
Happy reading!😊😘
.
*****
"Tutup mulutmu!"
Teriakan Silver menggema saat Sue hendak muntah di hadapannya lagi. Kemarahannya karena kecurigaan itu mereda karena tidak mendapati seorangpun di sana. Namun, kecurigaan itu tidak sepenuhya hilang saat Sue menutup mulutnya dan masuk ke kamar mandi.
"Jangan masuk ke sana! Kau pasti ingin berbicara dengan pria itu lagi 'kan?"
Sue terhenyak, Silver masih saja mengatakan hal konyol itu.
"Berhenti!!"
Sue tetap tidak memedulikan, ia masuk ke sana dan berusaha memuntahkan isi perutnya.
"Aku menyuruhmu berhenti, j*l*ng! Jangan masuk ke sana!"
Karena tidak bisa menahan kemarahannya, Silver menyusul ke kamar mandi dan menarik rambut Sue.
"Kau hebat telah mengabaikan perkataanku."
"Ma-maaf..., Tuan. Saya mual."
"Jangan mencari alasan untuk lolos dariku. Kau tidak akan kemanapun."
Sue menunduk menghindari tatapan maut Silver yang akan membunuhnya. Kebingungan melandanya, Silver terlihat sangat aneh. Kemarahannya yang terlihat sangat konyol karena alasan itu.
"Saya mengerti, Tuan," ujarnya pelan sambil menautkan jemarinya menahan ketakutan.
"Bagus. Jangan berpikir untuk lari dariku karena aku bisa menemukanmu sekalipun kau pergi ke planet Neptunus."
Silver mendekat dan membuat Sue otomatis mundur. Ia semakin ketakutan saat punggungnya bersandar di dinding sementara Silver semakin mendekat padanya.
"Ja-jangan, Tuan. Saya bau...."
"Apa yang kau pikirkan, j*l*ng?"
Seringai iblis itu muncul lagi saat Sue menunduk. Tangannya bergerak melepaskan tali tanktop yang dipakai Sue. Ia menahan kemarahannya ketika merasakan tubuh Sue menegang oleh sentuhannya.
"Kau menginginkan sentuhanku, j*l*ng."
Ia menyeringai. "Buka pakaianmu!"
"A-apa?"
"Cepat lakukan!"
"I-iya, Tuan."
Perlahan Sue melepaskan tali tanktop yang dipakainya.
"Apa tanganmu puntung? Dasar lamban!"
Silver berteriak sambil merobek pakaian tipis itu. "Cepat!"
Tangan Sue gemetar, ia merasakan hawa panas menyergap di dalam kamar mandi yang sempit ini. Ia melepaskan hot pants yang dipakainya namun menyisakan pakaian dalam.
"Buka semuanya!"
Dengan tangan gemetar ketakutan, Sue kembali melakukannya. Silver menarik tangannya membuatnya meringis.
*****
Sue menahan malu ketika Silver berucap, "Aku menyuruhmu mandi bukan menidurimu, j*l*ng!"
Tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang menjadi tontonan buat pria itu. Seringai iblis tercetak jelas di bibirnya yang seksi.
"Aku tidak akan menidurimu saat tubuhmu bau."
Sue hanya bisa melakukan apa yang diinginkan Silver. Ia membersihkan dirinya dengan Silver yang terus mengawasi. Ia kikuk dan sesekali melirik dengan sudut matanya.
"Aku tahu aku tampan, tidak perlu melirikku seperti itu."
"Dasar arogan," gumam Sue.
"Apa? Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak, Tuan."
"Bagus, selesaikan kegiatanmu. Kau harus menjadi berguna malam ini karena aku bersusah payah menyuruhmu mandi."
Sue bergidik mendengar suara penuh intimidasi dan kearoganan Silver. Ia berusaha mempercepat gerakan tangannya dan segera membilas tubuhnya.
"Keluar!"
Sue menurut. Ia mengenakan piyama tidur dan merebahkan diri di ranjang. Entah apa yang dilakukan Silver, pria itu terlalu lama di kamar mandi.
Tak selang beberapa lama, Silver keluar dengan wajah pucat dan rambut acak-acakan dari sana.
"Menyingkir dari sini!"
"Ba-baik, Tuan."
Sue beranjak pergi, tetapi tangannya dicekal.
"Tetap berbaring di sampingku," pintanya pelan.
Sungguh suatu keanehan, Silver seperti seorang yang penyakitan. Mata hijaunya terpejam, membiarkan Sue berlama-lama menatap bibir yang selalu mengeluarkan hinaan baginya. Kini, bibir itu pucat tak berwarna.
Ia memberanikan diri menyentuh kening Silver.
"Tidak panas," gumamnya.
"Aku tidak sakit," ketus Silver membuat Sue terkejut.
"Maaf, Tuan."
"Berbaringlah, berikan aku pelukan!"
Sue melakukannya. Ia menahan gejolak aneh di dalam dadanya. Ia merasa ada yang berbeda dengan Silver. Sejak tadi, ia marah-marah padanya. Sue ingin sekali bertanya, namun ia merasa tidak pantas melakukannya. Ia hanya bisa memeluk Silver seperti yang dipinta pria itu.
"Jangan bangga karena kau bisa memelukku. Ini adalah kesempatan terakhir dalam hidupmu sebelum kematian menjemput."
