Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 37



Happy reading!๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜


.


*****


Silver mengingat bahwa dua hari lalu ia menyerahkan Sue kepada kekuasaan pamannya. Karena itu, ia melangkah lebar memasuki area luas mansion itu. Menuju ruangan khusus yang hanya diketahui orang-orang tertentu, ruangan kumuh yang dijadikan Alfonso sebagai tempat penampungan para pengkhianat dan musuh-musuh terbesarnya sebelum diberi hukuman.


Sesampai di sana, ia kebingungan mencari ruangan tempat perempuan yang sedang dicarinya. Yang diketahuinya saat ini, Alfonso tidak memiliki tahanan, tetapi ruangan itu hampir semuanya terkunci.


Ada satu yang membuat kecurigaannya berlabuh, ruangan paling ujung dan yang paling kecil dan terbuang.


Berkali-kali ia mendobrak, hingga luka di perut dan punggungnya terasa nyeri. Sampai ia sadar bahwa ia masih sempat membawa pistolnya yang disembunyikan Rodrigo.


Sekali tembakan langsung membuka pintu kayu itu. Dan sialnya, perempuan di dalam sana tergolek lemah dengan pakaian yang tidak layak pakai. Silver tahu apa yang telah dilakukan pamannya, karena dia sudah mempraktekan itu langsung.


Senyuman yang sempat terpatri di bibir itu langsung memudar ketika mengetahui bahwa dirinya yang masuk. Wajahnya yang ketakutan dan tubuhnya yang terluka mengeluarkan darah saat ia berusaha bangkit.


"Tu-tuan...."


Silver langsung menariknya keluar tanpa peduli kesakitan yang menghampirinya. Hingga sebuah suara membuatnya menegang, tapi ia berusaha tenang guna menghadapi situasi ini.


"Kau sudah menyerahkannya padaku, Dominique! Ingat itu!"


Kalimat itu membuat Silver menahan amarahnya. Ia mengepalkan tangannya dan menurunkan Sue dari gendongannya.


"Dia masih milikku, Paman."


"Kau yang menyerahkannya padaku, Dom. Dua hari yang lalu wa--"


"Aku tahu, Paman. Karena itulah aku ingin menggunakannya sebelum kau menghabisinya!"


Sue menegang di tempatnya, luka yang perih akibat siraman air jeruk itu tidak terasa sakit saat ia mendengar kalimat itu. Mereka akan menghabisinya, tentu saja bersama malaikatnya yang masih suci itu.


"Tidak, kau sudah menyerahkannya. Dia milikku sekarang dan kau tidak berhak menyentuhnya."


Silver tertawa hambar, Alfonso tetap pada pendiriannya. Karenanya, ia berniat bernegosiasi.


"Aku akan memberikan paman kapal Victoria."


"Tidak, jangan menggodaku dengan barang mewahmu, Dominique."


"Lebih mewah dari perempuan busuk ini, bukan?" Silver menyeringai sambil meremas kuat pundak Sue, yang membuat Sue menunduk kesakitan menahan air matanya.


"Aku tidak akan menukar mangsa berhargaku!"


"Kapalku lebih berharga, Paman."


"Bagaimana dengan piknik ke bulan? Paman menginginkannya dari dulu."


"Tidak, aku sudah tua. Aku tidak menginginkannya lagi."


"Pasar gelap Eropa?"


"Aku tidak tertarik!"


"Baiklah, tapi aku menginginkannya sebentar saja. Tiga puluh menit?"


"Tidak!"


"Dua puluh lima?"


"Tidak, lima menit!"


"Sepuluh, ok?"


"Lima, atau tidak sama sekali."


Silver mendesah pasrah, ia harus mengerahkan segala kekuasannya sekarang.


"Baiklah, lima menit."


Ia kembali menarik Sue dari sana, memasuki sebuah kamar kosong di mansion itu.


"Tu-tuan...."


"Jangan bergerak!"


