Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 46



Happy reading!😊😘


.


*****


"Apa yang kau bicarakan, Sil?"


"Aku menyuruhnya pergi dari sini, Mommy."


Gregoria menatap horor yang membuat Silver memalingkan wajahnya.


"Kau menyuruhnya pergi dengan bayimu yang dikandungnya? Kau gila?"


Silver terus mengunyah makanannya dalam diam. Sesekali matanya melirik ke arah Sue yang sedang menunduk. Perempuan itu menelan makanannya dengan susah payah dan Silver sudah paham bahwa dia sedang menangis dalam hatinya.


"Mungkin otakku sedikit bergeser karena tembakan itu."


"Apa?" Gregoria menatap tidak percaya karena jawaban bodoh Silver. "Dimana Gregor menembakmu?"


"Jantung."


Gregor menyahut tidak terima. "Hampir mengenai jantung!"


"Tetap saja kau hendak menembak jantungku, Greg!"


"Dan itu meleset!"


Wanita paruh baya itu memukul meja karena perdebatan tidak penting kedua putranya dan mengejutkan Sue yang sedang menunduk dalam diamnya.


"Berhenti! Jantungmu ya-- tidak, dadamu yang tertembak tapi otakmu yang bergeser, apa itu masuk akal, Sil? Bukankah itu konyol?" Matanya melotot sempurna ke arah Silver kemudian beralih ke arah Gregor.


"Dan kau, pria tua, berhenti mengatakan apapun karena kau yang harus didakwa setelah ini! Jangan berpikir kau bisa kabur hanya karena Sil sudah bangun."


Gregor memutar bola matanya malas. Yang dikatakan ibunya selalu tidak bisa dibantah. Pasti semuanya akan terjadi.


"Sil?"


"Ya, Mom?"


"Apa yang kau rencanakan?"


"Tidak ada."


"Kenapa kau menyuruhnya pergi?"


"Aku ingin ketenangan di rumah ini."


"Apa kau benar-benar sudah gila? Di sini banyak orang dan kau bilang ingin ketenangan," Gregoria menunjuk pada maid yang sedang melintas di sekitar sana.


Mata Silver yang terus bergerak ke segala arah melihat seseorang yang masuk ke dalam. Melihat bagaimana rambutnya ditiup angin, Silver sudah mengenalnya.


"Python!?"


Mendengar nama itu disebut, Sue mendongak, dan benar saja dengan gaya modisnya Peyton langsung berhambur ke pelukan Silver di meja makan itu.


"Aku merindukanmu, Sil. Ke mana saja kau beberapa hari ini?"


"Aw.... Kau menekan lukaku, P."


"Hah?! Dimana?" Peyton menarik dirinya dan memindai tubuh Silver. Ada darah yang keluar dari dadanya.


"Kau berdarah, Sil."


"Ya, tapi kau harus merawatku dan membersihkannya. Mau?"


"Tentu saja. Dengan senang hati, sayang." Dengan tidak tahu malunya, Peyton mengecup bibir Silver.


Mata semua orang di meja makan itu tersorot pada keduanya. Bagaimana tenangnya Silver saat Peyton bermanja-manja padanya. Gregoria melihatnya dengan tatapan jijik, sementara Zamora mengepalkan tangannya kuat di bawah meja.


Meremas kuat sendok yang dipegangnya sampai sendok itu terjatuh dan bunyi dentingan piring langsung menghentikan aksi posesif Peyton.


"Siapa dia, sayang?"


"Tidak tahu."


Peyton yang seakan tidak menyadari Sue di samping Silver membuat Gregoria memelototkan matanya.


"Dia menantuku."


"Wow, kau sudah punya menantu, Nyonya Di Vaio. Dan sayang sekali, tubuhnya pendek dan gembul," ketus Peyton dan terkekeh keras.


Mengetahui hinaan yang ditujukan untuk kekasihnya, Gregor bangkit tetapi tangannya ditahan oleh Gregoria dan Zamora. Dia menghela napas pasrah ketika kedua wanita itu menggelengkan kepala.


"Aku sudah selesai, Mommy," ujar Sue setelah menyuapkan satu suapan makanan ke dalam mulutnya.


"Oh, kau juga di sini, j*l*ng!" pekik Peyton takjub. "Kau belum mati? Padahal aku sudah menyiapkan patung malaikat untuk kuburanmu."


Sue menatapnya datar. "Oh? Terima kasih, Nona. Tapi ayah dari anakku tidak membunuhku!"


"Kau?! Beraninya menjawabku! Ke sini kau, j*l*ng!"


Ketika Peyton hendak turun dan berbuat sesuatu yang berbahaya, Silver menahannya. "Kau tidak merindukanku?"


"Tapi dia harus menerima akibat telah membantahku!"


"Kau bilang dia j*l*ng?"


Peyton mengangguk.


"Dan kau akan dijuluki wanita murahan karena mencari masalah dengan wanita sepertinya."


