Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 2



Happy reading!😊😘


.


***


Silver mendesah pelan merasakan tubuhnya pegal akibat terlalu lama berdiam di pesawat. Meski kursi pribadinya sangat empuk, rasanya ada yang kurang tanpa senyuman sang istri.


Mengingat istrinya sedang hamil dan sebentar lagi melahirkan, ia merasakan dadanya tergelitik seperti ribuan bunga sedang bermekaran di sana. Membayangkan ada kehidupan baru dari gen mereka, senyuman tipis terulas di bibirnya.


"Bagaimana wajahnya nanti?" gumamnya.


Asisten yang selalu sigap di sampingnya itu menoleh mendapati sang tuan bergumam dan tersenyum sendiri.


"Tuan?"


"Jangan mengganggu lamunanku, Arthur."


Tak ingin membangunkan singa tidur, Arthur memilih mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


Rasa bosan melandanya menyadari pesawat masih belum landing. Dulu, saat bosan, ia akan melampiaskannya pada rokok dan alkohol dimanapun ia berada. Namun sekarang, semuanya ia tinggalkan. Sue yang sering mual dan muntah membuatnya berhenti mencecap benda laknat itu.


"Arthur, berikan aku sesuatu untuk menghentikan aliran rasa bosan ini."


Arthur mengangguk kemudian pergi ke pantri dapur luas di dalam pesawat itu. Tahu Tuannya tidak lagi menenangkan diri dengan alkohol, ia membuat susu dan menyajikannya dengan kukis kelapa. Kukis berjodoh dengan susu, begitu pikirnya.


"Kau yang terbaik, Arthur," ucap Silver setelah Arthur meletakkan minumannya di atas meja.


"Sudah seharusnya. Selamat menikmati."


"Kenapa hanya segelas?"


"Hah?! Biasanya kau meminum satu gelas, sialan."


"Tidak, maksudku untukmu."


Silver tersenyum melihat Arthur menggeleng. Silver menyadari dirinya yang sekarang lebih banyak tersenyum tulus. Tidak seperti dirinya yang dulu, terpaksa tersenyum untuk memikat banyak orang. Menyembunyikan senyuman tulus yang selama ini diberikan hanya pada istrinya.


"Kau bisa istirahat sekarang. Kita tidak punya banyak waktu luang saat sampai di sana. D'alejjandra bukan orang biasa."


Arthur mengangguk. "Aku mengerti, Tuan."


"Kau bisa memakai satu kamar di sebelah sana," tunjuk Silver pada sebuah kamar di samping kamar pribadinya.


"Merci, tapi ..., aku akan bersiaga di sini. Kau bukan orang yang baik untuk ditinggalkan sendirian."


"Jamie!"


"Baiklah."


Menikmati susu hangat dengan camilan kukis yang renyah mampu menghilangkan sedikit keresahannya. Manik hijaunya menatap luar jendela. Hamparan samudera luas membentang dengan angin darat yang berhembus pelan. Membuatnya kembali merindu akan keindahan ciptaan Tuhan pada wajah istrinya.


***


Erangan kesakitan menguncur mulus dari bibir itu. Tangannya mencengkram apapun yang ada di sekitarnya. Sakit yang tiada terkira. Air matanya mengalir seiring dengan rasa sakit yang menerjangnya.


Namun, mengingat akan ada kehidupan baru setelah kesakitan yang dialaminya, Sue berusaha keras tetap terjaga meski sesekali rasa kantuk melanda.


Dokter Natalie memberinya arahan dengan hati-hati. Ketika rasa sakit itu kembali menyerang, Sue menjerit keras.


"Sekali lagi, Nyonya," perintah Natalie.


Napas Sue terengah-engah. Wajahnya kini pucat pasi seolah bagian itu tidak teraliri darah.


Sue menggeleng pelan menanggapi perkataan Natalie. Ia sudah kehilangan tenaga hanya untuk menjawab.


