Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 6



Happy reading!😊😘


.


***


Sue masih geli membayangkan bagaimana kekonyolan Silver menghadapi Alita. Banyak hal yang membuatnya merasa sempurna. Kekasih yang mencintainya dan memiliki buah cinta darinya.


"Sil, berhenti cemberut. Sudah sewajarnya kau mendapatkan itu."


Sue kembali tertawa mengingatnya.


"Ayolah, Sayang. Aku terkejut dia poop."


"Kau jelek jika seperti itu. Next time, kau harus peka pada kode bayimu."


Silver malah memanyunkan bibirnya. "Kode seperti apa? Dia hanya menangis, Sayang."


"Itu yang ingin kukatakan padamu. Dia menangis saat lapar, mengantuk dan ingin buang air. Berhati-hatilah, kau salah menebak kode berarti hadiahmu pasti seperti tadi," jelas Sue sambil terkekeh.


Membaringkan Alita di box, Sue berlalu ke kamar mandi untuk membuka pakaiannya yang basah.


Silver mengikutinya. Ia juga harus mengganti jasnya dengan jas yang baru. Pagi-pagi ia sudah diberi kejutan oleh putri kecilnya.


"Dasar nakal," omelnya.


"Siapa?" tanya Sue sarkas.


"Bukan siapa-siapa. Aku berkata untuk diriku sendiri."


Sue mengulum senyumnya. Bahagia juga melihat Silver kesal.


"Kau akan terbiasa, Sil. Seringlah menghabiskan waktu dengan putrimu."


"Akan kuusahakan."


Selesai membasuh diri, keduanya keluar mengganti pakaian.


Saat Silver membuka lemari bajunya, pandangannya langsung tertuju pada kostum yang selalu membawanya ke puncak kejayaan.


Jersey berwarna kuning dengan nomor punggung sepuluh bertuliskan namanya itu bergelantungan di sana.


Ia kembali mengingat masa-masa dimana dirinya dipuja oleh banyak orang. Masa penuh ironi dalam hidupnya, penuh dendam dan amarah yang terpendam.


"Sayang?"


"Hm?" Ia menoleh, mendapati istrinya menatap jersey itu.


"Kau yakin tidak ingin kembali?"


Banyak hal yang harus dipikirkannya. Meski tujuan awalnya hanya untuk terkenal, rupanya bermain bola sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging.


Dengan lapang dada, ia akan menerima apapun yang sudah ditakdirkan untuknya nanti.


"Aku harus melihat peluang, Sayang."


"Kau pasti akan memilikinya. Kadang Tuhan memberi jalan yang sulit menurut kita untuk ditempuh, untuk melihat bagaimana perjuangan kita menuju area yang sudah ditentukan. Tidak ada yang mustahil, Sayang, karena Dia melihat dan mendengar apapun seruan kita."


Pemilik manik kuning itu menyandarkan keningnya di dada Silver, mendengarkan degup jantung suaminya menjadi hobi barunya akhir-akhir ini.


"Bagaimana kalau aku tidak sanggup berjalan lagi?"


"Aku dan Alita ada bersamamu. Kita saling bergandengan menuju tempat itu."


"Jika kesempatannya tidak ada?"


"Maka buatlah kesempatan itu ada. Aku sudah mengatakannya, tidak ada yang mustahil jika kau benar-benar percaya padaNya."


"Aku tidak ingin kehilangan waktu bersama dengan kalian."


"Sil," ucap Sue.


Ia menatap manik hijau itu tanpa kedip. Tangannya menangkup kedua pipi sang suami. Dengan senyuman di bibirnya, ia menggeleng pelan.


"Kau ada di hati kami. Selamanya akan seperti itu. Jangan menyerah untuk sesuatu yang bisa diperjuangkan karena kebersamaan itu ada di hati. Percuma jika bersama sementara hati dan pikiran berada di tempat lain, bukan? Berjanjilah, kau akan melakukannya untukku. Kau terlihat sangat memesona di lapangan."


Sue terkekeh pelan, mengingat masa dimana ia mengagumi sosok Silver di lapangan dengan kulit putihnya yang terlihat sangat seksi oleh keringat.


Kegilaannya terhadap Silver dimulai karena hal itu. Apalagi melihat otot liat di perut sang idola yang seperti roti sobek.


"Kau menyukainya?"


"Tentu saja. Semua orang menyukaimu. Mereka pasti sangat terpukul karena idola mereka menghilang di beberapa liga terakhir ini."


Silver berdecak. Ia mengira bahwa Sue tidak menyukainya secara persona.


"Tapi ..., bukan hanya gaya bermainmu yang membuatku menyukaimu. Ada sesuatu yang lain."


"Apa itu?" tanya Silver penasaran. Rasa percaya dirinya kembali bangkit.


"Aku akan mengatakannya jika kau memberiku kepastian."


"Ayolah, jangan memberiku harapan palsu."


"Aku tidak melakukannya. Wanita memang harus diberi kepastian baru bisa mengutarakan isi hatinya."


Ia melepaskan rangkulannya di pinggang Silver dan beranjak dari sana.


"Sayang!"


"Jangan menyentuhku kalau kau belum bisa memberi kepastian!"


"Astaga, istriku berubah. Dia bukan lagi Lita yang lemah lembut. Lita! Bantu aku memasang dasi ini!"


Karena tak mendapat sahutan, ia keluar dan mendapati istrinya sedang menyiapkan sepatunya.


