Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 51



Happy reading!😊😘


.


*****


Mata Sue tak hentinya menatap layar televisi yang menayangkan pertandingan antar Brazillía dengan klub berjulukan Red Devil. Sesekali ia meringis ketakutan saat para pemain saling berebut mendapatkan bola.


"Dia curang," protesnya melihat pemain berjersey merah itu menendang tulang kering pemain Brazil.


"Oh? Wasitnya buta? Kenapa tidak meniup peluit pelanggaran? Astaga, pasti mereka menyogok wasit brondong itu."


Sue terus menggerutu seraya memasukkan potongan kentang goreng ke dalam mulutnya.


"Bagaimana dia mengabaikan pelanggaran sekasar itu? Wasitnya benar-benar buta."


Sue menggigit kasar kentang goreng itu sampai lidahnya juga ikut tergigit.


"Wasit sialan! Eh, bagus. Kau memang harus memberinya kartu kuning," celotehnya lagi melihat pria yang tadi membuat pelanggaran mendapatkan kartu kuning.


"Sepertinya kau baru terbangun dari tidur panjangmu, wasit sialan."


Siaran panjang itu masih berlangsung dan Sue terus berceloteh kesal dengan keadaan di sana.


"Ayo, Silve--- eh?!"


Sue terdiam sesaat sebelum dia kembali berteriak. "Tidak apa-apa. Aku mendukungnya apapun yang terjadi. Aku bukan fans musiman!"


Tidak ada siapapun di kamar hingga ia bisa leluasa berteriak.


"Kau bisa, Sil. Kalahkan mereka. Ya, ya, kacaukan pertahanan mereka. Bagus! Yess!! Goll!!!"


Sue bangkit dan berjingkrak-jingkrak layaknya seorang anak kecil. Setelah lelah melompat-lompat, dia tidur tengkurap hingga nyaris menindih perutnya.


"Oh, maafkan Mommy, sayang. Mommy bahagia karena Daddy-mu berhasil mencetak gol," ujarnya bangkit duduk seraya mengelus perutnya.


"Kau bahagia juga, bukan? Daddy-mu pemain yang hebat."


Matanya terus menatap televisi itu. Mewanti-wanti jika ada yang melakukan pelanggaran. Jika saja bisa, dia berpikir akan masuk ke dalam tv itu dan memasukkan bola ke gawang lawan.


"Astaga, aku lelah. Eh? Apa kentangnya habis?" Sue menoleh pada piring kentang di sampingnya dan ternyata isinya telah habis.


"Kau tidak bersuara kalau kau sudah tidak ada di sini," gerutunya lagi.


"Sudahlah, kau pasti bingung."


"Hah?! Tuan..." lirih Sue sambil menitikkan air mata.


Di sana, Silver terjatuh karena seseorang mendorongnya. Silver yang berusaha untuk bangkit lagi sepertinya tidak bisa, dia terus memegang dadanya.


"Apa lukanya berdarah lagi?"


Dan benar saja, ada noda darah di jersey berwarna kuning itu.


"Oh Tuhan, selamatkan dia," doa Sue seraya mengelus perutnya.


*****


Sirine ambulance terdengar di lapangan itu. Penanganan medis langsung dilakukan. Silver hanya tersenyum melihat semua rekannya melongo ke arahnya.


"I'm ok!" teriaknya.


"Jangan berteriak dulu, kau masih sakit, Sil. Lihat, darahnya kembali keluar. Aku sudah melarangmu!"


Arthur, sang manager terus saja berceloteh sejak tadi. Dia khawatir Silver tidak bisa kembali lagi pada laga terakhir nanti.


"Aku tidak apa-apa, mungkin ini hanya efek kelelahan. Kau harus berada di tepi lapangan, Arthur. Pastikan mereka semua berhasil masuk final."


"Tidak perlu ke rumah sakit?"


"Ya, usir saja mereka semua. Suruh matikan sirinenya. Telingaku sakit, biar hanya teriakan penonton saja yang membuatku pusing."


"Ck, kau selalu saja cerewet."


"Pergilah, aku akan duduk istirahat di sini."


Arthur pergi mendekati Luke di tepi lapangan.


Silver terus memerhatikan setiap gerak gerik pria yang tadi mendorongnya. Melihat ada yang aneh dengan gaya berlarinya, dia curiga ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikapnya.


"Arthur!"


Pria itu datang mendekat. "Apa lagi?"


"Awasi pemain yang tadi!"


"Sesuatu?"


Silver mengangguk. "Aku berpikir dia antek-antek seseorang."


Mengerti maksud Silver, Arthur mengangguk dan kembali ke tempatnya tadi.


Silver kembali menyandarkan kepalanya di kursi dan memejamkan matanya.


"Sil," sapa seseorang.


"Hm? Ada apa, Richard?"


"Sepertinya dia seorang anak buah Max," bisik Richard di telinganya.


Silver menegang. Dia berpikir Richard tahu tentangnya dan betapa terkejutnya dia saat Richard mengakui.


"Aku mengetahui hal itu tentangmu, Sil. Dan aku tahu kau punya sesuatu dengan mafia Spanyol itu."


"Bagaimana kau tahu?"


"Sebenarnya dia pernah ingin memakaiku untuk itu. Dia berpikir bahwa satu tim bisa mudah menjatuhkanmu."


"Kenapa kau tidak tergiur dengan uangnya?"


Richard terkekeh seraya merangkul lehernya. "Kau salah, uang memang menggiurkan tapi kepercayaan dan kesetiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Apalagi pertemanan."


Silver tersenyum miris, meremehkan alasan konyol yang diberikan Richard.


"Bagaimana kalau aku mencelakaimu?"


