Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 52



Happy reading!😊😘


.


*****


Pagi menjelang, namun kedua insan yang bergelung di atas ranjang itu belum membuka matanya. Sue tidur dengan memeluk kepala Silver, sedangkan pria itu memeluk erat perutnya. Bila dilihat seperti itu, keduanya tampak seperti sepasang suami istri yang sangat berbahagia dan saling mencintai. Nyatanya, semua hanya ilusi.


Saat ada pergerakan dari perempuan hamil itu, Silver mengangkat kepalanya.


"Ada apa?" tanyanya dengan suara serak.


"Dia menendang!"


"Benarkah?" tanya Silver antusias dan menyentuh perut buncit milik Sue. "Tidak ada," ujarnya kecewa saat tidak ada gerakan dari sana.


"Mungkin dia lelah."


Silver memasang wajah kecewa. Namun, senyuman di bibirnya tidak luntur.


"Oh! Di sini!"


Sue menarik tangannya dan benar saja, Silver merasakan ada terjangan dari sana. Dia tertawa keras.


"Dia menendang sangat keras!"


Dan itu terjadi berulang kali. Pagi yang indah bagi Sue. Dia bisa melihat bagaimana senyuman dan tawa manis yang tulus di bibir pria itu.


Di dua bulan telah berlalu itu, Silver seringkali bersamanya. Meski tidak ada pukulan yang dirasakannya, Sue bersyukur pria itu memedulikannya. Ah, tidak, dia memedulikan calon bayinya. Lihat saja bagaimana bibir seksi itu tersenyum.


"Sejak kapan dia mulai menendang?"


"Beberapa hari belakangan ini."


"Pada saat aku menerima piala?"


Sue mengangguk. Beberapa hari lalu, Silver memang menerima penghargaan lagi sebagai pemain muda terbaik. Entah bagaimana itu terjadi, padahal selama liga itu Silver jarang mengisi lininya. Meski begitu, timnya berhasil meraih tempat di posisi pertama setelah mengalahkan El Real, klub dengan pertahanan terkuat sepanjang musim.


"Kenapa tidak memberitahuku?"


"Kau... sibuk, Tuan."


"Tidak ada alasan."


Meski tidak ada pukulan, mulut pedasnya tidak pernah hilang. Silver selalu saja membentak atau memarahinya.


"Aku berhak tahu apapun tentangnya."


"Aku mengerti."


"Apa kau tidak akan bangun? Hari sudah siang," usir Silver saat Sue kembali memeluk kepalanya erat.


"Ma-maaf...."


Ketika ia hendak bangun, tangan pria itu kembali mencekalnya.


"Berikan aku ciuman!"


Sue melongo takjub. Setelah sekian lama, Silver berani meminta hal itu.


"Cepat! Sebelum aku marah."


Sue melakukannya dan berlari turun ke bawah.


"Jangan lari atau aku membunuhmu!"


*****


"Kerja bagus, Mon."


"Kau memaksaku melakukan itu, Monsieur!"


"Kau diberi imbalan dengan menguras pundi-pundi uangku."


Pria yang bernama Mon itu berdecih kesal. Pasalnya, permintaan aneh Silver harus segera dilakukan dalam waktu singkat.


"Bagaimana dengan altarnya, Tuan? Apa kami harus menambahkan berlian di sepanjang karpet?"


Silver nampak berpikir sebentar kemudian mengangguk.


"Mungkin kau harus menambahkannya sedikit dengan berlian berwarna kuning. Apa kau memilikinya?"


"Tenang saja, Tuan. Aku memiliki semuanya. The Flontine, apa itu cukup bagus?" tanya Mon seraya menunjukkan berlian-berlian yang dimilikinya.


"Ya, aku pikir itu bagus. Mirip dengannya," gumam Silver seraya tersenyum.


"Kau tampan kalau tersenyum, Monsieur."


"Astaga, kau menjijikkan. Selesaikan pekerjaanmu!"


Silver segera menjauhi Mon yang tampak tersenyum geli karenanya.


"Dia benar-benar jatuh cinta," gumam Mon.


Sebuah rumah kayu yang cukup mewah dengan taman yang luas menjadi rumah impian dalam hidup Silver. Dia berniat menghadiahkannya pada seseorang malam nanti.


Rumah itu memiliki dua lantai. Meski sangat besar, tapi kamar di sana hanya sedikit. Selebihnya dibiarkan terbuka. Dia berpikir bahwa saat anaknya lahir, tempat itu dijadikannya area bermain tanpa harus keluar.


*****


"Kakak?"


"Apa kau akan membiarkanku berdiri terus di sini?"


"Eh? Maaf kak. Masuklah!"


Sue mempersilahkan seseorang itu masuk. Mata birunya menyapu seluruh area toko itu.


"Apa pria jahat itu menyakitimu?"


"Oh? Ti-tidak lagi, kak. Dia baik sekarang."


"Apa kau memaafkannya?"


Sue terdiam. Tidak ada alasan baginya terus membenci pria itu. Kesalahannya di masa lalu terjadi karena kesalahpahaman.


"Sue?"


"Oh? Y-ya, aku sudah memaafkannya, kak."


"Persiapkan dirimu! Kita harus pergi sekarang!"


