Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 31



Happy reading!


.


***


"Ini pasti ulah Mom. Aunty Sue tidak mungkin melunak saat tahu aku bersalah."


Mata cokelatnya tidak berkedip, menatap dalam gambar wanita yang disayanginya. Tersenyum memandang kamera, dia mengambil gambar itu saat melihat ibunya berada di taman bunga yang luas. Tempat cantik dan menggembirakan bagi wanita, mengisi kekosongan mata dengan keindahan yang diberikan Pencipta.


"Terima kasih, Mom, tapi aku tidak akan berhenti sampai di sini saja. Aku harus menuntaskan tugasku di sini baru bisa menemuimu dan menepati janji."


Kaki kecilnya melangkah disertai dengan jari yang menekan layar ponsel dan memanggil seseorang.


"Tunggu aku di tempat yang ku katakan, Profesor Caesar."


Dengan sedikit berlari, Diego pergi ke belakang mansion. Dia berusaha tidak mengeluarkan suara kaki, bahaya jika Sue mengetahuinya.


Area yang sepi dan terlihat tidak banyak orang yang peduli, Diego menghentikan langkahnya. Dia membuka gulungan rumput yang seperti tikar dan sebuah tangga menghubungkan dengan jalan setapak di bawah tanah.


Sebuah jalan rahasia yang diberitahukan Silver, jalur yang menghubungkan dengan hutan lebat di arah barat. Jalur tersembunyi yang dipakai pada saat tertentu.


"Profesor Caesar, apa kau sudah di sana?"


Seperti bisikan, dia takut ada yang mendengar meski tidak ada penjaga yang berkeliaran.


"Aku sudah di sini sejak tadi, Tuan Kecil."


Lelaki tua yang murah senyum itu menaiki tangga. Diego bisa melihat, meski penampilannya telah habis dimakan usia, tapi kekuatan profesor tua itu tidak lekang oleh waktu.


"Kau harus menyelesaikannya malam ini juga, Profesor. Aku khawatir tidak ada lagi hari lain."


Diego membawa Profesor Caesar ke sebuah ruangan. Berbagai perlengkapan laboratorium dan medis tersedia, lengkap dengan bahan-bahan uji coba.


"Kau pernah mencobanya, Tuan Kecil. Apa tidak berhasil?"


Profesor Caesar memerhatikan beberapa formula yang dibiarkan berantakan di meja, jelas bahwa seseorang baru saja melakukan praktek. Dan hasilnya gagal.


Diego menyengir, itu tidak segampang meledakkan kepala orang. "Aku belum mengerti dengan formula yang kau jelaskan."


Profesor tua berambut uban itu mengangguk paham. "Di mana persediaan yang aku minta?"


Diego mengambil kantong yang dimaksud, dengan kernyitan di dahi dia memberinya pada sang profesor.


"Aku hampir digantung lagi karena mengambil darah orang-orang di sini, Profesor."


Lelaki itu tertawa, dia mengelus kepala Diego dengan lembut. "Dia mengkhawatirkanmu. Tapi aku tidak bisa menghentikanmu juga, Nak. Suatu saat kau juga akan melakukan hal yang lebih berbahaya lagi, itu sudah menjadi kewajiban seorang penerus tahta."


Diego menatap lelaki itu tajam, mulutnya mendesiskan kalimat agar diam. "Kau tidak perlu menyinggung statusku, Profesor Caesar, hanya perlu menyelesaikan apa yang aku minta."


Diego tidak ingin mendengar kalimat itu, tapi juga memang menjadi takdirnya. Tidak bisa lari dari kenyataan bahwa sang raja memang akan menduduki kursi kekuasaan dan menguasai seluruh negeri.


Memang tidak ada yang perlu ditakutkan, hanya saja mendengar kalimat yang menggema langsung seperti itu membuat tidak nyaman.


"Bagaimana dengan bagian yang kau sebutkan, Tuan Kecil? Di mana persediaan yang khusus?"


Kaki kecil itu berlari lagi, menuju sebuah laci untuk mengambil satu benda kental berwarna merah.


"Hanya kami bertiga, Carissa juga tidak boleh," ucapnya. "Ambillah darahku."


Matanya menyipit merasakan perih ketika benda berlidah tajam itu menusuk kulitnya. "Kenapa jarum suntik sangat sakit?"


"Tidak sesakit terkena tembakanmu, Tuan Kecil," ucap profesor itu terkekeh.


Dia pernah menjadi sasaran salah tembak Diego saat masih berusia tiga tahun, tepat pertama kali anak kecil itu memegang pistol. Tidak ingin tertawa mengingat hal itu, tapi mulut Diego berkata lain.


