
Happy reading!😊😘
.
*****
"Kau membohongiku!"
Teriakan keras Silver menggema di puncak gunung itu.
"Aku melakukannya agar kau kuat, Dominique!"
"Tidak dengan membuatku membunuh orang lain!"
Tangan keduanya masing-masing menodongkan senjata, bersiap untuk saling membunuh.
"Tidak ada yang perlu disesali. Kau telah membunuh pria itu dan kau kuat!"
"Aku tidak kuat tetapi aku mati. Nuraniku telah mati karena kebohonganmu. Kau tidak pantas lagi kusebut paman!"
"Aku yang membesarkanmu, Dominique!"
"Aku tidak menyangkal itu, tetapi soal menyebutmu paman, aku sudah tidak bisa melakukannya lagi."
Satu tembakan Silver mengenai tangan Alfonso yang memegang pistol, diiringi tawa mengejek dari pria tua itu.
"Kau tidak akan bisa membunuhku, anak nakal. Aku pamanmu!"
"Tidak, kau bukan lagi pamanku bahkan sampai kau bersimpuh di kakiku, pembunuh!"
"Itu tidak akan terjadi, sampai kapanpun kau yang akan datang padaku. Alfredo pembohong, kau harus tahu fakta itu!"
"Dan kau pembunuhnya!" teriak Silver mengeluarkan semua amarahnya dan menarik lagi pelatuknya sehingga kaliber emas itu menembus perut Alfonso.
"Kau tidak bisa membunuhku, Dominique!"
"Kau yang mengajariku cara memegang benda ini. Dan akan kujadikan ini yang terakhir aku menyentuhnya setelah membunuhmu!"
Tangan Alfonso yang tidak terluka memegang kembali pistol yang terjatuh, mengarahkannya pada Silver dan menembak tepat di dada kiri milik pria itu.
"Kau seharusnya mati waktu itu, anak nakal. Pergilah menemui ayahmu di neraka!" seringai iblis di bibir Alfonso tercetak sebelum ketidaksadaran mengambil alih.
*****
Kaki yang tergores luka tanpa alas itu terus melangkah sambil sesekali meringis karena kesakitan. Jalannya tak menentu arah, berharap dalam hatinya segera menemukan tempat yang dikatakan Silver.
"Ya Tuhan, tolong aku...." gumam Sue sambil terus melangkah lebih cepat.
Apalagi saat ia mendengar derap langkah yang banyak dan semakin mendekat. Ketakutan menghinggapinya, menerka bahwa mereka adalah orang suruhan Alfonso untuk menangkapnya.
"Kita harus segera menangkap perempuan itu." Samar-samar dia mendengar suara mereka berbincang.
"Kau benar, Tuan pasti akan memenggal kepala kita kalau sampai tidak menemukannnya." Salah satunya menimpali.
"Langit semakin gelap, dan hujan terus saja turun sejak tadi."
"Tugas tetap menjadi yang terutama!"
Sue menutup mulutnya, menghalangi napasnya yang terengah-engah. Dia bersembunyi di balik pohon besar saat suara orang-orang itu semakin mendekat.
"Lord, help me!"
Sue mendekap tubuhnya sambil mengeratkan cengkramannya pada jaket milik Silver dan terpejam mendengar suara orang-orang itu masih berkeliaran di sekitarnya.
"Dia pasti masih ada di sekitar sini. Berpencarlah!"
"Baik."
Sue membuka matanya dan ia terkejut mendapati sebuah tempat yang sangat mirip dengan sarang binatang. Tanpa takut, ia memasuki tempat itu sembari menunggu orang-orang itu pergi.
"Syukurlah, tidak ada apa-apa," gumam Sue saat masuk dan....
"Aaa--mmppp."
Sue langsung menutup mulutnya. Keterkejutannya bertambah ketika hewan di dalam sarang itu terbangun dan menatapnya.
