Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 14



Happy reading!


.


***


Merayu ibunya agar mengizinkannya tinggal di mansion Silver bukanlah hal yang mudah dilakukan Diego. Kekeraskepalaan Diego nyatanya menurun dari sang ibu.


"Ayolah, Mommy, itu hanya sebentar. Setelah Uncle Sil selesai latihan dalam ajang Piala Dunia, aku pasti akan kembali padamu."


"Aku bilang tidak tentu saja tidak, Igo!"


"Mommy ..., aku akan menurut padamu. Aku janji!"


"Kau selalu mengingkari janjimu, Igo. Mommy tidak akan percaya lagi padamu."


Menyesal bukanlah sesuatu yang baru bagi Diego. Dia selalu mengucapkannya, tapi mengulangi kesalahan yang sama.


"Come on, Mommy, ini hanya sementara waktu. Kau bisa menjengukku di sana jika kau mau."


"Tidak. Pergilah tidur, ini sudah malam. Besok kau harus ke sekolah."


"Mommy ...," rengeknya lagi, memeluk erat leher Bertha. "Aku janji tidak akan mengecewakanmu. Aku memang tidak pernah menepati janjiku, tapi itu dulu. Sekarang aku berusaha untuk berubah, demi seseorang."


Bertha memukul pelan kepala putra tunggalnya, menariknya agar menghadap dirinya. "Kau menyukai anak Silver? Apa kau gila?"


"Ini mutlak, Mommy. Perasaan itu wajar, bukan? Bahkan Uncle Sil sudah merestui kami."


Memijit pangkal hidungnya, Bertha menatap sayu manik cokelat yang sedang menunggu jawabannya itu. Tidak disangka, putranya yang masih sangat kecil itu mengatakan suka pada seorang bayi.


Bertha tersenyum miris, rumah tangganya pernah hancur. Dia khawatir terhadap Diego.


"Apa kau yakin dengan itu? Kau masih kecil, Igo, bahkan umurmu baru saja menginjak lima tahun. Manusia berubah begitupun perasaan yang bisa berubah-ubah. Terlebih lagi kau memang tidak bisa diandalkan dalam hal menepati janji. Aku tidak yakin kau bisa menepati janjimu itu."


Seraya mengerucutkan bibirnya, Diego mencium pipi Bertha sekilas. "Aku berjanji untuk ini, Mommy. Jangan khawatir, ok?"


"Ck, kau tidak bisa kupercayai."


"Mommy ...."


"Tidurlah. Jangan sampai bangun terlambat."


Masih belum menyerah, Diego menarik Bertha ke kamarnya. Kemudian ia menguncinya dari dalam saat melihat Byla mengintip dari kamarnya.


"Apa Mommy ingin aku bersama serangga kecil di kamar sebelah? Aku tidak menyukai dia, Mommy. Dia pandai bersandiwara, seperti kekasihnya Uncle Rod. Berpura-pura menyukaiku untuk mencuri pekerjaan rumahku, dia menjijikkan."


"Diego!" Bertha mengingatkan Diego agar tidak berbicara sembarangan. "Tidak pantas mengatakan itu."


Ia juga tahu bahwa anak Lidya selalu mengikuti Diego ke manapun ia pergi, dan ia melihat Diego membentaknya. Bahkan Byla sampai menangis karenanya.


"Itu benar, Mommy. Aku pernah melihat wanita itu bertelpon dengan seseorang yang bukan Uncle."


"Tidak baik berbicara seperti itu, Igo. Jaga perasaan Uncle-mu, dia mencintai Lidya."


"Huh!" Diego menghembuskan napasnya kasar, mengatakan kejujuran pada ibunya memang menyebalkan. Dirinya selalu dikira mengada-ada dan asal menebak. "Serangga kecil pengganggu itu juga sama dengan ibunya," sungutnya masih kesal.


"Diego!"


"Aku ingin tinggal sementara di rumahnya Uncle Sil."


"Pergilah dan jangan pernah kembali lagi!" ancam Bertha. Ia tahu, senakal-nakalnya Diego, dia tetap patuh dan menghormatinya sebagai ibu. "Dan juga, jangan cari aku jika kau tak pernah menemukanku lagi!"


"Mommy!" teriak Diego histeris melihat Bertha hendak keluar. Ia menangis sambil memeluk ibunya, berharap Bertha tidak keluar dan menemaninya. "Jangan pergi, aku tidak akan membantahmu lagi."


"Apa kau bisa menepati janjimu?"


Diego mengangguk, "Aku janji," ucapnya sungguh-sungguh.


"Baiklah, kalau kau benar-benar bisa menepati janjimu, mungkin aku berubah pikiran."


Sambil mengusap air matanya, ia menengadah. "Kau bisa memegang janjiku, Mommy. Aku tidak akan mengingkarinya. Jangan tinggalkan aku!"


