Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 8



Happy reading!😊😘


.


***


Silver masuk terburu-buru ke kamar Alita yang terletak di samping kamarnya. Kabar bahwa Carissa kembali ke sana membuatnya khawatir. Ia tahu perempuan itu adalah bagian dari rencana Max, antek-antek yang berkedok pelayan. Pandai beladiri dan seorang pembunuh keji.


Melihat Carissa menegang di tempat meyakini kecurigaan Silver. Entah apa lagi yang akan dilakukan mafia itu nanti padanya.


"Hola, Carissa. Selamat datang kembali," sapa Silver dengan wajah datarnya.


"Monsieur, maaf, saya datang ke sini tanpa izinmu. Tapi, Nyonya mengizinkan saya menjaga Nona Alita."


Silver mengangguk mengerti.


"Bagaimana keadaan ayahmu?" tanya Silver berbasa-basi.


"Baik-baik saja, Tuan. Semuanya berkat Anda."


"Oh, apa tidak ada pekerjaan di Madrid sehingga kau memutuskan kembali ke sini?"


Carissa tersenyum penuh arti. Matanya menatap penuh arti ke dalam bola hijau zamrud itu.


"Keluarga saya di sini, Tuan. Tempat ternyaman yang pernah saya tinggali adalah rumah ini beserta orang-orangnya. Saya harap, Tuan tidak keberatan mengizinkan saya berada di sini."


Lelaki itu tersenyum sinis. Pandai bersandiwara juga, gumamnya dalam hati.


"Tidak masalah jika istriku mengizinkanmu. Tapi, ingat, aku mengenalmu Carissa Angelina atau siapapun dirimu yang lain, Evil Angel."


Perempuan itu tersenyum tipis, mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Tidak salah lagi kalau Anda adalah pemimpin Bunglon Hijau yang sangat ditakuti, Tuan Dario. Matamu cermat."


Silver menyeringai buas, mata hijaunya menajam bak pedang yang siap menikam musuh.


"Kau benar. Karena siapapun yang berani menyentuh milikku akan musnah tanpa jejak."


Carissa terkekeh. Ia tentu saja paham akan itu. Pekerjaannya selalu berhadapan dengan orang-orang yang seperti ini sebelum dikirim ke mansion Silver setahun yang lalu.


"Itu tidak akan terjadi tanpa kode yang tepat, Tuan."


Bersamaan dengan itu, Sue masuk ke sana menginterupsi percakapan mereka dengan membawa nampan berisi camilan sore. Silver dan Carissa mengaktifkan mode on wajah ceria dan penuh senyuman. Sungguh, aktor yang sangat hebat.


"Dimana Julie? Kenapa kau yang membawanya ke sini?" tanya Silver cemas.


Sue mengangkat bahu acuh, tak peduli dengan suaminya.


"Lita?"


"Aku menginginkannya. Menyajikan susu hangat untuk suamiku yang baru pulang kerja."


Carissa yang menjadi pengganggu di sana berpamitan untuk keluar. Menjadi nyamuk Aedes Aegypti di sini sangat tidak bagus, begitu pikirnya.


"Kenapa kau mengizinkan wanita itu menjaga anakku? Aku khawatir dia mencelakai Alita."


Sue tersenyum penuh makna, tapi Silver berpura-pura tidak mengerti.


"Apa?" tanyanya dengan mengangkat sebelah alis.


"Kau sungguh tidak peka. Dia pernah menyelamatkanku waktu kekasih keritingmu menyerangku. Aku berpikir ada baiknya jika dia juga menjaga Alita. Dia pandai berkelahi," jelas Sue bersemangat. Sampai ia tak menyadari bahwa dirinya sekarang berada di pangkuan Silver.


Lelaki itu sibuk mencium aroma memabukkan di tubuh istrinya tanpa mendengar ocehan di bibir mingil itu. Ia menaruh dagunya di ceruk leher sang istri, mengingat kembali perkataan Carissa yang mengganggu pikirannya.


