
Happy reading!
.
***
Tidak ada yang berubah dari tempat itu, hanya kamar mereka yang dihubungkan langsung dengan kamar si kecil. Tidak ada lagi pigura besar yang terpajang wajah Silver dan Paula, terganti oleh bingkai gambar Alita di setiap dinding dan atas meja.
Kali terakhir Sue berada di kamar itu disaat penyiksaan yang paling klimaks dalam hidupnya. Dirinya ditiduri secara paksa, disiksa secara fisik dan batin. Darah yang menguncur dari kaki dan air matanya yang mengalir deras menjadi saksi bisu kematian ayahnya.
Tidak ada simpati ataupun segelintir rasa kemanusiaan dalam nurani Silver, dendam yang membutakan segalanya. Anak yang di dalam kandungannya seolah ikut merasakan bagaimana penderitaan yang dialami sang ibu, tak ingin menambah penderitaan dan kuat bertahan dalam keadaan paling buruk.
Tiba-tiba matanya beranak sungai, mengalir membasahi pipinya. Semua itu tidak pernah hilang dari ingatannya ketika memasuki kamar utama.
Silver yang mengerti segera mendekapnya erat, mencium puncak kepalanya berkali-kali.
"Maafkan aku, Lita. Maaf ...."
Ia mengucapkannya berkali-kali seraya mengelus kepala istrinya. Rasa penyesalan itu lebih besar bahkan mengalahkan rasa cintanya.
"Aku berdosa padamu, Lita. Maafkan aku."
Dalam dekapan itu, Sue menggeleng. Ia balas memeluk Silver lebih erat.
"Aku sudah memaafkanmu sebelum kau memintanya bahkan sebelum kau melakukan itu."
Sekali lagi, hati Silver tercabik-cabik. Darahnya mendidih, tapi tenaganya seakan menghilang. Rasa sakit di hatinya bertambah, Sue bukanlah wanita seperti yang dibayangkannya. Istrinya seorang yang berhati besar.
"Aku tidak menyesal telah menjadikanmu istriku dan ibu dari anak-anakku, kau malaikat."
Seraya menghapus air mata, Sue terkekeh pelan. "Berhenti menyalahkan dirimu. Jika bukan karena kejadian itu, aku tidak pernah menjadi istrimu ataupun sekadar bertemu denganmu."
"Ya, aku juga harus bersyukur karena mendapatkanmu. Kau lanteraku."
Silver membalikkan badan istrinya, membiarkannya memeluk Sue dari belakang dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri.
"Maaf karena mengingatkanmu tentang kejadian itu. Aku membawamu kembali ke sini untuk mengubah sejarah pertemuan awal kita yang pahit. Aku ingin menggantinya dengan segala hal yang manis dan penuh dengan cinta, antara kita dan anak-anak kita. Bantulah aku menggapai impian itu, Lita," ucap Silver parau.
"Di manapun asal bersamamu, di situlah bahagiaku, Sil."
"Kau memang istriku."
Keduanya menghirup udara pagi di balkon dengan saling berpelukan. Cahaya mentari merambat malu-malu dari celah pepohonan tak ingin mengganggu dua orang yang saling berbagi rasa itu.
Pagi ini, mereka kembali ke mansion. Menghampiri tempat yang menyimpan banyak luka dan air mata bagi Sue.
"Kau ingin makan apa?" tanya Sue setelah keduanya lama terdiam.
"Kenapa?"
"Aku akan memasak untukmu, sebagai hadiah karena kau mengembalikan aku ke sini."
Silver mengernyit heran. "Kau bahagia?"
"Tentu saja, aku menyukai tempat ini. Semoga saja kau tidak meruntuhkan tempat yang menjadi rumahku waktu itu. Aku merindukannya."
Silver merutuk dalam hati. "Kenapa?"
"Kenapa suaramu terdengar aneh? Apa jangan-jangan ...."
Sue membalikkan badannya dan menatap tajam mata hijau itu. Dan ia mendapati kecemasan di sana.
"Kau meruntuhkannya? Silver!"
"Maaf, aku tidak ingin kau mengingatnya lagi."
Sue mengerucutkan bibir kesal, memukul pelan dada Silver. "Kau tidak tahu apa-apa. Kenangan kita banyak di sana," ucapnya lirih.
Memang itu menjadi tempat paling bersejarah dalam hidup Sue. Hari-harinya berwarna di sana meski kesakitan karena siksaan. Ia bisa merasakan sentuhan, ciuman panas dan bercinta dengan Silver di tempat itu. Walaupun semuanya ia dapatkan dengan kekerasan, pukulan dan cengkraman.
"Kenapa kau menghancurkannya begitu saja? Kau tidak pernah bertanya padaku, Sil."
"Maaf, Sayang. Tapi ...."
"Tapi apa? Kau menyebalkan!"
Karena gemas, Silver mencubit hidung Sue dan menariknya.
"Sil! Sakit!"
