Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 17



Happy reading!


.


***


Terik mentari sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para pria pecinta bola di lapangan. Kesehariannya adalah melahap sinar ultraviolet yang terpancar dari angkasa.


Meski bulir-bulir kristal putih berlarian di otot liat yang dilapisi kulit, kebahagiaan mereka tidak tertandingi. Wajah penuh keceriaan mengalahkan teriknya sinar itu.


Sepasang mata hijau menatap tajam ke depan dengan sebuah benda digiring oleh kaki tercepatnya. Meliuk-liuk meluluhlantakan kubu pertahanan lawan dan berusaha mencetak skor untuk timnya.


Saat sepasang kaki panjang menghalangi arah larinya, sekali lagi ia berhasil menghindar. Menjaga bola tetap di posisi mereka, Silver mengopernya pada seseorang.


Kecepatan larinya, keakuratan assist-nya masih menjadi keunggulannya dalam tim.


"Bukan suatu masalah, ayo berjuang lagi," ujarnya saat orang yang mendapat assist darinya tidak berhasil menambah jumlah skor di papan raksasa itu.


"Kau yang terbaik," puji David.


"Aku pasti akan menyombongkan diri nanti, David," kekehnya seraya merangkul David dan kembali ke posisi mereka untuk mengambil alih bola yang berakhir pada tendangan sudut.


Tendangan dari Rodrigo ditujukan padanya dan ia berhasil mendapatkannya dengan sundulan. Tapi sayang, lawan yang berdiri di samping dengan tinggi badan yang lebih darinya berhasil merebut bola itu.


Tidak ada gol, tidak ada pesta kemenangan berupa selebrasi. Tiupan peluit wasit mengembalikan mereka ke posisi.


Silver berlari ke tengah lapangan untuk mengejar bola yang jatuh di daerah lawan. Berusaha mendapatkannya dari kaki lawan dan mencetak gol sebanyak-banyaknya untuk timnya.


"Kau berusaha sangat keras, Silver. Tapi sayang, kau tidak memiliki kesempatan untuk ikut dalam ajang Piala Dunia nanti. Aku yang akan menggantikanmu," ucap Brodie, pria Inggris yang dinaturalisasi menjadi pemain Brazil.


Tidak tahu apa tujuan pria itu yang sangat berusaha menjatuhkannya, Silver tidak peduli asalkan keluarganya jauh dari gangguan. Musim liga Eropa yang lalu, Brodie masih menjadi kaki tangan Max untuk menjatuhkannya di lapangan. Silver tetap waspada mungkin saja pria Spanyol itu merencanakan sesuatu untuknya lewat perantara Brodie.


"Apa tujuanmu masuk ke tim nasional Brazil?" tanya Silver ingin tahu.


Pria berkulit putih itu tidak menjawab, ia terus menggiring bola ke daerah Silver dan berusaha menjebol gawang mereka.


"Brodie?"


"Oh, Bunglon Hijau, rupanya kau sangat penasaran. Tidakkah kau memiliki sedikit pikiran yang jernih? Aku menjalankan tujuanku tanpa harus memberitahu musuhku. Bukankah itu artinya masuk ke dalam perangkap tikus yang kau pasang sendiri jika memberitahu musuhmu?"


Silver menyeringai. "Kau benar. Meski demikian, masih ada tikus yang berhasil keluar dari perangkapnya jika kau tidak benar-benar berniat membunuhnya."


Tendangan kaki kanan pria berdarah Inggris itu lumayan akurat. Untung saja Sebastian berhasil menangkap bola yang hampir menerobos di atas kepalanya.


"Dan aku tidak berniat membiarkan tikus-tikus itu hidup."


"Sungguh mengerikan."


"Kau harus paham jika tidak ingin masuk ke perangkap yang dipasang orang lain, Caméléon."


***


Pelatihan berakhir dengan baik. Laurent selaku pelatih yang mengambil alih dalam TC itu tersenyum puas. Matanya terus melirik ke arah pria bermata hijau dan dibalas dengan sengit oleh pria itu.


Di tempat parkir yang sunyi oleh kendaraan, Silver berbalik saat seseorang menyebut namanya. "Oh, Ketua Federal? Apa yang Anda lakukan di sini?"


Laurent memasang wajah datar. "Aku memarkirkan mobilku di sini, Dario." Ia menunjuk sebuah mobil yang diparkir di sebelah mobil berwarna silver itu.


"Ah, rupanya itu mobilmu. Aku penasaran siapa pemilik mobil mewah yang terparkir sembarangan itu. Maafkan aku," ucapnya sambil terkekeh mengejek.


Laurent menanggapinya dengan sikap biasa yang sok bossy. Sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jas, ia mendekati mobil mewah miliknya itu.


"Aku mencari bayangan yang bisa menampung ukurannya. Apa kau tahu pemilik Mercedes Benz yang terlihat usang dan tua itu?" Suaranya terdengar sinis dan mengejek.


