Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 9



Happy reading!😊😘


.


***


Diego yang terus menempel bagai perekat di tubuh Sue membuat Silver uring-uringan. Kakinya tidak henti melangkah dan menjitak kepala anak kecil itu.


Sayangnya, jitakan itu tidak membuat Diego menyerah. Ia malah semakin gencar menggoda Silver.


"Uncle- ups! Sorry, Papa mertua. Lihatlah, Princess tersenyum lagi padaku!"


"Sialan, anak kecil itu sungguh menyeramkan!" gumamnya frustasi. "Kenapa kau tidak pulang saja bersama pamanmu?"


Diego yang sedang mengelus pipi Alita itu menoleh dan tersenyum sinis.


"Ada serangga pengganggu di sana."


"Kau juga pengganggu di sini, bukan serangga tapi ular pengganggu yang sangat licik."


Anak kecil itu tergelak. Senyuman tengilnya sungguh menyebalkan.


"Aku menantumu, Papa mertua."


"Menantu?! Aish, sial. Dalam mimpipun kau tidak akan mendapatkannya."


"Kau sudah merestuiku. Sudah lupa?" Diego menyeringai. "Biarkan aku mengingatkannya."


"Cukup! Hentikan! Kau merebut waktuku bersama anak dan istriku."


Sue yang menyaksikan perdebatan itu hanya tergelak di tempat. Wajah Silver memerah karena kesal sementara Diego terus menyerang dengan gaya sok coolnya.


"Aku tidak melakukannya. Kau bisa bersama Aunty dan pacarku di sini. Kita duduk bersama, menjadi keluarga yang bahagia. Bukan begitu, Aunty?"


Diego mengedipkan mata, membujuk Sue agar berpihak padanya.


"Terserah," jawab Sue yang masih terkikik geli.


"Sayang ...," panggil Silver. "Apa kau sudah memihak pada pengganggu ini?"


"Aku tidak tahu. Tapi, melihatmu seperti itu sungguh menyenangkan."


"Sudah kukatakan aku bukan pengganggu, Papa mertua. Perempuan di rumah Uncle Rod yang menjadi pengganggu sehingga aku datang ke sini."


Silver yang memahami adanya Byla di sana tersenyum penuh makna. Sebuah ide terbesit di benaknya.


"Gadis itu cantik juga. Dia akan menjadi teman Alita."


"Jangan!" teriak Diego protes. "Pengganggu tidak cocok bersama My princess!"


Lelaki berumur itu menyeringai puas. "Kau yang mengatakannya sendiri, D'antonio!"


"Apa?!"


"Pengganggu tidak cocok dengan putriku."


"Berbeda denganku. Kau yang telah merestuiku, Uncle."


"Sialan," gumam Silver mengepalkan tangannya. "Sungguh licik. Bertha tidak seperti itu bahkan untuk berbohong sedikitpun dia tidak melakukannya. Apa pria Italia itu yang menurunkan bakat istimewanya kepada Diego?"


"Dia penjahat, Uncle," sahut Diego yang mendengar gumaman Silver.


"Sepertimu."


Menahan rasa ingin menangis seperti anak kecil pada umumnya, Diego mencium Alita untuk memancing perdebatan dengan Silver.


"Dia tertawa lagi, Uncle. Sei la mia vita, voglio baciarti. (Kau adalah hidupku, aku ingin sekali menciummu)."


Silver yang mengerti dengan ungkapan romantis ala Italia itu berdehem.


"Apa yang kau katakan?"


"Aku hanya memintanya tersenyum lagi. Cantik."


"Pembohong."


Diego tergelak. "Kau pandai berpura-pura, Uncle. Pantas saja Aunty tidak tahu kalau kau penjahat."


"Tidak sepertimu."


"Tentu saja, aku tampan dan baik hati, dan satu lagi 'tidak suka berbohong dan selalu menepati janji'," tuturnya membusungkan dada.


Silver berdecih. Membayangkan bagaimana gaya Diego saat sudah besar nanti sungguh membuatnya kesal.


"Tidak berbohong? Dalam kepalamu hanya kebohongan dan kelicikan, D'antonio."


Diego bangkit dari tempatnya di samping Sue dan duduk di dekat Silver. Ia menepuk pelan paha Silver yang langsung ditepis oleh lelaki itu.


"Licik? Ayolah, Uncle, itu hanya insting untuk bertahan hidup. Pandai bertahan maka hidupmu akan selamat," bisiknya pelan di telinga Silver. "Itu prinsip hidupku."


"Astagaaaaaaa ...." Silver berpura-pura berteriak agar bisikan iblis dari bibir Diego tidak mengganggunya.


Ia berpindah tempat ke samping Sue. Sayangnya, sebelum ia berhasil duduk, Diego lebih dulu sampai di sana dan menghalanginya.


"Kau tidak boleh duduk di sini, Papa mertua. Aku masih ingin berpacaran."


***


"Sayang, nyanyikan sebuah lagu untukku. Tenagaku terkuras karena anak kecil sialan itu."


Sue yang telah menidurkan Alita di tempat tidurnya itu duduk di tepi ranjang yang langsung dibawa Silver ke pangkuannya.


