Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 53



Happy reading!😊😘


.


"Di setiap tetes air matanya yang jatuh, aku dapat melihat mentari yang tersenyum cerah. Dalam kesedihan, aku melihat bibirnya tak henti mengucap syukur. Sebuah senyuman indah tak pernah pudar dari wajah malaikatnya." Silvester Dominique Dario


*****


Lantunan melodi indah mengiringi gerakan kaki sepasang pengantin itu. Silver menggerakan kakinya diikuti sang istri. Ya, Sue menginjak kakinya.


Dengan senyuman yang tidak pudar dari bibirnya, Silver terus menarik pinggang perempuan itu agar semakin rapat padanya. Sesekali ia meringis tidak ingin Sue mengendorkan pelukan itu.


"Kau harus belajar berdansa sayang, kau tidak bisa menginjak kakiku setiap ada acara."


Sue menunduk dengan wajah yang sudah pasti merona. Setiap kalimat yang diucapkan Silver mampu membuat degup jantungnya bertambah. Meski pria yang berstatus sebagai suaminya itu belum mengatakan kata cinta, Sue merasa bahagia mengingat momen dimana keduanya saling bertukar janji.


"Tuan, aku lelah."


Silver melepaskan pelukannya dan mengangkat Sue ke atas meja di sana.


"Berhenti memanggilku seperti itu, sayang. Kau istriku."


Silver menempelkan keningnya di kening Sue dan menatap manik kuning itu. Ketika perempuan itu memalingkan wajahnya, Silver mengecup pipinya.


"Kenapa? Apa kau malu? Pipimu memerah, Lita."


Sue sangat gugup. Menahan semua rasa tersanjungnya, ia memberanikan diri bertanya kepada Silver.


"Um... aku ingin bertanya...."


"Apa yang ingin kau ketahui?" Silver mengecup bibir yang merah itu.


"Semuanya...."


Silver terkekeh kemudian memulai ceritanya.


"Aku mengancam kakakmu akan melukai kekasihnya jika dia tidak memberikanmu padaku."


Sue diam mendengarkan meski hatinya sedikit berdenyut sakit mendengar alasan utama ia bisa menikah dengan pria ini.


"Pada awal aku meminta restunya, Max sangat marah padaku sampai ia memukulku berkali-kali. Lihat, wajahku tampak jelek jika tidak menggunakan make-up. Pukulan kakakmu lumayan juga," kekeh Silver sembari mengenang saat dimana ia menemui Maxwell.


"Dia tidak percaya padaku bahwa aku mencintaimu. Ya, aku memang mengakui itu. Mengingat semua luka yang ku berikan padamu, semua orang tidak akan percaya pada apa yang ku ucapkan. Bullshit 'kan?"


Sue menatap manik hijau itu. Ada kepedihan dan penyesalan di sana. Dia menerka bahwa apa yang dikatakan Silver benar adanya. Menyadari itu, pipinya kembali merona.


"Itu kenyataannya, Lita. Aku mencintaimu sejak awal. Rasa sakitku di masa lalu yang membutakan mata hatiku. Aku menyakitimu dan berharap rasa itu terbunuh. Namun, Tuhan punya rencana lain. Dia membuka mataku dan melihat kebenaran di dalam diri malaikatmu."


"Aku meyakinkan Max untuk menikahimu. Sebenarnya aku ingin melakukannya pada Tahun Baru nanti. Tapi, setelah dipikir-pikir tidak baik menunda hal baik. Dia berpikir aku bodoh, Lita." Silver terkekeh.


"Max hendak membawamu ke Spanyol bersamanya tapi aku mengancamnya."


Sue diam mendengarkan. Ada rasa lega ketika tahu bahwa Max peduli padanya. Setidaknya masih ada orang yang mencintainya di dunia. Lama ia terdiam hingga tak mendengarkan apapun yang diceritakan Silver.


"Lita! Kau mendengarku?"


Sue masih tediam.


"Sayang," lirih Silver seraya menggigit telinganya membuat Sue tersadar dari lamunannya. "Apa yang kau pikirkan?"


Sue menggeleng dan menunduk dengan bibir bawah yang terlipat menahan senyum.


"Aku ingin istirahat, Tuan."


"Astaga, Lita. Berhenti memanggilku seperti itu. Panggil namaku!"


Bibir Sue kelu. Ia terbiasa memanggil Silver dengan sebutan Tuan karena ia tahu batasannya. Dan sekarang ia dipaksa melakukannya.


