
Happy reading!
.
***
"Hubungi semua dokter terbaik di dunia. Mereka harus bisa menyembuhkan istriku!"
Perintah itu membuat semua dokter dan kepala rumah sakit kalang kabut. Mereka berusaha menghubungi semua koneksi, berharap bisa membantu.
Silver benar-benar tidak bisa menghadapi Sue lagi. Wanita itu tidak pernah mengatakan ataupun menunjukkan rasa sakit yang dia rasakan.
Dan itu menyiksa Silver. Hatinya hancur melihat senyuman manis sang istri, dan perkataan Sue yang mengatakan, "Aku tidak apa-apa, ini hanya sakit yang bisa aku tahan. Tidak apa-apa, Sil, jangan salahkan dirimu," membuat pikirannya kacau, jantungnya seolah diremas oleh tangan tak kasat mata. Dia sakit.
Meski keadaan di lapangan telah kembali seperti semula, Brodie dipulangkan, tetap meninggalkan kekacauan di hati Silver. Kekacauan di rumah tangganya, jantungnya, permata hatinya menderita.
Sementara buah hatinya yang mungil itu, seolah bisa merasakan penderitaan sang ibu. Bayi kecil itu mulai rewel dan tidak mau jauh dari Sue.
Sekalipun Silver menggodanya dengan mainan yang biasa dia sukai, Alita bersikeras berada di pelukan Sue.
"Sudahlah, Sil, biarkan dia di sini. Aku tidak apa-apa," ucap Sue setelah berkali-kali Silver meraih Alita. Bayi kecil itu memeluk Sue dengan erat, menangis jika Silver menariknya menjauh.
Kalimat itu menghentikan gerakan Silver. Meski dia sangat marah dalam hatinya, tetap saja tidak bisa memarahi wanita yang selalu tersenyum menghadapi badai itu.
Sue tersenyum di balik selimut yang membungkus kulit, memeluk Alita yang sedang menyedot nutrisinya.
"Sayang, kau bisa mengatakannya kalau itu sakit. Dokter sudah bilang kalau itu sangat sakit," lirih Silver.
Dia mengusap punggung istrinya. Sue tidak menyahut, hanya terdiam mendengar ucapan Silver yang sedang putus asa. Dia tahu, perlakuannya ini membuat Silver tidak nyaman, tapi Sue melakukan ini agar sang suami juga tidak terlalu khawatir.
Tapi nyatanya, perkiraannya salah. Dia mulai mendengar desahan putus asa Silver saat menghadapinya.
"Sayang ...."
Sue menggapai tangan Silver yang ada di punggungnya lalu mengusap lembut, menghilangkan kekhawatiran sang suami. "Tenanglah, aku akan mengatakannya kalau ini sakit. Kau hanya perlu berdoa agar bisa menemukan dokter terbaik. Kau tidak akan menyerah, bukan?"
Meski tidak bisa melihat ekspresi Silver, Sue bisa merasakannya lewat genggaman tangan Silver yang mengerat di jemarinya.
"Kau segalanya bagiku, Lita. Semua harta dan kebahagiaan kau berikan padaku, apa alasan yang membuatku harus melepaskanmu? Susah payah kita bisa mencapai jalan ini, apa harus menyerah sampai di sini?"
Keheningan sesaat melanda, membiarkan kedua hati insan yang sedang bertalu itu kembali menghangat. Bibir mungil Sue melengkung indah.
"Aku tahu. Karena itu, tidak perlu mencemaskan aku. Sakit ini ... masih bisa aku tahan," ucapnya pelan.
***
Jemari kecilnya menari dengan lincah di atas keyboard, manik cokelatnya dengan teliti melihat sekumpulan huruf dan angka yang tertera di layar benda persegi.
Dia mencoba untuk meretas keamanan di suatu tempat, rumah sakit ternama di Italia. Agar memancing kehadiran seseorang yang akan membantunya.
"Aku pikir keamanan di sana sangat ketat, ternyata sangat mudah dimasuki." Bibir kecilnya bergumam.
Sambil memakan camilan yang diberikan Silver padanya, Diego menunggu reaksi dari seberang. Mungkin orang itu akan menyerangnya.
Tak lama, seseorang menelpon membuat Diego terjungkal kaget.
"Astaga, aku pikir jantungku akan copot!"
Setelah mengelus dadanya yang berdebar tak karuan, Diego menjawab. "Senior? Ini pertama kalinya kau berinisiatif menelponku. Ada apa?"
"Berhenti menghancurkan tempat yang tidak bisa kau tangani! Mereka bisa saja mengirim virus ke sistemmu!"
Diego tersenyum tak berdosa. Dia melakukannya demi kesenangan, tidak masalah dengan itu. Kalaupun terjadi, dia sudah siap dengan itu.
"Kau mengikutiku, Senior?"