Sue menegang. Perkataan Silver membuat aliran darah di dalam nadinya berhenti. Pelukannya merenggang sehingga Silver berdecak.
"Peluk aku lebih erat! Lakukan seperti kau memeluk kekasihmu!"
"Sa-saya tidak pernah punya kekasih, Tuan."
"Berhenti menyahut! Peluk dengan erat!"
Silver membenamkan kepalanya di dada Sue ketika pelukan itu semakin erat. Sepertinya Sue memeluknya sekuat tenaga.
"Maaf, Tuan."
Sue mengendorkan pelukannya.
"Apa José tidak memberimu makan? Tenagamu tidak berguna!"
Sue kebingungan. Ia tidak tahu apa yang diinginkan pria itu.
"Peluk lagi, jangan terlalu erat."
"Jangan pakai kakimu!"
"Maafkan saya, Tuan!"
"Lakukan saja dengan benar kalau kau ingin aku memaafkanmu."
"Saya mengerti, Tuan."
Tangan Silver memeluk pinggangnya erat sampai ia lupa bagaimana caranya bernapas.
"Bernapaslah! Atau kau ingin mati?"
"Ti-tidak, Tuan."
"Astaga, kau sangat kurus. Pakai kakimu! Dan tanganmu, usap kepalaku!"
Sungguh menyebalkan! Seorang pria sekejam Silver berkelakuan aneh padanya. Mulut dan perilakunya tidak sejalan. Mungkin otaknya sedikit bergeser.
"Jangan melamun! Usap kepalaku!"
"Baik, Tuan!"
"Jangan mengacak rambutku!"
"Ma-maaf."
"Lakukan dengan benar!"
Sue mengelus kepalanya pelan, berhati-hati agar rambut peraknya tidak berantakan.
Tangan Silver menelusup ke dalam piyama kebesaran itu. Sue menegang. Ia ingin sekali menepis tangan yang bergerak semaunya itu.
"Jangan berhenti mengelus kepalaku. Lakukan sampai aku tertidur."
"Ma-maaf...."
Tangan Sue berhenti mengelus saat Silver mengangkat kepalanya dan memberikan sebuah kecupan di perutnya. Sue kembali menegang dan memelototkan matanya. Ia ketakutan.
"Aku bilang jangan berhenti, j*l*ng! Lakukan lagi!"
Sue menelan ludahnya kasar. Perasaannya aneh saat Silver menyentuh perutnya. Ada sedikit kenyamanan dalam dirinya, tapi ketakutan lebih mendominasi.
Berkali-kali Silver menyentuh dan memberikan tanda kemerahan di perut Sue yang masih datar itu. Entah disengaja atau tidak, Silver memberikan banyak tanda di sana seolah ia mengetahui sesuatu.
"Jangan berhenti melakukannya, peluk aku lebih erat!"
Sue melakukannya.
"Pakai kakimu!"
Sue menghela napas, merasa kesal terhadap pria itu.
"Kenapa kau menghela napas seperti itu? Kau ingin mati?"
"Ma-maaf...."
"Berikan aku ciuman!"
Sue ragu, ia tidak mungkin melakukannya. Ia tahu Silver tidak pernah menginginkan dirinya. Dan sekarang, Silver memintanya memberikan sebuah ciuman.
"Lakukan!"
Secepat kilat, Sue mengecup pipi Silver dan cepat-cepat menarik wajahnya.
"Lakukan dengan benar. Di sini!"
Sue memelototkan mata tidak percaya.
"Tu... tuan...."
"Jangan protes. Kau milikku!"
Sue menempelkan bibirnya di bibir Silver dan segera menarik bibirnya setelah sedetik kemudian.
"Ciuman bukan kecupan!"
Sue memutar bola matanya, Silver seperti ibu hamil padahal dirinya yang sedang hamil.
"Cepat, selagi aku masih memperlakukanmu dengan baik!"
Sue gelagapan, ia kembali menempelkan bibirnya lama. Ia menahan napasnya karena tak kuasa menolak debaran jantungnya yang menggila.
Mata Silver tidak lepas dari wajah mulus milik perempuan yang mengecupnya. Wajah itu ketakutan, terbukti keringat dingin mulai muncul dari anak rambutnya.
Tangannya tanpa sadar terangkat menyeka keringat itu. Lalu menariknya kembali setelah ia melihat mata kuning itu terbuka.
"Cium dengan benar!"
Sue melepaskan penempelan bibir keduanya. Ia menatap takut-takut pada Silver. Matanya tidak berkedip sedikitpun.
"Kenapa kau menatapku? Berikan aku ciuman bukan kecupan!"
Sue terdiam.
"Apa kau tidak tahu bagaimana caranya berciuman?"
Sue menggeleng.
"Kau menyebalkan, j*l*ng!"
Silver menarik tengkuknya dan menciumnya dengan penuh amarah. Ia menggigit bibir bawah milik Sue sehingga bibir itu berdarah.
"Kau masih takut darah, bukan? Aku akan menjadikan ketakutan itu senjata yang menghantuimu seumur hidup. Seperti kau dan ayahmu yang telah menghantui hidupku seumur hidupku."
.
*****
Love,
Xie Lu♡