"Gerakkan biburmu, sayang. Panggil namaku!"


"S-si...."


"Lagi, sayang."


Sue menggeleng.


"Panggil namaku atau aku akan memakanmu di sini!"


"Astaga, Silver...."


Sue terkejut dengan kata yang keluar dari bibirnya. Matanya melotot melihat seringai mesum di bibir Silver.


"Hentikan...."


"Hentikan apa, sayang?"


Bibir keduanya beradu. Saling mencecap merasakan hangatnya malam itu. Membelai hati mereka yang sama-sama hangat oleh kerinduan. Mengutarakan rasa yang tak sempat diucapkan oleh mulut.


"Aku punya kejutan untukmu!"


Sue menatapnya dengan tatapan bertanya.


"Follow me!"


Silver langsung menarik tangannya keluar dari area pesta. Tak lupa beberapa bodyguard mengikuti mereka.


"Kita akan ke mana?"


*****


Max mencari-cari keberadaan pasangan pengantin itu tetapi ia tak menemukannya.


"Mungkin mereka sedang istirahat, sayang."


Seorang wanita cantik nan anggun yang menggandeng lengannya itu menerka.


"Adikku hamil, Lana. Dia tidak boleh melakukan itu malam ini. Aku akan menghentikannya."


"Astaga, Max. Bukan itu maksudku, kau selalu berpikiran mesum," kekeh Alana. "Mungkin saja Sue lelah dan beristirahat. Wanita hamil tidak bisa berdiri terlalu lama, sayang." Alana mengecup pipi Max yang ditumbuhi jambang itu.


"Aku tidak bisa membiarkannya membuat adikku lelah. Silver sialan itu harus ku hentikan."


Alana terkekeh. "Kau berpikiran buruk terhadapnya, Max. Mereka sudah sah sekarang. Kau tidak berhak lagi mengganggu dan melarang apa yang seharusnya mereka lakukan dalam hubungan mereka. Apa kau juga ingin diganggu saat berduaan denganku?"


Pertanyaan itu spontan membuat rahang Max mengeras. "Tentu saja tidak. Aku pastikan untuk membunuh siapapun pengganggu itu."


"Begitupun dengan mereka, sayang. Hentikanlah, biarkan mereka beristirahat."


"Bukan itu maksudku, Lana. Aku ingin bermalam di rumah kayunya ini."


Alana memutar bola matanya jengah. "Kau seperti anak kecil."


Perdebatan keduanya terhenti saat Rodrigo menghampiri.


"Aku pikir kau tidak akan datang, Tuan Montaña."


"Pesta temanmu tidak akan berlangsung tanpa kehadiranku."


Rodrigo terkekeh pelan lalu menarik tangannya yang diulurkan tadi.


"Kau benar. Sayang sekali, sebelum pesta berakhir keduanya sudah tidak ada di sini."


Merasa bahwa ada seseorang yang mendekat, Max terdiam menunggu bisikan orang itu selesai.


"Sial!" umpat Max. "Tinggallah bersamanya, sayang. Dia teman Silver, jangan khawatir dia tidak akan bisa menyentuhmu. Aku punya urusan mendadak." Max melepaskan cekalan tangan Alana yang melingkar di lengannya.


"Kau mau kemana?"


"Ini tentang sialan itu."


"Silver?" tanya Rodrigo.


"Kau ingin ikut?"


Keduanya meninggalkan Alana dan Lydia di tempat yang sama.


*****


"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Sil. Kau mencintaiku."


Silver terkekeh mengejek. "Kau hanya j*l*ng tidak tahu diri, Phyton. Aku sudah menikah dan istriku adalah dia."


Silver mengeratkan pelukannya di pundak Sue yang bergetar.


"J*l*ng itu? Aku tidak menyangka kau masih memiliki muka untuk merayu kekasihku, j*l*ng! Kau lebih menjijikkan dari kotoran!" teriak Peyton menggema di malam hari di lereng gunung itu.


Kaki dan tangannya diikat dan ia dipaksa berlutut tepat di hadapan pengantin itu. Air matanya tidak mengalir. Yang ada hanya amarah yang terlihat jelas di sana.


"Aku akan membunuhmu, j*l*ng! Dan kau, Sil, kau tidak akan bisa membunuhku karena aku bisa menggegerkan dunia dengan statusmu yang istimewa itu!"