Terus berjalan keluar, Silver menggendong istrinya menuruni tangga. Menuju tempat yang dimaksud Sue. Penjara bawah tanah yang gelap tanpa cahaya.
Tepat di depan pintu, Silver menurunkannya. "Aku belum meruntuhkan sebagian," ucapnya sambil terkekeh, meledek Sue yang terus berwajah muram.
Dengan kesal, Sue membuka pintu setelah menerima kunci yang diberikan Silver. Dan ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.
"K-kau ...."
"Sayang, tempat ini juga berharga bagiku. Saat itu pula aku merasa ada yang berbeda dalam diriku, tapi komitmenku terhadap Paula menghalanginya. Aku lebih mencintaimu sejak hari itu, egoku terlalu tinggi dan ...."
"Aku tahu."
Sue langsung menutup mulutnya dan menarik tangannya masuk ke dalam. "Tidak perlu kau jelaskan lagi, semuanya sudah terjadi."
***
Memilih menghabiskan steak yang dibuat istrinya, Silver lebih banyak diam. Makanan itu mengingatkannya pada mendiang ibunya.
"Sayang, aku ke atas lebih dulu."
"Makananmu belum habis, Sil."
"Apa tidak enak?"
Tersenyum tipis, ia mencium pipi istrinya. "Sangat enak, tapi aku mengingat masih ada pekerjaan."
Sue mengangguk pelan. "Selesaikanlah."
Berlalunya Silver dari sana membuat Sue curiga. Ia memanggil José.
"José!"
"Ya, Nyonya?"
"Tolong buatkan susu dan camilan untuk Silver, dia tidak menghabiskan steaknya."
José terdiam.
"José?"
"Oh, maaf, Nyonya. Sepertinya Tuan sedang merindukan Nyonya besar."
Sue linglung. "Nyonya besar?"
"Ya, ibu kandung Tuan."
"Maksudmu?"
"Steak adalah makanan kesukaan Tuan, dan dia akan memakannya saat merindukan Nyonya."
Meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya benar, Sue membuatkan camilan untuk Silver dan mengantarnya ke ruang kerjanya.
"Sayang ...."
Silver mendongak ketika mendengar suara istrinya. Ia menipiskan bibirnya. "Kau membawakan sesuatu?"
"Susu untukmu."
Silver tergelak. "Aku lebih suka susu yang langsung dari sumbernya."
Sue langsung paham arah pembicaraan Silver, ia mendekat.
"Minumlah itu terlebih dahulu. Merindu juga butuh tenaga," bisiknya dan memeluk Silver dari belakang.
Lama Silver terdiam sampai ia menarik tangan istrinya sehingga jatuh di pangkuannya. "Kau menggodaku sepagi ini?"
Pipi Sue sudah memerah, ia tidak bisa menetralkan degup jantungnya jika Silver sudah menatapnya intens.
"Kenapa?"
"Apa kau memasukkan sesuatu ke dalam susu itu?"
Sue tergagap, ia mengalihkan pandangnya. "Apa maksudmu?"
"Katakan yang sebenarnya, Lita sayang ...."
Ia menarik wajah Sue agar kembali menghadapnya. "Apa kau merindukanku, huh?"
Mencibir kesal, Sue mencapit bibir Silver yang hendak menciumnya. "Siapa yang merindukan siapa?"
"Kau yang merindukanku."
"Kau sangat percaya diri, Tuan. Maaf, aku tidak merindukanmu sama sekali," tutur Sue berusaha melepaskan diri dari bekapan suaminya.
"Lalu, kenapa kau mencampur susu itu dengan sesuatu?"
"Aku tidak melakukannya."
"Kau tidak pandai berbohong, Sayang."
Ia membawa Sue ke sofa dan menindih tubuhnya di sana. "Kalau kau tidak melakukannya, minumlah untukku."
Seringainya melebar, bulu kuduk Sue merinding. "Kau menakutkan, Sil."
"Kau mencintainya."
Ia mengambil gelas susu itu dan meminumnya. Mata Sue terbelalak saat mulut Silver menutup mulutnya. Lidah lelaki itu terus memaksanya agar menelan cairan putih itu. Ketika hampir tersedak, Sue menyerah. Ia menelan susu itu sampai terbatuk-batuk.
"Kau tidak akan bisa lari, Sayang," bisik Silver.
"Kau benar-benar jahat, Silver. Aku hanya membantumu agar tenang, tapi kau memandikanku dengan minuman itu. Bajuku basah," gerutu Sue.
"Aku menginginkannya."
"Kau belum makan apapun, Sil."
Terpaksa menyerah karena istrinya keras kepala, Silver meminum susu yang dicampur obat penenang itu.
Saat matanya hampir tertutup, ia mendengar bisikan istrinya.
"Tenanglah, Mama pasti tenang di sana. Kau sudah menjadi putra yang membanggakannya."
.
***
Love,
Xie Lu♡