"Sayang, tolong bantu aku memasang dasi ini."


"Jangan merengek, Sil. Kau bisa membangunkan Alita."


"Maaf." Ia mendekat.


"Kau pandai bersandiwara, Sil," cibir Sue karena tidak biasanya Silver memintanya memasang dasi.


"Bunglon pandai mengubah warna, Sayang."


"Aku lupa kalau kau satu populasi dengannya."


Lelaki itu terkekeh kemudian menarik pinggang istrinya mendekat dan memberi kecupan di kening.


"Aku akan memberimu kepastian besok."


"Ada sesuatu yang harus kuselesaikan hari ini."


***


Kehebohan di lantai bawah membuat Sue terganggu. Ia menidurkan Alita dan menengok ke sana.


"Nyonya, ada kiriman atas nama Tuan," lapor Julie.


"Dari siapa?"


"Tanpa nama."


Sue mengangguk. "Tolong masukkan ke dalam gudang. Aku akan memeriksanya nanti."


"Baik, Nyonya."


Banyak kejadian seperti itu yang terjadi selama ia menjadi istri Silver. Entah dari fans maupun haters. Ada banya kiriman yang mengganggu keduanya. Dari ancaman akan memusnahkan keluarga Silver, melumpuhkannya agar tidak bisa lagi menggiring bola, dan yang lainnya.


"Oh ya, Julie? Dimana José?"


"Saya akan memanggilnya untukmu, Nyonya."


"Terima kasih, Julie."


Julie berlalu dan tak lama setelahnya José menghampiri.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"


"Jangan memanggilku seperti itu, José."


"Maaf, tapi sudah seharusnya seperti ini."


Sue berdecak sebal. "Bagaimana keadaan mansion?"


"Nyonya Gregoria meninggalkannya, sepertinya dia akan mengikuti suaminya ke Valencia."


Ia mengangguk. Alfonso memutuskan pergi dari SĂŁo Paulo dan menetap di Valencia, tempat dimana Silver melebarkan bisnisnya bersama Benjamin D'alejjandra.


"Siapa sekarang yang mengurusnya?"


"Beberapa pelayan yang ditugaskan khusus, Nyonya."


"Aku sudah mengingatkanmu jangan menyebutku seperti itu, José."


"Maaf, saya terbiasa."


"Tolong singkirkan barang yang baru sampai itu. Aku tidak ingin benda laknat itu mengganggu keluargaku."


José mengangguk.


"Dan juga, jangan beritahu Silver tentang itu."


"Akan saya lakukan, Nyonya."


"Terima kasih."


***


"Mulailah sekarang, J*l*ng kecil. Aku tahu kau punya kemampuan bersandiwara yang bagus."


Perempuan berambut pendek itu menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Lelaki tua dari seberang sana sungguh merepotkan.


"Akan kulakukan, Brengsekk! Diamlah, sebelum aku mengirimmu ke neraka tempat j*l*ngmu berada. Kau pasti akan bahagia bertemu dengannya."


Lelaki tua dari seberang sana terkekeh. Terdengar sangat menyeramkan baginya.


"Kau tidak akan berhasil membunuhku sebelum aku membalaskan dendamku pada atlet brengsekk itu. Laksanakan saja tugasmu, J*l*ng!"


"Sialan," umpatnya. "Akan kupastikan kau menemui ajalmu setelah itu, Lauren. Kau lebih brengsekk lagi daripadanya."


"Oh, sekarang kau membelanya? Jangan berpikir untuk berpindah haluan, Angelina. Aku akan mencari dan menemukanmu dimanapun kau berada. Pengkhianat harus musnah dari muka bumi ini."


"Berusahalah semampumu, Sialan. Kita akan melihat siapa yang berani melawan serigala Madrid."


Perempuan itu memutuskan sambungan sepihak tanpa peduli umpatan yang keluar dari mulut Lauren.


"Come on, Carissa. Kau pasti bisa bersandiwara," ucapnya seraya mengelus dada.


Perjalanan panjangnya kini dimulai. Bersandiwara untuk melakukan suatu misi, menghancurkan kehidupan orang yang telah mengganggu kehidupannya.


Ia kini berdiri di depan pintu rumah kayu berlantai dua itu. Sambil menghela napas panjang, ia mempraktikkan cara tersenyum yang paling baik disaat tertentu. Setelah itu, ia mengetuk pintu.


Tak lama setelahnya, seseorang muncul membukakan pintu untuknya.


"Hola, José. Kita berjumpa lagi," sapanya seraya tersenyum.


"Carissa?" José terkejut.


"Aku memotong rambut panjangku, José."


"Bukankah kau harus berada di Madrid? Orang tuamu mengizinkanmu kembali ke sini?"


Carissa terkekeh. "Kemanapun aku pergi tidak ada yang bisa menghalangi, José. Kau tidak akan membiarkanku masuk? Aku kelelahan dan juga merindukan Sue. Aku mendapat kabar bahwa dia sudah melahirkan."


José mengangguk membenarkan.


"Masuklah, Nyonya berada di lantai atas."


"Gracias. Kau terbaik, José."


.


Bang Silver : kencengin poinnya biar aku kembali merumput yaa😁



Sue : dukung bang Silver-ku ya, dia lagi banyak pikiran😂 bingung harus kembali merumput apa bersama baby Al.



.


***


Love,


Xie Lu♡