tidur. Karena mengingat ia belum memberi umpan pada pancingannya, ia bergegas pergi.


"Tunjukkan wajah aslimu padanya. Waktunya kita bermain dengan seru." Ia memutuskan sambungan telepon sebelum seseorang di seberang sana menjawab.


*****


"Kau belum tidur rupanya."


Pria paruh baya yang masih meringkuk di atas kasur kecil itu terbangun. Ia merintih saat kakinya yang terluka mengenai pinggiran kasur yang keras itu.


"Kapan kau ingin mengucapkan selamat tinggal padanya?" Silver menunjukkan sebuah tayangan langsung rekaman CCTV lewat ponselnya pada Jerome.


"Ampuni putri saya, Tuan. Dia tidak bersalah." Jerome bersimpuh di bawah kakinya.


"Dia tidak bersalah, tapi dia harus mendapat dampak dari perbuatanmu, Br*ngs*k." Ia tersenyum mengejek. "Aku sudah setengah jalan dan tidak akan berbalik."


"Alfonso menipumu, Nak. Aku tidak membunuh saudaraku."


Silver menendangnya, lalu mencengkram kuat lehernya. "Beraninya kau memfitnah pamanku, sialan. Dia penyelamatku, dia yang membantuku melihat cahaya baru di hidupku."


"I ... itu ... ke ... gela ... pan, Nak .... Ka ... kau ... ss ... sa ... lah memakai kata."


"Kau kegelapannya." Ia meninju wajah Jerome dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya. "Waktumu tidak lama lagi."


Ia berbalik hendak pergi, namun ia teringat akan pesan yang dikirimkan Barbara sore tadi.


"Siapa kau sebenarnya, Jerome?"


Jerome tertegun. Ini pertama kalinya Silver menyebut namanya setelah sekian lama ia bekerja untuknya.


"Anda mengenalku, Tuan."


"Siapa Maxwell Del Montaña?"


Jerome terdiam. Nama itu mengingatkannya pada mendiang istrinya, Marcelin Del Montaña.


*****


Jejaknya sayang😄😘