Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 48



Happy reading!😊😘


.


*****


"Aku melakukan hal yang benar 'kan, sayang?"


Silver terdiam dalam heningnya kamar itu. Kepalanya terasa sangat berat. Di satu sisi, dia ingin Peyton menyerah dengan sendirinya. Tapi, di sisi lain dia tidak tahan dengan perbuatan jahat yang dilakukan perempuan itu.


"Sayang, jawab aku! Aku melakukan hal yang benar 'kan?"


Silver menatap tajam perempuan keriting itu. "Pergi dari sini!"


"Sil, aku melakukan hal yang benar. Ingat, aku kekasihmu!"


"Pergilah, Phyton. Aku ingin menyendiri."


"Aku akan bersamamu, Sil."


"Aku ingin ketenangan, Phyton!"


Peyto mengerucutkan bibirnya sebelum mengecup bibir Silver. "Aku pergi. Jangan rindu!"


Silver berdecih lalu mengayunkan tangannya mengusir Peyton dari kamar itu.


Sepeninggal Peyton, bukannya beristirahat Silver malah bangkit dan berjalan menyusuri lorong-lorong mansion itu. Hingga kakinya tidak sadar berhenti melangkah di sebuah kamar yang jarang dimasukinya.


Dia membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Membaringkan diri di atas ranjang itu tidak bisa membuat pikirannya tenang.


"Apa yang harus ku lakukan, Netta?" gumamnya perlahan. "Aku tidak ingin melukainya."


Mata hijaunya menatap atap-atap kamar itu. Banyak foto dirinya dan Paula di sana. Inilah alasannya dia tidak membiarkan Peyton menginap di sini. Silver takut kenangan bersama mendiang kekasih hilang begitu saja.


"Aku takut menyakitinya lebih dalam, Netta. Sudah cukup perbuatanku yang menyiksanya. Aku akan melepaskannya."


Lama ia berdiam di sana hingga terdengar ketukan dari luar dan sosok José yang muncul dari sana.


"Monsieur, dokter Natalie sudah pulang."


"Aku akan mentransfer ke rekeningnya."


"Tuan...." Ragu-ragu José berbicara, takut sisi sensitif Silver aktif lagi.


"Tidak perlu mengatakannya! Aku tahu De Souza melakukan yang terbaik."


"Kandunganny---"


"Hentikan! Aku tidak ingin mendengarnya!"


Merasa bahwa semuanya akan percuma, José pamit. Meninggalkan Silver dengan beribu pertanyaan di benaknya.


*****


Bulu lentik itu mengerjap pelan. Sue melihat sekelilingnya yang kosong. Pikirannya langsung tertuju pada kejadian beberapa saat yang lalu, ketika Peyton dengan segenap kekuatan mendorongnya.


"Bayiku?" gumamnya pelan. Dia bangkit dari tempatnya berbaring.


Tangannya mengusap perut yang sedikit buncit itu. "Semoga kau baik-baik saja, sayang."


"Nona!"


Sue terkejut. "Kau mengejutkanku, José."


"Maafkan aku."


Sue mengangguk dan tersenyum tipis. "Ada apa?"


"Aku hanya ingin mengingatkanmu agar kau lebih berhati-hati. Kandunganmu melemah, Sue. Dokter menyarankanmu memakan obat ini setiap hari," ujar José seraya memberikan obat yang dimaksud.


"Melemah? Apa maksudmu, José?"


"Itu mutlak untuk ibu hamil, Sue. Aku hanya menyarankanmu agar tidak memiliki beban psikologis yang membahayakan keselamatan bayimu. Dan juga, jaga kesehatanmu."


Sue mengusap perutnya dan tersenyum tipis. "Terima kasih, José. Aku mengerti."


Keduanya terkejut saat seseorang menerobos masuk ke dalam. "José! Keluar!"


Pria tua itu menurut. "Baik, Tuan."


Silver berdiri di ambang pintu menunggu José pergi dan menguncinya dari dalam.


Sue menelan ludahnya kasar saat Silver mendekat dengan wajah datarnya. Apalagi saat Silver menyibakkan selimut yang dipakainya, Sue memilin jemarinya karena ketakutan.


"Apa kau tidak bisa menjaga dirimu dengan benar? Bagaimana kalau anakku terluka? Apa kau bodoh?"


Sue menengang. Perkataan itu seolah memutus saraf sensoriknya membuat otaknya lambat bekerja. Tapi, tunggu? Dia bilang anaknya? Sue tersenyum miris.


"Ini anakku, Tuan, bukan anakmu."


Merasa bahwa kata itu menyinggungnya, Silver menundukkan kepalanya mendekat ke wajah Sue yang sedang duduk di ranjang.


"Berani membantah ucapanku, j*l*ng!"


Silver mencengkram kuat dagunya dan menelisik ke dalam manik kuning itu. "Apa kau sudah bosan hidup? Aku akan dengan senang hati mengirimmu ke neraka!"