"Aku tahu semua yang kau lakukan. Apa yang terjadi di sana? Kenapa kau mencari spesialis mata?"
Diego menghentikan kunyahannya. "Istri Uncle Silver mengalami kecelakaan dan matanya bermasalah. Mungkin dokter itu bisa menyembuhkannya, aku memerlukan bantuannya."
"Kenapa kau berpikir dia akan membantumu?"
"Shaun Anthony. Bagaimana dengan nama ini?"
"Kau?! Jangan membuat masalah, Shaun!"
Anak kecil itu menghela napas pelan. Bagaimanapun juga Diego ikut serta dalam semua kejadian ini. Dan dia harus bertanggung jawab.
"Ini yang terakhir yang bisa aku lakukan, Senior. Tunggu kedatanganku!"
"Kapan itu terjadi?"
"Apanya?"
"Kecelakaan itu."
Lama tak terdengar suara dari seberang. Membuar Diego kembali menatap layar laptopnya. Tidak ada reaksi apa-apa dari sana.
"Kenapa kau tidak mempertimbangkan Profesor Caesar? Dia pandai meracik obat."
Diego mengerucut sebal. "Dia ahli farmasi, bukan spesialis mata."
"Itu dia! Dia bisa menemukan formula untuk membersihkan kotoran di mata dan hanya perlu ditemani spesialis mata di sana. Bukan untuk operasi mengganti bola mata 'kan?"
Bibirnya tersenyum lebar. Kenapa tidak terpikirkan dari tadi? Profesor Caesar pandai membuat alat kejut listrik dengan darah, tentunya dia juga pasti bisa menemukan formula untuk racun itu dan penawarnya.
"Kau benar juga, Senior! Pergilah tidur, ini sudah siang. Aku akan mengganti pulsamu yang kau gunakan ini saat aku sudah di sana."
"Sialan! Aku bukan babii sepertimu yang suka tidur! Hubungi Profesor Caesar, sepertinya dia masih kesal padamu karena membuatnya pingsan malam itu."
Diego mengingat lagi kejadian malam itu. Lelaki tua itu hampir saja membunuhnya, mengejar dan menyiramnya dengan air dingin pada tengah malam.
Dia tergelak kencang hingga seseorang di sana mengumpat. "Apa yang kau tertawakan, Bocah tengik?"
"Profesor Caesar yang bodoh! Dia benar-benar kesal. Hahahaha ...."
Gelak tawanya memenuhi ruangan itu. Sebuah kamar kecil terpisah di kamar luas tempat Sue berbaring, Diego jadikan tempat rahasianya. Silver tidak mengetahui itu.
"Kau harus minta maaf padanya, Shaun! Kau harus tepati janjimu, aku menunggu pulsa yang akan kau berikan!"
Diego tertawa lagi. Benar-benar sesuatu yang lucu jika dia kembali mengingat. Di mana seorang lelaki tua yang dulu ditembaknya, kembali terkena serangannya lagi. Obat bius yang bekerja jika dibakar, berefek mematikan jika dihirup dalam ukuran besar.
Dia menutup laptopnya saat mendengar ketukan di pintu. "Ya," sahutnya.
Silver berdiri tegap dengan mata menajam, wajah datarnya menjadi tembok penghalang mata Diego untuk melihat Sue yang berbaring dan sedang diperiksa oleh Dokter.
"Dad?"
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Menyengir seperti tidak melakukan kesalahan, Diego menunjuk laptop yang disimpannya di balik bantal. "Meminta bantuan Profesor tua itu lagi."
"Kenapa harus di sini?"
"Karena memang harus di sini."
"Kau bisa melakukannya di sofa sambil menemani Alita."
Mendengar itu, Diego memiliki kesempatan untuk kabur. "Baiklah, aku melakukannya sekarang!"
Tapi Silver menarik hoodie jaketnya dan mengangkatnya tinggi membuat kaki yang hendak berlari itu melayang di udara. "Mau kabur?"
"Aku patuh pada perintahmu, Dad."
Kesempatan untuk kabur itu datang lagi saat mendengar ponselnya berbunyi.
Mommy?
Silver menurunkannya ketika melihat raut cemas di wajah Diego. "Angkatlah, tetap saja di kamar ini."
"Halo, Mom."
"...."
Diego mendengar sambil menundukkan kepalanya. Ada yang tidak bisa diucapkannya dengan kata-kata dan memilih diam sebagai cara terbaik.
"Aku tahu. Aku akan melakukannya, Mom."
"...."
"Hah?! Empat hari lagi?"
"...."
Dia menitikkan air mata. Kristal bening yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapapun, akhirnya menyentuh bantal kamar terpencil di sana.
"Baik, Mom. Aku akan kembali."
"...."
"Aku sudah janji, tidak akan mengingkarinya lagi."
.
---
Ig @Xie_Lu13