Max memberikan perintah tegas. Membuat Sue meneguk ludahnya kasar.


"Ke tempat dimana kau diperlakukan selayaknya bidadari."


"Di sini tempatku, Kak."


"Jangan membantah, Sue! Ikuti perintahku atau kau akan terus berada di tempat kumuh seperti ini. Dia menghamilimu tapi tidak memberimu tempat tinggal yang layak. Apa dia masih pantas disebut seorang pria?"


"Aku tidak memiliki tempat lain selain di sini, Kak."


"Kau akan memilikinya, Sue. Percaya padaku."


"Aku tidak mau, kak. Aku akan tetap di sini."


"Jangan keras kepala! Apa kau tidak menginginkan kebahagiaan?"


"Bahagiaku di tempat ini, kak."


Merasa bahwa membujuknya sia-sia, Max menyerahkan tugas itu pada Alex.


"Panggil Thalia kemari!"


"Apa yang kakak lakukan? Max?!"


Sue terus berteriak tetapi tenaga anak buah Maxwell lebih besar. Dia dipaksa memasuki mobil dengan digiring oleh pria bertato dan berbadan besar.


"Lepaskan aku, Max! Aku harus menjual bunga!"


Karena tidak tahan dengan teriakan Sue, akhirnya Max memilih menidurkannya.


"Maafkan aku, Sue," ucapnya sambil membekap mulut perempuan itu.


Seketika, Sue tertidur.


*****


Tak henti-hentinya Sue diarahkan. Sejak itu terbangun, dia dibawa oleh seorang perempuan ke dalam sebuah ruangan gelap dan dirias.


"Aku lelah, Thalia."


"Sebentar lagi, Nona. Kau harus tampak cantik malam ini agar bisa lebih menawan saat berjalan di samping Tuan Max."


"Astaga, bisakah kau mempercepatnya? Aku sudah tidak tahan."


"Sedikit lagi, Nona. Kau akan mendapatkan surgamu malam ini."


"Kau salah menyebut, Thalia. Max pasti akan menjualku setelah aku didandani seperti ini. Dia pria jahat, Thalia. Kau harus berhati-hati dengannya."


"Kau terlalu memikirkan hal ekstrim, Nona. Tuan Max orang yang baik. Dia akan membawamu menuju surgamu."


"Berhenti mengatakannya, Thalia. Apa kau menyukainya?"


Thalia terkekeh. "Aku sudah menikah dan memiliki anak, Nona."


"Oh, benarkah? Bagaimana rasanya menjadi seorang ibu?"


"Kau akan merasakannya sendiri saat si kecil keluar."


Sue mengerucutkan bibirnya. "Apa sudah selesai? Kakiku keram."


Max yang menunggu di luar nampak gelisah. Sesekali ia melirik jam tangannya, menandakan waktu sudah sedikit terlambat.


Karena tak kunjung keluar, dia mengetuk pintu itu berkali-kali. "Thalia?! Apa kau tertidur di sana?"


"Tinggal ini saja. Ok, selesai!"


Mereka keluar dari sana. Mata Max langsung beralih pada Sue. Perempuan itu nampak seksi dengan gaun putihnya. Perut buncitnya terlihat jelas. Dia mendekat dan melipat lengan kanannya di samping tubuh.


"Lingkarkan tangamu di lenganku!"


Sue melakukannya. Dia bingung dengan Max yang sudah sangat rapi dengan tuxedonya yang berwarna hitam. Pria itu bertambah kadar ketampanannya berkali lipat.


"Kenapa kakak memakai tuxedo?"


Max tidak menjawab. Dia menuntun Sue masuk ke dalam mobil.


"Jangan banyak berbicara."


Sepanjang perjalanan, Sue tak henti-hentinya menebak kemana mereka akan pergi hingga mobil tiba di sebuah rumah mewah di tepi gunung.


"Ini rumah siapa, kak?"


Max diam, dia hanya mengisyaratkan Sue agar bergandengan padanya.


"Kak, kita mau kemana?"


Beribu pertanyaan kembali merajai pikirannya melihat banyaknya orang di sana dengan memakai jas dan pakaian kebesaran mereka.


"Apa ini, kak?" bisiknya pada Max sembari mengeratkan pegangannya pada lengan pria itu.


"Kak?!" bisik Sue lebih keras saat Max menaruh tangannya di atas tangan seorang pria berambut silver.


"Jaga adikku, sialan!"


Silver terkekeh, Max masih saja menaruh dendam padanya. "Dia kekasihku, Max. Dengan nyawaku, aku akan melindunginya."


Tangan Sue kini beralih ke tangan Silver. Dia merasakan genggaman pria itu mengerat saat tangannya gemetar.


"Apa ini, Tuan?"


Silver terkekeh pelan seraya mengelus punggung tangannya. "Tentu saja kita akan menikah, sayang."


Dan semuanya terjadi begitu singkat bagi Sue. Janji suci diucapkan di hadapan Tuhan dengan dirinya memeteraikan Silver sebagai suaminya dalam Tuhan.


.


.


.


.


Gaada iklan, gue ngantuk banget. Monmaap bila part ini kurang gregetπŸ™πŸ˜Š. Author nulisnya tengah malam, hehehe....


.


*****


Love,


Xie Luβ™‘