Silver terkekeh sinis. "Usang dan tua? Memang julukan itu murni untuk sesuatu yang sudah lanjut usia dan banyak pengalamannya di dunia. Dan benar, mobil ini bisa menghancurkan puluhan kendaraan lain."


Menepuk-nepuk bagian depan mobilnya, Silver menyeringai. "Aku pikir itu milik pemerintah, Tuan Mapelli. Ternyata itu mobil pribadimu ya ...."


Merasa tersindir oleh ucapan mengejek Silver, lelaki paruh baya itu mengepalkan tangannya dan Silver bisa melihat itu.


"Aku tidak memakai milik orang lain. Meski harus menabung bertahun-tahun, ini murni hasil keringatku sendiri."


Lelaki paruh baya itu menggeram kesal, merasa tertipu oleh perkataan Silver. "Aku hanya memberitahumu saja, jangan sampai kau memikirkan hal yang aneh."


Silver tergelak, dengan santai ia masuk ke dalam mobilnya. "Aku tidak akan menyimpan rahasia kita dengan baik, Ketua Federal."


Meninggalkan Laurent dalam keadaan kesal, Silver menyeringai puas setelah mengintip di kaca spion apa yang dilakukan lelaki itu.


Seperti dugaannya, ada sesuatu yang salah dengan lelaki paruh baya itu. Karenanya ia menelpon seseorang.


"Cari tahu semua pergerakan Laurent Mapelli selama ini, entah sebelum atau sesudah ia mengemban tugas negara. Laporkan secara rinci padaku!"


Di pinggir jalan yang dilewatinya, ia melihat seorang wanita tua menjual barang-barang yang menurutnya antik. Turun dari mobil, ia memerhatikan benda-benda yang dijual wanita itu.


"Ada yang kau inginkan, Monsieur?"


Menilik semua benda-benda yang djual yang kebanyakan adalah aksesoris wanita, Silver terpikat oleh satu penjepit rambut. Ia sering melihat Sue mencepol rambutnya asal. "Bagaimana dengan ini?"


Wanita tua itu tersenyum. "Kau memilih jepit rambut yang bagus, Monsieur. Istrimu akan terlihat sangat cantik dengan ini."


"Aku akan mengambil yang ini."


Saat tangannya hendak mengambil jepit rambut itu, satu benda berwarna hijau menarik perhatiannya. "Apa ini?"


"Itu giok segel milik seorang Kaisar di Cina yang dilelang dengan harga mahal di London. Kau memginginkannya, Monsieur?"


Silver memegang benda yang berbentuk daun bayam itu. "Harganya?"


"Tentu saja sangat mahal, Monsieur."


Wanita itu mengisyaratkan dengan jarinya.


"Aku kaya, Nyonya."


Wanita tua itu terkekeh. "Karena itulah aku menjualnya padamu."


"Ini asli?"


"Kau bisa mengecek keasliannya di sini."


"Tidak perlu," ucapnya sambil menolak pemberian wanita itu. Kemudian ia membayar harga benda yang dibelinya.


"Semoga Tuhan memberkatimu, Monsieur."


Tanpa berbalik, Silver melambaikan tangannya. "Dia sudah memberkatiku dengan memberikanku istri dan anak," gumamnya kemudian.


Mengingat itu, ia tersenyum. "Astaga, aku merindukan mereka."


Jalanan mulai gelap karena mentari sudah hampir habis ditelan pegunungan di ufuk barat. Entah hanya perasaannya atau bukan, ia merasa jalan yang biasanya ramai kini sedikit sunyi. Hanya beberapa orang pengendara sepeda yang melewatinya.


Merasa ada yang aneh dengan itu, ia mengambil pistolnya yang selalu tersedia di laci dasboard mobil, berjaga-jaga jika ada situasi darurat.


Belum sempat ia membelokkan mobilnya di tikungan, sebuah container menghalangi dan beruntung dia telah siaga. Melihat sopir container itu mengambil sesuatu dari sakunya, ia segera memutar arah mobilnya dan berjalan mundur.


Naasnya, sebuah mobil juga menghalanginya dari sana.


"Sial, aku dikepung!"


Terbiasa dalam keadaan yang mencekam seperti itu, Silver tidak merasa panik. Menarik napas dalam dan menghembuskannya lagi, ia menunggu aksi selanjutnya dari perbuatan orang-orang yang mengepungnya.


Ketika kaca belakang pecah karena sebuah tembakan, Silver menunduk dan melancarkan aksi balasan. Dengan mengandalkan kaca spion depannya, ia menembak mobil di belakangnya.


Dan satu tembakan juga dari sopir container di depannya menghancurkan kaca spion miliknya.


"Ck, cara murahan. Kau membayar pembunuh yang telah kutumpaskan, Laurent. Aku terbiasa dengan hal ini," gumamnya menyeringai.


.


***