"M-maaf, aku tidak sengaja mengganggumu!"
Seekor serigala berwarna cokelat itu meraung dengan suara keras membuat Sue merinding ketakutan. Saat ia hampir terjungkal dan lari dari sana, suara orang dari luar sana menghentikan langkahnya.
"M-maaf...."
Sue langsung menerobos masuk ke dalam tempat itu tanpa memedulikan pemiliknya. Persetan dengan kematian, Sue sudah mengalaminya saat disiksa Silver dan pamannya. Dia tidak peduli lagi jika serigala itu memangsanya.
Saat kesadarannya kembali, ia terkejut serigala itu menjilati bekas luka di tubuhnya. Merasa geli, Sue terkikik. Dia menariknya menjauh dan tetap saja serigala itu melakukannya sampai Sue menyerah.
"Kau baik. Terima kasih."
Sue mengelus bulu halus di badan hewan itu hingga dia sadar keberadaannya dimana.
"Maafkan aku, aku harus pergi. Terima kasih, teman!"
Sue keluar dari tempat itu setelah hujan reda dan bulan mulai terlihat. Tanpa disadarinya, serigala itu mengikutinya.
Tangan mungil itu menyentuh perutnya. Sue kembali mengingat saat dimana Silver menggenggam tangannya dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Merasa hangat di dalam dadanya, Sue tersenyum.
Bayi kita, berarti anaknya dan Silver. Pria itu mengakuinya dan mengatakan kepemilikan mereka berdua, tanpa mengatakan bahwa itu hanya miliknya sendiri.
"Terima kasih, Tuhan."
Senyuman manis itu harus segera luntur ketika suara manusia itu kembali lagi.
"Dia menuju ke arah danau! Jangan hilangkan jejak!"
Sue menegang. Tanpa menoleh ke belakang, dia berjalan lebih cepat tanpa menghiraukan rasa sakit di tubuhnya. Ketika melihat air danau itu menyilaukan mata, ia tersenyum lagi.
"Jangan biarkan dia kabur atau menyebur ke dalam danau! Tangkap dia hidup-hidup!"
Jantung Sue seakan copot, orang-orang itu semakin dekat bahkan hanya beberapa mil jauhnya. Dia mengepalkan tangannya menguatkan hatinya untuk berlari ke arah semak seperti yang diketahuinya.
Sepertinya keadaan tidak memungkinkan baginya, ketika hendak memasuki semak itu kakinya terkilir dan terjatuh. Air matanya kembali tumpah. Ketakutan terhadap amarah Silver membuatnya menangis. Dia kecewa karena tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri, sementara Silver telah memasang diri sebagai tameng baginya saat melepaskannya dari borgol di depan mata Alfonso.
"Maaf, Tuan."
Orang-orang itu berlari mendekat ke arahnya dan dengan sekuat tenaga, Sue menarik kakinya dan masuk ke dalam semak itu. Barulah ia bernapas lega saat menemukan mulut gua itu.
"I found you." Ia bergumam.
"Tangkap dia! Jangan biarkan dia menghilang di sana!"
Kembali teriakan orang itu mengguncang dadanya. Bagaimana jika mereka menemukan dirinya di sini sementara tempat ini sangat sempit dan tidak memiliki jalan keluar selain pintu masuknya.
Namun, tanpa disangka, pintu gua itu tertutup dengan sendirinya, mengejutkannya yang masih ketakutan.
"Astaga, Tuhan. Apa aku akan terjebak di sini?"
Pikiran negatif langsung menggerayangi pikirannya. Bermonolog sendiri dalam kepalanya.
"Lalu, kenapa dia menyuruhku lari ke sini? Kenapa dia tidak langsung membunuhku di sana?"
Sue histeris di dalam gua gelap itu, melampiaskan seluruh ketakutannya.
Sementara di luar gua, serigala cokelat itu membunuh semua orang suruhan yang mengejar Sue.
