Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 15



Happy reading!


.


***


"Apa?!" Matanya terbelalak. "Wah, kau pandai menutupi segala sesuatu. Aku pasti tidak akan membangunkanmu kalau tahu kau tidak bekerja hari ini. Aku menyesal."


Sue bersungut-sungut seraya memukul tangan Silver yang mengganggunya. Pasalnya, Silver tidak pergi ke kantor dan sebuah kesalahan bagi Sue telah membangunkannya. Ia sudah menyerahkan tanggungjawab perusahaan pada Kontantinus.


"Kenapa kau tidak memberitahuku?"


"Kau sibuk dengan anak kecil pengganggu itu seharian, Sayang."


"Kau bisa memberitahuku saat Diego pergi."


Sue masih jengkel dan menyalahkan Silver apalagi saat tangan lelaki itu terus mengganggunya.


"Silver!"


"Aku tidak bisa memberitahumu karena si kecil ini, Sayang. Maaf," ucapnya.


"Kau serius?" Sue menyipitkan matanya curiga.


"Lebih dari serius. Hari ini aku harus menjalani training center, tapi jadwalnya siang."


Sue terkejut. "Kau benar-benar akan melakukannya? Apa ini hanya mimpi?"


"Ck, jangan cubit pipimu, ini kenyataan." Ia menarik tangan Sue yang mencubit pipinya sendiri. "Kau bisa menonton langsung suamimu di lapangan jika ada pertandingan penting," jelas Silver sambil membusungkan dada.


"Benarkah?" tanyanya antusias. Ia berhambur memeluk Silver ketika mendapat anggukan dari suaminya. "Lakukan yang terbaik, Sil. Kami mendukungmu."


"Ya, kau semangatku, Lita."


"Jangan lupakan bayi kecilmu," sanggah Sue menunjuk Alita yang tersenyum ke arah Silver.


Silver tergelak, karena gemas ia menggelitik Alita sampai bayi kecil itu tertawa kuat.


"My wondergirl," ucapnya.


"Hm?" Sue mengernyit.


"Dia pasti akan menjadi gadis yang hebat."


"Sehebat Daddynya."


Tangan kekarnya menyentuh pipi sang istri dan mengusapnya lembut. "Kau juga hebat."


"Jangan terus memujiku, nanti rambutku cepat beruban."


Silver tergelak lagi. Dari mana istrinya mendapat mitos seperti itu. "Apa hubungannya dengan itu? Kau memang hebat, dalam hal membuat anak," bisiknya kemudian yang mendapat sikutan dari istrinya.


"Ingat umur, Sil. Anakmu melihat."


Silver memegang tangan Alita dan menaruh dagunya di pundak sang istri. "Dia mengerti kalau Mommy-nya masih muda, Sayang, dan mendapat adik pasti sesuatu yang seru untuknya."


"Silver! Kau kebiasaan!"


"Hahaha, kau menggemaskan."


Melepaskan tautan tangannya dari putri kecilnya, Silver berlalu dari sana.


"Kau ke mana?"


"Ada sesuatu yang harus kuurus sebelum ke sana, Sayang. Jangan merindukanku, ok?"


Berdecih tidak suka tapi bibirnya tersenyum, Sue menganggukkan kepalanya. "Pulanglah dengan selamat."


"Demi surgaku, Sayang." Ia mengecup kening istrinya lama dan mengambil sesuatu dari tempat rahasianya, kemudian menyembunyikannya di balik jaket hitamnya.


Sue yang memerhatikan gerak gerik suaminya hanya terdiam. Tidak ingin mengganggu konsentrasi Silver yang terlihat sangat serius.


"Sarapanlah terlebih dahulu," ingatnya.


"Hm."


Jawaban singkat seperti itu kadang membuat Sue merasa terasingkan. Namun, ia berbesar hati dan memaklumi semua hal dalam diri Silver.


***


Mendapat kabar dari Barbara bahwa ada yang berniat menghancurkan kapal Victoria miliknya yang berlayar ke Eropa untuk bisnis, Silver mengendarai mobilnya menuju apartemen perempuan berkepala plontos itu.


Berulang kali ia memencet bel, tapi belum mendapat jawaban. Ketika ia mengambil pistol dari balik jaketnya, Barbara membuka pintu dengan wajah yang kusut.


"Kenapa kau sangat berisik?"


"Kau baru bangun?" Silver balik bertanya.


"Untuk apa kau ke sini?"


Tanpa menjawab pertanyaan itu, Silver masuk ke dalam.


"Hei, kenapa kau datang ke sini, sialan?"


Menghempaskan tubuhnya di sofa, Barbara menarik napas dalam. "Kau mengganggu tidurku hanya karena perkara sialan itu. Enyahlah, aku mau tidur lagi!"


"Beritahu aku maka akan kutinggalkan kau sendiri."


Sambil menutup matanya dengan telapak tangan, Barbara mengerucutkan bibirnya. "Aku menyuruh orang membawanya ke tempat biasa kau membasmi hama."


Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Silver meninggalkan apartemen perempuan berambut plontos itu. Barbara berdecih, "Datang disaat butuh dan pergi setelah tidak diperlukan, bahkan masa aktif kuotaku kalah olehnya."


Memainkan sebatang benda bernikotin di tangannya, pikiran Silver berkecamuk. Di satu sisi, dia tidak ingin orang mengganggu keluarganya, sekalipun ia harus membunuh. Namun, di sisi lain dia harus menghadapi kemarahan istrinya jika ketahuan melakukan hal-hal mengerikan seperti itu.