Tawanya menggema, memenuhi setiap sudut ruangan yang kedap suara.


Profesor tua itu terkekeh, dia sibuk pada pekerjaannya, melanjutkan apa yang Diego minta.


"Bagaimana keadaan Kakek Tua itu, Profesor? Aku pikir dia pasti sedang menyeret kakinya dengan tongkat kecil."


Tanpa menoleh, tangan profesor itu sibuk, dia menjawab, "Kau bisa menemuinya kalau rindu, Tuan Kecil. Aku sering melihatnya sedang memerhatikan fotomu."


"Menemui?" Mulut kecilnya bergumam. "Mungkin setelah ini selesai, Profesor. Mom tidak melepaskanku kali ini."


"Sudah seharusnya pangeran mahkota menduduki tahta. Bersiaplah, ini sebentar lagi selesai."


Mata cokelat itu menyipit, menatap heran pada cairan yang sudah berubah warna dalam gelas kimia di tangan Profesor Caesar.


"Hasil yang aku punya juga seperti itu, Profesor. Bisakah kau memerhatikannya lagi?"


Keterdiam profesor membuat Diego membawa langkahnya ke sebuah ruangan kecil yang terhubung oleh pintu kaca, membuka kotak yang disimpannya rapat dan memberikannya pada Profesor Caesar.


"I-ini? Tuan Kecil ...."


Dahinya mengernyit. "Kenapa reaksimu seperti itu, Profesor? Apa artinya muka kusam itu? Berhasil atau gagal?"


Menunggu jawaban dari profesor yang selalu melihat perkembangannya itu sungguh mendebarkan, membuyarkan lamunan.


"Tidak bisa ku bayangkan, ternyata hasilnya seperti ini," gumam lelaki tua itu, wajahnya tidak berekspresi, menambah kerutan di dahi Diego.


***


Dia mengendap, mulut dan hidungnya ditutup rapat, melihat sekeliling yang dipenuhi oleh penjaga di segala sudut mansion. Tidak sulit, tapi cukup mendebarkan, apalagi jika membangunkan serigala tidur yang reaksinya tidak bisa diprediksi. Itu julukan baru oleh Diego untuk Sue.


Keamanan dijaga ketat, Max memang memastikan semuanya. Bibir merah muda itu tersenyum tipis, saat keadaan aman dia berlari kecil keluar untuk membakar sesuatu di sana.


Melihat ada api di halaman belakang, beberapa orang yang melihatnya segera berdatangan.


Belum sampai beberapa menit, orang-orang itu jatuh pingsan.


"Ternyata aku bisa membuat bius," gumamnya menyeringai.


Berlari lagi dan bersembunyi di dahan pohon kecil, Diego menyuruh seseorang yang berpakaian serba hitam untuk mengikutinya.


"Profesor, aku bisa membuat obat itu lagi nanti," bisiknya saat profesor Caesar mendekat.


"Bisakah jangan mengendap-endap, Tuan? Punggungku merasa sakit kalau membungkuk," bisik profesor tua itu yang sesaat sadar kalau dia ikut membungkuk menyamai tingginya dengan Diego.


"Aku tidak menyuruhmu melakukannya, Profesor." Diego tertawa jahil, membuka penutup kepala profesor yang mengikuti langkahnya.


Lelaki tua itu ikut terkekeh, keduanya memutari mansion untuk melakukan sesuatu.


Hingga sampai di tempat di mana Diego membakar bahan yang membuat penjaga tadi pingsan, profesor Caesar ikut duduk di sana. Membuka penutup mulut dan hoodie hitam yang menutup kepalanya.


Tanpa dia sadari, tangan kecil yang nakal dan jahil sedang bermain sesuatu. Diego melakukannya lagi, membakar benda yang membuat orang tua itu ikut terjatuh.


Diego terkejut melihat profesor tua itu tumbang, dia menghampiri. Dan tergelak mendapati fakta kalau Profesor Caesar ikut terjatuh karena obat biusnya.


"Inikah yang dinamakan senjata memakan orang yang lemah? Hahahaha ..., aku tidak menyangka kau akan terjebak dalam aroma wangi yang ku buat, Profesor Caesar."


Malam yang mendebarkan juga menjadi malam yang dipenuhi tawa bahagia, Diego menatap langit yang sudah mulai membiarkan sang rembulan keluar sarangnya.


Angin malam membawa keheningan, membuang jauh seluruh keresahan dan kekuatirannya. Sekarang aman, besok belum tentu.


.


---


Ig @Xie_Lu13