"Tapi, Sil.... Dia bahkan sangat berani padaku."


Silver menyeringai. Dia mengenal sisi lain dari Sue berkat rekaman yang diberikan Diego tempo hari. Bukan seorang perempuan lemah, hanya saja dia tidak akan menunjukkan sisi kerasnya itu jika tidak diganggu terlebih dahulu.


"Aku tahu, karena itu mulai sekarang kau harus berhati-hati padanya."


"Why?"


Peyton mengerucutkan bibirnya dan menatap tajam ke arah Sue.


"Pergi kau, J*l*ng! Aku dan Sil akan berduaan di sini. Iya 'kan, sayang?"


"Terserah."


Keempat orang yang telah menonton adegan horor itu meninggalkan meja makan. Sue berjalan dengan lesu seolah makanan yang baru saja masuk itu tidak memulihkan tenaganya.


"Kau baik-baik saja?"


"Mora, kau selalu mengejutkanku." Sue tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja."


"Jangan menyembunyikan apapun dariku, Sue. Menangislah jika kau ingin!"


Zamora membawa Sue duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya di pundak Zamora. Detik itu pula, Sue menangis.


"Apakah aku salah merasakannya, Mora? Apa itu sebuah dosa jika aku memendam setitik rasa padanya?"


"Itu bukan dosa, Sue. Teruslah menangis dan besok aku tidak boleh melihat air mata sialanmu itu!"


"A-apa?"


*****


"Seberapa dalam lukamu?"


"Tentu saja ini sangat dalam. Senjata apa yang kau gunakan?"


Gregor mengedikkan bahunya. "Itu lebih baik dari pada aku membunuhmu."


"Sejak kapan kau mengetahuinya?"


Gregor terdiam sejenak sebelum bersuara. "Saat kau membunuh Jerome."


Silver tertawa tidak percaya. Semua orang telah mengetahuinya. Dan dengan bodohnya, dia percaya pada mereka yang membiarkan dirinya sendiri di kubangan lumpur panas itu.


"Selama itu?"


"Dan kau tidak pernah mendengarkan Rodrigo."


Silver mengambil sebatang rokok dan menghisapnya. Asap putih bernikotin itu bercampur dengan udara.


"Kira-kira sejak kapan Rodrigo mengetahuinya?"


"Sejak awal kau menceritakannya padaku!" seru seseorang yang baru dibicarakan itu dari belakang mereka.


"Rod?"


"Kau memang bodoh, tidak peka terhadap keadaan. Aku selalu mengingatkanmu, sialan."


Rodrigo ikut bersandar di sofa mini bar milik Silver dan menyesap alkohol yang dituangkan Gregor.


"Kapan kau datang?"


"Sejak tadi saat kau masih bersama wanita iblis itu."


Silver tertawa. "Kau melihatnya?"


"Tentu saja bahkan dengan adegan-adegan panas yang sengaja kau pertontonkan di hadapan wanitamu."


"Dia bukan wanitaku, Rod."


"Kau yang mengatakannya sendiri pada Diego. Oh ya, anak kecil itu bersama kekasihmu sekarang."


"Apa?! Kenapa kau membawanya ke sini?"


Rodrigo mengangkat bahunya dan menyesap lagi minuman beralkohol itu. "Kau mengenalnya, Sil. Dia selalu ingin bersamaku jika aku datang ke sini."


"Kenapa kau jujur padanya?"


"Astaga, Sil. Aku bahkan terkadang sangat takut padanya. Kemampuannya di atas nalar manusia. Dan kau pikir aku masih bisa berbohong?"


"Setidaknya agar dia tidak ikut ke sini."


"Apa Bertha dan Laurent tidak bisa bersama lagi demi anak itu?" tanya Gregor yang sejak tadi hanya terdiam.


"Kau mengenal pria Italia itu, Greg. Kakakku tidak ingin lagi bersamanya setelah pernikahan pria itu."


"Kau mau ke mana, Sil? Habiskan minuman ini dulu!"


"Aku akan kembali!"


Silver hendak berlalu ketika Rodrigo berucap. "Diego ingin aku mengambilnya kalau kau sudah tidak menginginkannya."


Silver terkekeh dengan wajah datar. Senyumannya kini berganti dengan seringai iblis. "Ambillah! Aku sudah tidak menginginkannya lagi!"


Rodrigo tertawa tidak percaya. "Benarkah? Sepertinya aku merasakan aura yang berbeda di sini. Apa hanya aku yang merasa demikian, Greg?"


"Hentikan, sialan! Aku tidak menginginkan bayi itu lagi."


"Aku akan menyuruh Diego menyeretnya ke sana."


Gregor menatap tidak percaya pada mata hijau yang menyimpan banyak tanda itu. "Jangan menyangkal keinginan hatimu, Dom."


"Aku tidak melakukan apapun!"


"Sepertinya aku mengetahui motifmu melakukan itu."


.


*****


Love,


Xie Lu♡