Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 14



Happy reading!😊😘


.


*****


Tangan kurus dan lentik itu menari dengan lincah di atas kanvas, mencoret-coret kuas itu dengan cat berwarna gelap, membentuk sebuah lukisan yang hanya bisa diartikan olehnya. Sesekali ia mengusap air mata yang hampir jatuh, berusaha untuk tetap tersenyum.


"Hentikan, Netta. Kau bisa pingsan lagi kalau memaksakan dirimu." Maria Charlotte -teman sekaligus managernya- merebut kuas yang terjepit di sela jari Paula.


"Kemarilah, aku hampir menyelesaikannya." Paula berusaha merebut kuas yang diangkat tinggi oleh Maria. "Ayolah, jangan mempermainkanku. Ini hadiah terakhirku untuk Sil, aku ingin hasilnya sempurna."


"Dasar bodoh. Perhatikan dirimu, kau harus sehat, Salmonetta."


Paula mengerucutkan bibirnya. "Aku baik-baik saja, apalagi kalau kau pergi dari sini." Ia menengadahkan tangannya, meminta kuas itu. "Menjauhlah!"


"Tidak, sebelum kau bangun dan istirahat."


"Oh astaga. Kau membuatku pusing, Maria." Ia memijit pelipisnya, merasa pusing harus berdebat setiap hari dengan Maria. "Baiklah, setelah aku menyelesaikan ini."


"Tidak." Maria menyembunyikan kuas itu di belakang punggungnya. "Kau harus istirahat. Ingat perkataan dokter Jannis."


"Hei... Aku tidak mungkin mati sekarang, Maria. Dia bilang aku masih memiliki waktu yang banyak." Maniknya redup, seperti bola lampu yang kehabisan daya. "Ah ya, bisa saja dia mengatakannya karena ingin aku lebih dekat dengan gadis kecil itu."


Maria menatap iba wajah yang semakin kurus itu, kulitnya bertambah gelap tapi pucat, dan helaian rambutnya selalu berkurang. "Ayolah, jangan membuatku menanggung rasa bersalah padamu. Dengarkan aku sekali ini saja, selebihnya terserah padamu."


"Kau selalu memakai jurus itu, Maria," ujarnya sambil terkekeh. "Tidak mempan lagi. Kembalikan, sebelum aku benar-benar kesal."


"Dasar keras kepala." Ia melempar kuas itu yang langsung dipakai oleh penerimanya. "Jangan salahkan aku kalau aku memberitahu Dom."


"Kau mau mati?"


"Setidaknya kau bisa beristirahat."


"Aku selalu melakukannya, Maria."


Maria terdiam sejenak, memutar bola matanya malas. "Apa kau tidak ingin memberitahu kekasih liarmu itu? Dia akan membunuhku kalau sampai ia tahu."


Gerakan melukis Paula terhenti, menoleh memandangi wajah sayu sang teman, ia membuang napasnya pelan. "Dia baik-baik saja. Kau tidak lupa dia siapa, bukan?" tanyanya sambil terkekeh pelan.


"Ya, aku tahu. Tapi kau tega meninggalkan aku? Kau harusnya menjalani terapi, Netta. Aku tidak bisa memandangi wajah pucatmu itu setiap hari, kau tampak seperti mumu." Ia mengusap kasar bulir air mata yang jatuh.


Paula melengos, tidak tahan menatap mata yang berkaca-kaca di depannya. "Pergilah. Berhenti membahas ini, kau mengganggu pekerjaanku."


"Setidaknya demi dia, Salmonetta. Kau harus bertahan sebentar saja." Ia menunjuk dengan dagunya ke arah perut Paula yang datar, pemiliknya langsung mengelusnya.


"Aku sudah bilang akan beristirahat setelah ini, Charlotte." Suara Paula tercekat, ia nekad memanggil nama temannya dengan nada kasar. "Jangan pernah membuka mulutmu."


*****


"Siapa dia, Dominique?" Tangan keriputnya menunjuk pada wanita tua yang menatapnya tajam, seolah menahan amarah yang terpendam. "Sepertinya dia mengenalku." Ia tersenyum samar.


"Oh ya? Aku rasa dia mata-mata milik seseorang. Kau mengenalnya, paman?"


Alfonso menggeleng, tatapannya datar tanpa ekspresi. "Aku rasa dia yang mengenalku."


Wanita itu tertawa mengejek. "Kau pandai bersandiwara, Tuan Di Vaio."


Alfonso menegang, membalas tatapan tajam wanita itu. "Aku tidak melakukan apa-apa." Ia memangkas jarak di antara mereka, membungkuk dan membisikkan sesuatu.


Silver mengerutkan dahinya, aneh melihat dua manusia yang termakan usia itu saling berperang lewat sorot mata. "Apa yang paman lakukan?"


Alfonso menegakkan tubuhnya, menetralkan mimiknya. "Aku ingin bermain lama dengannya, Sil. Kau benar, dia memang mainan yang bagus."


"Hahaha... Aku tahu paman pasti akan menyukainya. Seringlah kemari jika butuh udara segar."


"Pergilah, aku masih ingin melepaskan penat."


Kepergian Silver membawa angin segar bagi Alfonso. "Kau akan menyusul anakmu jika itu terjadi, Tere. Jangan bermain denganku." Ia menepuk pipi yang sudah menunjukkan keriputnya.


Wanita tua itu -Teresa- terkekeh. "Aku memang sangat merindukannya. Tidak ada ibu yang rela ditinggal sendirian oleh putra mereka." Ia membalas tatapan tajam manik abu itu.


Alfonso tersenyum miris. "Aku akan mengabulkannya di waktu yang tepat, Tere. Bersabarlah, aku masih ingin bermain."