*****
Sungguh perjuangan yang memilukan. Dengan memegang dadanya yang terus mengeluarkan darah, Silver berlari ke arah Timur. Tidak peduli lingkungan sekitarnya, ia terus berlari sampai menemukan tempat yang dituju.
"Semoga kau baik-baik saja."
Silver berusaha membuka pintu gua yang tertutup rapat dengan tangan kanannya. Saat batu itu bergeser sedikit, Silver langsung masuk. Mencari sosok perempuan yang mengandung anaknya.
"Lita!" panggilnya dengan suara pelan namun tidak ada sahutan.
Terpaksa, ia menggunakan senter dari senapan panjang yang ditemukannya di gunung tadi. Dan....
"Hei... wake up! Bangun!"
Sue tertidur dengan berbantalkan batu sebagai alas kepalanya. Saat cahaya senter itu menembus kulit matanya, ia bangun.
"Aaaaaa--mmpphh...."
"Ini aku!"
"T-tuan..., maaf!"
"Kau baik-baik saja?"
Sue mengangguk.
"Bagaimana dengannya?"
"B-baik...."
Sue memberanikan dirinya menatap manik hijau milik Silver dan saat itulah mata keduanya bertemu. Sue akhirnya memutuskannya terlebih dahulu karena dia tidak bisa menetralkan debaran jantungnya.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Dimana jaketmu? Kenapa tidak kau pakai?"
"Ma-maaf, Tuan. Sepertinya terjatuh...."
"Kau kedinginan?"
"T-tidak...."
Silver mendekatkan tubuh kecil Sue padanya dan mendekapnya.
"Katakan kalau kau kedinginan. Aku tidak ingin anakku juga merasakannya."
Hati Sue mencelos mendengar pengakuan itu. Harusnya ia sadar sebelum berhalusinasi, yang dipedulikan Silver hanya anak yang di dalam kandungannya.
Silver berdehem menyadari keterdiaman Sue. "Aku tidak ingin kau sakit!"
"Tu-tuan...." Sue menengadah saat tangannya tak sengaja menyentuh dada Silver yang terus mengeluarkan darah.
"Ya?"
"Dada anda...."
"Tidak mengenai jantungku. Tenanglah!"
Sue terdiam sebagai jawaban. Tangannya menempel di dada bidang Silver saat pelukan itu semakin erat.
"Tuan?"
"Apa?! Diamlah!"
Sue kembali terdiam membuat Silver mendesah frustasi. "Katakanlah apa yang kau inginkan!"
"A-apa kita akan bermalam di sini? Saya takut."
"Bersamamu dan anak kita. Semuanya baik-baik saja."
Silver mengecup bibir Sue singkat namun penuh kelembutan. "Tidurlah."
Tangannya mengelus perut Sue membuat pemiliknya memejamkan mata.
"Good girl," ucap Silver melihat Sue kembali pulas.
.
.
.
.
iklan**
.
Netizen : itu batu bedaon yang dibuku bindo waktu sd ya thor🤔
Author : gatau, jan nanya sama gue😒
Netizen : gimanasih🙄 kan elu yang nulisnya pokemon
Author : lu yang baca paham dong bambang, gua sama batu bedaon itu sama ya? 🙁
Natizen : idiiih... sensi amat sih. kan sama nutup sendiri pas orang masuk ke dalam🤔 tapi yang bikin gue heran, silver kena tembakan di dada kiri tapi ga mati sih. nah ayam gue aja ditampol palanya langsung puyeng
Author : gue gatau, yang penting lu ga nangis karena si silver mati. gue sayang sama air mata lu
Netizen : lu sayang ama gue? ohmaiiigattt, mimpi apa gue semalam😄😄😄
Author : sayang karena stok air mata gaada di indomaret😂
Netizen : poin gue tahan
Author : 😭😭😭😭
.
*****
Love,
Xie Lu♡