Itu tidak akan terjadi tanpa kode yang tepat!


Rahangnya mengetat, ia menduga bahwa perempuan berambut pendek itu akan mencelakai anaknya.


"Sil? Sayang?"


Sentuhan tangan Sue mengembalikan kesadarannya. Tangannya yang tadi mengepal dilonggarkan.


"Sil? Apa yang kau pikirkan?"


Mengerjap pelan, Silver tersenyum. Bibirnya bermain-main di area leher yang mulus itu. Entah apa yang dilakukannya di sana, hanya ia dan Tuhan yang tahu.


"Aku hanya merindukan keadaan seperti ini lagi sampai tidak fokus mendengarkanmu, Sayang."


Sue mencubit tangan yang kembali bergerilya di tubuhnya. "Yakin hanya itu?"


"Hm."


"Sil?"


"Hm?"


"Sil?"


"Hm?"


"Hei! Apa kau tidak bisa menjawabku dengan benar? Jawaban dari bibirmu selalu seperti itu."


Silver terkekeh seraya memindahkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Jangan berisik, nanti Alita bangun. Aku ingin seperti ini sebentar saja. Sudah lama aku tidak memiliki momen berdua denganmu."


Wanita itu mengelus kepala suaminya. Ia menatap lekat wajah yang membuatnya jatuh cinta. Rahangnya yang tegas, mata hijaunya yang menghipnotis, dengan garis bibir yang menawan.


Sungguh sebuah keajaiban baginya menjadi istri dari pria yang banyak dikagumi wanita itu.


"Sepertinya kau banyak pikiran, katakan sesuatu."


Sue tidak akan membiarkan Silver tahu tentang paket yang datang tadi pagi. Melihat suaminya yang terpejam di pangkuannya cukup menguatkan alasannya untuk terus menutupi dan membuang barang yang ia tidak tahu apa isinya.


"Ternyata aku sudah bertambah tua, Sayang." Silver terkekeh, tangannya melingkar di pinggang Sue dengan kepala menghadap perut istrinya. "Jauh darimu seharian ini membuat usiaku berkurang lagi."


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Sil. Aku mengenal dirimu. Jangan menyimpan sesuatu yang membuatmu tidak fokus. Aku di sini mendengarkanmu."


"Aku tahu, Sayang. Karena itulah aku memelukmu. Rindu ini terobati oleh aroma tubuhmu."


"Sil?"


"Kenapa, Sayang?"


"Apapun yang terjadi, ingatlah aku di sini yang setia menemanimu. Melangkah bersama menembus kerikil yang menghalangi."


"Aku mencintaimu."


***


"Halo, Uncle. Aku datang lagi!"


Silver menoleh, mendapati sosok anak kecil dengan gaya sok cool bersandar di pilar pintu. Wajah tengil Diego membuat Silver menggerutu.


"Kenapa kau datang ke rumahku? Kau tidak diizinkan masuk! José, usir dia!"


Tidak menghiraukan ocehan Silver, Diego masuk dan duduk di sebelahnya. Anak kecil itu langsung mengambil camilan yang sedang ia nikmati.


"D'antonio!"


"Ayolah, Uncle. Jangan marah-marah, ini masih pagi. Apa kau kurang tidur semalam?"


Silver mendengus. "Apa urusanmu?"


"Tentu saja menjadi urusanku karena Uncle memarahiku tanpa alasan yang jelas."


"Kedatanganmu di sini menjadi penghalang."


Diego yang hampir menelan makanan itu tersedak. Ia terbatuk-batuk mendengarnya. Orang tua mesum, begitu pikirnya.


Dengan malas, Silver menyodorkan gelas susu miliknya dan diteguk Diego sampai tandas.


"Kau menghabiskan susu milikku, D'antonio! Itu buatan istriku!"


Diego mengedikkan bahu acuh. Tidak peduli.