"Astaga, aku takut, Sil. Jangan melakukannya, aku belum memiliki istri. Dan harus kau tahu, hatimu berlian bukan benda konyol seperti yang mereka pikirkan."


"Oh, kalimatmu mengharukan, sialan. Berhenti mengatakannya atau aku membunuhmu setelah ini."


"Kau memang menyeramkan. Bagaimana kau mendapatkan luka ini?"


Silver terdiam, enggan berbagi dengannya. Cukup dirinya dan keluarga saja yang tahu.


"Kau tahu bagaimana berhadapan dengan dunia yang bermain senjata, Richard. Kalau tidak mati ya terluka seperti ini."


"Aku mengerti. Apa kau tidak punya niat untuk berhenti?"


Silver tertawa renyah. "Apa alasanku untuk itu? Tidak ada alasan bagiku untuk berhenti, Richard. Aku ditakdirkan untuk bermain dengan peluru mematikan itu."


"Tidakkah kau berpikir untuk memiliki keluarga yang bahagia?"


"Berhenti berbicara, Rich. Aku pusing," elak Silver tak ingin membahas tentang keluarga. Dia sendiri belum meyakinkan dirinya untuk berdua dengan siapapun, tapi jauh di lubuk hatinya dia menginginkan itu.


*****


"Kau juga berhasil melelahkan kami."


Semuanya tersenyum. Begitulah indahnya dunia atlet. Di dalam lapangan, semuanya menjadi lawan, saling berebut dan saling menjatuhkan. Tapi, saat keluar dari sana, tidak ada perseteruan dan dendam. Kalah menang, itu hal biasa dalam pertandingan.


Seperti kata pepatah kuno, menang jadi arang dan kalah jadi abu. Tidak ada hikmahnya jika saling menyimpan dendam.


"Kau baik-baik saja?" tanya seseorang pada Silver. Dia mengulurkan tangannya seraya tersenyum.


"Seperti yang kau lihat," ketus Silver mendelik ke arah tangan yang diulurkan itu. "Untuk apa?"


"Tanda persahabatan."


Sebagai seorang yang profesional dalam hal ini, Silver menerimanya.


"Del Montaña," bisik orang itu padanya.


Silver tersenyum tipis. "Aku sudah menduganya, Rio. Selamat, kau berhasil menjatuhkanku."


Pemain yang disebut Rio itu terkekeh. "Dia tidak akan melepaskanmu begitu saja, Dario."


"Seekor semut akan kembali ke sarangnya saat banjir datang dan di dalam sarang itu dia sudah menyiapkan banyak makanan. Berbeda dengan harimau yang akan mencari daging segar disaat air sudah di batang leher."


"Kau bijak, semoga kau menjadi semut itu, kawan."


"Yang pasti aku bukan harimaunya."


*****


Silver melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan di sekitar itu sedikit sepi. Ia sadar tempat yang ditujunya bukanlah rumahnya tetapi ia mengemudikan mobilnya ke arah sana. Bibirnya tak henti tersenyum dan ia sadari itu.


Lampu yang belum dipadamkan menandakan bahwa pemilik bangunan itu belum tidur. Silver segera membuka pintu dan terkejut pemiliknya masih berdiri di sana.


"Kau belum tidur?"


"Astaga, kau-- Tuan...."


"Kenapa belum tidur?"


"Aku...."


Silver mendekat. "Tutup tokomu pada malam hari."


"Tapi, aku mendapatkan uang darinya, Tuan."


Silver terdiam menyadari bahwa selama ini perempuan itu kesusahan. Dan toko bunganya yang menjadi penghasil uang.


"Ingat bahwa kau mengandung anakku, Lita."


Sue tertegun. Silver kembali memanggil namanya seperti itu. Jantungnya berdegup merasakan kehangatan dari panggilan itu.


"Ma-maaf, Tuan."


"Kunci pintumu!"


Sue beranjak dan melakukannya. Dia tidak tahu apa-apa, hanya melakukan perintah Tuannya karena mata hijau itu menatapnya tajam.


"Ayo tidur!"


Sue menghentikan langkahnya. Ia menatap manik hijau itu mengharapkan jawaban dari semuanya. Namun, wajah datar itu mengisyaratkan bahwa dirinya tidak bisa melakukan hal lebih.


Karena tidak urung Sue bergerak, pria itu segera menggendongnya.


"Tuan...."


"Hm."


"Tu-turunkan aku...."


"Diamlah!"


"Aku bisa jalan sendiri, Tuan...."


"Aku takut kau terjatuh dan menyakiti anakku."


Sue mengembungkan pipinya. Anaknya saja yang dipedulikan. Namun, kalimat lanjutan pria itu membuat aliran darahnya berhenti.


"Dan aku tidak ingin kau terluka."


.


.


.


.


.


iklan**


.


Netizen : ada sesuatu itu thor kenapa gak dilanjutin adegan sue sm si silver😑


Author : adegan apaan🙄 kalo gue lanjutin takut nanti lu panas dingin di situ. gue gamau tanggung dosa lu


Netizen : idiihh... sok soan dosa pdhal dosa lu banyak😏


Author : dosa yang itu emang banyak tapi gue gamau nambah dosa krna lu😂


Netizen : 🙄🙄🙄


Author : jan lupa baca juga novelku yang satunya yahh😊


Netizen : yang judulnya gadis pelunas hutang itu thor


Author : ya😂 nanti dilanjutin kalo ini udah tamat


Netizen : kapan tamatnya thor


Author : dikit lagi, yang penting lu kencengin poinnya biar bang silver pat tamat😆


.


.


yang lagi bermalam di toko bunga :


jan lupa nambahin poinnya buat abang yaa



yang lagi bingung karena si abang tiba-tiba nongol :


poinnya buat gue aja, jangan buat dia



*****


Love,


Xie Lu♡