"Anda harus kuat, Nyonya."


Lagi-lagi, Sue mencoba mengejan hingga seluruh tenaganya terkuras. Merasakan tubuh Sue yang sudah lemas, Natalie mengusulkan untuk melakukan operasi. Ia menemui Gregoria yang menunggu dengan cemas di luar.


"Bagaimana keadaan menantuku?" tanya Gregoria cemas.


"Maaf, tapi sebaiknya kita melakukan pembedahan, Nyonya."


"Dia tidak apa-apa, bukan?"


Natalie mengangguk. "Hanya saja Nyonya sudah tidak sanggup lagi. Apa Silver belum bisa dihubungi?"


"Anak nakal itu mematikan ponselnya. Mungkin dia masih di dalam pesawat."


Mendesah pasrah, Natalie meminta Gregoria menandatangani dokumen persetujuan untuk operasi.


***


Pesawat yang ditumpangi Silver akhirnya landing di tempat tujuan dengan selamat. Meski badannya pegal akibat banyak duduk dan menyelesaikan beberapa berkas yang harus diselesaikan, ia bersyukur telah tiba dengan selamat.


Saat ia merentangkan tangannya untuk meluruskan tulangnya yang pegal, tanpa sengaja ia menyenggol Arthur.


"Oh, maafkan aku. Jangan berdiri di sampingku."


"Tapi ...."


"Katakan!"


"Ada banyak pesan yang masuk di ponselmu."


Silver tersenyum dan menyangka bahwa istrinya khawatir akan kepergiannya.


"Ternyata dia," gumamnya. "Kenapa Mommy mengirimiku pesan? Oh, sial!" umpatnya panik. "Kembali ke Brazil sekarang!" teriaknya lantang sebelum badannya masuk ke dalam mobil.


"Istriku melahirkan! Aku harus kembali ke sana, Arthur."


Arthur terkejut mendengar kabar itu. "Bagaimana dengan projek ini? Kau sendiri yang mengatakan Tuan D'alejjandra bukan orang biasa."


Silver menyugar rambutnya frustasi. Di satu sisi, ia tak ingin kehilangan projek pembangunan di sini dan di sisi lain, istrinya sedang berjuang hidup mati demi anak mereka. Ia harus mengambil keputusan yang menurutnya tepat.


"Telepon mereka dan adakan rapat darurat. Aku tidak ingin menunggu lama. Persetan dengan uang dan kekayaan, istri dan anakku lebih berharga dari itu."


Ketika Arthur hendak membuka mulutnya, Silver langsung menyela.


"Lakukan sekarang atau kau yang akan mengurusnya, Jamie!"


Meninggalkan landasan pribadi milik keluarga D'alejjandra, Silver menuju hotel tempat dirinya menginap. Pikirannya kalang kabut, memikirkan keselamatan kekasihnya. Bagaimana jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat betapa susahnya perjuangan seorang ibu yang pernah dibacanya di situs online tentang melahirkan, ia khawatir terhadap Sue.


Tolong dia, Tuhan, ucapnya berdoa dalam hati.


"Tuan, kita sudah sampai." Sopir itu memecah keheningan di dalam mobil.


Mereka turun di depan hotel yang bertuliskan AB Hotel. Silver mengerutkan keningnya membaca nama hotel tersebut.


"Kau yakin ini tempatnya, Arthur?"


"Alamatnya jelas di sini."


"Bukan D'alejjandra Hotel?"


"Aku rasa tidak. Tuan D'alejjandra pasti punya alasan tersendiri menamakannya demikian."


Silver mengangguk dan memasuki lobi hotel yang lumayan luas itu sementara Arthur menghampiri resepsionis untuk mempersiapkan kamar bagi mereka.


"Kamar nomor 1357."


Silver berdecak. "Kenapa kau menerima tempat setinggi itu? Aku tidak ingin berlama-lama tinggal di sini. Kau pasti memahami apa yang ku rasakan, Jamie. Tukarkan dengan milik mereka."


