
Happy reading!😊😘
.
***
"Bagaimana kalau kita menyewa pengasuh? Kau kelelahan, Sayang."
"Tidak, ini pekerjaanku. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan menjadi seorang ibu. Lagipula, tidak ada pekerjaan lain yang bisa kulakukan di sini. Mereka yang menyelesaikan semuanya."
"Aku hanya tidak ingin kau kelelahan. Menyewa pengasuh bukan berarti kau tidak memiliki kesempatan itu."
Sue tetap keras kepala, ia menggeleng cepat. "Tidak. Kau tidak tahu bagaimana istimewanya menjadi seorang ibu yang sempurna bagi anak-anak. Aku merasakan itu."
Silver menghela napas, beberapa hari ini ia melihat Sue sering tertidur lebih awal sebelum ia pulang dari kantor dan tengah malam ia akan terbangun. Dan sekarang, perempuan itu menolak untuk mendatangkan pengasuh yang akan membantunya merawat Alita.
"Jangan khawatir, Sil. Kau kaya, bukan?"
"Uang bisa membeli apa saja, Sayang. Tapi, tidak dengan kesehatan. Aku harus bagaimana jika kau sampai jatuh sakit?"
"Itu tidak akan terjadi. Aku wanita yang kuat."
Sue tersenyum seraya menangkup wajah sang suami dan memberikan kecupan ringan di sana.
"Aku baik-baik saja."
"Astaga, apa yang baru saja kau lakukan?"
Silver menangkap pergelangan Sue saat perempuan itu hendak pergi.
"Kau membangunkan sisi Bunglon Hijau, Lita."
Senyuman manis bercampur aura maut itu membuat Sue menelan ludah kasar. Ia tahu arti senyuman menyebalkan itu. Tak akan lepas begitu saja.
"Kenapa kau melakukannya? Kau tahu aku belum bisa menyentuhmu."
Sue membalikkan badannya yang langsung didekap oleh Silver.
"Itu masalahmu, Sil. Aku tidak sedang menggodamu."
Bukan apa-apa jika Sue memulainya, tapi keadaan sekarang sangat menyiksa Silver. Menahan hasrat saat wanitanya menyentuh bibirnya.
Untuk menyalurkan kerinduannya, Silver membalikkan badan istrinya memagut lembut bibir ranum itu. Mengeksplor seluruh isi mulut perempuan yang dicintanya, melummat dan menggigit pelan.
Sue membalas ciuman itu. Ia memiringkan kepalanya, membiarkan Silver mencecap bibirnya.
Ciuman itu perlahan turun ke leher, Silver menjilat dan memberikan tanda merah di sana.
Tangan Sue yang tadinya diam kini melingkar di leher sang suami, merambat pelan di surai silver itu dan meremaasnya. Ada rasa bahagia yang membuncah di dadanya setiap mereka berciuman.
Saat Silver tidak lagi bisa menahan kerinduannya, di situlah ada pengganggu. Tangisan Alita terdengar dari dalam box seolah menyadari ada kekacauan di kamar itu.
"Aku lupa kalau kau ada di sana, Bunny."
Silver terkekeh pelan dan mengecup bibir Sue yang basah. Ia mengangkat bayi mungil itu dari sana dan memberikan ciuman bertubi-tubi sehingga Alita tertawa.
"Dasar pengganggu."
"Sil!"
"Maaf, tapi dia memang mengganggu, Sayang. Lihat saja, dia tersenyum! Dasar!"
Silver kembali mencium Alita. Aroma lembut bayi itu membuatnya nyaman. Hatinya berbunga-bunga, merasakan kebahagiaan yang tidak bisa diukur.
Meski awalnya ia hendak membiarkan Sue pergi dengan bayinya, tapi hati kecilnya menginginkan anak itu. Dan sekarang, ia memiliki keduanya.
"Jangan tersenyum jika tidak ingin aku menggigitmu, Dasar pengganggu."
Sue tertawa, dia melihat bagaimana sorot bahagia terpancar dari mata hijau itu ketika kedua pemilik warna mata yang sama itu bertatapan.
Meski bibir Silver selalu tidak bisa difilter, Sue tidak mempermasalahkannya. Ia bahagia menjadi bagaian dari kehidupan pria yang dulu dikaguminya. Menjadi ibu dari anak-anak mereka.
"Sil? Kau benar-benar menggigitnya?"
"Dia menggemaskan."
Bayi kecil itu menangis lagi. Bahkan tangisannya kini lebih keras. Hidung dan pipinya memerah.
"Aku tidak akan membantu!" teriak Sue sambil berlalu dari kamar itu.
Di tangga, Sue kembali mendengar suara tawa keduanya. Ia menggeleng, merasa pusing jika kedua ayah dan anak itu bersama. Kadang menangis, dan sebentar lagi tertawa.
Ia tidak habis pikir, Silver benar-benar menggigit dan mencubit anak kecil itu jika ingin. Dan anehnya, setelah menangis, Silver memiliki cara sendiri sehingga Alita kembali tertawa dan melupakan rasa sakitnya. Sungguh dua makhluk yang menggemaskan.
"Benar-benar aneh."
"Anda membutuhkan sesuatu, Nyonya?" tanya José yang berpapasan dengannya di tangga.
"Tolong siapkan makan siang."
"Baiklah, Nyonya. Ada menu istimewa yang diinginkan?"
"Tidak, itu akan membutuhkan waktu yang lama. Aku lapar."
