
Happy reading!😊😘
Hati-hati! Banyak adegan kekerasan!
.
*****
Berakhirnya Sue di ranjang milik sang Tuan, merupakan awal dari kekejaman Silver. Bukan hal manis yang didapatkan, namun sebuah penderitaan terselubung penuh drama yang selama ini ditutupi idolanya.
"Kau tidak melupakan pria ini, bukan? Dia sepupuku, anak dari kakak lelaki ibuku, yang kutugaskan untuk mengambil toko tidak berguna milikmu. Oh ya, namanya Gregor Di Vaio."
Silver memperkenalkan pria bermanik abu pelaku penggebrakan toko bunga miliknya dengan nada sinis. Mulut Sue tidak dapat berkata-kata, hanya air mata yang mengalir, menandakan bahwa ia masih mendengar kalimat Silver yang membuat dadanya sesak.
Ia tidak terkejut lagi mendengar fakta itu setelah ia tahu siapa idolanya sebenarnya. Seorang yang punya pengaruh melakukan apapun.
Gregor berdiri tanpa ekspresi seperti malam itu, membiarkan Silver yang berbicara. "Aku datang tepat waktu, menjadikan diriku pahlawan kesiangan bagi seekor binatang sepertimu, anak seorang pembunuh."
Ia berjongkok, menarik dagu Sue dan mencengkramnya. "Jangan lupakan keadaan pria tua Jerome itu. Dia berada di bawah kendaliku. Dia pembunuh sekaligus seorang pengecut, tidak bisa menyelamatkanmu dari genggamanku. Ayah yang tidak berguna, bukan?"
Silver menarik rambutnya, menurunkannya dari ranjang itu sehingga kaki jenjangnya menginjak serpihan beling. Rasa sakit, pedih dan kecewa menyesakkan dadanya. Bulir air matanya kembali jatuh, menyisakan bengkak di kelopaknya.
Lebam di sekujur tubuhnya bertambah lagi. Sejak semalam, Silver tak henti-hentinya memukul, menampar, mencekik dan menendangnya layaknya sebuah bola.
Tangan dan kakinya diikat, ia jatuh tersungkur dengan beling sebagai alasnya. Darah segar menguncur dari kulitnya yang terluka, menambah sesak di dalam dadanya.
"Aku akan memberikanmu hadiah yang paling berharga seumur hidupmu." Silver menggerakkan tangannya mengisyaratkan kepada penjaga agar melakukan perintahnya.
Bau anyir darah menyengat penciumannya, membuat kepalanya berdengung, menambah rasa mual yang sejak tadi ditahannya. Ia membekap mulutnya, menahan sesuatu yang hendak keluar.
Sue menghapus air matanya, mencoba tegar menghadapi kenyataan ini meski hatinya terombang-ambing menerima penyiksaan ini.
Silver berjongkok menyamakan tingginya. Ia mencekik lagi leher Sue ketika melihat perempuan itu membekap mulutnya. "Aku tidak akan membiarkanmu pingsan karena sepercik darah itu. Kau harus bisa menghadapi sesuatu yang lebih besar dari ini."
Ia memutar paksa leher Sue agar berbalik ke belakang, menyaksikan sebuah penderitaan batin yang menyiksa perempuan itu.
"Pa-pa?! Hiks... tolong lepaskan papa saya, Tuan...." Ia memegang kaki Silver, memohon supaya ia membebaskan orang berharga dihidupnya. Sesak di dadanya bertambah saat Jerome ditendang dan dipukul oleh seorang pria tua.
Silver menarik kakinya yang dipeluk erat dan menendang lagi tepat di kepala Sue. Saat itu, ia tidak berharap lagi untuk hidup, menyerah mungkin jalan satu-satunya agar ia terbebas dari penderitaan tak beralasan ini. Rasa sakit tidak dapat lagi ia tahan, bau darah dari kakinya membuat rasa mual itu kembali lagi.
Namun, seolah memiliki kekuatan magic ia kembali terduduk, memohon lagi di bawah kaki Silver berharap ayahnya tidak dilukai.
"Saya mohon, Tuan." Dengan isakan tertahan ia kembali terjatuh karena tendangan keras, membuatnya merasakan sakit di ulu hatinya.
"Sadar diri, j*l*ng kecil. Kau tidak pantas mendapatkan belas kasihan dariku. Kau dan ayahmu pantas mati, bahkan di nerakapun kalian tidak akan diterima."
Silver menariknya rambutnya, memenjarakan lehernya di lengan kokoh sang atlet. Cekikan itu sangat erat, bahkan bernapaspun rasanya ia enggan. Dengan mata sayu dan wajah penuh peluh, ia berusaha agar bisa berdiri, menahan rasa sakit di kedua kakinya.