***


"Sil, bangun. Ini sudah pagi, tidak baik tidur terlalu lama."


Hanya hembusan napas yang menanggapinya. Silver tertidur sangat pulas bahkan Sue sampai kewalahan membangunkannya.


"Sayang, bangun!"


Ia menepuk pipi Silver, berharap lelaki itu terbangun. Namun, sudah banyak cara ia lakukan dan itu tidak berpengaruh.


"Mungkin kau akan bangun dengan cara licik ini," gumam Sue.


Dengan senyum miris, ia mellumatt bibir Silver dan sesekali menggigit kecil.


"Bangun, Sayang. Kau harus bekerja hari ini."


"Hm."


Hanya satu kata itu dan Silver kembali tertidur. Sue menghembuskan napas kasar, ternyata membangunkan bayi besarnya yang lebih susah jika dibandingkan dengan bayi kecilnya.


"Apa?" tanya Sue bingung. Ia langsung melupakan apa yang baru saja ia lakukan.


"Sarapan pagi."


"Hah?" Ia bertambah bingung.


"Sarapan pagiku," ucap Silver seraya membuka matanya dan itu bersamaan dengan Sue yang jatuh di atasnya.


"Astaga! Sil!"


Seringai iblis tercetak di bibirnya, dengan telunjuknya ia menunjuk bibirnya sendiri. "Berikan aku ciuman selamat pagi lagi."


Mengingat apa yang dilakukannya tadi, pipi Sue merona merah. Ia nekad mencium Silver demi membangunkannya dan itu sebuah kesalahan sekarang.


Ia terpojok, tangan lelaki itu sudah mendekapnya erat, menempelkan tubuhnya di dada Silver yang liat.


"Berikan aku ciuman, setelah itu kau bisa bebas dari penjara ini," ujar Silver ketika Sue terus memberontak dalam dekapannya.


"Astaga, Sil!"


"Ayo lakukan!"


"Aku harus bangun."


"Tidak, seperti ini saja."


Silver membenamkan wajahnya di dada istrinya yang kenyal. Menghirup aroma khas wanita yang dicintainya.


"Sayang, berikan aku sekali saja. Jika tidak, aku tidak akan berhenti sampai nanti."


Sue terbelalak, Silver tidak pernah main-main dengan perkataannya. Apa yang diucapkannya, itu yang akan dilakukan.


"Oke, kau harus bangun dulu," rayunya sedikit gugup.


Ia meremass rambut Silver saat lelaki itu menaruh tanda di belahan dadanya. "Sayang ...."


"Cium atau aku akan melakukan yang lebih dari ini."


Meski ingin kabur dari sana, Sue tetap tidak bisa bergerak. Tangan Silver terlalu erat mendekapnya.


Perlahan, ia menurunkan pandangnya. Melihat bibir tipis yang selalu menyiksanya dengan kenikmatan. Tangannya membelai lembut wajah tampan tanpa jambang itu.


Hingga jarinya berhenti di atas bibir yang menggoda. Ia menelan ludah kasar, jika diperhatikan dari dekat seperti ini, bibir itu benar-benar seksi. Apalagi ditambah senyuman menggoda, sungguh dunia Sue teralihkan. Ia tidak tahan untuk tidak menciumnya.


"Jangan terus menyentuhnya, Sayang. Manjakan dia!"


"Eh?"


Sue menarik tangannya dengan cepat. Menangkup wajah suaminya, Sue menyatukan bibir mereka.


Ciuman itu lembut, penuh cinta dan kerinduan. Sesekali Silver meringis menahan sesuatu hingga tangannya lepas kendali. Ia membalikkan badannya dan menindiih istrinya.


"Maaf, Sayang, ini benar-benar memabukkan," bisiknya parau.


Pipi Sue memerah malu. Tangan Silver terus menyentuh bagian favoritnya, dengan perlahan membuka gaun yang dipakai istrinya.


"Sil, kau harus bekerja."


"Aku pemiliknya, Sayang."


"Tapi--"


"Sstt! Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, Istri kecilku."


Dipanggil seperti itu benar-benar membuat Sue berdebar. Ia memeluk Silver dan membalas ciuman itu tak kalah ganasnya.


Keduanya bergulat di sana untuk beberapa saat sampai sebuah tangisan mengganggu.


"Sil, berhenti! Stop!"


"Sebentar lagi, Sayang. Sedikit lagi ...."


"Ah, Sil ...."


Merasa dirinya akan mencapai puncak kenikmatan, Silver tersenyum.


"Oke, aku akan mengakhirinya, Sayang."


Napasnya tersengal-sengal, ia mencium kening istrinya penuh cinta. "Te amo (Aku mencintaimu)," bisiknya dan mengecup bibir Sue.


"Sudah seharusnya."


.


***


Love,


Xie Lu♡