Silver membuka baju yang dipakai Sue membuat perempuan itu menegang. Secara refleks, ia memegang perutnya. Silver menatap itu dengan datar hingga tanpa sadar ia menyentuhnya juga. Tangan keduanya menempel di sana.


Sue menelan ludahnya kasar, ia beringsut mundur ketakutan dengan seluruh tubuh gemetar.


"Tuan...."


"Aku tidak akan gila dengan menyakiti anakku sendiri, bodoh."


Sue tercekat, tubuhnya menegang. Silver mengetahui itu, tanpa sadar air matanya jatuh dan ia menepis tangan Silver yang masih menempel di sana.


"Jaga dia dengan nyawamu. Jangan sampai dia tersakiti. Kau mengerti?"


Sue mengangguk, ia meremas jarinya. Bagaimana dibilang tidak tersakiti jika tubuh dan batinnya disiksa. Yang jelas semuanya akan dirasakan malaikatnya di dalam sana.


"Kalau sampai dia tersakiti, aku pastikan akan segera membunuhmu."


Sue kembali mengangguk dengan perasaan tak karuan, ketakutan menguasainya. Alfonso terlihat menyeramkan bahkan lebih berbahaya dari Silver.


"Dominique! Waktumu telah habis!"


Silver menggeram tertahan, ia menutup kembali baju Sue dan menariknya keluar dari sana.


"Jangan membuat kesalahan yang akan kau sesali!"


*****


"Aku tahu kau mendengarku, Dario!"


"Apa yang kau inginkan? Jangan membuang waktuku untuk menemuimu, sialan."


"Kau yang menyuruh pamanmu agar kita punya waktu privasi."


Silver mengerutkan keningnya, bukan itu yang diinginkannya tetapi ia ingin pamannya memusnahkan hubungan dengan mafia yang menelponnya itu.


"Aku tidak punya waktu untukmu."


"Karena itu, luangkanlah! Aku tahu kau sangat ingin mengetahui penyebab kematian ayahmu dan pelaku pembunuhannya."


Seseorang di seberang sana terkekeh, kemudian melanjutkan, "Aku tahu itu. Kau membunuh pamanku."


"Paman?" Silver tertawa miris, menuangkan wine ke dalam gelas miliknya dan meminumnya. "Kau anak pembunuh itu? Pantas saja kau tidak takut pada kematian, bahkan berani mengganggu kehidupanku."


"Karena itulah aku ingin kau juga membunuhku, sama seperti kau menyulang pamanku, begitu pulalah kau harus melakukannya padaku. Jangan melampiaskannya pada adikku yang tidak tahu apa-apa, Dario."


Silver mendengus kemudian menyeringai. "Aku ingin melakukan apapun yang ku inginkan, termasuk membunuh perempuan itu."


"Ya, lakukanlah, dan kau juga ikut membunuh anakmu."


"Aku tidak butuh anak itu, setelah aku tahu siapa dirinya dan dirimu."


Sambungan telepon itu langsung putus membuat Silver mengumpat kasar.


"Beraninya dia mengakhirinya tanpa persetujuanku, aku akan mem--- sial, siapa yang mengganggu istirahatku di sini!"


Silver mengintip dari layar monitor yang menampilkan wajah orang dari luar. Tetapi, tidak ada siapapun di sana membuat Silver berpikiran aneh.


"Apa casino ini berhantu? Ck, aku akan memecat manager di sini kalau sampai penghuni di sana menggangguku."


Belum sempat ia berbalik, bunyi bel pintu itu kembali terdengar. Namun, masih tanpa orang yang bisa dilihat.


Sepersekian detik kemudian, bunyi pintu terbuka membuat Silver berbalik dan menodongkan pistolnya.


"I got you, Dario. Jangan menggunakan pistol, aku hanya datang memberimu ini."


Orang yang masuk secara paksa itu menyerahkan sebuah chip yang membuat Silver menahan kembali tembakannya.