Sakit, itu yang ia rasakan sekarang. Saat nyawanya berada di capitan lengan sang idola, ia tidak berani berontak. Berharap ayahnya tidak mengalami hal buruk.
Seringai iblis di bibir Silver kembali mengembang. Ia menarik pelatuknya dan menembak tepat di dahi Jerome.
"Tidakkkk!!!!"
Terlambat, Jerome telah pergi. Meninggalkan sakit yang teramat dalam bagi putri kecilnya.
Sekuat tenaga, di antara pecahan beling di dalam kamar itu, Sue berlari menghampiri ayahnya. "Pa-pa...."
Ia memangku kepala Jerome yang bersimbah darah. Rasa sakit dan kehilangannya melebihi rasa takutnya terhadap darah. Tangisan pilu dan menyesakkannya mengantarkan kepergian ayahnya.
Ia tidak memedulikan keadaan kakinya yang hampir putus karena luka itu, yang ia mau hanyalah menangis sesuka hatinya.
"Bunuh saja saya, Tuan. Saya akan sangat bahagia dan memohon kepada Tuhan agar anda diberi kebahagiaan jika anda melakukannya sekarang."
Silver mendekat, sepatu kulitnya bergesekkan dengan pecahan kaca di lantai itu. Ia menunduk dengan tatapan tajamnya, menyorot ke manik kuning yang dipenuhi air mata itu.
"Kau tidak akan mati semudah itu, karena aku masih belum puas bermain denganmu. Cukup hari ini aku merasakan kelegaan saat pembunuh ayahku meregang nyawa di hadapanku. Perlu kau tahu, surgaku adalah bersama-sama dengan orang yang kusayangi. Sayang sekali, ayahku dibunuh dengan keji oleh manusia tidak berguna seperti dia. Dan ibuku... Ia harus melewati masa-masa berat setelah kehilangan suami tercintanya. Kau pikir aku masih berbahagia hidup di dunia ini?"
Ia mencengkram dagu Sue, memaksa mata mereka saling menatap. "Imbas, bukan? Kau kehilangan kedua orang tuamu oleh orang yang sama." Ia terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. "Dan aku kehilangan surgaku sewaktu aku masih belum mengenal kejamnya dunia ini. Binatang ini pelakunya." Ia menarik lagi pelatuknya dan menembak mayat Jerome tepat di jantungnya.
Mata Sue terbelalak, air matanya keluar lagi. Melihat kekejaman Silver membuat matanya tidak kehabisan air bening.
"Urusi binatang menjijikkan ini segera!" perintahnya kepada para pengawal yang segera melaksanakan tugas.
Kaki Sue lemas, ia tak lagi bergerak saat mereka membawa mayat Jerome. Air matanya terus beranak sungai di pipinya. Tenggorokannya tidak bisa mengeluarkan suara. Ia hanya menatap kosong ke arah luar.
Alfonso mendekat, ia berjongkok di depan Sue. "Kau akan menyusul ayahmu, anak kecil." Ia menampar pipi Sue dan membenturkan kepalanya ke dinding. Hal itu membuat Sue kehilangan kesadarannya.
"Kapan kau akan mengurusinya, Sil?" tanya Alfonso ingin tahu. Ia berdiri di hadapan Silver, mencari tahu lewat tatapan mata hijau milik keponakannya.
"Sesegera mungkin. Bersabarlah sedikit, paman. Aku ingin menyiapkan sesuatu yang lebih menakjubkan untuknya."
Senyuman penuh kemenangan terukir di bibir Alfonso, waktunya telah tiba. "Aku menunggunya, Nak. Pastikan aku juga ikut hadir menyaksikannya," pintanya tersenyum sambil menepuk pundak Silver.
"Akan kupastikan, paman."
Silver mengalihkan pandangannya mencari keberadaan Gregor yang sejak tadi hanya terdiam. Mimik saudaranya itu tidak terbaca membuat Silver sulit mengartikannya. "Apa yang terjadi padamu?"
Gregor menatapnya tajam, dengan mengepalkan tanganya ia maju beberapa langkah agar lebih dekat. Karena tidak bisa menahan lagi amarahnya, ia meninju tepat di rahang Silver. "Setelah melihat apa yang kau lakukan kau masih bertanya apa yang terjadi padaku? Tentu saja aku tidak menyangka adik kecilku yang sangat profesional dalam bekerja harus mengotori tangannya demi sebuah dendam yang memalukan. Kau juga tidak lebih dari dia yang baru saja kau bunuh, Dominique."
Silver menyeringai sambil memegang rahang kirinya yang menjadi sasaran amarah saudaranya. "Kau tidak berbeda denganku. Kau juga membunuh keluarga gadis Amerika itu demi kepentinganmu sendiri."
.
*****