"Kau yang tidak memberinya waktu untuk serius."


"Dia hanya anak-anak."


"Anak-anak juga punya perasaan. Dimatanya hanya ada kesakitan, dan berdebat denganmu membuatnya mendapatkan secercah kebahagiaan."


Sue melingkarkan lengannya di leher Silver, dia menatap dalam manik hijau itu.


"Lihatlah dia dari sisi yang lain, Sayang. Tidak teman yang bisa diajak berbicara dan seorang ayah yang menyayanginya. Dia bercerita padaku bahwa dia suka berada di rumah ini."


Tidak ingin menjawab itu, lelaki itu mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di ranjang.


"Aku merindukanmu, Sayang."


"Jangan mulai, Sil. Lepaskan tanganmu! Aw!"


Tangannya gencar berkeliaran, menyentuh titik yang menjadi tempat favoritnya. Mencubit dan menggigit sehingga Sue mengeratkan pelukan di lehernya.


"No, not now!"


"Aku tahu itu sudah berakhir, Sayang. Ayolah!"


"Ini masih siang, Sil."


Terkekeh pelan, Silver berdiri dan keluar dari kamar meninggalkan Sue yang bertanya-tanya di sana.


Tak lama, pertanyaannya terjawab. Carissa masuk dan membawa Alita dari sana. Senyuman di bibir Silver mengembang sempurna.


"Tidak ada lagi siang yang mengganggu malam kita."


Sue menggeleng lemah, ia tak kuasa menghadapi suaminya.


"Kau licik."


"Ini hanya insting untuk bertahan hidup, Sayang," jelasnya yang meniru perkataan Diego.


Dan yang terjadi, terjadilah. Tidak ada pengganggu, tidak ada penolakan. Keduanya saling membutuhkan, menghapus rindu yang sempat tertulis di garis tangannya.


Suasana terasa panas bahkan pendingin ruangan tidak terasa lagi di kulit keduanya yang sudah mengeluarkan keringat.


Binar bahagia tergambar jelas di wajah mereka, senyuman tak pernah luntur. Kecupan demi kecupan dilancarkan Silver sebagai tanda terima kasih pada istrinya.


Kini Sue sadari, bercinta dengan orang yang dicintai sungguh menyenangkan. Rasa cinta di hatinya kembali membuncah. Ada ledakan di dadanya setiap kali mengingat apa yang baru saja keduanya lakukan.


"Pipimu memerah, Sayang. Apa yang kau pikirkan?"


Sue menyembunyikan wajahnya di dada Silver dan menepuk dada bidang itu dengan gemas.


"Kau menyebalkan."


Lelaki itu terkekeh. Ia mencium puncak kepala istrinya. "Aku mencintaimu."


Gemuruh benih-benih cinta kembali berhamburan di dada Sue. Kalimat itu selalu membuatnya tak berdaya. Bibir yang mengatakannya sungguh menggoda untuk dicium.


Tanpa malu-malu lagi, Sue menangkup pipi suaminya dan mengecup bibir itu.


"Ciuman apa itu?"


"Aku menagih janji yang kau buat."


Silver terkekeh dan mengecup bibir istrinya berkali-kali.


"Kau benar-benar ingin aku melakukannya?"


"Ya, kau seksi saat di lapangan."


"Aku juga seksi di ranjang, Sayang."


Sue mengerucutkan bibirnya dan mencubit perut Silver.


"Menyebalkan. Aku serius."


"Hm, aku juga serius. Kau menikmatinya."


"Astaga, lelaki tua ini," gumamnya.


"Apa, Sayang?"


"Tidak."


"Aku belum tua. Masih bisa melanjutkan babak selanjutnya sampai esok pagi, Sayang."


Seringainya menyeramkan. Itulah yang dirasakan Sue.


"Tepati janjimu sebelum itu," tantang Sue.


"Aku selalu menepati janjiku. Sekarang lanjutkan babak kedua!"


"Tidak! Itu tidak akan terjadi sebelum aku melihatmu di lapangan."


"Ayolah, untuk apa menunggu di lapangan kalau kau bisa menikmatinya langsung di sini?"


"Silverrr!"


Aksinya terhenti karena bunyi ponsel. Mengumpat pelan, ia turun dari ranjang dan memungut celananya di lantai lalu mengangkat panggilan dari Arthur.


"Kau mengganggu akhir pekanku, sialan. Katakan kabar baik!"


"Ketua Federasi memilihmu sebagai calon peserta Tim Nasional untuk Piala Dunia 2024."


"Ada alasan?"


"Hanya itu yang disampaikan Luka padaku."


"Bukan lelaki tua itu yang menelponmu?"


"Dia pemberi perintah."


"Aku akan memikirkannya."


"Kenapa ekspresimu seperti itu?" tanya Sue setelah ia selesai menutup panggilan.


"Katakan padaku bahwa ini kesempatan terbaik, Lita."


"Hm?"


"Aku mendapat peluang untuk menjadi calon peserta Timnas."


"Itu bagus. Kau memang yang terbaik."


"Aku khawatir."


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku dan anak kita bersamamu."


Keberadaan Carissa yang membuatku khawatir, Lita.


.


***


Love,


Xie Lu♡