"Apa maksud Uncle 'menjadi penghalang'? Aku hanya datang dan duduk saja di sini, tidak menghalangimu melakukan sesuatu."


"Kau paham, Anak kecil. Pulanglah ke rumahmu, kau pasti kabur lagi 'kan?"


Anak kecil itu mendelik padanya. Seolah berkata, "kau sangat suka memfitnahku!"


"Ada yang salah kalau memang seperti itu? Aku datang ke rumah pacarku sendiri!" ketusnya yang berhasil membuat Silver menjitak kepalanya.


"Anakku masih kecil, sialan. Kau juga masih belum lulus sekolah. Dasar bocah!" cibir Silver.


Dengan senyum tengilnya, Diego berhasil menggoda Silver.


"Masih kecil?" gumamnya keras agar didengar oleh lawan bicaranya. "Aku menganggap ini restu darimu, Uncle. Kau secara tersirat mengizinkanku menemui pacarku."


Perkataan itu berhasil membuat Silver memelototkan matanya. Ia menendang kaki kecil Diego sehingga pemiliknya meringis.


"Berani sekali kau mengatakannya pacarmu! Aku tidak akan mengizinkannya bersama anak kecil ingusan sepertimu!"


"Ucapanmu tidak dapat ditarik kembali, Uncle. Terima kasih! Aku berhasil mengalahkanmu! Setelah lulus, aku akan membawa pacarku dari sini!"


Dengan riangnya, Diego berlari ke kamar Alita yang berada di lantai dua tanpa menghiraukan kakinya yang masih sakit akibat tendangan Silver.


"Diego! D'antonio! Sialan, anak kecil sialan!" umpat Silver dari tempatnya.


"Bagaimana kalau itu benar-benar terjadi? Aku tidak bisa meremehkan ular cerdik itu. Putriku tidak kuizinkan bersama pria berbahaya sepertinya. Tapi, perkataanku itu tidak bisa kutarik kembali. Sial, kenapa aku harus mengatakannya? Bodoh!"


"Kau cantik jika terus menggerutu seperti itu, Dominique!" ledek seseorang yang baru saja masuk.


"Kau?! Kenapa kau membawa anak kecil itu ke sini, sialan?"


Yanh ditanya hanya mengedikkan bahunya acuh. Pertanyaan itu seharusnya sudah memiliki jawaban tersendiri di kepala Silver tanpa bertanya padanya.


"Dia berulah?"


"Ya, berhasil merebut putriku. Sungguh sial!"


Tawa Rodrigo pecah. Ia tahu setiap kali Diego mengajaknya ke sini adalah mengecoh Silver dengan obrolan konyol.


"Aku tidak menyangka kau akan dikalahkan calon menantumu sendiri."


"Dia bukan calon menantuku, tapi calon penghuni neraka."


"Itu tidak akan terjadi, Uncle, eh- Papa mertua!"


"D'antonio sialan!"


Rodrigo hanya tergelak di tempat seraya memegangi perutnya yang keram. Menyaksikan pertangkaran keduanya sungguh pemandangan yang menyenangkan di pagi hari setelah Lidya mengusirnya tadi.


"Aku mencintaimu, Uncle!"


"Menjijikkan!"


"Tapi, aku lebih mencintai pacarku! My Angel!" teriak Diego yang melihat Sue menuruni tangga diikuti oleh Carissa yang menggendong Alita.


Ketika kakinya hendak berlari menghampiri, tangan Silver terlebih dulu menahan kepalanya hingga ia tidak bisa bergerak.


"Uncle, come on, My princess is coming," rengeknya manja seraya mengedipkan matanya ke arah Silver dengan tangan yang memeluk perut Silver dan menggelitiknya.


"Sialan!" Ia melepaskan Diego.


"Sil!" panggil Rodrigo, dia menoleh.


Kode yang diberikan Rodrigo dipahaminya. Ia menganggukkan kepala.


.


♡❤♡



♡❤♡



.


***


Love,


Xie Lu♡