Memghalau pikiran negatif tentang istrinya, Silver berpegang teguh pada keinginannya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Matahari sudah meninggi, teriknya sedikit membakar kulit yang tidak terbungkus. Bahkan di balik jaket hitamnya, Silver masih merasakan terik mentari.


Tepat di sebuah bangunan yang terbengkalai, Silver menghentikan langkahnya. Bangunan itu adalah sarang The Chaméléon yang sesungguhnya, sebelum semua anggotanya menghilang karena kejadian yang hampir merenggut nyawa.


Tanpa ekspresi, Silver menjelajahi lorong-lorong dengan mata tajamnya yang memandang penuh intimidasi. Dua buah pistol ada di tangannya, dengan penuh hati-hati ia membuka sebuah pintu.


"Selamat datang, Caméléon!" sapa seseorang.


Dan itu membuat Silver terkejut. "Rodrigo? Gregor?"


Matanya kembali menjelajahi seluruh ruangan itu. "Kalian?"


Menghembuskan napas lega, Silver memasukkan pistolnya.


"Kau melupakan seorang pria tampan, Uncle!"


Suara itu mampu mengejutkan Silver berulang kali. Seseorang muncul dari belakang kumpulan orang itu.Wajah tengil anak kecil yang memanggilnya Uncle itu seketika membuatnya membuang muka.


"Kenapa kau di sini, D'antonio? Apa kau sudah melupakan janjimu untuk segera lulus sekolah?"


Sambil menyengir tanpa dosa, Diego menunjukkan selembar kertas. "Aku sudah lulus tingkat pertama, Uncle. Yang aku khawatirkan jangan sampai Uncle sengaja melupakan janji itu setelah aku lulus universitas nanti."


"Aku pria yang menepati janji dan tidak akan melupakan hal itu," jelas Silver.


Silver kembali menatap kedua orang yang membuatnya bertanya-tanya. "Kenapa kau di sini, Greg? Aku menyuruhmu untuk memantau perkembangan pembangunan di Valencia bukan bermain-main di sini. Dan kau, Rod? Kau membawa anak kecil ini."


"Aku bukan anak kecil, Uncle!" teriak Diego tidak terima.


Gregor menyeringai tipis. "Kau melupakan bahwa teknologi sudah modern? Aku bisa memantaunya dari sini. Jangan khawatir, semuanya aman dan lancar."


"Hentikan dulu penjelasanmu, aku tidak percaya kalian berkumpul di sini dan mengejutkanku. Apa tujuannya ini?"


Dengan santai, pria bertato itu menjawab, "Aku datang ke sini karena Barbara, dan semuanya sudah berkumpul. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya."


"Bagaimana denganmu, Greg?"


"Alasan yang sama."


Silver menipiskan bibirnya, "Aku mencurigai seseorang," ucapnya sambil melirik seseorang yang memasang tampang polos dan suci.


Diego yang menyadari bahwa dirinya sedang disangka sebagai pelaku, tentu saja membela diri. "Jangan melirikku seperti itu, Uncle, aku juga mendapat pesan dari seseorang!"


"Kau tidak bisa mengelak, D'antonio. Katakan kau yang melakukannya."


Ia mendekat dengan tatapan tajam nan mengintimidasinya, tapi itu tidak berhasil mengelabuhi Diego. Dengan sikap menantang, ia bersedekap dan balas menatap Silver dengan senyuman nakal di bibirnya.


"Mana mungkin aku mengaku tanpa melakukan kesalahan, apa masuk akal menurutmu, Uncle?"


"Sedikit masuk akal karena kau licik," ujar Silver menyeringai. Mengalihkan pandangan dari anak kecil yang menantangnya, Silver menunjuk seorang anggotanya untuk maju. Dan memulai interogasinya.


"Dengan alasan apa kau datang ke sini?"


Dengan menunduk takut oleh tatapan Silver, pria itu membuka mulutnya. "Dengan alasan yang sama seperti Tuan Rodrigo dan Tuan Gregor, Monsieur."


Sesekali melirik Diego yang tampak tersenyum di sampingnya, Silver terus menanyai pria itu.


"Dengan alasan apa kau datang ke sini?" tanyanya dengan pertanyaan yang sama. Dan jawaban pria itu masih sama.


"Aku menanyakanmu sekali lagi. Dengan alasan apa kau datang ke sini?"


Pria itu masih menjawab dengan jawaban yang sama.


Mengambil pistol dari balik jaketnya, Silver menyeringai saat pria itu sedikit gemetar. "Kau anggota lama, bukan? Harusnya kau banyak tahu tentang diriku, aku tidak suka mengulangi perkataanku. Dan untuk yang ketiga kalinya, kau telah berbohong. Masih ingat dengan hukuman untuk pembohong dan pengkhianat?"


Sesaat, pria itu jatuh tersungkur di bawah kakinya memohon pengampunan. "Ampuni saya, Monsieur. Saya datang ke sini karena pria kecil itu," akunya.


Sontak saja Diego memelototkan matanya. "Hei! Kau sengaja menjebakku? Aku tidak melakukan apapun!"


Silver menyeringai puas, dia mengembalikan pistolnya. "Akhirnya aku menemukan dalangnya, D'antonio!"


"Aku tidak melakukannya!"


.


***


Love,


Xie Lu♡