José tersenyum. Ia bahagia, Silver mendapatkan istri yang menyayanginya. Melengkapi kekurangan dan membuatnya perlahan meninggalkan kebiasaan buruknya.
***
Sue cepat-cepat menghabiskan makanan di dalam piringnya saat mendengar panggilan Silver dari atas. Suara tangisan Alita nyaring terdengar. Rupanya kali ini Silver tidak berhasil membujuk anaknya.
Ia setengah berlari menaiki tangga. Napasnya terengah-engah.
"Sayang ...."
Silver menyengir. Ia merasa bersalah telah mengganggu makan siang istrinya.
"Sepertinya dia lapar."
Sue mengerucutkan bibirnya. Ia tidak yakin itu alasan Alita menangis.
"Kau menggigitnya lagi?"
Hanya kekehan pelan yang menjawabnya.
"Lita?!"
"Kau harus menerima balasan!"
"Jangan memancing keributan, Sayang."
"Aku tidak memulainya, Sil. Kau tidak tahu bagaimana Alita saat malam hari. Ia terus menangis dan membuatku lelah. Saat siang haripun kau selalu membuatnya menangis dan tidak memberikanku waktu untuk beristirahat."
Silver mulai tersulut emosi. Mata hijaunya kini meredup, amarah menguasai.
"Suelita!" bentaknya keras.
"Apa?! Kau akan membunuhku?"
Air matanya jatuh bersama isakan yang mulai terdengar. Silver memutar tubuhnya dan mendapati istrinya sedang menangis.
Saat tangannya hendak menyentuh pipi sang istri, Sue menepisnya.
"Jangan menyentuhku!"
"Lita!"
Sue menghapus air matanya kasar. Ia mengambil alih Alita dari gendongan Silver dan memberikan makanan untuk bayi kecil yang rewel itu.
Merasa bahwa Silver keluar, Sue menangis lagi.
"Daddy menggigitmu lagi, ya? Maafkan Mommy yang memarahi Daddy-mu. Dia menyebalkan."
Seolah mengerti, Alita tersenyum. Tangan mungilnya menggapai-gapai wajah Sue.
"Mommy baik-baik saja, Sayang. Jangan khawatir, hanya sedikit kesal padanya."
Silver yang berdiri tidak jauh dari sana, melihat bagaimana dua orang yang sangat dicintainya berbagi perasaan.
Dengan penuh penyesalan, ia mendekat dan duduk di samping istrinya. Ia meletakkan dagunya di pundak Sue dan memeluk pinggangnya.
"Sil?"
"Maaf, aku membentakmu, Sayang."
Sue terdiam mencerna perasaannya. Ia tidak marah karena bentakan itu, tapi perbuatan Silver yang membuat Alita menangis yang sangat menyebalkan.
"Aku juga minta maaf."
"Kau tidak salah, Sayang. Aku yang salah karena tidak mengerti tentangmu."
Sue menyikut perut Silver. "Kau menyebalkan."
"Aku tahu. Jadi, dimaafkan?"
"Tidak. Kau harus menggendongnya lagi. Hilangkan juga warna merah di pipi dan hidungnya."
Silver melongo. Pikirannya terbang jauh entah ke mana.
Ia mencoba menelpon Arthur, pria itu yang sudah berpengalaman mengurus anak. Naasnya, jawabannya sungguh menyebalkan.
"Kau yang membuatnya, jadi kau harus bertanggungjawab. Jangan limpahkan semua tugasmu padaku! Aku harus menyelesaikan tugas yang lain!"
Silver merasa kesal. Ia mencoba bernegosiasi pada istrinya, tapi Sue tidak memberi reaksi apapun.
Karena tidak menemukan ide lagi, akhirnya ia membuka perlengkapan mandi Alita dan menemukan sesuatu di sana. Ia tersenyum puas.
"Sayang!!"
Ia mencari istrinya dan menemukannya di kamar sebelah, yang dipersiapkannya untuk Alita setelah besar nanti.
"Sayang!"
Sue membuka matanya dan terbelalak melihat wajah Alita.
"Silver!!! Kau apakan anakku?!"
"Aku tidak menemukan apapun, hanya ini cara tercepatnya."
Sue menahan marah dan rasa kesalnya. Ia ingin tertawa juga, tapi mulutnya tidak tega. Alhasil, ia tertawa dengan air mata yang menetes.
"Kau habiskan semua bedaknya, Silver!"
"Warna merahnya hilang."
"Sungguh konyol! Kau benar-benar mencurigakan."
Silver menyeringai tipis. Ia menghabiskan hampir setengah dari botol besar bedak putih milik Alita. Yang penting warna merahnya tertutup, begitu pikirnya.
Sementara itu, di tempat lain tepatnya di sebuah rumah megah bergaya klasik kuno, seorang lelaki tua memerhatikan selembar gambar seorang pria muda sedang menggendong seorang bayi kecil.
Wajah pria itu tersenyum bahagia sementara sang istri berjalan di sisinya. Rupanya, gambar itu diambil saat Silver dan Sue pulang dari rumah sakit.
"Kaupun harus kehilangan kebahagiaanmu, Dario. Ini baru permulaan karena kau telah menghabisi putri kesayanganku, Peyton Mapelli."
Lauren Mapelli, ketua federasi sepakbola Brazil itu mengetatkan rahangnya. Ia meremas foto itu dengan kilatan amarah di matanya.
"Putrimu tidak ada artinya di dunia ini!"
♡❤♡
♡❤♡
.
***
Love,
Xie Lu♡