"Well, semoga Tuhan memperpanjang umurmu."


"Aku selalu panjang umur. Tidak ada alasan bagiku untuk menua." Ia menipiskan bibirnya. "Karena aku harus menyaksikan kematianmu terlebih dahulu."


"Aku pastikan kematianku membawa kesialan bagimu, Alfonso." Teresa dengan sengaja meludah di wajah keriput Alfonso.


Alfonso menamparnya, mencengkram dagunya. "Dasar wanita rendahan, kau pikir dirimu siapa? Ingatlah, kau hanya pemanas tempat tidurku dulu."


Teresa tergelak, menyembunyikan amarahnya yang tiba-tiba memuncak. "Dan kau pembunuh!"


"Yang akan membunuhmu, j*l*ng sialan." Ia memelintir tangan kanan Teresa, memutarnya ke belakang. "Nikmatilah neraka barumu, Teresa." Ia membuat retak tulang tangan Teresa.


Sementara itu, Silver kembali mengendarai mobil Mercedes Benz silvernya, menuju lapangan tempat dirinya merajut hobi.


*****


Carissa terus menggedor pintu kecil penjara bawah tanah itu, semangkok bubur gandum bertapa di atas telapak tangannya.


"Sue...."


Tidak ada sahutan. "Suelita...."


"Astaga, apa yang dilakukan perempuan kurus itu semalam? Apa dia tidak tidur? Kakiku pegal berdiri terus." Ia terus mengomel, mengeluarkan kekesalannya pada pemilik rambut pirang itu.


"Suelita!" teriaknya lebih keras membuat penjaga di sana melototkan mata padanya. Ia menyengir.


Ia menggedor lagi, memanggil lagi dengan suara keras, tetapi hasilnya tetap sama. Ia mulai cemas, mencoba menggedor lagi.


"Astaga, aku bisa mati pegal di sini. John!" teriaknya pada salah satu penjaga di sana. "Bukakan pintu ini untukku!"


Penjaga itu tidak bergeming, ia berdiri tegap layaknya patung manekin, membuat Carissa tambah kesal. "Sialan, buka pintu ini! Aku harus pastikan keadaannya." Ia menendang pintu itu dengan keras.


Ia mencoba lagi, memanggil penjaga yang lain meski hasilnya tetap sama. "Sial, siapa yang mengunci pintu ini? Bagaimana aku memberikan bubur ini padanya? Akhhh...." Ia menyugar rambutnya frustasi.


Ia menghentak-hentakkan kakinya, kembali ke luar mencari kepala pelayan. "José!"


"Kenapa kau berteriak, Carissa?" tanya José yang baru saja turun dari atas.


"Berikan aku kunci cadangan untuk penjara bawah tanah."


"Apa kau gila? Kau pikir aku pemiliknya?"


"Sial, lalu bagaimana ini? Dia pasti kelaparan di sana," gumamnya.


"Apa?"


"Tidak, aku mengunjungi seseorang di sana tapi pintunya tidak bisa dibuka."


"Suelita?"


Carissa terkejut. "Bagaimana kau tahu?"


"Hanya dengannya kau seperti itu, Carissa. Tenanglah, dia pasti bersama Tuan Silver."


"Tuan Silver baru saja pergi, makanya aku memberanikan diri ke sana."


"Mungkin dia kelelahan," tebak José asal.


"Kelelahan? Dia pasti akan menjawabku meski dengan gumaman. Aku punya firasat buruk padanya."


José tergelak, pikirnya Carissa mengada-ada. "Kau seperti seorang ibu mengkhawatirkan anaknya."


"Sial, kau tidak membantu sama sekali." Ia mengerucutkan bibirnya. "Dimana aku bisa mendapatkan kunci cadangan?"


"Pemilik penjara."


"Yang benar saja, kau akan menangisiku hari ini juga kalau aku mati di tangan Bunglon Hijau." Ia memegang tangan José, meminta agar dibukakan pintu itu. "Ayolah, José. Hanya kau yang bisa membantuku. Dia pasti kelaparan, sejak kemarin ia tidak makan apapun."


José melepaskan tangan Carissa, mengibaskan tangannya menyuruh gadis itu pergi. "Selesaikan pekerjaanmu, jangan mengusik apapun milik Tuanmu!"


Tatapan tajam milik José membuat Carissa beringsut mundur, ia paham bahwa tidak ada yang berhasil. Ia berlari, menuruni tangga menuju tempat itu lagi.


Ia mendobrak pintu kayu itu sekuat tenaga, berulang-ulang sampai tenaganya hampir habis.


"Apa yang kau lakukan?" teriak salah satu penjaga itu, ia mendekat dan memegang Carissa.


Carissa mulai gelisah, pikirannya tidak fokus lagi, membayangkan hal buruk menimpa Sue. "Buka pintu ini untukku, sialan."


Karena penjaga itu tidak bergerak, ia meronta dan menarik sebilah pisau kecil dari sakunya. "Buka!" teriaknya.


Penjaga itu memutar bola matanya melihat gelagat murahan Carissa. "Jangan menakutiku, gadis kecil. Aku tidak akan takut pada benda murahan itu."


"Buka saja pintunya, sialan. Aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu padanya."


Karena malas berdebat, akhirnya penjaga itu memilih mengalah. Ia mengambil kunci yang sedari tadi dititipkan seseorang padanya.


Carissa langsung masuk, menabrak punggung besar si penjaga.


"Suelita!!!"


Ia berteriak histeris melihat Sue yang terkapar di lantai dengan busa keluar dari mulutnya.


*****


Jejaknya sayang!😄😘