Sue terdiam dengan senyuman terukir di bibirnya. Dia memberanikan diri membalas tatapan Silver.


"Dengan senang hati, Tuan. Pasti sangat menyenangkan berada di sana!"


Saat itu juga, Sue menyesali ucapannya. Silver dengan segenap kekuatannya kembali mencengkram dagunya sampai kulitnya memerah. Sue tidak tahan lagi saat matanya berulah.


Melihat ada air mata yang keluar dari manik kuning itu, Silver segera tersadar dan melepaskan tangannya.


"Jangan menangis!"


Namun, telaga bening itu terus menguncur hingga membasahi seluruh wajah Sue.


Tidak tahan dengan air mata dan isakan pilu itu, Silver menarik Sue ke dalam pelukannya.


Sue menggeleng, membiarkan Silver memeluknya erat.


"Bodoh. Aku bisa saja membunuhmu sekarang jika terjadi sesuatu pada anakku!"


Dalam kehangatan pelukan itu, Sue merasakan hatinya berdesir.


"Apa kau mengigau, Tuan? Kenapa kau terus mengatakan kalau anakku adalah anakmu?"


"Diamlah, jangan berbicara lagi!"


Sue terdiam. Hingga beberapa menit keduanya saling memeluk, Sue tidak ragu-ragu melingkarkan tangannya di pinggang Silver.


"Apa kau merasakan surgamu di sini?"


"Y-ya?" Sue mendongak, terkejut oleh pertanyaan mendadak Silver.


"Apa kau tuli?"


Sue tidak tahu harus menjawab apa. Jika menanyakan tentang kebahagiaan di rumah ini, mungkin Sue akan mengatakan bahwa ia tidak bahagia.


"A-aku...."


"Apa?!"


"Surgaku bersama orang yang ku cintai, Tuan."


"Kau akan mendapatkannya."


Sue bingung dengan perubahan sikap Silver. Setelah melepaskan pelukan itu, Silver mencium keningnya lama dan meninggalkannya dengan ribuan pertanyaan di hatinya.


*****


"Dimana pakaianmu?"


"Kenapa menanyakannya?"


"Aku akan membantumu membereskan pakaianmu, Sue."


Sue terkejut. "A-apa aku diusir dari rumah ini?"


"Kau mudah mengerti, Sue."


"Ke mana aku akan pergi, Tuan?"


José terkekeh. "Kau memanggilku Tuan, Sue. Tenanglah, kau akan kembali ke tempatmu yang dulu."


"Toko bunga?"


"Ya."


"Aku pikir tempat itu sudah digusur mengingat ada pembangunan di daerah sana."


"Tuan mempertahankan tempatmu, Sue."


"Ya, dia sulit ditebak. Menyuruhku membuang anak ini dan dia mengembalikan aku ke tempat semula. Apa dia pikir aku akan menangis dan memohon padanya?"


"Mungkin dia berpikir bahwa kau akan bahagia, Sue."


"Tidak ada kebahagiaan bagiku di dunia ini, José."


"Bagaimana dengannya?" José memandang perutnya.


"Dialah alasan aku bertahan di dunia ini."


"Kau harus membahagiakannya," saran José. "Apakah ini pakaianmu? Semuanya?" tanya José saat membuka lemari kecil di sudut ruangan itu.


"Aku tidak memiliki apapun di sini, bahkan di toko bunga itu mungkin sudah terbuang."


"Bersiaplah, kau akan berangkat sekarang!"


"Se-sekarang?"


"Tentu saja. Cepatlah!"


"Baik." Sue beranjak dan mulai merapikan dirinya. Dia mencuci wajahnya saja dan membantu José mengemasi barangnya ke dalam tas kecil.


"Apa ini?" tanya José saat melihat sebuah kotak berwarna biru muda di sudut lemari yang tertutup oleh pakaian.


Sue segera merebutnya ketika José hendak membuka. "Bukan apa-apa."


"Kemana Carissa? Setelah kejadian itu aku tidak melihatnya lagi."


"Keluarganya membawanya pulang."


"Bagaimana keadaannya?"


Sue mengangkat tas itu menuju pintu.


"Dia mendapatkan perawatan yang bagus."


"Syukurlah." Sue menghela napas lega. "Aku khawatir padanya."


"Ayo!"


Sue mengangguk dan mengikuti José. Beberapa langkah dari sana, Sue berbalik dan memerhatikan kamar kecil yang didiaminya. Tempat dirinya mendapatkan penyiksaan oleh Silver.


"Selamat tinggal kenangan," gumamnya seraya melangkah lebih jauh.


Silver menatap datar kepergian Sue. Sampai perempuan itu keluar dari gerbang, Silver dikejutkan oleh suara ponselnya.


"Aku mendapatkannya, Sil. Dan benar saja, semuanya lengkap di sana tentang pergaulanmu di dunia hitam."


.


.


*****