"Kau ingin meledakkan tempat ini, sialan?"


Maxwell terkekeh, kemudian menyuruh Silver membuka file di sana.


"Aku tidak yakin kau akan suka, Dario."


"Dan aku akan meledakkan kepalamu di sini."


"Well, kalau kau berhasil."


Silver mengambil laptop yang diberikan Maxwell dan membuka isi chip itu.


"Kau membodohiku?" Silver tertawa hambar melihat isi benda itu.


"Kau melihatnya sendiri. Apa aku terlihat bercanda? Asal kau tahu, aku memiliki banyak waktu untuk menghabisimu jika aku menginginkannya dulu, tetapi aku ingin lihat bagaimana perbuatan pamanmu pada adikku."


"Kau merekayasa ini, mafia sialan!"


"Aku mendapatkannya dari kepolisian yang bertugas waktu itu, meretas bukan perkara sulit bagiku."


"Kau pembohong, pamanku tidak mungkin membohongiku!"


Silver menarik kerah Maxwell, meninjunya tepat di wajah tampan pria itu.


Maxwell terkekeh. "Orang yang kau percayai seringkali tidak seperti yang kau bayangkan. Keluarga?" Ia tersenyum miris. "Bahkan orang yang berstatus seperti itu yang paling bisa mengatur hidupmu, Dario. Kau mungkin tidak mempercayaiku, tetapi lihatlah siapa adikku. Dia sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya demi anakmu! Anak yang akan menjadi keluargamu seutuhnya."


Silver terdiam dan melepaskan tangannya, ia hendak keluar tapi Maxwell menahannya.


"Kau kemana?"


"Aku akan menyelamatkan anakku!"


Maxwell tertawa mengejek. "Kau menyebutnya anakmu? Setelah apa yang kau lakukan pada adikku?"


"Lepaskan aku, brengsekk!"


"Kau akan bunuh diri dengan cara seperti itu, Silver! Calm down."


"Bagaimana aku tenang kalau anakku akan dibunuh pengkhianat itu?"


Maxwell bersedekap, menelisik penampilan Silver yang acak-acakan. "Siapa adikku di matamu, Silver?"


"Bukan siapa-siapa!"


"Siapa dia di matamu?"


"Aku bilang dia bukan siapa-siapa!"


"Baiklah, aku akan bertanya sekali lagi. Setelah kau melihat apa yang terjadi pada ayahmu, apakah kau tidak merasakan penyesalan di hatimu? Siapa dia di matamu?"


Silver terdiam menunduk, seolah ada benda tak kasat mata yang meremas jantungnya. Kenyataan yang tidak pernah dia duga sebelumnya menampar dirinya. Sungguh bodoh jika ia bilang tidak menyesal.


"She is my soul! Let me go now! I want to save my light."


.


iklan**


Netizen : Gue penasaran, apasih yang dikasih si mafia itu pada Silver?


Author : Emang lu gak baca di situ? Punya mata dipake Juminten!


Netizen : Etolong ya, lu yang gapunya otak. Nulis itu jangan ngegantung, isi chip yang dikasi Maxwell lu gakasi tau. Gimana gue mau tau kalo gitu๐Ÿ™„


Author : etdah, gitu aja emosi. Gue emang sengaja biar lu penasaran, gimanasi


Netizen : bilang aja kalo lu lupa Jubaedah


Author : jan sembarangan lu, gue masih ingat ya ga lupa


Netizen : emang umur lu berapa sih?


Author : gatau๐Ÿ˜‚


Netizen : tuhkan๐Ÿ™„ umur aja lu kagak tau, gue curiga lu juga lupa ga nulis bagian itu


Author : terseraahhh.... asal lu jan lupa ninggalin jejak aja ya. Poinnya ditahan buat besok aja๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ


Salam hangat^_^


Xie Luโ™ก


Baru kali ini bikin iklan kayak gini, jan bully ya^_^. Inspirasi dr author hebat!