Silver menunjuk pada satu pasangan yang sedang bermesraan di depan resepsionis.


"Ini rekomendasi dari Tuan D'alejjandra, Sialan. Kau tidak bisa menukarkannya begitu saja."


"Ck, kau tidak mengerti." Ia merebut kartu yang dipegang Arthur dan menghampiri pasangan tersebut.


"Sil, apa yang kau lakukan? Tuan D'alejjandra akan marah."


Silver tidak peduli. Apapun yang diinginkannya harus terwujud. Menghampiri kedua orang itu dan menukarkannya dengan kamar biasa, ia tersenyum mengejek pada Arthur yang tampak kusut di tempatnya berdiri.


"Aku tidak ingin mati di sini, Arthur. Liftnya tinggi sekali dan tidak bisa diprediksi apa saja yang akan terjadi. Tak akan ku biarkan istriku sendiri di sana berteman dengan takdir yang menjauhkannya denganku."


Arthur mencibir. Ternyata ini alasan Silver tidak ingin menginap di kamar yang letaknya di tempat teratas.


"Kau bahkan pernah hampir terbunuh oleh tangan manusia, Sil. Bukankah itu sama saja?"


Silver pergi meninggalkan Arthur yang masih mencibir di tempatnya.


"Sekarang aku sudah memiliki keluarga yang harus kujaga. Aku tidak boleh mati dalam waktu dekat. Mereka membutuhkanku, Sialan."


Arthur mengejarnya dengan dua koper di tangannya. Untung saja kamarnya berada di lantai dasar, jika tidak hotel itu akan menjadi sasaran umpatan Jamie Arthur.


"Rapatnya akan diadakan di salah satu suite room di atas sana, Sil."


Silver berbalik dengan tatapan tajam yang mengintimidasi seolah berkata, "turuti keinginanku, jika tidak, istri dan anakmu akan menderita."


"Baiklah, akan kuubah sesuai perintah Yang Mulia Raja Iblis." Arthur mengucapkan dengan geraman tertahan pada kalimat pamungkasnya.


***


Sesuai permintaan Silver, semua yang pengusaha di Spanyol yang bekerjasama melakukan pembangunan di sana menghadiri rapat dadakan itu. Termasuk Benjamin D'alejjandra, pengusaha sukses di Spanyol yang bergerak di bidang senjata. Ia menghadiri rapat itu setelah mendapat kabar mengejutkan tentang keadaan Silver.


"Kau bisa pergi sekarang, Dominique. Titip salam untuk istrimu."


Silver tersenyum tipis menyambut uluran tangan Ben.


"Jangan titip salam untuk istriku, Ben. Itu perkataan yang haram. Dia milikku," jelasnya terkekeh.


"Astaga, kau posesif sekali. Baiklah, tapi aku tidak akan menarik perkataanku karena itu tulus dari hati ini." Ben menunjuk dadanya.


Silver memutar bola matanya malas. "Bagaimana Eliza?"


"Jangan menyebut nama istriku seperti itu."


Silver terkekeh telah bisa membalas perkataan Ben. "Itu nama yang bagus. Salam untuknya dan terima kasih untuk hari ini. Aku harus kembali sekarang."


Ben berdecak. Ia menepuk pundak Silver dengan gemas. "Kau mendahuluiku menjadi seorang ayah."


Silver membalasnya dengan kekehan dan segera undur diri. Ia seorang diri meninggalkan Valencia dengan debaran tak tentu di dadanya.


"Semuanya ku serahkan padamu, Di Vaio. Urus sisanya, semoga kau betah tinggal di sana." Silver menutup panggilan itu dan kembali mematikan ponselnya.


"I'm coming, my little Angel."


.


***


Maaf, Xie baru bisa up. Jangan tanya alasannya mengapa, karena Xie pun tidak tahu^_^.


Love,


Xie Lu♡