Silver menyeringai seraya memainkan pistol di tangannya. "Aku takut, Phyton. Tapi sayang, kau terlambat. Aku telah menemukan apa yang kau sembunyikan itu dan membunuhmu adalah hal yang terakhir setelah kau menunduk dan mencium kaki istriku!"


Peyton terdiam sejenak lalu seringai iblis tercetak di bibirnya. "Kau tidak mungkin menemukannya, Sil. Aku menggunakan keamanan tingkat tinggi." Peyton tertawa dengan wajah yang tidak dapat diartikan. "Aku tidak akan menunduk pada binatang menjijikkan sepertinya."


"Kau j*l*ng tidak tahu diri, Phyton. Kalau kau tidak mau melakukannya terpaksa aku harus membunuhmu."


Saat Silver mengarahkan pistol itu di kepala Peyton, perempuan keriting itu terduduk lemas. Ia takut mati konyol sebelum menjauhkan perempuan itu dari sisi Silver.


"Maafkan aku, Sue. Aku bersalah."


Silver tersenyum miris sedangkan Sue tambah bergetar. Sendi kakinya seolah terlepas dari tempatnya.


"Ikuti perkataanku! 'Sue adalah wanita terhormat. Dia jauh berada di atasku dan aku adalah binatang menjijikkan.' Katakan!"


Dengan ketakutan, Peyton mengulangi perkataan Silver.


"S-sue... adalah wanita terhormat.... D-dia jaub berada di atasku dan aku... aku... aku adalah...."


"Lanjutkan!" bentak Silver dengan pistol yang masih menodong kepala Peyton.


"Dan... aku... adalah bi-binatang... menjijikkan."


"Pintar." Silver tersenyum. "Sayangnya, kau terlambat satu detik dari waktu yang ku hitung. Dan waktuku adalah emas. Jadi, selamat jalan, Phyton."


Satu tarikan pelatuk dan peluru itu tertanam di kening Peyton.


"Aww...."


Sue berlari menjauh. Ia tak mengiraukan panggilan Silver.


"Sayang, tunggu aku!"


Namun, Sue terus berlari. Sesekali kakinya terantuk dan ia hampir terjatuh. Ia mengangkat gaun putih itu dan ia berusaha menjauh dari Silver.


Sekalipun langkahnya cepat, tetapi kecepatan berlari Silver lebih darinya hingga pria itu menangkapnya.


"Apa kau akan meninggalkanku, Lita? Aku mohon, jangan pergi! Tetaplah bersamaku, berikan aku kesempatan untuk merubah semuanya. Sayang...."


Air mata Sue mengalir dengan deras. Hatinya hancur. Seketika tubuhnya menegang ketika Silver merosot ke bawah dan bersujud di kakinya. Ia tak menyangka seorang Silvester berlutut di bawah kakinya.


"Jangan tinggalkan aku, Lita. Aku mohon...."


Sue terus terisak dalam diamnya. "Tuan... bangunlah...."


Silver terkekeh dalam tangisannya. "Kau masih memanggilku seperti itu, Lita."


Sue terus menangis. Ia mengusap air matanya kasar saat Silver tetap memeluk kakinya. "Bangunlah, Sil."


"Maafkan aku, Lita. Jangan tinggalkan aku sendiri."


Saat itulah pertahanan dirinya rapuh. Sue menangis tersedu-sedu. Ia segera duduk di pangkuan Silver dan mencium bibir pria itu. Bibir keduanya kembali beradu dengan air mata yang menetes.


"Apa artinya kau memaafkanku?"


"Berhenti melakukan hal menakutkan seperti itu lagi."


Silver tersenyum. "Apapun untukmu, sayang."


THE END


.


.


.


Netizen : kok end thor


Author : ho'oh, si silver kan udah berlutut tuh.


Netizen : oh.... ada musim kedua gak? kok gue penasaran ya sama anaknya sue cewek apa cowok. ntar gue bisa tau gimana reaksi silver kalo diego benar-benar nagih tu janji kalo anaknya cewek


Author : bakalan ada kok. pernikahan kan bukan akhir dari cerita tapi awal perjalanan kisah mereka.


Netizen : kapan thor


Author : tunggu aja yang penting lu kagak unfavorite aj biar notifnya dapet kalo gue update


Netizen : nanti anaknya cewek apa cowok thor


Author : rahasia, gue gamau lu tau ntar kagak jadi kejutan lagi🙄 kan lu ember bocor


Netizen : jahaddd lu


Author : bodo amat


.


*****